Menggunakan Mouse Logitech MX Master AMZ (versi Amazon): 2017

Masih berkutat soal pernak-pernik kantor, karena selama pandemi ini kemungkinan besar saya akan lebih banyak bekerja dari rumah, maka saya terus membuat nyaman sudut kerja saya.

iklan Amazon Prime Day di Instagram Story

Setelah membeli monitor Philips 245B1/00, saya kembali tergoda oleh Amazon, apalagi pada tanggal 13 hingga 14 Oktober 2020, ada Amazon Prime Day.

Amazon Prime Day ini adalah hari di mana beberapa barang didiskon, namun hanya didapatkan oleh pelanggan Amazon Prime.

Awalnya saya hanya melihat-lihat, karena seperti program promosi lain seperti flash sale di toko online di Indonesia, biasanya barangnya tidak menarik atau tidak saya butuhkan.

Saya sebenarnya lebih menunggu Black Friday, yang biasanya harga yang ditawarkan juga gila-gilaan diskonnya, tidak hanya di toko online tapi juga di toko fisik.

Namun Amazon Prime Day tahun ini juga cukup menggiurkan, apalagi karena saya berlangganan Amazon Prime, saya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan.

Untungnya, beberapa barang yang saya incar dan sudah masuk ke wish list saya tidak diskon, sehingga saya tidak terlalu kalap.

Celakanya, saya justru kepincut oleh barang yang awalnya tidak saya butuhkan, salah satunya saat melihat bagian aksesoris komputer dan perkantoran.

Saya melihat mouse Logitech MX Master AMZ (versi Amazon) didiskon hingga hampir 40%, siapa yang tidak tergoda?

kuitansi pembelian mouse Logitech MX Master AMZ dari Amazon

Harga aslinya sekitar 74,99€ didiskon menjadi 46,99€ membuat saya tidak ragu memasukkan ke dalam keranjang belanja.

Sungguh berbahaya sekali ini membuka halaman promo Amazon, terutama di malam hari.

Saya melakukan checkout ini awal-awal promo mulai, sekitar pukul 01:00.

Tak mau rugi, saya lalu mencari-cari barang promo lain yang sekiranya menarik karena tak mau rugi di ongkos kirim yang gratis.

Untungnya, atau sialnya, saya tidak menemukan produk lain yang menarik untuk saya masukkan ke keranjang belanja, karena produknya tidak terlalu saya minati.

Namun untuk mouse ini, saya merasa ini good deal, karena mouse seri MX ini, meski produk lawas, sekitar 5 tahun lalu, masih termasuk jajaran mouse terbaik di kelasnya.

Buat saya, prinsip “menyesal membeli lebih baik daripada menyesal tidak membeli” adalah sesuatu yang perlu ditegakkan.

Tentunya sebelumnya saya juga mempertimbangkan matang-matang, dan keputusan pun sudah bulat, kapan lagi ada kesempatan seperti ini?

Kenapa Membeli Mouse?

posisi tangan saat menggunakan trackpad

Memang sejak menggunakan MacBook Pro sekitar 7 tahun lalu, saya tidak pernah lagi menggunakan mouse karena trackpad MacBook Pro sudah sangat nyaman dan menyenangkan.

Namun sekarang saya merasakan lama-lama capek juga menggunakan trackpad karena posisi tangan saya yang agak miring saat harus mengetik dan menggerakkan cursor.

Konon saya bisa mengalami carpal tunnel syndrome atau telapak tangan dan khususnya ibu jari, cidera karena tekanan posisi yang terus menerus.

Penyakit ini sering dialami oleh orang-orang yang bekerja menggunakan komputer, seperti saya yang minimal menghabiskan waktu 8 jam di depan komputer.

Ah, ini sih sebenarnya hanya alasan yang saya cari-cari saja untuk membeli mouse.

Saya sebenarnya tertarik dengan mouse vertikal yang ergonomis dan nyaman digenggam.

Beberapa merek mouse mengeluarkan seri vertikal ini yang secara bentuk, awalnya terlihat aneh karena posisi menggenggamnya agak tegak.

Saya sempat meminjam dan mencoba mouse Logitech MX Vertical Ergonomic punya teman, dan memang menggunakan mouse vertikal tersebut terasa nyaman, tentu setelah beberapa saat membiasakan diri.

Apalagi melihat Paman Tyo juga sudah menggunakan mouse berdiri tersebut, saya sempat memasukkan mouse tersebut ke daftar keinginan saya di Amazon.

Sayangnya, harga mouse ergonomis tersebut cukup mahal, sekitar 70€ di Amazon membuat saya berpikir kembali.

Mouse Logitech MX Master AMZ

mouse Logitech MX Master AMZ

Seri Master (MX) dari Logitech memang merupakan seri profesional yang didesain untuk dengan presisi dan performa terbaik untuk memperlancar produktivitas.

Selain mouse-nya, saya juga sudah mengincar papan ketik Logitech MX Key, namun sayangnya layout papan ketik yang dijual di Jerman semuanya menggunakan layout Jerman (QWERTZ).

Mouse Logitech MX Master sempat menjadi salah satu mouse terbaik di tahun 2015, sebelum dua tahun kemudian seri MX Master 2S muncul menggeser posisinya, dan kini seri MX Master 3 yang menjadi juara.

Seri MX Master AMZ ini merupakan produk khusus yang merupakan hasil kerja sama Amazon dengan Logitech.

Secara spesifikasi, bentuk, dan seluruh fitur, mouse Logitech MX Master AMZ ini sama persis, bedanya mouse keluaran Amazon ini hanya ada satu warna yaitu menggunakan aksen warna perunggu.

Perbedaan lainnya yaitu tidak adanya tombol konektivitas seperti pada Logitech MX Master, yang mana di mouse versi Amazon, fitur ini sudah otomatis.

Yang paling penting tentu saja, harga mouse seri Amazon lebih murah dengan harga 74,99€ daripada mouse keluaran Logitech yang harganya 94,90€.

Membuka Kemasan

membuka kardus Logitech MX Master AMZ

Setelah menerima paket dari Amazon, saya tentu saja langsung membuka kemasan kardus yang oversized karena standar itu.

Kemasan kardus mouse Logitech MX Master AMZ berwarna hitam berpadu dengan tosca dengan tulisan MX Master For Amazon.

Membuka kemasan kardusnya pun cukup mudah.

Kemasan dibuka dari atas dan langsung terlihat USB dongle Unifying reciver yang merupakan perangkat penerima sinyal 2,4 GHz yang digunakan si mouse untuk berkomunikasi dengan komputer.

Selain menggunakan USB dongle, mouse ini bisa terhubung ke komputer menggunakan Bluetooth

Unifying receiver USB dongle ini selain untuk mouse juga bisa digunakan untuk wireless keyboard Logitech yang lain.

Perangkat penerima ini diselipkan ke lidah pembungkus sebelah kiri.

isi kardus Logitech MX Master AMZ

Di dalam kardus, selain perangkat mouse seberat 145 gram juga terdapat kabel USB mikro dan buku panduan dan lembar garansi.

Unit mouse terbungkus lapisan gabus tipis, dan kabel dirancang untuk bisa menarik unit mouse dari dalam kardus.

Dari kemasan kardus, saya mengetahui bahwa produk ini berasal dari Logitech Europe S.A. yang bermarkas di Swiss dan diimpor dari kantor yang bermarkas di Belanda.

Di kemasan bagian bawah, terdapat informasi nomor seri yang saat saya periksa dengan nomor seri di yang tertulis di dekat sensor laser pada bagian bawah mouse, berbeda.

Biasanya pada kemasan elektronik, nomor seri yang tertera pada kardus dan yang tertera pada unit sama.

Meski begitu, kedua nomor seri tersebut saat saya periksa di situs Logitech, dapat dikenali sebagai seri MX Master.

Selain nomor seri yang berbeda, di kemasan dan di badan mouse pada bagian ujung dekat dengan colokan USB mikro, tertulis modelnya M-R0066 yang merupakan model untuk seri MX Master 2S, padahal MX Master menggunakan model M-R0052.

Nomor produk juga berbeda, di mana di situs Logitech, produk ini bernomor 910-005213 namun pada kardus kemasan, nomor produk adalah 910-005313.

Menggunakan Mouse Logitech MX Master AMZ

menggenggam mouse Logitech MX Master AMZ

Sesuai apa yang saya baca di berbagai ulasan, mouse Logitech MX Master AMZ ini sangat nyaman digenggam.

Maklum saja, Logitech melakukan riset untuk mendapatkan bentuk mouse unik yang memiliki dudukan untuk ibu jari ini.

Materialnya terbuat dari plastik namun rasanya seperti ada lapisan semacam karet membuat mouse ini tidak licin.

Beratnya juga menurut saya pas, tidak terlalu enteng dan tidak terlalu berat, yang mungkin untuk berat ini sangat relatif.

Untuk bermain game, mouse yang berat mungkin kurang cocok, namun saya pribadi kurang cocok dengan mouse yang terlalu enteng.

Ada dua tombol utama, sebuah scroll wheel yang juga berfungsi sebagai tombol tengah, tombol pengganti model scroll di bagian atas, sebuah scroll wheel dan dua buah tombol atas bawah di dekat ibu jari, dan sebuah tombol tersembunyi di bagian bawah dudukan ibu jari.

5 tombol mouse Logitech MX Master AMZ yang bisa diprogram

Menariknya, 5 tombol selain tombol klik kiri dan kanan ini bisa diprogram dan diberi fungsi khusus melalui aplikasi Logitech Options yang diunduh dari situs Logitech.

Fitur tombol yang bisa diprogram ini sangat menyenangkan dan saya merasa produktivitas saya meningkat.

Saya bisa mengatur tombol-tombol ini untuk mengaktifkan berbagai fitur hanya dengan sekali klik dari mouse.

Fitur paling menarik adalah free spinning scrolling-nya, yang mana saya bisa memutar sekali dan roda akan terus berputar yang sangat cocok untuk menggulir halaman yang sangat panjang.

Mode gulir roda juga bisa diatur, apakah menggunakah menggunakan mode ratchet yang patah-patah untuk menggulir satu persatu, atau mode free spin yang sangat halus.

scroll wheel dan horizontal scroll wheel mouse Logitech MX Master AMZ

Berpindah dari mode ratchet dan free spin juga gampang, dengan menekan tombol bagian atas, jika fungsi tombol secara default tidak diubah.

Jika tidak ingin melakukan penggantian mode secara manual, mengaktifkan fitur SmartShift akan sangat membantu, di mana roda bisa mendeteksi dari mode free spin ke mode ratchet tergantung dari cara memutar roda.

Logitech menggunakan teknologi magnet yang membuat putaran roda sangat halus dan akurat.

Saking sensitifnya, kadang saat menggunakan mode free spin agar tidak berisik dan menggulir halaman sedikit-demi sedikit, halaman seperti tergulir tidak stabil.

Untuk ini saya harus menggunakan mode ratchet yang cocok untuk keperluan ini, namun agak sedikit berisik saat harus menggulir banyak halaman.

Scrolling wheel horisontal di mouse ini juga sangat membantu, terutama untuk yang sering menyunting video.

horizontal scroll wheel mouse Logitech MX Master AMZ

Di samping scroll wheel horisontal, ada dua tombol atas-bawah yang bisa digunakan untuk berpindah dengan mudah.

Tombol di bagian bawah ibu jari juga sangat berguna untuk fungsi yang cukup sering saya akses.

Lokasi ketiga tombol ini sangat mudah saya akses dan menjadi bagian yang sering saya gunakan.

Saya bahkan merasa 5 tombol ini kurang dan berharap mempunyai lebih banyak tombol lagi.

Mouse ini berfungsi dengan baik di Windows 8, Windows 10, dan MacOS 10.10 jika menggunakan Bluetooth dan bila menggunakan USB dongle, Windows 7 juga bisa digunakan.

Melakukan pairing juga sangat mudah dan cepat, yang mana cara tergampang adalah dengan USB dongle yang mana saat ditancapkan, mouse langsung mengenali dan bisa dipakai.

sensor laser Darkfield, switch power, dan tombol pairing Bluetooth mouse Logitech MX Master AMZ

Proses pairing menggunakan Bluetooth juga mudah, yang mana perangkat langsung dikenali sebagai mouse dan bukan dikenali sebagai perangkat lainnya.

Mouse Logitech MX Master AMZ juga mendukung koneksi ke 3 perangkat berbeda yang mana untuk berpindah ke perangkat lain, cukup dengan menekan tombol di bagian bawah.

Sensor laser yang digunakan adalah Darkfield beresolusi 1000 dpi yang bisa digunakan di berbagai permukaan, termasuk kaca.

Namun saya sendiri belum mencoba menggunakan mouse ini di atas kaca.

Saya menggunakan Bluetooth untuk terhubung ke MacBook Pro saya dan menyimpan USB dongle.

Menurut saya menggunakan Bluetooth jauh lebih praktis karena tidak mengurangi jumlah colokan di MacBook Pro yang sudah sedikit dan saya bisa berpindah dengan cepat antara MacBook Pro kantor dan milik pribadi.

USB dongle Unifiying receiver Logitech MX Master AMZ

Selain itu, Bluetooth yang digunakan mouse ini merupakan Bluetooth Low Energy yang secara teori cukup hemat daya.

USB dongle menurut saya sangat berguna untuk PC atau perangkat yang tidak memiliki Bluetooth.

Meski begitu, setiap kali saya selesai menggunakan, mouse selalu saya matikan dengan menggeser switch yang berada di bagian bawah.

Baterainya sendiri diklaim bisa bertahan selama 40 hari, namun setelah saya pakai dengan rutin, sejak menerima dan menggunakan mouse ini pertama kali pada 13 Oktober 2020, saya perlu melakukan pengisian ulang pada 26 Oktober 2020 atau sekitar 13 hari.

Saat menerima perangkat, memang mouse tidak terisi penuh dan indikator baterai hanya menyala dua.

lampu indikator baterai mouse Logitecah MX Master AMZ

Saya mengetahui bahwa baterai perlu diisi ulang setelah mendapat notifikasi dari aplikasi Logitech Options dan lampu indikator pada mouse berwarna merah.

Proses pengisian daya baterai Li-Po mouse sebesar 500 mAh yang terintegrasi ini saya lakukan dengan menancapkan ke colokan USB MacBook Pro saya.

Meski diklaim pengisian satu menit bisa membuat mouse digunakan selama sejam, saya mengisi penuh baterai selama sekitar 2 jam hingga indikator yang berada di badan mouse menyala semua dan tidak berkedip.

Saya sendiri belum mencoba mengisi dengan USB fast charging atau charger ponsel yang secara teori bisa membuat pengisian daya lebih cepat.

Selama diisi, mouse tetap bisa digunakan, namun jadinya seperti mouse biasa yang memiliki kabel, namun tetap harus terkoneksi melalui Bluetooth atau USB dongle.

Kesimpulan

colokan mikro USB mouse Logitech MX Master AMZ

Meski puas dan sangat menyukai mouse Logitech MX Master AMZ ini, ada beberapa hal yang saya rasa hilang dari kenyamanan trackpad.

Dengan mouse, saya tidak bisa mengusap dengan jari, meski fitur ini bisa diset dengan menggunakan gesture button, yang mana harus menekan tombol lalu menggeser mouse.

Menurut saya, cara ini tetap kurang nyaman dan tidak sehalus menggunakan trackpad atau mengusap menggunakan magic mouse milik Apple.

Selain itu, penggunaan USB mikro juga menurut saya kurang praktis, yang bisa dimaklumi karena mouse ini dirilis di tahun 2015 yang mana penggunaan USB-C belum banyak.

Kekurangan lainnya, mouse ini hanya diperuntukkan untuk yang bukan kidal, karena hingga saat ini tidak ada mouse yang dikhususkan untuk yang kidal.

Meski begitu, aplikasi Logi Options tetap menyediakan fitur untuk menukar posisi antara klik kiri dan kanan, yang menurut saya adalah fitur sia-sia.

Bagi sebagian orang, penggunaan baterai terintegrasi tidak disukai karena saat darurat, baterai tidak bisa diganti dengan baterai berukuran AAA atau AA, namun menurut saya justru penggunaan baterai terpisah sangat tidak praktis.

Mouse ini juga rasanya kurang cocok untuk gamer karena berat dan respons serta resolusi sensor lasernya kurang tinggi, karena memang dirancang untuk perkantoran.

Tema 2020: VXN: 2017

Setelah hampir dua tahun saya menggunakan tema Meng, di penghujung 2020 ini akhirnya saya mengganti tema blog ini.

tema VXN ramah di semua tampilan

Niat memang sudah ada sejak awal 2020 lalu, namun apa daya saya yang tidak punya waktu.

Saya mengerjakan tema ini juga di saat senggang, di akhir pekan, di sela kesibukan lain seperti jalan-jalan atau hanya sekadar rebahan.

Sudah lama sebenarnya saya tidak bermain-main dengan tema WordPress, yang ternyata sudah banyak perubahan signifikan yang tidak saya ikuti.

Namun karena niatnya memang untuk memperbarui pengetahuan saya tentang teknologi web, saya pun menganggap ini sebagai cara untuk terus up to date.

Tidak seperti tema Meng yang menggunakan framework yang sudah jadi seperti Bootstrap atau Bulma untuk CSS-nya, kali ini saya menggunakan Tailwind CSS, yang kini cukup naik daun di kalangan pengembang web.

Tailwind CSS sendiri bukan sebuah framework yang komponennya bisa langsung dipakai, namun berupa tools yang sangat fleksibel sehingga saya bisa lebih bebas untuk berkreasi.

Karena keleluasaan ini lah yang membuat saya ingin mencoba, saya cukup puas dengan hasilnya, meski ke depannya saya akan utak-atik lagi agar lebih memuaskan.

tampilan VXN di ponsel

Dengan tema ini, saya bisa mengutamakan tampilan untuk mobile, karena dari statistik blog, pengunjung blog ini dari ponsel cukup banyak yaitu sekitar 40% dan yang mengakses dari desktop atau laptop sekitar 60%.

Saya juga menyatukan tema blog ini dengan tema profil dan agregator blog saya.

Untuk warna tema, saya mengambil palet warna Classic Blue (Pantone 19-4052) yang ditetapkan menjadi warna 2020 oleh Pantone.

Nama VXN sendiri saya ambil dari vaccine yang mana tema ini lahir di tengah pandemi Covid-19 yang membuat dunia berubah.

Semoga vaksin Covid-19 bisa segera ditemukan dan secara efektif menanggulangi pagebluk ini.

Tema ini sebenarnya belum 100% selesai dan masih ada kekurangan di sana-sini yang nantinya ke depan akan saya perbaiki dan perbarui.

Saya sendiri sudah gatal untuk mengganti tema, dengan meninggalkan gaya magazine dan kembali ke gaya blog klasik.

Meski begitu, saya tetap mempertahankan gambar sampul tiap postingan, dan terus bertahan dengan foto berbentuk persegi.

Saya juga mengurangi jumlah iklan Google di blog ini, yang menurut saya sedikit merusak tampilan karena beberapa iklan tidak dapat saya kontrol tampilannya yang menyesuaikan dengan ukuran layar.

Iklan memang saya pasang di blog ini, yang meski hasilnya tidak seberapa, namun lumayan untuk membiayai ongkos server dan perpanjangan domain blog ini.

Bisa dibilang blog ini bisa membiayai dirinya sendiri.

Sebagai gantinya, saya memasang tautan afiliasi di sidebar yang menurut pengalaman sebagai pengguna layanan tersebut, saya sangat puas.

tampilan VXN versi desktop

Pertama adalah tautan afiliasi dari Transferwise yang sering saya gunakan untuk mengirim uang ke Indonesia, lalu ada tautan afiliasi dari Transfez untuk mengirim uang dari Indonesia ke luar negeri, dan terakhir afiliasi tautan lokasi hosting blog ini di Linode.

Saya juga berencana memberikan tanda khusus untuk beberapa tulisan pesanan berbayar, yang mana lagi-lagi hasilnya saya gunakan untuk membiayai blog ini.

Hasil dari tulisan pesanan tersebut memang cukup lumayan, dan selama isinya tidak melanggar hukum dan sesuai dengan blog ini, yaitu ulasan atau informasi umum, saya tetap menerima.

Saya bahkan menyediakan halaman khusus untuk menampilkan klien serta tulisan yang merupakan tulisan berbayar di halaman kerja sama.

Blog ini juga masih menggunakan campuran bahasa antara Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia, di mana saya lebih suka menggunakan Bahasa Indonesia untuk seluruh tampilan.

Saya memanfaatkan fitur internationalization yang ada di WordPress untuk menerjemahkan antarmuka di blog ini, namun sayangnya aplikasi untuk melakukan penerjemahan tersebut tidak lagi gratis.

Walau sebenarnya harganya juga tidak terlalu mahal, saya belum berminat membeli karena selain saya jarang mengutak-atik tema WordPress, saya yakin ada cara lain yang gratis, walau tentu saja tidak semudah menggunakan aplikasi tersebut.

Tema untuk AMP juga belum siap, yang mana fitur ini menjadi semacam fitur wajib untuk blog yang banyak diakses melalui perangkat bergerak.

Jika menemukan kerusakan atau hal-hal yang tidak diharapkan, mohon laporkan kepada saya.

Pinjaman Online Aman Menggunakan Tunaiku: 2017

Jika mendengar istilah “pinjaman online“, pikiran orang biasanya orang akan merujuk ke kasus yang viral di media sosial saat banyak orang yang tiba-tiba ditelepon oleh orang tak dikenal yang menagih hutang orang lain.

Kejadian tersebut terjadi karena banyak orang yang meminjam ke lembaga keuangan dan aplikasi yang tidak jelas izinnya, yang secara semena-mena mengambil data dan dengan seenaknya menggunakan data tersebut.

Bunga yang dikutip oleh lembaga rentenir dan aplikasi lintah darat tersebut biasanya sangat tinggi dan membuat si peminjam makin kesulitan di saat sulit yang ia alami.

Maraknya praktik pinjam meminjam uang kepada lembaga rentenir yang tidak jelas identitas dan izinnya karena menjanjikan dana cair turun dengan cepat tersebut, membuktikan bahwa banyak warga yang membutuhkan layanan pinjaman uang karena berbagai alasan.

Tunaiku dari Bank Amar

Menjawab fenomena tersebut, Bank Amar membuka layanan pinjaman online pada tahun 2014 yang sekaligus menjadi produk digital pinjaman tanpa agunan.

Karena Bank Amar adalah lembaga keuangan yang terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), membuat seluruh layanan termasuk pinjaman online.

Tunaiku adalah salah satu layanan pinjaman online OJK pertama di Indonesia yang aman, mudah, dan terpercaya, karena merupakan salah satu produk dari bank, yang merupakan institusi finansial resmi di Indonesia.

Layanan Tunaiku berupa kredit tanpa agunan yang sangat berguna untuk masyarakat yang membutuhkan dana cepat, misal untuk modal usaha, renovasi rumah, biaya pernikahan, hingga biaya kesehatan.

Perbedaan Tunaiku dengan layanan pinjaman tanpa agunan online lainnya adalah keamanan,  fleksibilitas, dan kemudahan.

Karen Tunaiku berdiri dibawah naungan institusi finansial berbentuk bank resmi di Indonesia yang terdaftar dan diawasi oleh OJK, sehingga keamanan data nasabah dipastikan aman karena bank akan melindungi data nasabah sesuai aturan.

Dari segi fleksibilitas, Tunaiku menyediakan fasilitas tenor yang sangat panjang, yaitu maksimum 20 bulan dengan limit hingga 20 juta rupiah, di mana beberapa layanan pinjaman lainnya biasanya memberikan limit yang kecil dan tenor pendek.

Syarat untuk mendapatkan pinjaman dari Tunaiku juga sangat mudah, yang mana bila dibandingkan dengan layanan kredit tanpa agunan tradisional yang biasanya membutuhkan agunan serta banyak dokumen saat proses pengajuannya.

aplikasi Tunaiku

Untuk mengajukan kredit menggunakan Tunaiku, nasabah cukup mengunduh aplikasi Android atau iOS dan mendaftar secara online.

Dokumen yang dibutuhnya hanya KTP dan waktu 10 menit untuk mengisi seluruh formulir.

Proses verifikasi data akan dilakukan oleh Tunaiku, dan jika disetujui, kurir dari Tunaiku akan menghubungi nasabah untuk melakukan tanda tangan kontrak.

Kurir Tunaiku yang datang hanya bertugas membawa kontrak yang akan ditandatangani oleh nasabah, tidak melakukan survei atau kegiatan lain yang mempengaruhi status keanggotaan nasabah.

Setelah tanda tangan, nasabah akan menerima dana ke rekening bank dalam waktu 1 hingga 3 hari kerja, dan dana tersebut bisa langsung dicairkan atau digunakan.

Layanan Tunaiku bisa digunakan oleh masyarakat yang tinggal di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Gresik, Sidoarjo, Surabaya, Medan, Palembang, Pekanbaru, Makassar, dan Denpasar.

Bunga yang ditawarkan Tunaiku juga cukup kompetitif, yaitu 3-4% per bulan.

Hingga saat ini, sudah lebih dari 4,6 juta pengguna yang mengunduh aplikasi Tunaiku dan dana yang telah disalurkan sebesar lebih dari 4 trilyun rupiah.

Yang menarik, Tunaiku menyediakan fasilitas Top-Up, yang mana bila nasabah dengan periode 10-20 bulan dan telah melunasi cicilan kedelapan, bisa mengajukan tambahan dana atau pinjaman kembali.

Karena seluruh operasi dilakukan serba online dan digital, Tunaiku akan mengirimkan Surat Keterangan Lunas (SKL) kepada nasabah yang telah melunasi pinjaman melalui e-mail.

Menggunakan Monitor Philips 245B1/00: 2017

Setelah sekian bulan sejak menggunakan meja kerja untuk bekerja di rumah selama pandemi, akhirnya salah satu daftar keinginan saya untuk memiliki sudut kerja idaman terpenuhi.

bekerja menggunakan monitor Philips 245B1/00

Saya akhirnya membeli monitor yang sangat membantu saya untuk bekerja, setelah sekian lama mempertimbangkan karena beberapa kali saya bisa datang ke kantor dan menggunakan dua buah monitor di kantor.

Bekerja dengan menggunakan layar yang besar memang menyenangkan, terutama untuk saya yang banyak bekerja dengan kode dan tulisan.

Apalagi kasus penularan Covid-19 di Jerman dan terutama di Berlin naik lagi, dan kemungkinan besar pemerintah Jerman akan menerapkan pembatasan lagi, saya pun menggunakan kesempatan ini untuk mempernyaman sudut kerja saya karena saya juga kemungkinan besar akan banyak bekerja dari rumah lagi.

Jika sebelumnya saya masih bisa beberapa kali datang ke kantor dan menggunakan dua buah monitor di sana, namun melihat situasi yang ada, datang ke kantor meski masih diperbolehkan, saya rasa bukan keputusan yang tepat.

Saya pun memutuskan membeli monitor yang memang sudah lama saya rencanakan, namun karena ukuran meja saya yang kecil, saya harus benar-benar memilih monitor yang cocok untuk kebutuhan saya.

Untuk saat ini, sebuah monitor akan sangat membantu, meski sebenarnya saya suka bila memiliki dua buah monitor, atau satu monitor tapi panjang alias ultra wide.

Namun lagi-lagi karena ukuran meja yang kecil, saya untuk sementara tidak memiliki kemewahan untuk membeli dua buah monitor atau monitor panjang.

Kriteria Monitor Idaman

meja kerja di kantor dengan dua buah monitor Dell UltraSharp U2518D

Saya memiliki kriteria tertentu untuk monitor yang akan saya gunakan.

Pertama, secara fisik, monitor tersebut muat untuk meja saya yang luasnya 0,365 meter persegi ini.

Sebenarnya saya menyukai monitor Dell UltraSharp U2518D berukuran 25 inchi dengan resolusi QHD (2560×1440) alias 2K.

Oleh karena itu, resolusi minimal yang saya inginkan adalah 2K alias 2560 × 1440 piksel dengan ukuran layar sekitar 25 inchi.

Sayangnya, selain harganysa yang cukup mahal, sekitar 300€ dan barangnya agak sulit didapat karena monitor ini produksi 2013 hingga 2016.

Selain itu, posisi monitor harus bisa diubah ketinggiannya, sudutnya, bahkan orientasinya, karena monitor Dell di kantor bisa diset.

Ini menyenangkan karena posisi monitor bisa diset sesuai ketinggian mata atau orientasi diubah ke vertikal ketika coding.

meja kantor dengan monitor tambahan

Karena saya mempunyai rencana untuk memasang monitor ini di lengan ayun (swing arm) untuk membuat meja sedikit lebih lega dan siapa tahu bisa menambah monitor kedua, tentu saja saya mencari monitor yang mendukung mounting VESA.

Soal konektivitas, paling dasar tentu mendukung koneksi HDMI yang sudah umum di hampir semua monitor.

Saya pun lalu berburu di Amazon, dengan menyortir monitor dengan memasang anggaran sekitar 200€.

Di Amazon, cukup banyak monitor dengan harga sekitar 100€ hingga 200€, namun sayangnya resolusinya hanya Full HD atau 1920 × 1080 piksel.

Sebenarnya ada beberapa monitor gaming yang menarik, namun lagi-lagi selain masalah anggaran dan spesifikasinya tidak sesuai keinginan saya.

Saya juga menghindari beberapa merek yang kurang saya dengar, terutama merek-merek Cina, kecuali jika terpaksa.

Monitor Philips 245B1/00

paket monitor dari Amazon

Setelah cukup lama menyortir puluhan monitor yang ditawarkan di halaman Amazon, akhirnya saya menemukan monitor Philips 245B1/00 yang memenuhi seluruh kriteria tersebut, yang dijual dan dikirim dari gudang Amazon.

Monitor ini memenuhi kriteria yang saya tentukan, yaitu memiliki resolusi QHD, berukuran layar 23,8 inchi yang mendekati 25 inchi.

Orientasi dan ketinggian monitor juga bisa diatur, bahkan monitor juga bisa diputar hingga berdiri vertikal.

Layarnya pun menggunakan teknologi IPS (In-Plane Switching) dengan LED sebagai sumber cahaya untuk panel LCD membuat monitor ini memiliki rating efisiensi energi A+.

Konektor monitor ini adalah HDMI 1.4, DP (Display Port) 1.2a, dan DVI-D yang menurut saya sudah lebih dari cukup.

Harganya pun masuk dalam anggaran, yaitu 208,48€ yang membuat saya langsung melakukan checkout pada tanggal 2 Oktober 2020.

kemasan monitor Philips 245B1/00 di dalam kardus Amazon

Karena saya membeli barang tersebut pada malam hari, di akhir pekan, barang tersebut akan saya terima pada tanggal 6 Oktober 2020.

Namun entah kenapa, terjadi keterlambatan sehingga paket baru saya terima pada tanggal 7 Oktober 2020.

Walau agak kecewa dengan keterlambatan pengiriman, apalagi saya menggunakan layanan pengiriman cepat dari Amazon Prime, tidak ada yang bisa saya perbuat selain pasrah.

Paket yang menurut label seberat 8 kilogram tersebut diantar oleh kurir dari Amazon Flex, tidak seperti saat saya membeli kursi Songmics yang juga dari Amazon, tapi dikirim oleh kurir UPS.

Hal ini yang saya suka dari berbelanja di Amazon, karena saya tidak perlu repot membawa monitor tersebut jika misalnya saya membeli di toko seperti MediaMarkt atau Saturn.

Meski MediaMarkt dan Saturn memiliki layanan antar dan toko online, karena saya menggunakan layanan Amazon Prime yang tidak membebankan biaya kirim serta paket dapat dilacak secara realtime, saya cenderung memilih layanan Amazon.

Membuka Kardus

kemasan monitor Philips 245B1/00

Setelah saya terima paket besar tersebut, saya pun segera membuka kardus Amazon dan mendapati kemasan monitor terlindungi oleh sumpalan kertas.

Sementara menurut spesifikasi, berat monitor lengkap dengan kakinya adalah 4,78 kilogram, dan jika dengan kardus, beratnya menjadi 6,85 kilogram.

Saya pun sekilas mengukur dengan meletakkan kardus monitor ke atas meja saya, apakah monitor yang diwakili oleh kardus tidak melebihi lebar meja.

Di badan kardus kemasan berwarna coklat, terdapat instruksi cara membuka dan mengeluarkan monitor.

Instruksi ini sangat bagus untuk mencegah unit rusak akibat terjatuh karena membuka kardus dengan cara yang salah.

Saya pun mengikuti instruksi dan petunjuk yang tertera dengan hati-hati, dengan pertama-tama meletakkan kardus dengan posisi tertidur dengan bagian yang diberi tanda panah berada di atas.

Kemudian saya menarik styrofoam dengan hati-hati yang ternyata di bagian atas terdapat lempengan kaki dan penyangga beserta kabel dan buku petunjuk.

seluruh isi kardus monitor Philips 245B1/00

Jika saya tidak mengikuti petunjuk dengan meletakkan kardus dengan posisi panah di bawah, tentu isi kardus ini akan tumpah.

Styrofoam ini dirancang sedemikan rupa agar mengunci dan mengapit monitor sekaligus melindunginya.

Setelah mengangkat bagian atas yang menjadi wadah kabel dan tatakan kaki,

Untuk mengangkat monitornya pun ada instruksinya yang tertulis di lembaran yang berada di dalam kardus.

Caranya adalah pertama memasang tatakan kaki dan penyangganya terlebih dulu, kemudian mengunci kakinya ke bagian belakang monitor, lalu dengan hati-hati mengangkat monitor dengan memegang pada bagian kaki dari styrofoam-nya.

Dalam kemasan, ada 4 buah kabel, yaitu kabel listrik untuk dihubungkan ke colokan, kabel HDMI ke HDMI, kabel DP ke DP, serta kabel audio 3,5 mm male to male.

Selain kabel, ada juga buku petunjuk dan kartu garansi, serta sebuah CD yang berisi buku petunjuk dan driver.

Walau begitu, buku petunjuk dan driver ini juga bisa diunduh melalui situs Philips.

Fisik dan Fitur

buku petunjuk monitor Philips 245B1/00

Setelah membaca buku petunjuk penggunaan yang tersedia, saya pun memasang dan menyalakan monitor tersebut.

Sebelumnya, saya mencoba sendiri mengeset orientasi dan ketinggian monitor.

Monitor Philips 245B1/00 memiliki tinggi maksimal hingga 50 cm dan 30 cm jika layar dimentokkan ke bawah dalam posisi layar mendatar.

Kaki monitor bisa diputar hingga 180° dan orientasi layar bisa diputar 90° yang cocok yang menginginkan layar vertikal.

Sudut kemiringan monitor bisa diatur mulai dari -5° pada posisi menunduk hingga 35° seolah-olah layar mendongak.

Desain layarnya sendiri cantik, lebih dari ekspektasi saya, di mana warnanya hitam matte pada bagian belakangnya dengan tekstur kuas.

memasang monitor dengan posisi vertikal

Kakinya juga tampak elegan dan kokoh, dengan tulisan logo Philips berwarna perak di bagian belakang.

Penyangga kakinya pun cukup mungil namun kokoh, yang justru saya cari karena luasan meja saya yang sempit.

Bagian tepian layarnya juga tipis, dengan bagian bawah agak tebal dan menonjol yang juga merupakan lokasi tombol-tombol untuk mengatur layar melalui OSD (On-Screen Display).

Saya sendiri suka dengan tombol-tombol fisik yang ukurannya agak besar seperti ini, daripada tombol kecil-kecil dan tersembunyi seperti pada monitor Dell punya kantor.

Di bagian bawah tengan layar, terdapat logo tulisan Philips serta sebuah sensor cahaya untuk mengaktifkan fitur PowerSensor yang bisa mendeteksi keberadaan manusia.

sensor pada monitor Philips 245B1/00

Sensor ini jika diaktifkan akan menghemat daya monitor saat seseorang tidak berada di depan layar.

Selain itu, sensor ini juga bisa diatur untuk menyesuaikan kecerahan layar mengikuti cahaya sekitar.

Lampu indikator berwarna putih akan menyala saat layar digunakan, dan akan berkedip jika layar mati atau tidak ada sambungan sinyal ke monitor.

Jika memang sedang tidak dipakai, ada baiknya monitor dimatikan dengan menekan tombol power yang ada di bagian depan.

Di bagian belakang, di samping colokan listrik, terdapat saklar daya yang menurut saya sangat berguna jika layar benar-benar ingin dimatikan.

Untungnya, catu daya terintegrasi dengan monitor, sehingga tidak perlu lagi ada catu daya tambahan yang kadang merepotkan saat melakukan cable management.

colokan USB 3.2 dan fast charging

Selain colokan konektor DVI-D, HDMI, DP, terdapat sebuah colokan audio 3,5 mm untuk keluaran suara.

Pantas saja ada kabel audio 3,5 mm male to male yang disertakan yang mana colokan ini berguna untuk menghubungkan keluaran suara dari monitor ke media lain seperti amplifier.

Sebuah colokan USB 3.2 tipe B upstream yang digunakan untuk masukan agar keempat USB tipe A lainnya bisa digunakan.

Colokan USB tipe A ini ada dua di bawah dan dua buah di samping, yang mana satunya diberi warna kuning yang memiliki fitur fast charging yang berguna untuk mengisi daya perangkat lain seperti ponsel.

Seluruh konektor yang ada di belakang menghadap ke bawah, sehingga secara pemasangan dan pengaturan kabel, menurut saya jadi terlihat lebih rapi dan estetik.

konektor monitor monitor Philips 245B1/00

Di bagian kaki, terdapat lubang yang digunakan untuk menyatukan seluruh kabel dari colokan sehingga seluruh kabel jadi lebih rapi dan mudah ditata.

Monitor Philips 245B1/00 juga memiliki speaker internal yang menurut saya suaranya sangat dasar, bahkan cenderung buruk.

Saya pun mematikan pengeras suara yang berada di bagian belakang ini dengan mengeset ke mute melalui tombol pengaturan monitor, karena toh untuk musik, saya lebih sering mendengarkan melalui headphone atau earphone.

Monitor ini juga mendukung refresh rate 75 Hz serta Adaptive-Sync yang mendukung teknologi FreeSync dari AMD.

Philips menanamkan teknologi SmartImage yang diklaim bisa menampilkan warna dengan lebih baik untuk bermain game, bekerja, menonton film, atau menyunting foto.

Saya sendiri merasa sangat nyaman dengan tampilan monitor Philips 245B1/00 ini dan merasa tampilannya cukup bisa disandingkan dengan tampilan monitor Dell di kantor saya.

Galeri Foto

Serunya Bermain Gokart di Berlin Kart: 2017

Sudah sejak lama sekali saya penasaran dengan gokart, namun belum pernah mencobanya karena akses yang terbatas, karena yang menawarkan lintasan dan penyewaan gokart juga terbatas.

Di Jabodetabek sendiri, ternyata ada 5 tempat yang menyediakan fasilitas gokart dengan harga yang ternyata cukup terjangkau.

Akhirnya saya bisa mencoba permainan yang cukup memacu adrenalin itu, yang dibiayai oleh kantor.

Kantor memang mempunyai anggaran yang diberikan kepada karyawan untuk kebersamaan, yang penerapannya diserahkan ke masing-masing tim.

Biasanya anggaran ini digunakan untuk kegiatan main bersama, entah makan bersama, bermain paintball, atau gokart.

Di masa pandemi ini, cukup sulit untuk melakukan aktivitas berkumpul, karena ada aturan jumlah maksimal orang bertemu serta penerapan protokol kesehatan yang tidak semua fasilitas boleh buka.

Meski demikian, anggaran tersebut harus digunakan, karena dianggap cukup penting untuk membangun kekompakan dan kebersamaan anggota tim.

sirkuit gokart Berlin Kart

Saya pun akhirnya bisa mengerti kenapa ada istilah “penyerapan anggaran” yang sering didengung-dengungkan.

Setelah hampir setahun dana tersebut nganggur karena adanya pembatasan terkait pandemi, akhirnya pada hari Senin, 5 Oktober 2020, rencana tersebut terlaksana.

Keputusan tersebut pun tidak mudah diambil, karena selain mencari waktu yang tepat, penentuan jenis kegiatannya juga menimbulkan perdebatan pelik di grup Slack.

Dari 10 orang anggota tim, yang bisa dan mau ikut gabung ada 4 orang, namun pas hari-H, satu orang yaitu atasan saya akhirnya membatalkan rencana karena ada urusan pekerjaan yang lebih penting.

Akhirnya yang berangkat hanya kami bertiga, yaitu saya, Gabriel, seorang teman dari Brasil, serta Azeez, seorang teman dari Nigeria.

Kami menyelesaikan pekerjaan kantor lebih awal, karena kami sudah memesan untuk permainan pukul 17:00.

Setelah pamitan di grup, kami janjian bertemu langsung di sirkuti, Berlin Kart yang berada di area Neukölln.

Pertama Kali Bermain Gokart!

gedung Berlin Kart

Saya datang tiba lebih awal di lokasi yang sekilas seperti gudang besar.

Berlin Kart merupakan wahana indoor gokart yang menurut saya cukup menyenangkan dilakukan di musim dingin begini.

Bunyi deru mesin gokart terdengar hingga luar gedung lengkap dengan bau solar yang tajam.

Saya celingukan mencari Azeez yang telah lebih dulu memesan tempat namun rupanya dia belum datang.

Setelah mengirim pesan kepada Azeez saya pun masuk ke dalam karena di luar dingin plus gerimis.

Begitu masuk, saya duduk sambil menunggu Azeez dan Gabriel datang.

Petugas yang melihat saya duduk pun langsung menghampiri karena saya masuk tanpa permisi dan melewati resepsionis yang memang tidak ada yang jaga.

Saya menjelaskan ke petugas dengan setengah berteriak karena suara bising, yang kemudian tak berapa lama kedua teman saya datang.

Kami digiring kembali ke meja resepsionis untuk menyelesaikan urusan pembayaran.

menggunakan penutup kepala ala pembalap

Berlin Kart memiliki beberapa paket yang dibagi menjadi dua grup berdasar jumlah peserta.

Pertama paket yang pesertanya kurang dari 6 orang dan paket untuk orang maksimal 11 orang.

Tiap paket dibedakan lagi berdasar durasi permainan, di mana paling dasar adalah bermain selama 15 menit tanpa ada kompetisi, sementara paket paling lama adalah 65 menit di mana 10 menit pemanasan, 15 menit kualifikasi, dan 40 menit balapan.

Kami memilih paket dengan durasi 55 menit, yang bernama Le Mans Race, dengan harga 63€ per orang dengan waktu balap hanya 30menit.

Menurut kami, 55 menit sudah lebih dari cukup.

Setelah membayar, kami diberikan penutup kepala untuk melindungi kepala sebelum menggunakan helm.

Benar-benar seperti pembalap sungguhan.

Sebelum turun ke lintasan, kami diberi pengarahan dan informasi terlebih dahulu.

papan informasi sirkuit dan simbol bendera

Dengan Bahasa Inggris yang terpatah, petugas berusaha menjelaskan berbagai prosedur, terutama soal sinyal bendera yang digunakan selama bermain gokart.

Misal bendera kuning atau saat lampu-lampu kuning berkelip-kelip, maka artinya seluruh pemain harus mengurangi kecepatan karena ada kondisi darurat, atau misal jika pengemudi dianggap terlalu berbahaya, bendera merah adalah peringatan terakhir untuk si pemain meninggalkan lintasan.

Termasuk cara mengemudikan gokart yang hanya punya dia pedal, gas di kiri dan rem di kanan, tanpa ada perseneling atau penggantian gerigi yang rumit.

Sebelum masuk lintasan, kami menyimpan seluruh barang mulai dari tas hingga ponsel ke dalam loker yang tersedia.

Tidak ada jaket khusus yang disediakan, mungkin karena lokasinya di dalam ruangan dan dianggap cukup aman.

Gentlemen, Start Your Engine!

pit (tempat parkir) gokart

Setelah mengambil helm dan naik ke atas gokart masing-masing, petugas mulai menyalakan mesin dengan menarik tali starter yang berada di sisi kanan belakang.

Brum.. Brum.. Bau solar langsung menguar memenuhi udara.

Petugas mengatur barisan dan urutan dengan memberikan jeda karena ini adalah sesi pemanasan yang fungsinya membiasakan pemain dengan cara mengendalikan kendaraan.

Ngeeng.. Gokart yang saya kendarai langsung meluncur saat pedal gas saya injak.

Meski agak kaget, say bisa langsung mengendalikan.

Sudah lama saya tidak menyetir mobil, dan pikir saya mengendarai gokart tak jauh beda dengan menyetir mobil

Rupanya saya salah, karena gokart adalah binatang yang sangat berbeda.

Lupakan semua teori keselamatan terutama saat menikung, di mana jika mengendarai mobil, sebisa mungkin saat menikung, kecepatan diturunkan.

Pada gokart, justru saat berbelok tajam, gas harus diinjak sambil menahan setir karena momentumnya yang pendek dan rasio setirnya tidak linear.

Membelokkan setir sedikit saja, roda sudah menyimpang sekian sudut.

Menginjak rem saat berbelok justru menambah masalah karena gokart bisa drifting yang jika tidak bisa mengendalikan, pemain akan menabrak bantalan sirkuit.

hasil catatan waktu bermain Gokart

Menit-menit pemanasan ini benar-benar saya manfaatkan untuk mempelajari dan membiasakan diri menyetir gokart serta menghafal sirkuit, apalagi ini pengalaman saya yang pertama kali.

Melahap tikungan U tentu berbeda saat berkelok di tikungan S, apalagi saat keduanya dikombinasikan, di mana ada lintasan lurus panjang sebelumnya.

Dalam beberapa putaran, saya mulai bisa menghafal sirukit dan menandai titik-titik mana yang menurut saya cukup kritis.

Tak terasa, bendera kotak-kotak dikibarkan oleh petugas, yang mana seluruh pemain wajib menyelesaikan satu putarn lagi sebelum kembali ke pit.

Rupanya waktu pemanasan usai, dan pemain diminta untuk beristirahat sejenak sebelum masuk ke babak kualifikasi yang diakhiri dengan race.

Saya kaget saat petugas membagikan kertas berisi catatan waktu semua pemain.

Rupanya hasil pemanasan, saya berada di posisi paling bontot, dengan waktu putaran tercepat 1 menit 38,59 detik dari 12 putaran saat melahap lintasan sepanjang 725 meter ini.

1.. 2.. 3.. Go!

pemain melintas cepat di lintasan

Setelah istirahat sejenak, kami memulai babak kualifikasi.

Selain rombongan kami, petugas menggabungkan peserta lain yang sudah datang dan bermain sebelum kami.

Total pemain ada 9 orang yang akan berkompetisi menjadi pembalap gokart tercepat.

Saya tentu tak mau kalah, dan jiwa kompetitif saya bergejolak.

Namun rupanya jiwa kompetitif tanpa pengalaman dan kemampuan rupanya tidak cukup, karena beberapa kali saya didahului oleh beberapa anak baru ini, yang jika dilihat dari gayanya menyetir, adalah akamsi alias anak kampung sini, yang kemungkinan besar udah sering bermain di arena ini.

Rupanya priviledge juga ikut bermain di sini, tapi saya tetap berusaha sekuat tenaga.

Hingga akhirnya babak kualifikasi selesai, dan saya mencatatkan waktu yang agak lebih baik dari waktu pemanasan, yaitu 1 menit 23,85 detik pada 8 putaran.

Dari hasil kualifikasi tersebut, saya menempati urutan keenam pada pole position pada sesi balap.

Setelah lampu merah menyala tiga kali, lampu hijau lalu menyala dan seluruh pemain langsung menginjak gas sekuat tenaga untuk menjadi yang terdepan.

Tak terasa, balap gokart pun usai, dan seperti biasa, kami diberikan lembaran kertas berisi hasil balap siang itu.

Hasilnya, Azeez berada di posisi kedua, disusul Gabriel di posisi ketiga, sedangkan saya berada di posisi kelima, dengan catatan waktu lap tercepat 1 menit 21,601 detik dari 13 putaran.

Informasi waktu ini cukup lengkap, di mana saya bisa mengetahui bahwa waktu lap tercepat ini saya dapatkan pada putaran ketiga, dan saya tertinggal 2 putaran dari si juara pertama.

Saya sendiri cukup senang akhirnya bisa menyentang salah satu keinginan saya sejak lama, yaitu bermain gokart.

Walau saat pulang, seluruh badan bau solar karena tidak ada jaket dan balapan dilakukan di ruang tertutup.

Apalagi, usia memang tidak berbohong, karena keesokan harinya barulah saya merasa pinggang bagian belakang saya terasa njarem dan harus ditempel koyo akibat bermain gokart.

Namun ini menjadi alasan saya agar lebih sering lagi bermain gokart, dan teman-teman yang lain sepakat untuk bermain lagi di lain kesempatan, tentu dengan jumlah peserta yang lebih banyak, dan saat pandemi berakhir.

Mengunjungi Festival Labu 2020 di Berlin, Jerman: 2017

Labu dan Jerman memang seringkali tidak dapat dipisahkan.

Meski labu berasal dari Amerika Utara, namun sejak dibawa ke Eropa, labu menjadi salah satu makanan penting di Eropa, terutama Jerman.

balon di Festival Labu Berlin

Sup labu, atau Kürbissuppe, hangat menjadi hidangan favorit di saat musim gugur dan musim dingin tiba.

Menurut laporan dari Statista, mulai tahun 2006, hasil panen labu di Jerman meningkat hingga dua kali lipat.

Labu yang awalnya menjadi bagian dari budaya Amerika makin ke sini makin bergeser, yang mana kini festival labu terbesar bukan diadakan di Amerika Serikat atau Kanada, tapi justru di kota kecil bernama Ludwigsburg, Badne-Württemberg, Jerman.

Rupanya tidak hanya di Ludwigsburg, di Berlin juga ada festival labu yang tentu saja tidak sebesar di Ludwigsburg.

Konsepnya pun sedikit berbeda, yaitu berupa pasar dadakan yang menempati ruas Akazienstraße di kawasan Schöneberg, Berlin.

Festival Labu atau Kürbisfest di Schöneberg, Berlin ini termasuk salah satu festival tertua di Berlin yang diperbolehkan diadakan di masa pandemi ini.

Meski ada beberapa pasar dadakan yang biasa diadakan di akhir pekan atau pasar natal, namun pasar di Festival Labu Schöneberg ini cukup menarik, karena temanya adalah, tentu saja labu.

Festival Labu Schöneberg

suasana di dalam Festival Labu Berlin

Kami mengunjungi festival yang diadakan pada 3-4 Oktober 2020 ini pada hari Sabtu, 3 Oktober 2020, tepat pada hari libur untuk memperingati bersatunya Jerman.

Karena sudah tahu bahwa biasanya ramai, kami mendatangi pasar ini agak awal, sekitar pukul 12:30.

Orang Jerman memang biasa memulai pagi pada pukul 10:00 pada hari libur.

Benar saja, saat kami sampai, sudah ada antrean di depan pintu yang dijaga oleh petugas berbadan sebesar kulkas.

Selama pandemi, jumlah pengunjung yang masuk dibatasi dan dihitung, jika di dalam sudah mencapai jatah, pintu akan ditutup, pengunjung harus antre sambil menunggu pengunjung yang di dalam keluar terlebih dulu.

Di dalam, jalur dipisahkan menjadi dua sehingga arus pengunjung bisa teratur dan menghindari papasan langsung.

Meski ada anjuran untuk menggunakan masker dan menjaga jarak, namun tetap saja ada beberapa pengunjung yang tidak mematuhi anjuran tersebut.

kastanye bakar di Festival Labu Berlin

Rupanya Festival Labu ini hanyalah nama, karena di dalam, banyak pedagang yang menjajakan barang-barang yang tidak bertema labu.

Namun ada untungnya juga, karena saya melihat ada yang menjual kastanye (chestnut) bakar seperti yang pernah saya makan saat di Lisbon tahun lalu.

Harga 200 gram kastanye bakar cukup murah, sekitar 4€.

Sambil ngemil kastanye bakar, kami menyusuri pasar sepanjang 450 meter di Akazienstraße.

Di perempatan di mana Belzigerstraße memotong Akazienstraße barulah kami melihat ada penjual labu dengan berbagai jenis, warna, ukuran dan bentuk.

Labu-labu yang dijual di sini cukup murah, sekitar 1€ per kilogram labu.

Saya sendiri baru tahu bahwa labu ada berbagai jenis, warna, ukuran, dan asal.

penjual labu di Festival Labu

Ada labu dari Hokkaido, Jepang yang berwarna oranye agak kemerahan, ada labu Halloween berwarna oranye yang biasa untuk diukir, hingga labu dari Napoli dengan bentuk seperti semangka.

Di satu sudut meja, ada labu dengan bentuk yang tidak beraturan, yang awalnya saya kira labu-labu ini cacat atau tidak sempurna tumbuhnya.

Warnanya pun bermacam-macam, ada yang kuning, merah, hijau, bahkan ada yang berwarna hitam.

Penjual makanan terlihat lebih banyak, mulai dari makanan dari Kuba, penjual sosis atau bradwurst, es krim, arum manis, hingga madu dan tanaman.

Suasananya mirip seperti pasar natal yang kami kunjungi di Spandau tahun lalu.

Saya yang penasaran dengan sup labu khas Jerman, langsung girang saat menemukan penjual sup labu ini.

sup labu ala Jerman di Festival Labu

Harganya cukup murah, sepiring sup dengan roti, harganya 3€ plus 1€ untuk deposit wadah.

Sistem deposit memang sudah biasa dilakukan di Jerman, di mana jika mangkok tersebut dikembalikan, uang deposit 1€ akan dikembalikan.

Awalnya saya mengira sup labu ini berasa manis, sama seperti rasa kolak labu yang sering saya makan waktu di Indonesia.

Rupanya saya salah, karena rasa sup labu ini cenderung asin dan berbumbu sedap.

Teksturnya seperti bubur, yang memang cocok disantap di saat dingin, seperti saat saya mengunjungi pasar ini di mana temperaturnya sekitar 10°C.

Meski begitu, saya suka dengan sup labu ini dan menganggap sup labu ala Jerman ini enak, dan menganggap sup labu ini bisa menjadi pengobat rindu bubur ayam.

wahana permainan di dekat Gereja Apostel-Paulus

Di sekitar Gereja Apostel-Paulus yang berada di ujung jalan Akazien, terdapat wahana bermain anak seperti komedi putar atau mobil-mobilan.

Ada juga wahana bermain anak dengan menembak sasaran dengan menggunakan crossbow yang tentunya anak panahnya menggunakan karet di bagian ujungnya.

Seorang penjual balon terlihat menjajakan balon-balon plastik beraneka bentuk yang tentu saja membuat banyak anak menangis merengek kepada orang tuanya untuk meminta dibelikan balon.

Dari berbagai bentuk balon yang dijual, saya melihat balon berbentuk unicorn terlihat lebih banyak diminati.

Rupanya atraksi utama dari festival ini ada di sekitar gereja, di mana ada semacam sudut yang dihias dengan berbagai macam labu.

atraksi utama Festival Labu

Ada patung sepasang nenek dan kakek tengah duduk di depan salah satu pintu gereja yang dikelilingi oleh labu yang diukir dan bunga-bunga.

Sudut ini menjadi sudut favorit orang berfoto karena memang cantik, yang tentu saja menarik banyak orang berkumpul.

Di sekitar gereja ini juga terdapat beberapa penjual labu yang menggelar dagangannya dengan meletakkannya di atas rumput halaman gereja.

Pembeli bisa memilih dengan leluasa dan memungut sendiri labu-labu mungil yang dipilihnya.

Setelah puas menikmati suasana dan kenyang makan sup labu dan kastanye, kami pun pulang.

Saat pulang, kami melihat antrean pengunjung yang hendak masuk terlihat sangat panjang karena ditahan oleh petugas.

Memang benar kami datang lebih awal karena jika kami datang agak sore sedikit, kami harus mengantre dan menunggu entah berapa lama.

Galeri Foto

Menggunakan Timbangan Badan Chwares CH032: 2017

Saya sebenarnya bukan orang yang terlalu memikirkan masalah berat badan.

pencarian timbangan di Amazon

Namun karena istri menjalani program mengatur berat badan, dia ingin membeli timbangan badan untuk mendukung programnya.

Awalnya sih, istri ingin membeli timbangan badan murah saja yang fungsi utamanya tentu untuk menimbang.

Rupanya karena saya ikut mencari timbangan lewat Amazon, dan menemukan banyak timbangan dengan berbagai fitur, malah saya yang antusias.

Istri pun akhirnya menyerahkan pemilihan timbangan badan kepada saya, tentu dengan anggaran yang ketat, karena istri tidak ingin memiliki timbangan canggih yang harganya mahal, dengan fitur yang tidak banyak ia gunakan.

Saya kemudian berpikir, jika ada timbangan murah namun punya fitur lebih, kenapa tidak?

Dari melihat beberapa ulasan, saya sempat jatuh hati ke timbangan bermerek Renpho, yang memiliki fitur mengirimkan data ke aplikasi ponsel lewat Bluetooth.

Timbangan Renpho ini selain mengukur dan mencatat berat badan, juga memiliki fitur mengukur dan mencatat data lain, seperti BMI (Body Mass Index), kandungan lemak dalam tubuh, massa otot, dan pengukuran lain yang berguna untuk yang ingin melakukan diet.

Yang menarik, data yang dikirimkan timbangan Renpho juga bisa dibaca dengan aplikasi kesehatan macam Samsung Health, Fitbit App, Apple Health, Google Fit, bahkan aplikasi di Apple Watch.

Sayangnya, harganya yang sekitar 30€ masih dianggap kemahalan oleh istri dan tidak mendapat persetujuan darinya.

memesan timbangan dari Amazon

Saya juga sempat melirik timbangan Xiaomi Mi Scale 2, yang fiturnya juga lengkap seperti Renpho, sayangnya lagi-lagi terpentok masalah harga yang juga sekitar 30€.

Belum lagi jika membeli dari situs resmi Xiaomi, entah berapa lama sampainya.

Setelah mencari-cari produk-produk dengan merek Cina di Amazon, akhirnya saya menemukan sebuah timbangan yang fiturnya lengkap, dengan baterai yang bisa diisi ulang dengan kabel USB, ada aplikasi untuk mencatat, namun harganya masuk anggaran!

Timbangan itu adalah timbangan bermerek Chwares, yang secara bentuk sangat mirip dengan timbangan Renpho, dengan harga lebih murah dari Renpho, yaitu 17,99€.

Sepertinya timbangan Renpho ini memang cukup favorit dan ada berbagai merek yang bentuknya mirip atau persis, bertebaran di Amazon.

Kemasan dan Fisik

kardus timbangan Chwares

Timbangan dikemas dalam kemasan kardus berukuran 29 cm × 29 cm × 5 cm, berwarna putih, yang dibungkus lagi dengan kemasan plastik dari Amazon.

Di bagian belakang terdapat informasi tentang spesifikasi dan kode QR yang mengarah ke halaman mengunduh aplikasi Fitdays untuk Android atau pun iOS.

Setelah membuka tutupnya, unit timbangan langsung terlihat.

Terdapat buku petunjuk penggunaan dalam Bahasa Inggris, Prancis, Jerman, Spanyol, Italia, dan Portugis, seta sebuah lembar berisi informasi aplikasi Fitdays.

Sebuah kabel USB mikro juga disertakan untuk digunakan mengisi daya.

Pengisian daya timbangan ini bisa dilakukan dengan menggunakan pengisi daya ponsel.

isi kemasan timbangan Chwares

Dari buku petunjuk, rupanya seri timbangan ini adalah CH032 yang mampu menahan beban maksimal hingga 180 KG dan minimal 6 KG.

Kapasitas baterainya kecil, hanya 300 mAh dan berjenis Lithium.

Skala timbangan secara default adalah kilogram, namun bisa diset ke skala imperial.

Unit timbangan sendiri ukurannya 26 cm × 26 cm dengan ketebalan 2 cm.

Materialnya menggunakan tempered glass yang kokoh namun licin jika kaki dalam kondisi basah.

Terdapat 4 lempengan elektroda sensor yang terletak di empat sudut yang digunakan untuk mengukur massa otot dan massa lemak.

unit timbangan Chwares

Bagian bawahnya terbuat dari plastik dan di bagian keempat kakinya terdapat sensor berat yang cukup akurat.

Untuk mengganti unit skala, dilakukan dengan tombol fisik yang berada di bagian bawah timbangan.

Colokan kabel USB mikro ada di bagian samping atas yang terlindungi oleh tutup terbuat dari karet.

Layar LCD untuk menampilkan hasil pengukuran berukuran cukup lebar, yaitu 60 mm × 27 mm berada di bagian tengah atas.

Tampilan LCD-nya sangat jelas dengan tulisan berwarna merah yang menunjukkan berat badan.

Untuk melihat informasi lainnya, seperti BMI atau massa otot dan massa lemak, hanya bisa dilihat melalui aplikasi Fitdays.

Menggunakan Timbangan Chwares

Sudah hampir sebulan ini saya menggunakan timbangan yang saya beli pada 11 September 2020 ini.

Saya puas dan merasa timbangan ini cukup akurat.

Cara menggunakannya pun cukup mudah, hanya dengan menginjak naik ke atas timbangan, tampilan layar langsung menyala dan setelah menunggu sekitar 8 detik, berat badan akan muncul dan terkunci.

Setelah didiamkan selama 10 detik, timbangan akan mati sendiri untuk menghemat baterai.

Selama menimbang, saya selalu telanjang kaki, dan seluruh lempeng elektroda menyentuh telapak kaki, karena lempeng ini lah yang akan mengirim sinyal elektronik ke tubuh dan melakukan pengukuran terhadap jumlah sinyal yang diterima kembali.

Sinyal elektronik ini yang kemudian digunakan untuk menghitung massa otot, massa lemak, kandungan air, dan indikator kesehatan lainnya.

Meski ada sinyal elektronik yang dikirimkan timbangan melalui tubuh, tidak ada rasa seperti kesetrum atau apa pun.

Menggunakan Aplikasi Fitdays

aplikasi Fitdays

Jika memasang aplikasi Fitdays dan berhasil melakukan sambungan ke timbangan, seluruh data ini akan tercatat dan aplikasi akan menunjukkan status berat badan, apakah normal, gemuk, atau kurus.

Terdapat diagram yang menunjukkan perkembangan berat badan di aplikasi yang menurut saya sangat berguna untuk yang sedang diet atau melakukan kontrol berat badan.

Tentunya untuk mendapatkan fitur ini, setelah memasang, saya mendaftar terlebih dulu.

Satu akun Fitdays bisa digunakan hingga 21 orang, jadi dengan satu akun, saya bisa mendaftarkan profil saya dan istri saya.

Aplikasi ini pun bisa digunakan dan tersinkronisasi dengan perangkat lain, selama masuk menggunakan akun yang sama.

Saat menambahkan profil, aplikasi Fitdays akan menanyakan beberapa informasi untuk kebutuhan analisis, seperti jenis kelamin, tinggi badan, dan target berat badan yang diinginkan.

Karena saya termasuk kurus dan sulit gemuk, saya menargetkan berat badan saya 60 KG.

Namun setelah menimbang, aplikasi Fitdays menyatakan bahwa berat badan saya yang bila diukur dengan tinggi badan, saya termasuk normal atau rata-rata.

BMI saya juga dibilang normal dan massa lemak dalam tubuh saya rendah dan dikategorisasikan sebagai atlet, padahal saya jarang berolahraga.

Saya juga mendapatkan seluruh informasi lengkap, mulai dari berat badan saya tanpa lemak, massa tulang, kandungan lemak di dalam darah, kandungan protein, dan sebagainya dari hasil pengukuran sensor di elektroda timbangan.

Saya juga bisa melihat grafik berat badan dan seluruh informasi tadi jika saya menimbang setiap hari.

Aplikasi juga bisa mendeteksi perbedaan berat badan dan memperingatkan jika profilnya tidak pas, misal saya menimbang saat menggunakan profil milik istri saya, karena selisih beratnya jauh berbeda.

Kesan Penggunaan

Untuk timbangan dengan harga yang cukup murah, dengan fasilitas baterai internal sehingga tidak perlu mengganti baterai, timbangan bermerek Chwares ini layak untuk dimiliki.

Meski fiturnya tidak selengkap timbangan pintar lain, namun untuk saya dan istri, fitur yang ditawarkan sudah jauh lebih dari cukup.

Aplikasi Fitdays sangat membantu untuk memantau perkembangan, meski tanpa menggunakan aplikasi, timbangan tetap berfungsi normal, yang tentunya fiturnya jadi kurang maksimal.

Saya sendiri belum tahu berapa lama baterai timbangan ini bertahan, namun menurut ulasan timbangan ini hanya perlu diisi daya 2 hingga 3 kali selama setahun dengan pemakaian normal.

Bentuknya cukup ramping dan enteng membuat timbangan ini juga mudah untuk disimpan dengan menyelipkan ke sela-sela lemari atau memasukkan ke kolon lemari.

Saya juga belum mencoba untuk melakukan sinkronisasi dengan aplikasi lain seperti Google Fit karena aplikasi Fitdays sudah cukup buat saya.

Galeri Foto

Warna-Warni Festival of Lights Berlin 2020: 2017

Setiap tahun, di Berlin ada Festival of Lights yang biasa diadakan di musim dingin atau menjelang musim dingin.

Festival of Lights di Bebelplatz, Unter den Linden, Berlin, Jerman

Tentunya alasannya jika diadakan di musim panas, malamnya pendek dan pertunjukan lampu-lampunya tidak akan bertahan lama.

Selain di Berlin, festival ini juga diadakan di Yerusalem, Palestina, New York, Amerika Serikat, Bukares, Rumania, Cambridge, Inggris, Moskow, Rusia, Luksemburg, Luksemburg, dan Kolding, Denmark.

Tahun 2020 ini, Festival of Lights yang ke-16 diadakan pada 11-20 September 2020 yang masih masuk musim peralihan ke musim gugur, lebih awal daripada acara serupa tahun lalu yang diadakan pada 11-20 Oktober 2019.

Acara ini terlaksana atas dukungan E.ON, salah satu perusahaan energi listrik terbesar di Eropa yang bermarkas di Essen, Jerman.

Kami sempat mengunjungi acara ini tahun lalu, namun saya tidak sempat menuliskannya di blog dan hanya mem-posting di Instagram.

Meski di era pandemi, kami tetap memutuskan mengunjungi festival yang bertema “bersama kita bersinar (together we shine)” yang sekaligus memperingati 30 tahun runtuhnya Tembok Berlin yang merupakan tonggak bersatunya kembali Jerman.

menikmati Festival of Lights di Bebelplatz, Unter den Linden, Berlin, Jerman

Meski secara umum di Jerman, terutama di Berlin, laju penularan Covid-19 sudah sangat rendah sejak berakhirnya PSBB pada Juli lalu, penerapan protokol kesehatan seperti menjaga jarak sejauh 1,5 meter dan penggunaan masker tetap dianjurkan.

Hingga saat ini, penggunaan masker hanya wajib dipakai di dalam angkutan umum dan di dalam toko, dan ada denda sebesar 50€ bagi yang melanggar.

Sementara di luar itu, penggunaan masker tidak wajib dan biasanya orang-orang tidak menggunakan masker di tempat terbuka, karena orang Eropa tidak terbiasa menggunakan masker seperti kita orang Asia.

Namun pada kenyataannya, penerapan protokol kesehatan pada acara Festival of Lights mustahil dilakukan, mengingat acara ini merupakan salah satu acara besar pertama yang diperbolehkan diadakan pada masa pandemi, sehingga warga Berlin yang sepertinya sudah bosan karena lebih banyak di rumah, keluar mencari hiburan.

menggunakan masker karena banyak orang berkumpul di Brandenburger Tor, Berlin, Jerman

Pengelola acara pun mengingatkan dan memberikan ultimatum, jika nantinya di lokasi yang tersebar di 85 lokasi ini terdapat kerumunan yang berlebihan dan pengunjung tidak menjaga jarak, pertunjukan lampu akan dimatikan.

Kami sendiri mengunjungi beberapa lokasi pertunjukan yang tersebar di seluruh wilayah Berlin dengan bertahap.

Setelah jam kerja, saat saya datang ke kantor, saya janjian dengan istri untuk bertemu di lokasi acara.

Jika saya bekerja dari rumah, selepas jam kerja saya dan istri berangkat bersama dari rumah.

Alasan utamanya adalah karena kami ingin melihat ke banyak tempat, sementara untuk mengunjungi seluruh lokasi acara ini sangat mustahil.

Tidak seperti saat kami berburu mural komik waktu di Brussel, Belgia, karena kotanya yang kecil dan bisa dijangkau dengan berjalan kaki, lokasi pertunjukan di Berlin ini cukup tersebar, plus waktunya yang singkat, hanya muncul di malam hari.

Itu pun kami hanya mendapatkan 15 lokasi saja, yang mana kami harus menyusun rute agar tidak terlalu jauh berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain.

Apalagi saat itu ada pekerjaan rel yang membuat jalur kereta S-bahn andalan kami saat bepergian dialihkan dengan bus, yang membuat kami cukup kerepotan apalagi harus pulang larut malam.

Berikut ini beberapa tempat yang kami kunjungi di acara Festival of Lights ini.

Stasiun Besar Berlin

Festival of Lights di Stasiun Besar Berlin, Jerman

Kebetulan lokasi ini dekat dengan rumah kami, yang mana pertunjukan di tempat ini hanya sebuah gambar yang ditembakkan ke kedua buah menara di pintu selatan yang menghadap ke arah Sungai Spree.

Pertunjukan yang ditampilkan di Stasiun Besar Berlin ini bertema 30 tahun bersatunya Jerman, yang secara jelas terlihat tulisan ONE dan EINS (berarti “satu” Dalam bahasa Jerman) di kedua menara.

Di latar stasiun, terlihat banyak jasa tukang ojek sepeda keliling dengan kendaraan semacam becak yang dihiasi lampu warna-warni terlihat menjajakan jasanya.

Saya teringat dengan suasana di alun-alun selatan Kraton Yogyakarta, di mana di sana banyak tukang odong-odong dengan lampu yang menyala berwarna-warni.

Gereja Katedral (Berliner Dom)

Festival of Lights di Gereja Katedral (Berliner Dom), Berlin, Jerman

Lokasi selanjutnya yang kami kunjungi adalah Gereja Katedral (Berliner Dom) yang merupakan salah satu tujuan turistik.

Kami datang ke tempat ini di hari biasa, selepas saya selesai bekerja untuk menghindari keramaian mengingat tempat ini tempat yang populer.

Jika tahun kemarin tayangan yang ditembakkan ke arah gereja yang dibangun pada tahun 1894 ini berupa animasi, tahun ini tayangannya hanya berupa gambar statis.

Meski bernama gereja katedral, namun gereja ini digunakan oleh pemeluk agama Kristen Protestan dan Paroki, bukan oleh pemeluk agama Kristen Katolik Roma seperti layaknya gereja katedral lainnya.

Kami menikmati pertunjukan ini dari halaman Lustgarten yang berada persis di depan gereja.

Di belakang gereja, tampak Menara TV kebanggaan Berlin, Fernsehturm, tinggi menjulang.

Bebelplatz

Festival of Lights di Bebelplatz, Unter den Linden, Berlin, Jerman

Dari Gereja Katedral, kami berjalan menuju ke arah Bebelplatz, menyusuri jalan Unter den Linden.

Bebelplatz merupakan alun-alun besar yang dulunya menjadi salah satu tempat pembakaran buku-buku pada masa pemerintahan Nazi di tahun 1933.

Alun-alun ini dikelilingi gedung-gedung yang tak kalah bersejarahnya, yaitu gedung Universitas Humboldt, Staatsoper Unter den Linden, Gereja Katedral St. Hedwig, dan Hotel Rocco Forte de Rome.

Kini di alun-alun ini kerap diadakan beberapa acara berbudaya, salah satunya adalah pertunjukan opera terbuka secara gratis untuk umum, yang sayangnya tahun ini ditiadakan karena pandemi.

Tahun kemarin, di lokasi ini Festival of Lights lebih meriah, karena ada pertunjukkan video mapping dan animasi menarik yang ditembakkan ke arah Hotel Rocco de Forte der Rome, sementara tahun ini hanya menampilkan gambar statis yang ditembakkan ke arah gedung-gedung di sekeliling Babelplatz.

Karena kami datang bukan di akhir pekan, pengunjung tidak terlalu banyak, sehingga jalan Unter den Linden masih bisa dilewati kendaraan.

Belakangan kami tahu bahwa saat akhir pekan, jalan Unter den Linden ditutup untuk menampung jumlah pengunjung yang ingin melihat acara ini.

Siegessäule

Festival of Lights di Siegessäule, Berlin, Jerman

Kami menuju ke Siegessäule atau Menara Kemenangan (Victory Column) pada hari Jumat malam dari rumah dengan berjalan kaki karena dekat.

Tahun kemarin Siegessäule tidak ikut berpartisipasi dalam Festival of Lights, sehingga kami cukup penasaran dengan pertunjukan di tempat ini.

Monumen setinggi 67 meter yang merupakan simbol kemenangan Prusia atas Denmark dengan patung Victoria yang terbuat dari perunggu ini ditembak cahaya dari dua sisi sehingga seluruh badan bermandikan animasi dari dua proyektor video mapping 3D.

Tema yang ditampilkan di Siegessäule adalah merayakan keberagaman, yang mana beberapa kali tulisan “Hello Berlin” dan “Hello Diversity” terlihat.

MasterCard menjadi sponsor pada tayangan di Siegessäule, yang menurut saya cukup pandai menyisipkan pesan kampanyenya, bahwa dengan satu metode kartu, bisa digunakan di berbagai tempat dan berbagai jenis pembayaran.

Brandenburger Tor

Festival of Lights di Brandenburger Tor, Berlin, Jerman

Dari Siegessäule kami bergeser ke Brandenburger Tor, yang tentunya adalah landmark Berlin paling terkenal.

Keputusan kami untu mendatangi Brandenburger Tor pada hari Jumat malam, bukan lah keputusan yang tepat, karena orang-orang sudah berjubel di sana.

Bus nomor 100 yang kami tumpangi dan biasanya melewati Brandenburger Tor sampai dialihkan rutenya dan berhenti hanya sampai Reichstag.

Dari Reichstag atau gedung parlemen Jerman, kami berjalan kaki bersama gerombolan orang yang mempunyai tujuan yang sama.

Kemacetan terlihat karena rupanya jalan Unter den Linden ditutup demi menampung banyaknya orang yang datang.

Melihat begitu banyak orang berkumpul, kami langsung memasang masker.

Festival of Lights di Hotel Adlon Kempinski, Berlin, Jerman

Saat kami datang, petugas menggunakan mobil berkeliling memecah kerumunan massa sembari mengingatkan pengunjung untuk menjaga jarak melalui pengeras suara, yang tentu saja mustahil.

Sesuai janji dari panitia, akhirnya pertunjukan animasi di Brandenburger Tor pun dihentikan, supaya kepadatan pengunjung sedikit terurai.

Untungnya saat kami datang, kami masih bisa melihat pertunjukan yang bertema “Simfoni Kehidupan”, yang bercerita tentang asal mula manusia dan sinergi dengan alam.

Tak jauh dari situ, sebuah gambar beruang yang menjadi maskot Berlin ditembakkan ke arah Hotel Adlon Kempinski.

Karena merasa tidak nyaman dengan banyaknya kerumunan, kami langsung bergeser ke gedung Kedutaan Besar Amerika Serikat yang lokasinya berada di samping Monumen Peringatan Terbunuhnya Umat Yahudi.

Jika ingat dengan kejadian viral saat selebriti Syahrini berswafoto dengan pose dan berkomentar yang mengundang kontroversi di tempat yang dianggap sakral tersebut.

Kedutaan Besar Amerika Serikat

ucapan selamat dari Kedutaan Besar Amerika Serikat atas 30 tahun bersatunya kembali Jerman

Amerika Serikat memang mempunyai kisah tersendiri dengan Jerman.

Maklum saja, selama 30 tahun, bersama sekutunya, Inggris dan Prancis, Amerika Serikat sempat menguasai sebagian Berlin (Berlin Barat) bahkan Jerman (Jerman Barat).

Secara tidak langsung pula, Amerika Serikat juga punya cukup peran saat runtuhnya Tembok Berlin yang menjadi simbol bersatunya Jerman, 30 tahun lalu.

Salah satu contoh peran Amerika Serikat, yang juga sempat menimbulkan kontroversi, adalah tampilnya aktor David Hasselhof pada era keruntuhan Tembok Berlin dan dengan heroiknya menyanyikan lagu Looking for Freedom di acara malam tahun baru (Sylvester) 1989 dengan latar Tembok Berlin.

Kami sendiri sempat merasakan aura pergantian tahun baru di lokasi yang selalu rutin untuk merayakan malam pergantian tahun, yang disebut dengan Sylvester, dan sepakat bahwa lokasi ini memang memberikan aura berbeda.

Melalui gambar yang ditembakkan ke salah satu sisi gedung, Kedutaan Besar Amerika Serikat mengucapkan selamat atas 30 tahun bersatunya kembali Jerman dan merayakan kebebasan.

Potsdamer Platz

Festival of Lights di Potsdamer Platz

Dari Kedutaan Besar Amerika Serikat, kami berjalan ke arah Potsdamer Platz sekaligus mencari angkutan umum untuk pulang ke rumah nanti.

Kami tiba di area lapangan di samping Stasiun Potsdamer Platz, di mana terdapat sisa-sisa Tembok Berlin yang juga menjadi tujuan turis.

Sebuah gambar beruang bertuliskan #wirsindeinberlin (kita adalah satu Berlin) ditembakkan ke gedung P5.

Kebetulan pula, di salah satu panel sisa Tembok Berlin, tertulis materi kampanye soal demonstrasi menuntut kebebasan di Belarus dengan tagar #belarus2020 dan #freedombelarus.

Berlin memang seperti mempunyai kekuatan politik tersendiri untuk menyuarakan berbagai aspirasi.

instalasi L.O.V.E. di Potsdamer Platz, Berlin, Jerman

Di seberang, terlihat sebuah karya instalasi setinggi 4,5 meter berjudul L.O.V.E. hasil kolaborasi seniman dari studio Pineapple Design Studio dan Chimera Atelier.

Seni instalasi lampu berbentuk hati namun juga terlihat seperti tangan bersalaman ini juga menjadi bagian dari Festival of Lights.

Gambar statis juga ditembakkan ke arah dua gedung di Potsdamer Platz, yang bila dilihat dari sudut yang pas, akan terlihat menjadi satu gambar utuh.

Sebenarnya di area Potsdamer Platz ini masih ada beberapa karya seni dan pertunjukan Festival of Lights lainnya, namun karena kami sudah terlalu capek dan cukup larut malam, kami memutuskan untuk pulang.

Apalagi makin malam, kerumunan orang makin banyak, membuat kami lebih memilih untuk minggir dari keramaian.

Jembatan Oberbaum

Festival of Lights di Jembatan Oberbaum

Kami mengunjungi jembatan yang unik dan menjadi salah satu simbol Berlin ini pada hari Sabtu malam.

Jembatan bersejarah yang terdiri dari dua tingkat, di mana bagian atas merupakan jalur kereta U-bahn U1 dan U3, di bagian bawah merupakan jalur kendaraan untuk menyeberangi Sungai Spree.

Pada masa Berlin terpisah oleh tembok, jembatan ini menjadi salah satu gerbang masuk dan checkpoint warga yang ingin melintas antara Berlin Barat dan Berlin Timur.

Kami menonton pertunjukan dari tepi Sungai Spree, di belakang kantor Universal Music.

Meski Sabtu, pengunjung di sini tidak terlalu banyak, dan relatif sepi jika dibandingkan dengan pengunjung di Brandenburger Tor atau Bebelplatz.

Mungkin karena lokasi ini tidak seturistik kedua tempat itu, sehingga yang datang ke lokasi ini biasanya warga Berlin.

Tema pertunjukan yang ditampilkan di tempat ini adalah “Evolusi Komunikasi”, yang mana pertunjukan ini disponsori oleh O2, salah satu operator telekomunikasi.

Pertunjukan animasi hasil kolaborasi beberapa seniman yang namanya muncul pada karya animasi 3D-nya ditampilkan.

Ditambah lagi, kapal-kapal wisata yang menawarkan tur malam hari menyalakan lampunya, menyusuri Sungai Spree dan melewati lorong jembatan, menambah meriah suasana.

Ini adalah pertunjukan di Festival of Lights favorit saya.

Museum für Naturkunde

Festival of Lights di Museum Ilmu Alam (Museum für Naturkunde), Berlin, Jerman

Lokasi terakhir yang kami kunjungi adalah Museum für Naturkunde (Museum Ilmu Alam).

Kami menuju ke sini setelah puas menikmati pertunjukan di Jembatan Oberbaum.

Sesuai dengan lokasinya, pertunjukan di sini menampilkan animasi video yang bercerita tentang keberagaman alam dan evolusinya.

Animasi yang tayang selama sekitar 3 menit ini sangat memukau, menjadi favorit saya kedua setelah tayangan video di Jembatan Oberbaum.

Saya seperti melihat film pada layar raksasa, di mana si layar adalah gedung museum.

Pertunjukan di museum ini disponsori oleh Berliner Sparkasse, sebuah bank yang cukup besar jaringannya di Berlin.

Kami menikmati pertunjukan dari Invalidenpark, yang berada persis di depan museum.

Festival of Lights di Invalidenpark, Berlin, Jerman

Lokasi ini juga bisa dibilang sepi, di mana pengunjung yang datang saya lihat kebanyakan orang-orang tua dan keluarga yang membawa anak-anaknya.

Di tengah kolam Invalidenpark, terdapat juga pertunjukan gambar yang juga bagian dari Festival of Lights yang berupa gambar statis, menggambarkan kehidupan hewan-hewan.

Gambar ditembakkan ke tengah air terjun yang sekilas bentuknya seperti bangunan yang miring dan tenggelam.

Taman ini dulunya rumah sakit untuk merawat tentara yang terluka saat perang Prusia.

Bangunan rumah sakit tersebut telah hancur saat perang dunia kedua dan kini area ini difungsikan sebagai taman.

Keseruan Lainnya

becak wisata mempromosikan Festival of Lights

Sayangnya kami tidak sempat mengunjungi beberapa lokasi lain yang menarik-menarik.

Beberapa lokasi pertunjukan berada di stasiun kereta dan balai kota.

Menara TV, Fernsehturm, yang tahun kemarin menjadi salah satu lokasi pertunjukan, di tahun ini tidak ikut serta.

Fernsehturm hanya menyemarakkan dengan menyalakan lampu berwarna oranye pada tanggal 17 September 2020, untuk memperingati Hari Keselamatan Pasien Sedunia.

Selain pertunjukan lampu yang menyorot ke gedung, ada beberapa seni instalasi yang dipasang di beberapa tempat di Berlin.

Juga saya sempat melihat beberapa becak wisata ditempeli materi promosi Festival of Lights yang disponsori oleh E.ON.

Saya juga mem-posting ke Instagram feed dan IG Story tentang festival ini yang selain berisi video juga foto-foto.

Semoga tahun depan, Festival of Lights semakin semarak dan meriah.

Tertipu The Alley Palsu: 2017

Salah satu minuman favorit kami di Berlin adalah The Alley, yang pernah saya tuliskan di blog ini kenapa kami suka banget dan sampai ketagihan.

minuman The Alley palsu terpajang di rak supermarket

Minuman teh boba dari Taiwan yang telah mendunia ini menurut kami memang tidak ada bandingannya dengan merek lain yang beredar di Berlin, seperti Combuy dari Taiwan atau Tudo dari Vietnam.

Saking gemarnya, kami sering sekali beli minuman yang hanya ada satu kedai di Berlin, bahkan di Jerman ini, meski harus antre panjang.

Saat kami berbelanja di Go-Asia, sebuah supermarket yang menjual khas Asia termasuk Indonesia, kami melihat minuman ini dijual di rak bagian minuman.

Dari materi promo yang bertuliskan aksara Cina, kami melihat ada logo The Alley di sana.

Sebagai penggemar The Alley, tentu saja kami tersilaukan dengan logo The Alley yang terpampang di sana.

memboyong The Alley palsu

Tanpa pikir panjang, kami pun memboyong minuman teh kegemaran untuk dinikmati dengan mudah di rumah.

Namun karena di kemasan tidak ada instruksi tentang cara membuatnya, kami pun googling untuk mencari tahu bagaimana cara membuatnya.

Dari googling inilah, kami baru tahu bahwa produk The Alley yang kami beli itu palsu.

Tentu saja kami kecewa, karena merasa tertipu.

Kami sebagai konsumen saja begitu kesal karena membeli produk yang tentu kualitasnya jauh dari apa yang kami harapkan, bagaimana dengan si pemilik produk?

Apalagi di Eropa, perlindungan terhadap hak cipta dan merek sangat tinggi, bisa-bisanya produk palsu ini bisa masuk.

produk The Alley palsu

Memang luar biasa sekali ini si pemalsu produk, karena kemasannya begitu meyakinkan, apalagi menggunakan logo yang jelas-jelas menggunakan logo The Alley.

Apalagi si supermarket bahkan mempromosikan si produk, karena mungkin juga si supermarket tidak mengetahui soal merek yang digunakan.

Produk ini awalnya dijual di supermarket di Malaysia, namun rupanya produk ini juga sudah menyebar ke supermarket asia di Amerika Serikat, Inggris, Kanada, dan bahkan di Berlin.

Bahkan di Jerman sendiri, ada satu toko yang juga memalsukan produk dan menjual produk dengan nama The Alley di Düsseldorf.

The Alley sudah melayangkan peringatan secara hukum kepada pemilik toko di Düsseldorf tersebut.

Namun sepertinya untuk yang minuman instan ini, The Alley Jerman belum tahu masalah ini.

Walau kecewa karena telah tertipu membeli barang palsu, saya sendiri penasaran dengan rasa produk minuman instan ini.

Mungkin nanti jika ingin, saya akan menyeduh si minuman untuk kemudian dibandingkan rasanya dengan minuman The Alley yang asli, yang tentunya saya tidak berharap tinggi.

Uji Coba Sistem Peringatan Dini (Warntag) 2020 di Jerman: 2017

Jerman termasuk negara yang sangat jarang mengalami bencana alam seperti gempa bumi, banjir, tanah longsor, atau kebakaran hutan.

Meski ini merupakan keberuntungan, namun di sisi lain, hal ini membuat warga tidak terlalu aware terhadap bahaya yang bisa mengancam saat terjadi bencana.

mobil tanggap darurat bencana pemerintah Berlin

Meski begitu, sebagai bangsa yang segala hal harus dipersiapkan, Jerman memiliki infrastruktur dan fasilitas untuk menghadapi bencana yang mumpuni dan canggih.

Saat pameran Peringatan 70 tahun blokade Berlin tahun lalu, saya melihat sendiri mobil tanggap darurat yang akan diturunkan ke lokasi bencana jika terjadi.

Mobil yang lebih tepat disebut truck itu berisi berbagai fasilitas darurat, terutama listrik dan sarana komunikasi radio.

Saat itu saya sempat bertanya-tanya, apakah mobil yang dimiliki badan penanganan bencana milik pemerintah Berlin ini kapan diturunkan, mengingat hampir tidak pernah terjadi bencana alam di Jerman, terutama di Berlin.

Rupanya pemerintah Jerman juga menyadari hal ini, bahwa mereka kekurangan sistem peringatan dini jika bencana terjadi.

Di Indonesia, yang secara geografis sangat rentan terhadap bencana alam, memiliki sistem peringatan dini tsunami atau erupsi gunung.

poster Warntag dari Bundesamtes für Bevölkerungsschutz und Katastrophenhilfe

Oleh karena itu, pada Kamis, 10 September 2020 kemarin, pemerintah Jerman mengadakan Bundesweiter Warntag, atau singkatnya Warntag (hari peringatan), di mana di hari itu, pada jam 11:00 seluruh alarm di seluruh Jerman akan dinyalakan selama 20 menit untuk menumbuhkan kesadaran terhadap warga dan mengenalkan sistem peringatan dini.

Ini adalah pertama kalinya sistem peringatan dini dijalankan sejak 30 tahun setelah Jerman bersatu kembali.

Sistem alarm ini akan dibunyikan bersamaan, yang terdiri dari sistem sirene jika kota memiliki sirene kota, pengumuman yang menginterupsi siaran televisi dan radio, pesan tersiar (broadcast) ke seluruh pengguna telepon seluler, pemberitahuan melalui aplikasi informasi bencana milik pemerintah NINA (Notfall-Informations-und-Nachrichten-App), aplikasi darurat dan informasi, di Android dan iOS, hingga ke papan iklan digital yang tampil di berbagai penjuru kota.

Saat alarm dibunyikan, warga diminta tetap tenang dan melanjutkan aktivitas, karena ini merupakan uji coba sistem peringatan yang dilakukan secara serentak.

Rencananya, Warntag ini akan rutin diadakan setiap tahun, di mana setiap hari Kamis pada pekan kedua di bulan September, seluruh alarm dan sistem peringatan dini dinyalakan.

Sejak pengumuman rencana ini, rupanya banyak warga yang justru antusias untuk mengetahui bagaimana sistem ini bekerja, termasuk saya.

sistem alarm pertolongan di stasiun U-bahn Turmstraße

Saya sudah membayangkan situasi seperti di film-film, di mana suara sirene terdengar meraung-raung di seluruh penjuru kota, dan warga kemudian berbondong-bondong berjalan menuju ke lokasi perlindungan yang aman.

Apalagi ini di Berlin, kota yang secara sejarah mengalami masa-masa kelam di mana peringatan serangan udara saat perang meraung-raung, sebelum bom-bom sekutu jatuh dan menghancurkan kota.

Saya mungkin terlalu banyak menonton film dan merasa sangat heroik, tapi yang pasti tentu saja saya antusias.

Apalagi saya sering mengikuti simulasi di kantor di mana setiap beberapa bulan sekali, alarm kebakaran dibunyikan dan seluruh karyawan harus sigap keluar gedung kantor dengan tenang.

Di beberapa tempat seperti stasiun dan terminal terdapat sistem alarm untuk meminta pertolongan, meski saya belum pernah mencobanya, menunjukkan betapa bagusnya sistem alarm di Berlin.

Bayangan saya, situasi ini lebih masif, karena skalanya tidak hanya satu gedung, tapi seluruh kota, bahkan seluruh negara.

Warntag 2020

tampilan aplikasi NINA

Hari yang ditunggu tiba, kamis pagi, saya bekerja dari rumah seperti biasa.

Office management mempublikasikan informasi tentang Warntag ini melalui kanal Slack bahwa jika alarm berbunyi, dari berbagai media, karyawan yang bekerja di kantor atau di rumah diminta tetap tenang dan beraktivitas seperti biasa.

Karena sibuk, saya sendiri tidak menengok jam, dan baru sempat mengintip angka di ujung kanan atas layar komputer saat angka menunjukkan pukul 11:02, namun sepertinya tidak terjadi apa-apa.

Musik saya matikan, lalu melepas sebentar Sony WH-C510 dari kepala, namun sirene tidak terdengar.

Saya menengok ponsel, tidak ada pesan atau notifikasi apa pun yang masuk, kecuali pesan SMS spam dari operator XL yang saya gunakan.

Saya menengok ke Slack, dan bertanya kepada rekan-rekan kantor apakah mereka juga mendengar sirene atau menerima peringatan apa pun.

Rupanya tidak hanya saya yang bingung, karena sepertinya semua orang tidak mendengar atau menerima peringatan apa pun.

Dari Slack kantor, rekan-rekan kerja membagikan informasi dan pengalaman terkait Warntag ini, di mana dari salah satu informasi yang disebar, baru lah saya tahu bahwa rupanya di Berlin, tidak ada lagi sistem sirene sejak tahun 1990 karena dianggap tidak lagi efektif.

Salah satu rekan kantor yang memasang aplikasi NINA mengatakan ia tidak menerima pemberitahuan apa pun, meski dilaporkan peringatan dari NINA masuk ke aplikasi terlambat selama setengah jam.

Rekan kantor yang lain yang mendengarkan radio juga mengatakan tidak ada interupsi di siaran radio yang ia dengarkan.

Bisa dibilang, ujicoba sistem peringatan dini di Berlin gagal, atau tidak terjadi sesuai rencana.

Kelakar dan Meme Bertebaran

sindiran satir tentang Warntag dari Der Postillon

Berbagai kelakar dan meme pun bermunculan di Slack kantor, mengomentari soal Warntag yang gagal ini.

“Para engineer dan developer sedang pusing karena sistem peringatan tidak berlangsung semestinya,” kelakar seorang rekan kantor, yang tentu saja kami yang bekerja di bidang teknologi bisa merasakan frustasinya.

“Mungkin ada yang lupa menekan tombol deploy (menjalankan),” sambut rekan yang lain.

“Sangat menyedihkan jika benar-benar terjadi bencana saat ini, kita termasuk korban karena tidak mendapat peringatan dini,” entah dia benar-benar khawatir atau hanya berkelakar.

“Jika tidak ada siaran melalui televisi dan radio, untuk apa iuran siaran publik yang kita bayar setiap 3 bulan sekali itu terpakai?,” tanya yang lain.

Di Jerman, ada iuran televisi dan radio yang wajib dibayarkan setiap rumah yang mana uang ini digunakan untuk mendukung lembaga siaran publik (TV dan radio) agar independen dan berpihak kepada warga.

Iuran ini bernama Rundfunkbeitrag, yang di Indonesia dulu semacam iuran TVRI, di mana saya juga ikut membayar iuran wajib ini.

“Mengecewakan, peringatan jatuh tempo pembayaran Rundfunkbeitrag bisa lebih tepat waktu dan bisa diandalkan daripada peringatan sebenarnya yang harusnya disiarkan di TV dan radio,” sindir rekan yang lain.

komentar tentang Warntag di Slack

“Tenang, jangan kecewa, buat kalian yang ingin mendengar sirene bisa menuju ke situs ini,” hibur seorang rekan dengan mem-posting tautan ke Der Postillon, sebuah media satir yang berisi tulisan “Wuuuuuuhhh Wuuuhhh” menirukan bunyi sirene lengkap dengan gambar pengeras suara.

Seorang rekan setim berkelakar, “seluruh peringatan akan dikirim melalui surat ke alamat rumah pada 3-5 hari kerja” yang sukses membuat kopi di mulut saya muncrat saat membacanya.

Ini sangat sesuai dengan kondisi di Jerman di mana seluruh peringatan informasi biasanya memang dikirim melalui surat pos yang butuh waktu 3 hingga 5 hari kerja.

Warga Jerman sepertinya sangat antusias dan kecewa pada waktu yang bersamaan, di mana saat itu bisa menjadi trending topic di Twitter dengan tagar #Warntag2020 atau #warntag.

Dari Twitter dan beberapa laporan warga, rupanya tidak hanya di Berlin yang tidak mendengar atau tidak mendapat peringatan dini.

Meski begitu, di beberapa negara bagian, suara sirene sempat terdengar, seperti yang dicuitkan Rachel Stewart, salah satu jurnalis di Köln, yang kemudian ada yang mem-posting keadaan saat sirene berbunyi di beberapa kota di Jerman.

Media massa juga mengkritisi gagalnya uji coba peringatan dini ini.

tampilan peringatan Warntag di halte bus di Alexanderplatz, Berlin. Sumber foto: Berliner Morgenpost.

Mengutip dari media Berliner Morgenpost, Thomas Herzog, wakil presiden direktur BKK (Badan Federal Perlindungan Sipil dan Bencana) menyalahkan pemerintah Bavaria yang dianggap mengirim peringatannya sendiri sehingga memblokir seluruh peringatan dari pemerintah federal.

Akibatnya, beberapa peringatan terlambat bahkan tidak berfungsi sama sekali, termasuk yang dialami Berlin.

Beberapa pejabat dan senat cukup kecewa dan marah dengan kegagalan pelaksanaan uji coba, dan mengatakan bahwa warga cukup beruntung, karena ini hanya uji coba.

Palang Merah Jerman bahkan mencuitkan, “Bayangkan jika saat itu bukan Warntag dan benar-benar terjadi sesuatu. Apa yang akan terjadi?”

Dari beberapa foto yang dimuat di situs berita tersebut, peringatan Warntag muncul di papan-papan iklan di halte bus, bahkan di informasi jam keberangkatan bus dan tram.

Jerman memang bukan negara yang sempurna, ada saja kegagalan yang dialami, termasuk gagalnya uji coba sistem peringatan Warntag ini.

Sisi positifnya, banyak warga yang aware dan justru tahu tentang menyadari tentang Warntag dan sistem peringatan dini, meski saat pelaksanaannya tidak seperti yang diharapkan.

Semoga tahun depan, Warntag dan yang lebih penting, sistem peringatan dini bisa berfungsi dengan baik.

Membeli iPad Pro 2020 dan Apple Pencil 2: 2017

Sudah cukup lama saya tidak terlalu mengikuti perkembangan teknologi dari Apple sejak meninggalnya Steve Jobs pada 2011, saya merasa tidak ada perkembangan menarik dan fenomenal yang dilakukan oleh perusahan berlogo apel krowak tersebut.

ilustrasi logo Apple dan Intel

Namun akhir-akhir ini saya kembali mengikuti berita dari Apple, setelah mendengar rencana mereka meninggalkan Intel sebagai pemasok prosesor mereka pada WWDc 2020 karena perusahaan prosesor nomor satu tersebut dianggap tidak dapat mengikuti perkembangan yang diinginkan Apple sehingga Apple memutuskan membuat prosesor sendiri.

Meski Apple sudah lama menggunakan prosesor produksi mereka sendiri yang ditanam di iPhone dan iPad, namun rencana mereka untuk menggunakan prosesor yang sama di jajaran MacBook dan iMac, cukup menarik.

Apple rencananya akan menggunakan arsitektur ARM, sebuah arsitektur yang banyak digunakan di ponsel, tablet, dan single board computer semacam Raspberry Pi, yang dikenal irit daya namun powerful.

Jika hal ini terwujud, ekosistem Apple akan benar-benar makin eksklusif, di mana kemungkinan interaksi lintas platform akan terwujud, misal aplikasi di iOS atau iPadOS bisa berjalan di MacOS begitu juga sebaliknya, tanpa perlu melakukan konversi apa pun, karena aplikasi tersebut ibaratnya berkomunikasi dengan bahasa yang sama.

Microsoft Surface Pro 3

Salah satu perangkat yang menjadi percobaan awal adalah prosesor A12Z Bionic yang ditanamkan di iPad Pro 2020, yang performanya bisa mengungguli MacBook Air 2020 yang ditenagai prosesor Intel i3 generasi 10 yang merupakan generasi terbaru saat tulisan ini dibuat.

Hal ini makin mengukuhkan prediksi bahwa masa depan komputasi akan bergeser dari laptop ke tablet.

Bahkan kini, hampir semua produsen juga memiliki seri tablet untuk menyaingi iPad Pro.

Mulai dari Samsung dengan seri Galaxy Tab S7-nya, Huawei dengan MatePad Pro-nya, hingga Microsoft Surface Go 2 yang mengusung konsep tablet yang sekaligus bisa berfungsi menjadi semacam laptop atau laptop yang bisa berubah menjadi tablet.

Penasaran dengan iPad Pro 2020

iPad Pro 2020 11 inchi dan Magic Keyboard

Saya cukup penasaran dengan iPad Pro 2020, apalagi selama ini saya belum pernah punya tablet karena merasa belum terlalu butuh.

Mi Pad merupakan tablet pertama dan terakhir saya, karena saya akhirnya memberikan tablet tersebut kepada ibu saya untuk sarana hiburan beliau.

Kebetulan istri saya yang seorang seniman dan ilustrator, membutuhkan perangkat kerja yang menunjang kebutuhannya, menggambar secara digital dan menyunting gambar.

iPad menjadi salah satu perangkat yang ia pilih karena kemudahannya saat digunakan untuk menggambar secara digital.

Awalnya kami berencana menyewa melalui situs Grover terlebih dahulu, di mana jika tidak cocok, kami bisa mengembalikan barang tersebut atau jika ada perangkat yang baru kami tinggal mengembalikan dan mengganti dengan yang baru.

halaman menyewa iPad Pro di situs Grover

Model menyewa perangkat seperti ini cukup umum di Jerman dan menurut saya sebenarnya cukup menarik.

Namun setelah menghitung biaya sewa, di mana biaya sewanya terpaut tak jauh dengan membeli, kami pun sepakat untuk membeli iPad Pro 2020, lengkap dengan Apple Pencil 2 yang memang akan digunakan oleh istri saya untuk mendukung pekerjaannya.

Kenapa iPad Pro dan kenapa edisi 2020, karena perangkat ini merupakan tablet terbaik di kelasnya.

Untuk menyewa selama setahun dengan biaya per bulan 49,90€ untuk iPad Pro 2020 11 inchi berkapasitas 256 GB dan Apple Pencil 2 sebesar 9,90€ per bulan, kami harus menyiapkan dana sebesar 598,80€ plus 118,80€, sekitar 717,60€.

Sementara harga iPad Pro 11 inchi berkapasitas 256 GB di Amazon seharga 959€ dan Apple Pencil 2 seharga 124€, dengan total dana 1.083€.

Meski selisihnya sekitar 300€, namun bedanya kami memiliki perangkat tersebut dan jangka waktu penggunaannya lebih dari setahun.

Opsi menyewa sebenarnya cukup menarik jika misal ada kebutuhan tertentu dalam jangka waktu pendek.

Selain biaya, menurut saya produk Apple punya dukungan teknologi yang cukup panjang.

Lihat saja, MacBook Pro pertengahan 2012, yang merupakan produk peninggalan era Steve Jobs terakhir masih awet dan saya gunakan hingga kini, meski usianya sudah 7 tahun lebih.

Hitung-hitung sebagai investasi dan modal bekerja istri.

Membeli iPad Pro 2020 dan Apple Pencil 2

area produk Apple di Saturn Alexanderplatz

Di Berlin tidak ada toko resmi semacam iBox, eStore, atau toko khusus Apple seperti di Indonesia, namun produk ini dijual secara resmi di toko elektronik seperti Saturn dan MediaMarkt.

Selain datang ke toko, produk Apple juga bisa dibeli secara online baik melalui situs Apple atau Amazon, yang juga merupakan jaringan distributor resmi.

Rencananya kami akan membeli iPad Pro 2020 berukuran 11 inchi yang wi-fi saja (tanpa dukungan seluler) dengan kapasitas 256 GB serta Apple Pencil 2 tanpa keyboard, karena nantinya iPad ini akan lebih banyak digunakan untuk istri saya menggambar.

Kami memilih membeli langsung di toko, karena meski beberapa kali membeli barang melalui Amazon dan toko online, kami merasa ngeri dengan nilai transaksinya yang cukup besar.

Tanggal 6 Agustus 2020, kami mendatangi Saturn di Alexanderplatz, Berlin, namun sayangnya yang tersedia hanya yang berkapasitas 128 GB.

iPad Pro 2020, Apple Pencil 2, dan pelindung iPad

Kami pun berpindah ke MediaMarkt yang terletak tak jauh dari sana, namun lagi-lagi barang yang kami cari, kapasitas 256 GB, tidak tersedia.

Yang tersedia saat itu untuk kapasitas 256 GB adalah yang menggunakan seluler, sementara kami tidak terlalu butuh dengan seluler, karena lebih banyak digunakan untuk menggambar, selain selisih harganya yang cukup lumayan.

Jika butuh mengunggah atau mengunduh, ada wi-fi di rumah yang bisa digunakan, atau terhubung ke ponsel.

Akhirnya kami memutuskan untuk membeli iPad Pro 2020 berukuran 11 inchi dengan kapasitas 128 GB tanpa seluler berwarna space gray seharga 849,13€, Apple Pencil 2 seharga 131,60€, dan case untuk iPad Pro 2020 bermerek Vivanco seharga 29,99€ di Media Markt.

iPad Pro 2020 11 inchi 128 GB

isi kemasan iPad Pro 2020

Seperti biasa, produk Apple dikemas dalam wadah yang dibuka dengan mengangkat tutup ke atas, setelah mencopot lapisan plastiknya.

Unit iPad Pro 2020 langsung terlihat dan untuk mengambilnya dari kemasan, tinggal menarik plastik lidah yang menempel di badan iPad Pro 2020.

Di bagian bawah terdapat kemasan berisi buku petunjuk, kartu garansi, stiker Apple, dan sebagainya.

Jika kemasan berisi dokumen ini diangkat, terlihat pengisi daya dan kabel USB-C.

Tidak banyak tombol fisik di iPad Pro 2020 ini, hanya tombol daya berada di bagian kanan atas dan tombol volume up dan volume down berada di bagian samping atas.

Pengeras suara berada di bagian atas dan bawah, yang bila digunakan untuk menonton video dengan mode landscape akan memberi efek stereo.


kamera iPad Pro 2020 dilengkapi dengan sensor LiDAR

Terdapat 3 buah microphone di bagian atas tengah di antara dua pengeras suara dan satu microphone di samping kiri.

Di samping kanan, tidak ada apa pun kecuali sebuah docking magnet untuk menempelkan Apple Pencil 2.

Colokan USB-C berada di bagian bawah tengah diapit dua pengeras suara.

Paling menonjol adalah kameranya yang terdiri dari kamera ultra wide 10 MP dan kamera wide 12 MP dengan senor LiDAR (Light Detection and Ranging) untuk mengukur jarak berdasar pantulan cahaya.

Kamera depan 7 MP berada di bagian depan berada di bingkai bagian atas, di samping sebuah microphone.

Secara total, ada 5 microphone dan 4 pengeras suara yang ditanam di iPad Pro 2020 ini.

Tidak ada tombol apa pun di bagian depan, sehingga pembuka kunci dengan sidik jari (Touch ID) tidak didukung di seri ini, namun diganti dengan pembuka kunci dengan pengenalan wajah (Face ID).

Di bagian belakang, selain logo Apple, terdapat tiga terminal Smart Connector yang digunakan untuk terhubung dengan aksesoris semacam Magic Keyboard.

Setelah iPad Pro 2020 dinyalakan dan melewati seluruh proses registrasi dan aktivasi, iPad Pro 2020 menggunakan sistem operasi iPadOS versi 13.4 yang kemudian saya perbarui ke versi 13.6.1.

Saat tulisan ini dibuat, kini iPad Pro 2020 menggunakan versi iPadOS 13.7.

Apple Pencil 2

kemasan Apple Pencil 2

Apple Pencil 2 bukan merupakan aksesoris wajib, namun karena istri saya butuh, kami langsung membeli Apple Pencil 2 yang hanya berfungsi di iPad Pro 2018 dan 2020.

Secara fitur dan desain, Apple Pencil 2 memiliki banyak keunggulan, terutama mekanisme pengisian dayanya yang hanya ditempel ke bagian samping kanan iPad Pro.

Karena menempel ke iPad Pro dengan magnet yang sangat kuat, membuat Apple Pencil 2 juga mudah disimpan.

Sama seperti iPad Pro, kemasan Apple Pencil 2 dibuka dengan mengangkat penutup kardusnya ke atas.

Setelah mengangkat wadah berisi dokumen-dokumen, unit Apple Pencil 2 pun langsung terlihat.

logo Apple Pencil 2

Apple Pencil 2 sangat nyaman digenggam, sama seperti menggenggam pensil pada umumnya.

Bentuknya silinder dan terdapat sebuah bagian datar di satu sisi yang sangat membantu saat ditempel ke iPad Pro.

Tidak seperti Apple Pencil, pada kemasan ini tidak disertakan ujung pensil penganti, karena menurut saya dengan pemakaian wajar, rasanya ujung Apple Pencil 2 tidak akan getas.

Memasangkan (pairing) Apple Pencil 2 ke iPad Pro 2020 juga sangat mudah, dengan menempelkannya, kedua perangkat langsung bertautan secara otomatis.

Saat saya mencoba menggunakan Apple Pencil 2 ini di aplikasi menggambar yang digunakan oleh istri saya, Procreate, rasanya sangat menyenangkan.

Dengan mengetuk dua kali pada bagian telunjuk, mode pensil bisa dengan mudah diubah, apakah hendak menulis atau menghapus.

Tentu saja pilihan ini bisa diubah atau dinonaktifkan.

Pelindung iPad Pro 2020

lapisan pelindung tempered glass JETech

Untuk melindungi iPad Pro 2020, saya memasangkan cover merek Vivanco yang kami beli dari Media Markt.

Pelindung Vivanco ini merupakan pelindung murah meriah yang tampilannya juga menarik.

Selain menutup bagian layar, bagian pinggirnya terlindungi oleh plastik yang lumayan tebal.

Bagian belakangnya bisa ditekuk, jadi iPad Pro bisa disangga dan diberdirikan secara mendatar jika ingin menonton video.

Saya juga memasangkan tempered glass merek JETech yang saya beli dari Amazon.

Soal lapisan pelindung layar iPad ini, sebenarnya ada pelindung layar yang memiliki tekstur agak kasar sehingga menyerupai kertas.

Biasanya lapisan ini selain melindungi juga memberikan sensasi seperti menulis di atas kertas, alih-alih menulis pada kaca.

Namun istri saya lebih memilih tidak menggunakan lapisan yang seperti kertas ini.

Puas dengan iPad Pro 2020

iPad Pro 2020, Aple Pencil 2, dan MacBook Pro mid 2012

Sejauh ini istri saya sangat puas dengan iPad Pro 2020 dan Apple Pencil 2, karena perangkat ini sangat menunjang pekerjaannya.

Sebelumnya istri saya menggunakan papan gambar Genius EasyPen i405 yang kini sudah terlalu tua meski masih berfungsi dengan baik.

Meski sebenarnya kebutuhan istri saya bisa diakomodir dengan iPad biasa, namun karena perangkat ini ditujukan untuk bekerja, jadi kami memilih menggunakan iPad Pro.

Saat ini istri saya masih mengeksplorasi aplikasi Procreate untuk menggambar, yang kemungkinan nanti juga akan digunakan untuk menyunting foto dengan berlangganan Adobe Photoshop atau menyunting ilustrasi dengan Adobe Illustrator jika sudah tersedia di iPad.

Untuk karya-karya istri saya, bisa dicek di Instagramnya.

Saya sendiri penasaran dengan performanya untuk menyunting video 4K, karena menurut ulasan yang saya baca, iPad Pro 2020 mampu digunakan untuk kebutuhan penyuntingan gambar secara profesional.

Memasang Dudukan WC Poseidon Tampa: 2017

Pada tanggal 17 Agustus 2020, tepat pada hari kemerdekaan RI, penutup WC di kamar mandi saya patah.

tutup dudukan WC yang patah

Saya hampir terjungkal karena sedang duduk menyandar saat melakukan kontemplasi sambil melakukan aktivitas pagi.

Bagian penutup yang bisa diangkat dan bisa dijadikan sandaran tersebut sepertinya sudah cukup lapuk, meski terbuat dari bahan plastik polikarbonat yang tebal dan kuat.

WC di apartemen kami tidak menggunakan model bak penampung, namun air langsung masuk dari pipa yang terpusat dan menjadi satu dengan pipa instalasi gedung.

Sejenak saya menghela nafas, haduh, berapa ini ongkos untuk perbaikannya?

Saya tentu saja tidak ingin menggunakan jasa tukang, karena biayanya bisa sangat mahal.

WC ini juga dulu sempat bocor bagian sambungan pipanya, dan saya menambalnya sendiri dengan menggunakan silikon, kini dudukan WC-nya.

Membeli Dudukan WC

pilihan dudukan WC di Bauhaus

Setelah menyelesaikan hajat, saya langsung browsing harga dudukan WC di situs toko perkakas dan bangunan favorit saya, Bauhaus, dan menuju halaman dudukan WC.

Rupanya harganya tidak terlalu mahal, sekitar 20€ hingga 30€.

Di Jerman, saya bisa dengan mudah mengecek harga barang di toko, karena setiap produk yang dipajang bisa dipastikan ada harganya, dan sesuai dengan harga yang ditawarkan, termasuk pajak PPn.

Ada undang-undang yang mengatur hal ini, di mana ada selisih harga antara yang ditampilkan dan yang dibayar tanpa pemberitahuan atau kesadaran pelanggan, bisa berujung ke urusan hukum.

memilih dudukan WC di Bauhaus

Setelah tahu rentang harga yang ada, saya pun meluncur ke Bauhaus dan langsung menuju ke area kamar mandi.

Saya langsung pusing melihat banyaknya pilihan, mulai dari warna, fasilitas, hingga material yang digunakan.

Ada yang menggunakan engsel model otomatis, dimana dengan engsel penutup bisa menutup dengan lebih pelan karena semacam ada pegas yang menahan penutup jatuh tanpa suara.

Material bahan juga ada yang plastik murah, polikarbonat, hingga MDF (kayu serut yang dijadikan satu biasa digunakan untuk perabot).

Ukurannya hampir seragam, namun agar aman, saya mengukur dudukan yang lama agar tidak salah beli.

dudukan WC Poseidon Tampa dibuat di Kroasia

Saya juga membawa pita penggaris yang saya dapat gratis dari IKEA, untuk mengukur dudukan WC, terutama bagian jarak engselnya.

Setelah menemukan dudukan WC yang cocok, baik dari material, jenis engsel (saya memilih yang biasa, karena murah), dan bentuk engsel pengait ke WC, saya mengambil sendiri kardus sesuai dengan model yang saya pilih.

Saya memilih dudukan WC model Tampa dari jenama Poseidon seharga 19,45€ dan membawanya ke kasir, dan menentengnya pulang dengan naik bus.

Di Berlin, sudah biasa orang membawa barang apa pun ke dalam angkutan umum, termasuk bus.

Saya pernah membawa tangga ke dalam bus setelah membelinya dari toko Bauhaus yang sama.

Semua produk dudukan WC ini, terutama merek Poseidon, dibuat di negara-negara Uni Eropa.

Dari kardusnya, dudukan WC Poseidon seri Tampa ini dibuat di Kroasia.

Memasang Dudukan WC

instruksi pemasangan dudukan WC Poseidon Tampa

Sesampai di rumah, saya langsung membongkar dan melakukan unboxing.

Dengan membuka salah satu sisi, saya langsung bisa mengakses dudukan WC ini dengan menariknya keluar.

Di bagian belakang kardus, terdapat petunjuk pemasangan yang berupa gambar bernomor, tanpa instruksi apa pun.

Engsel yang berupa pengait dari logam dan pengunci yang terbuat dari plastik disertakan di dalamnya.

Rupanya engsel pengait ini agak sedikit berbeda dengan engsel pengait duduk WC lama saya, namun karena saya sudah mengukur jarak engselnya, saya yakin akan pas.

Saat saya menengok model engsel pengait lama saya, bentuknya sudah sangat tidak layak pandang.

pengait dudukan WC lama yang berkarat

Tidak seperti model pengait dudukan WC Poseidon Tampa yang baru yang terbuat dari plastik, dudukan WC lama saya menggunakan baut nomor 10 yang sudah berkarat.

Saya sempat mengalami kesulitan menyopot baut ini karena baut terkunci ke sekrup oleh karat.

Untungnya saya punya WD-40, cairan ajaib yang sering digunakan untuk melunturkan karat dan memudahkan melepas sekrup dan baut ini saya semprotkan dan saya diamkan beberapa menit.

Namun rupanya karatnya sudah sangat membandel, sehingga saya harus menyemprotkan WD-40 ini beberapa kali dan memastikan cairan masuk ke sela-sela karat.

Akhirnya saya bisa menyopot engsel-engsel lama penuh karat dan kotoran menjijikkan ini.

pengunci dudukan WC Poseidon Tampa yang terbuat dari plastik

Saya sempat mencari tahu cara menyopot engsel ini di Youtube, namun ternyata model pengaitnya berbeda, karena dari tutorial di Youtube, semuanya berlokasi di Amerika Serikat, yang mungkin bentuk engselnya berbeda.

Untungnya, sebagai engineer, sehingga saya bisa menyelesaikan masalah engsel WC ini dengan mengamati.

Setelah copot, memasang dudukan WC yang baru jauh lebih mudah.

Satu hal yang membuat saya kagum adalah model sekrup penguncinya, terdiri dari sebuah cincin dengan sekrup pengait dari plastik yang menyambung jadi satu.

Menurut saya menarik, karena plastik tidak akan berkarat, namun di satu sisi ia bisa getas dan hancur.

pengait engsel dudukan WC Poseidon Tampa

Namun setidaknya jika plastiknya hancur, pengunci ini bisa diganti dengan baut.

Pengait engsel dudukan WC Poseidon Tampa ini jauh lebih sederhana dari pengait engsel dudukan WC yang lama saya.

Hanya saja jika dudukan WC yang lama, posisi pengait bisa digeser-geser dan disesuaikan, dudukan WC Poseidon Tampa ini sudah fixed, tidak bisa digeser-geser.

Material logam dudukan WC yang lama juga terasa lebih tebal dan kuat, dibandingkan dengan material logam pengait yang baru.

Dugaan saya, dudukan WC yang lama saya harganya lebih mahal dari dudukan WC saya yang baru, namun karena saya tidak mengetahui tipe dan merek dudukan WC yang lama tersebut, saya mencari yang cocok dan lebih murah.

Mengganti Thermal Paste MacBook Pro Mid 2012 (A1278) Menggunakan Arctic MX-4: 2017

Setelah sekitar 7 tahun saya menggunakan MacBook Pro edisi pertengahan 2012, kemarin pertama kalinya saya membongkar laptop kesayangan yang memiliki banyak kenangan ini.

temperatur MacBook Pro yang tinggi

Keluhan saya adalah panas yang berlebihan, di mana kipas CPU sering bekerja keras hingga terdengar suara ngosos.

Karena terbuat dari aluminium, panas MacBook Pro saya ini kadang sampai terasa ke seluruh badan laptop.

Beberapa kali bahkan MacBook Pro mati dengan sendirinya karena kepanasan saat saya gunakan, karena MacBook Pro punya mekanisme untuk mencegah terjadi kerusakan lebih lanjut karena panas berlebih.

Menurut aplikasi gratisan Fanny yang saya gunakan untuk menampilkan temperatur CPU MacBook Pro saya, menunjukkan temperatur 80°C hingga 90°C dengan kipas yang sudah berputar maksimal 6.200 RPM apalagi pada cuaca panas.

Saya tentunya tidak ingin mengulang pengalaman membeli laptop baru karena rusak akibat kepanasan, seperti saat saya memutuskan membeli MacBook Pro lawas saya ini.

Meski saya ada MacBook Pro keluaran 2017 dari kantor, namun saya masih sering menggunakan MacBook Pro lawas saya, terutama untuk keperluan pribadi.

panduan dari iFixit

Saya pun akhirnya memberanikan diri membongkar MacBook Pro saya dengan mengikuti petunjuk dari iFixit untuk membersihkan heatsink Dan mengganti thermal paste-nya, yang menurut tutorial tersebut termasuk kategori sulit.

Sebenarnya ini bukan pertama kalinya saya membongkar MacBook Pro lawas saya ini, karena sebelumnya saya pernah membongkar sendiri saat memasang SSD.

MacBook Pro saya memang sudah tidak menggunakan konfigurasi aslinya, karena baterainya pernah saya ganti dan memorinya saya upgrade menjadi 8 GB.

Pembaca DVD-nya juga sudah saya copot karena dulunya saya menggantinya dengan hardisk saat pertama kalinya saya menggunakan SSD Adata SP900 berkapasitas 256 GB yang saya beli seharga Rp 1.393.000 pada tahun 2015.

Namun setelah saya menggunakan SSD Sandisk Plus berkapasitas 1TB yang saya beli di MediaMarkt, saya mencopot hardisk tersebut dan membiarkannya kosong agar bobot MacBook Pro menjadi sedikit lebih ringan.

Saya juga pernah melakukan perbaikan sendiri pada speaker-nya yang sobek dengan menggunakan lem karena saya memang belum berencana mengganti speaker tersebut.

Selain dari iFixit, saya juga menjelajah Youtube untuk melihat bagaimana cara membongkar dan mengganti thermal paste dan membaca berbagai ulasan tentang thermal paste terbaik dan teknik mengoleskannya.

Menyiapkan Peralatan

thermal paste Arctic MX-4

Saya pun memutuskan untuk menggunakan thermal paste Arctic MX-4, salah satu produk terbaik dari jenama asal Swiss yang sudah ternama di dunia pendingin komputer.

Saya membeli pasta penghantar panas dari CPU ke bilah aluminium ini di Amazon seharga 6,90€ untuk menggantikan pasta penghantar panas dari CPU ke heatsink yang pastinya sudah mengerak dan tidak dapat menghantarkan panas dengan baik.

Selain thermal paste, saya juga membeli beberapa peralatan pendukung, yaitu tabung udara terkompresi merek Presto yang saya beli di toko bangunan Obi seharga 6,81€ dan isopropyl  alcohol atau isopropanol 99,9% di Amazon seharga 8,99€.

Alkohol saya gunakan untuk membersihkan thermal paste lama yang menempel di CPU dan komponen elektronik di PCB.

obeng dengan mata torx

Sementara udara terkompresi saya gunakan untuk menghalau debu dan berbagai penyumbat yang menghalangi sirkulasi udara di ventilasi.

Untuk membongkar MacBook Pro ini, saya memerlukan obeng dengan mata khusus, mata torx nomor 6 (T6) yang berbentuk seperti bintang david.

Saya membeli seperangkat obeng bermerek LUX, merek keluaran toko perkakas Obi, seharga 13,48€, yang memiliki mata torx T6.

Kebetulan saya juga mempunyai seperangkat alat untuk membuka ponsel dan komputer merek Zacro yang saya beli dari Amazon seharga 8,99€.

Dalam paket perangkat Zacro tersebut, terdapat sebuah gelang anti listrik statis yang menurut saya cukup penting.

Setelah seluruh alat siap, saya pun membongkar MacBook Pro saya.

Membongkar MacBook Pro

membongkar MacBook Pro mid 2012

Saya mengikuti dengan seksama seluruh langkah yang dijabarkan di iFixit, terutama memperhatikan baut-bautnya karena MacBook Pro menggunakan beberapa jenis baut dengan ukuran dan panjang berbeda-beda.

Setelah mematikan MacBook Pro, saya membuka penutup bagian bawah, melepas kabel baterai untuk menghindari sengatan listrik dan melindungi komponen elektroniknya.

Tak lupa saya mengenakan gelang anti listrik statis, karena di cuaca kering seperti di Eropa, listrik statis sangat mudah terbentuk yang bisa merusak komponen elektronik.

Saya sering tersengat listrik statis ini terutama saat menyentuh benda-benda logam semenjak tinggal di Berlin.

Listrik statis ini terbentuk seperti saat kita menggesekkan penggaris plastik ke meja lalu bisa mengangkat helai rambut, yang mana tegangan yang terjadi bisa sangat tinggi dan sengatannya cukup membuat kaget.

gelang anti listrik statis

Cara kerja gelang anti listrik statis ini juga sederhana, yaitu dengan memastikan bagian logam tertempel ke badan dan ujung kabel dari gelang dikaitkan ke logam yang tersambung ke bumi (grounding).

Dengan cara ini, muatan listrik yang terbentuk di badan bisa hilang dan tersalurkan ke bumi, sehingga listrik statis tidak terbentuk.

Saya mengaitkan ujung gelang ke bagian logam pemanas ruangan yang tertanam di tembok dan sudah pasti terhubung ke ground.

Satu persatu saya menyopot berbagai kabel, mulai dari kabel kipas CPU, kabel sensor, kabel keyboard, kabel data SSD, hingga menyopot microphone sebelum bisa melepas mainboard MacBook Pro.

Tentu saja setelah seluruh kabel terlepas, saya juga harus melepas beberapa baut, dan menyimpan baut-baut tersebut dengan hati-hati.

kipas CPU bermerek Sunon buatan Cina

Kipas CPU yang hanya satu saya lepas, dan ini satu-satunya kipas yang ada di dalam MacBook Pro ini, yang bertugas menghembuskan udara panas keluar dari heatsink ke arah belakang, di bagian tengah engsel layar.

Saya pun membersihkan kipas bermerek Sunon buatan Cina ini dengan menyemprotkan udara dari kaleng udara terkompresi, dan langsung saja debu-debu berhamburan.

Setelah berhasil menyopot kipas, saya kemudian menyopot mainboard karena heatsink berada di bagian atas, dan seluruh mainboard harus dilepas untuk bisa mengakses ke heatsink.

Tak disangka, ternyata mainboard MacBook Pro seri pertengahan 2012 ini begitu kecil hanya sekitar kurang dari seperempat luasan badan MacBook Pro, dengan lebar hanya seukuran telapak tangan dengan bentuk yang unik.

kotoran yang menyumbat bilah ventilasi heatsink

Debu-debu langsung terlihat di bagian mainboard, karena maklum saja selama 7 tahun saya tidak pernah membongkar MacBook Pro ini.

Bagian bilah-bilah ventilasi heatsink terdapat kotoran yang seperti menyumbat, sehingga maklum saja jika aliran udara dari dalam badan MacBook Pro tidak lancar dan panas tidak terbuang.

Lagi-lagi tabung udara terkompresi sangat membantu dalam menghilangkan debu-debu dan sumbatan di bagian ventilasi heatsink.

Bagian heatsink ditahan dengan 3 baut yang memiliki pegas, dan setelah heatsink terlepas, thermal paste bawaan yang sudah kering terlihat jelas.

Dengan bantuan cotton bud, saya membersihkan thermal paste di heatsink dan CPU menggunakan isopropy alcohol.

mengoleskan thermal paste Arctic MX-4

Alkohol dengan mudah mengencerkan dan mengangkat sisa-sisa thermal paste ini dan dengan menggunakan kapas lembut pembersih wajah milik istri saya, saya menyeka sisa-sisa thermal paste.

Thermal paste Arctic MX-4 yang berbentuk suntikan sangat mudah digunakan, dan saya hanya mengoleskan secukupnya di bagian CPU, lalu menutupnya dengan heatsink.

Saya juga sempat membersihkan beberapa bagian dengan menggunakan alkohol, terutama bagian kontak-kontak logam dari kotoran yang sekiranya bisa menggangu aliran listrik.

Di beberapa bagian, terutama bagian busa pengganjal dan karet-karet, terlihat mulai getas, keras, dan beberapa bahkan hancur karena usia.

Apa boleh buat, saya tidak dapat berbuat apa-apa.

Setelah selesai, saya memasang kembali dengan membalik urutan langkah-langkah yang saya lakukan saat membongkar.

Untuk memasang, rasanya lebih mudah dan lebih cepat, karena saya sudah tahu apa yang harus dilakukan sebelumnya.

Menguji MacBook Pro

microphone internal MacBook Pro mid 2012

Setelah seluruh komponen terpasang kembali, saya pun melakukan pengujian dan memastikan seluruh fungsi bekerja dengan baik.

Sayangnya saya menemukan sebuah kerusakan, yaitu microphone MacBook Pro saya tidak berfungsi, di mana microphone sama sekali tidak menerima sinyal suara.

Saya tidak tahu apakah kerusakan terletak pada kabel atau memang microphone tersebut rusak saat saya mencopotnya karena memang saat dicopot, microphone ini tertempel dengan kuat di badan MacBook Pro dan saya cukup keras saat mencabutnya.

Untuk memastikan bahwa kerusakan berada pada sisi hardware, saya mencoba menghubungkan MacBook Pro dengan headphone Sony WH-CH510 melalui Bluetooth dan earphone JBL Tune T110 saya melalui colokan 3,5 MM untuk mengetes microphone-nya.

temperatur MacBook Pro lebih rendah

Saat menggunakan headphone maupun earphone, masukan suara bisa diterima dengan baik, berarti kemungkinan besar kerusakan pada hardware.

Saya sudah terlalu malas untuk membongkar kembali untuk memeriksanya, apalagi saya jarang sekali menggunakan microphone internal dan lebih sering mengandalkan earphone atau headphone.

Temperatur dan putaran kipas juga terasa sekali bedanya, di mana temperatur CPU dengan beban seperti biasa, hanya sekitar 65°C hingga 70°C dan kipas berputar di putaran minimal 2.000 RPM.

Thermal paste Arctic MX-4 terbukti cukup efektif menghantarkan panas dari CPU ke heatsink, yang mana tentu saja setelah sirkulasi udara di dalam MacBook Pro terbuang efektif setelah saya membersihkan kipas dan ventilasi.

Kini saya tidak lagi khawatir dengan panas berlebihan yang dihasilkan oleh MacBook Pro saya, yang tentu saja saya masih bisa terus menggunakan MacBook Pro kesayangan saya ini.

Fasilitas CleanTrip Saat Naik Bus, Aman Bepergian Tanpa Gelisah: 2017

Masuknya era adaptasi new normal memungkinkan kita untuk mulai kembali beraktivitas, yang tentunya tidak sama lagi seperti aktivitas sebelum pandemi.

Dengan adaptasi new normal, hampir semua aktivitas diharuskan untuk mematuhi protokol kesehatan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah RI, untuk mengurangi risiko tertular virus Covid-19 yang belum ada obatnya ini.

Salah satu aktivitas yang cukup penting adalah bepergian, terutama bagi mereka yang pekerjaannya mengharuskan datang ke suatu daerah.

Bepergian dengan bus bisa menjadi pilihan di era new normal ini, di mana untuk memesan tiketnya bisa melalui online travel agent seperti Traveloka.

Di Traveloka, kita bisa melihat berbagai persyaratan dan juga protokol kesehatan diterapkan pada setiap transportasi yang akan digunakan.

Tentunya ini untuk kebaikan bersama tanpa harus mengurangi kenyamanan saat sedang bepergian.

Memilih Operator Berlabel CleanTrip

penerapan protokol kesehatan CleanTrip

Saat ini, naik bus dan travel shuttle saat bepergian jauh memang tidak sebebas dulu saat belum ada pandemi Covid-19.

Bila memesan tiket bus di Traveloka, kita bisa memilih operator bus maupun travel berlabel CleanTrip sebagai upaya memberi rasa aman dan nyaman kepada penumpang, sehingga tak perlu cemas lagi saat mesti bepergian dengan bus maupun travel.

Selain menyiapkan berbagai dokumen dan hasil tes yang menunjukkan hasil negatif, berikut ini beberapa langkah yang perlu diperhatikan saat menggunakan bus maupun travel, terutama yang memiliki label CleanTrip.

Penyediaan Hand Sanitizer

Mengingat bahwa tidak di setiap tempat bisa dijumpai wastafel atau kran air untuk mencuci tangan, maka cara yang lebih praktis dan bisa dibawa atau diletakkan di berbagai tempat adalah hand sanitizer.

Oleh karena itu, saat naik bus dan travel shuttle di era adaptasi new normal ini,  hand sanitizer tersedia di dalam bus serta di titik-titik pemberhentian.

Desinfeksi

Armada bus dan travel setiap harinya selalu digunakan oleh penumpang, oleh karena itulah menjadi penting untuk dilakukan desinfeksi dan pembersihan secara rutin.

Tidak hanya pada bus atau travel saja, disinfeksi juga dilakukan di lokasi keberangkatan, terminal, atau ruang tunggu.

Penyesuaian Kapasitas Penumpang 

Jika sebelumnya bus akan mengangkut penumpang dengan jumlah maksimal, kini di era new normal hal tersebut tidak bisa dilakukan.

Aturan penerapan jarak minimal sejauh 1,5 meter membuat kapasitas jumlah penumpang harus disesuaikan menjadi sekitar 30% dari kapasitas sebelumnya untuk memberi rasa aman bagi setiap penumpang.

Pemeriksaan Kesehatan

Salah satu gejala penyakit Covid-19 adalah naiknya suhu tubuh, sehingga salah satu cara untuk mendeteksi keberadaan virus ini adalah dengan mengukur suhu tubuh.

Penumpang, pegemudi, dan staf bus secara rutin diukur suhu tubuhnya, dan jika ada yang menunjukkan gejala kurang sehat, maka orang tersebut dilarang naik ke bus dan travel.

Penggunaan Masker  

Penggunaan masker kini menjadi salah satu kebutuhan wajib di masa new normal ini.

Oleh karena itulah, bagi penumpang yang diketahui tidak memakai masker, maka akan dilarang naik ke bus dan melakukan perjalanan.

Demikianlah beberapa upaya yang dilakukan mitra operator bus atau travel Traveloka dalam memastikan kesehatan, keamanan, dan kenyamanan setiap penumpangnya saat bepergian.

Dengan #CleanTrip, kita bisa bepergian tanpa gelisah di era adaptasi new normal ini.

Pengalaman Menggunakan Headphone Sony WH-CH510: 2017

Beberapa pekan ini saya sudah kembali masuk ke kantor karena kasus penyebaran Covid-19 di Jerman sudah sangat terkendali.

pemandangan Fernsehturm (Menara TV Berlin) setiap berangkat dan pulang kantor

Tentu saja protokol kesehatan seperti menjaga jarak, berkumpul tak boleh lebih dari 5 orang, dan harus melapor saat datang ke kantor, tetap dilakukan.

Meski begitu, ada saja orang-orang yang tidak sepakat penerapan protokol kesehatan ini dan menganggap Covid-19 hanyalah konspirasi dan melakukan demonstrasi besar-besaran di Berlin.

Kantor sebenarnya membolehkan karyawan untuk tetap bekerja dari rumah, namun buat saya, bekerja dari kantor rasanya berbeda dengan bekerja dari rumah.

Apalagi saya merindukan rutinitas berangkat dan pulang kantor serta dua monitor besar di meja kantor saya yang memudahkan pekerjaan saya.

Maklum saja, ruang dan meja kerja saya di rumah kecil, sehingga saya tidak bisa menambah layar monitor tambahan untuk bekerja dari rumah.

Karena itu saya pun mengemasi MacBook Pro 2017 kantor ke dalam tas kerja saya, serta memasukkan beberapa perangkat pendukung seperti charger dan earphone JBL Tune 110 by Harman yang biasa saya gunakan untuk rapat jarak jauh menggunakan Google Meet.

meja kantor dengan dua monitor

Saya lalu mengeluarkan kembali MacBook Pro Mid-2012 saya yang masih awet untuk saya gunakan untuk keperluan pribadi, seperti menulis blog, dan mengerjakan pet project.

Biasanya saya mendengarkan musik melalui earphone JBL Tune 110 by Harman, namun karena earphone tersebut sudah saya masukkan ke tas kerja, saya malas mengeluarkannya lagi untuk di rumah.

Sebenarnya ada juga earphone Audio Technica Sonic Fuel ATH-CLR100iS milik istri saya yang bisa saya pinjam, namun karena earphone tersebut sering ia gunakan, saya enggan tidak ingin mengganggunya.

Akhirnya, pada hari Sabtu, 25 Juli 2020, saya meluncur ke toko elektronik kesayangan saya, Media Markt untuk mencari earphone untuk keperluan di rumah.

Saya menganggarkan sekitar 10€ hingga 20€ untuk membeli earphone murah-murah saja, karena toh saya bukan seorang audiophile.

rak obral Sony WH-CH510 di MediaMarkt

Namun memang, Media Markt ini toko yang tuyul-nya cukup banyak, di mana godaannya begitu besar apalagi hampir setiap pekan ada diskon.

Benar saja, begitu masuk, saya langsung disuguhi papan bertuliskan diskon yang menggiurkan, yang celakanya beberapa produk yang didiskon adalah headphone dan earphone.

Kepala saya langsung pening, karena harga diskonnya cukup menggiurkan dan membuat saya tergoda untuk merogoh kocek lebih dari anggaran awal saya.

Dari beberapa pilihan di rak diskon, saya akhirnya memutuskan untuk memboyong headphone Sony WH-CH510 berwarna biru.

Harga aslinya menurut situs Sony adalah 49,90€ sudah termasuk pajak.

headphone Sony WH-CH510 berwarna biru

Media Markt membandrol headphone ini menjadi 35,92€, dan jumlah stok yang ada di keranjang tinggal dua buah berwarna hitam dan sebuah berwarna biru.

Karena tertarik dengan warna biru, yang saat itu hanya tinggal satu selain barang pajangan, saya pun segera menentengnya ke kasir.

Rupanya saya kurang teliti, karena harga sebesar 35,92€ itu hanya berlaku untuk produk berwarna hitam, sementara headphone berwarna biru harganya 38,02€.

Entah siapa yang iseng menaruh produk yang bukan pada tempatnya ini, mungkin calon pembeli yang batal membeli lalu menaruhnya begitu saja tanpa mengembalikan ke tempat semula.

Tapi tidak apa-apa, karena produknya juga terbatas dan warna birunya saya suka.

memboyong Sony WH-CH510

Pertimbangan lainnya karena headphone bluetooth dengan merek cukup bagus dan harga di bawah 50€ cukup langka.

Selaih hitam dan biru, ada pilihan warna putih yang tak kalah cantik, tapi harga yang putih ini paling mahal dibanding yang hitam dan biru.

Di Amazon, harga headphone berwarna biru 36,47€ namun saya harus menunggu selama sekitar 3 hari dengan pengiriman standar bebas biaya.

Menurut situs Sony Indonesia, headphone Sony WH-CH510 ini harga normalnya Rp 699.000, sementara di Tokopedia, Shopee, atau Bukalapak, harganya sekitar Rp 500.000 tergantung si penjual.

Atau jika ingin membeli langsung ke toko, bisa mengunjungi lokasi toko dari situs Sony Indonesia.

Fisik dan Kemasan

kemasan Sony WH-C510

Kemasannya berupa kardus berdimensi 19,5 cm × 17 cm × 4 cm dengan desain yang sederhana namun terkesan mewah dengan latar belakang putih dan menonjolkan si produk.

Di kemasan, logo Sony dan klaim daya tahan baterai hingga 35 jam serta tulisan Bluetooth dan wireless begitu menonjol.

Bagian samping kardus berwarna biru, senada dengan warna produknya.

Informasi dan spesifikasi produk berada di bagian belakang, dengan keterangan dalam 3 bahasa utama, Inggris, Prancis, dan Italia.

Saya memilih headphone ini juga karena membaca spesifikasi produk ini mempunyai microphone.

Tentu saja microphone menjadi nilai lebih, karena tidak semua headphone menyediakan fasilitas ini yang bisa digunakan untuk menjawab telepon atau digunakan untuk rapat jarak jauh.

informasi produk di bagian belakang kardus

Masih menurut informasi dari bagian belakang produk, headphone Sony WH-C510 ini mampu bertahan hingga 90 menit hanya dengan mengisi daya selama 10 menit.

Fitur memberi perintah melalui aplikasi asisten seperti Google App dan Siri juga didukung oleh perangkat ini.

Media Markt menambah sebuah pita untuk mencegah pengunjung membuka dan melihat isi kemasan.

Selain itu ada alat pengaman tambahan untuk mendeteksi pencurian berupa sticker antena RFID yang ditempel di bagian belakang kardus.

Dari kemasannya pula, saya tahu bahwa produk ini dibuat di Vietnam dan diimpor oleh Sony Europe B.V., Belgia.

Isi Kardus

membuka kemasan Sony WH-CH510

Kardus dibuka dengan membuka lidah di bagian atas, lalu menariknya, setelah saya merobek plastik tipis pembungkus dan memotong pita pengaman dari Media Markt.

Unit headphone dikemas dalam sebuah kardus lagi berwarna coklat.

Buku panduan, lembar penggunaan singkat, dan lembar berisi pusat garansi juga disertakan ke dalam kardus ini.

Lembar penggunaan singkat ini sangat berguna karena saya bisa dengan cepat mengoperasikan headphone ini.

Fungsi dasar seperti menyalakan, mematikan, menghubungkan (pairing), memilih lagu, mengatur volume, loncat ke lagu berikutnya, hingga mengaktifkan panggilan telepon, tertera di lembar panduan singkat.

Jika ingin membaca lebih lengkap cara penggunaan, peringatan, dan spesifikasi lengkapnya, bisa membuka buku panduannya.

isi kemasan Sony WH-CH510

Buku panduan di sini berupa kertas lebar yang dilipat sedemikian rupa, dalam berbagai bahasa, yaitu Inggris, Prancis, Jerman, Spanyol, Italia, Belanda, Portugis, Denmark, Finlandia, Norwegia, Swedia, Polandia, Hungaria, Ceko, Slovakia, Bulgaria, Romania, Slovenia, dan Yunani.

Karena saking banyaknya bahasa yang dimuat, buku panduan ini pun dipecah jadi dua, masing-masing buku berisi 10 bahasa dan sisanya 9 bahasa.

Sebuah kabel USB-C dengan kepala USB-A sepanjang 20 centimeter disertakan ke dalam plastik berisi panduan ini.

Tidak ada pengisi daya yang disertakan, sehingga untuk mengisi headphone ini bisa menggunakan pengisi daya ponsel dengan minimal arus 500 mA atau dengan menggunakan colokan USB pada komputer.

Baterai yang digunakan headphone Sony WH-CH510 ini bertipe lithium-ion yang kompatibel dengan berbagai pengisi daya ponsel yang beredar.

Unit headphone Sony WH-CH510 sendiri tidak terbungkus apa pun lagi, hanya lembaran gabus tipis di dalam kardus dan produk langsung terlihat.

Spesifikasi Headphone Sony WH-CH510

headphone Sony WH-CH510 terbuat dari plastik

Seluruh unit headphone Sony WH-CH510 terbuat dari plastik, sehingga sangat ringan, dengan bobot hanya 132 gram.

Tidak ada bantalan di bagian lengkung kepala, di mana untungnya karena bobotnya ringan, tidak ada tekanan di bagian atas kepala.

Bagian pengeras suaranya bisa diputar 90° yang memudahkan headphone ini untuk disimpan dan dibawa ke mana-mana.

Namun tentu saja, menyimpan headphone ini harus hati-hati, karena terbuat dari plastik, hingga riskan patah, terutama saat bepergian dan menyimpannya di dalam tas.

Headphone Sony WH-CH510 ini menggunakan konsep on-ear, sehingga speaker-nya tidak menutupi seluruh telinga, namun berada di atas telinga.

bantalan headphone Sony WH-CH510

Tidak ada ANC (Active Noise Cancelling) untuk perangkat ini, namun menurut saya, bantalan speaker-nya cukup empuk dan nyaman di telinga, serta mampu meredam suara dari luar.

Bantalan ini mampu memberikan ruang bertekanan di dalam telinga dan membuat sedikit kedap, karena lengkungan rangkanya cukup kuat untuk mencengkeram kepala, namun tanpa memberikan rasa sakit.

Lapisan semacam kulit imitasi pada bantalannya juga membuat bantalan ini mudah dibersihkan.

Driver-nya berdiameter 30 milimeter, namun mampu memberikan suara dengan rentang suara 20 Hz – 20.000 Hz (sampling 44,1 kHz).

Speaker kanan dan kiri dibedakan dengan label huruf L berwarna putih di sebelah kiri dan R berwarna merah di sebelah kanan yang tercetak di bagian dalam.

label R untuk speaker sebelah kanan

Informasi unit seperti nama importir dan lokasi pembuatan dicetak timbul di bagian dalam rangka dan tidak terlihat kecuali lengkung rangka diperpanjang.

Otak headphone ada di speaker sebelah kanan, mulai dari tombol, microphone, colokan USB-C untuk mengisi daya, lampu indikator, hingga antena Bluetooth.

Protokol Bluetooth yang digunakan oleh Sony WH-CH510 adalah Bluetooth versi 5.0 dengan rentang energi kelas 2 dan mampu menjangkau jarak hingga 10 meter.

Dengan Bluetooth 5.0, headphone Sony WH-CH510 bisa irit daya dan kompatibel dengan perangkat Bluetooth lama yang kebanyakan masih menggunakan Bluetooth versi 4.2.

Sayangnya, Sony WH-CH510 belum mendukung fungsi dual audio yang bisa terhubung ke banyak perangkat dalam satu koneksi, meski Bluetooth 5.0 sudah mendukung fitur ini.

tombol-tombol di headphone Sony WH-CH510

Penggunaan daya pun menjadi lebih irit, karena Bluetooth 5.0 mengonsumsi daya lebih rendah, namun mampu mengirim data dengan kapasitas lebih tinggi, 2 Mbps sehingga sinkronisasi suara bisa lebih akurat.

Namun tentu saja, keunggulan ini akan optimal jika perangkat yang terhubung juga sama-sama menggunakan Bluetooth 5.0.

Tiga buah tombol kontrol berada di speaker sebelah kanan berada di bagian belakang sebelah bawah saat headphone dipakai, yang bisa dijangkau dengan ibu jari.

Yang menyenangkan, ada tonjolan yang membuat tombol ini bisa dengan mudah diraba dan langsung dikenali, yaitu sebuah tonjolan titik untuk tombol + untuk volume up atau lagu selanjutnya, lalu tombolan besar untuk power, dan tanpa tonjolan untuk tombol – untuk volume down atau lagu sebelumnya.

Sebuah LED akan menyala biru saat mencoba terhubung dan berwarna merah saat mengisi daya tepat berada di bawah speaker kanan.

LED, colokan USB-C, dan lubang microphone di Sony WH-CH510

Colokan USB-C berada di bawah kanan depan diapit oleh LED dan lubang kecil microphone.

Saat diisi daya, headphone Sony WH-CH510 tidak dapat digunakan, dengan waktu pengisian tergantung oleh pengisi daya yang digunakan.

USB-C ini hanya berfungsi untuk mengisi daya, dan headphone Sony WH-CH510 tidak mendukung koneksi audio dengan menggunakan kabel.

Meski di spesifikasi tertulis pengisian daya maksimal selama 4,5 jam, namun karena saya menggunakan pengisi daya Xiaomi Mi 8 Lite yang mampu mengirim daya 2 ampere, pengisian baterai headphone Sony WH-CH510 ini pun hanya memakan waktu sekitar 2 jam dari daya lemah hingga penuh.

Sony WH-CH510 mendukung profil standar perangkat audio seperti A2DP, AVRCP, HFP, dan HSP.

Untuk codec yang dipakai, Sony WH-CH510 mendukung codec standar SBC serta codec AAC yang digunakan oleh Apple.

Headphone Sony WH-CH510 juga mendukung protokol perlindungan konten digital SCMS-T yang dikembangkan oleh Sony dan Philips.

Menggunakan Headphone Sony WH-CH510

menggunakan headphone Sony WH-CH510

Setelah lebih dari seminggu saya menggunakan headphone Sony WH-CH510, saya merasa performanya cukup bagus, walau secara fisik tidak terlalu istimewa.

Untuk sebuah headphone Bluetooth seharga kurang dari 50€, kualitas suara yang dihasilkan oleh headphone ini cukup baik menurut saya yang bukan seorang audiophile ini.

Secara desain tampilan, saya tidak kecewa, dan bisa dibilang cukup keren untuk dipakai saat berada di perjalanan.

Namun badannya yang terbuat dari plastik, agak sedikit rentan patah jika tidak disimpan dengan baik saat dibawa di dalam tas.

Di satu sisi, karena terbuat dari plastik, headphone ini sangat ringan dan saat dipakai, saya merasa seperti tidak menggunakan headphone.

daun telinga sebagian masih terlihat saat menggunakan headphone Sony WH-CH510

Cengkeraman rangkanya juga cukup, tidak terlalu kuat, namun bisa membantu bantalan speaker meredam suara-suara dari luar.

Meski begitu, suara dari speaker pun kadang masih bocor keluar, terutama saat mendengar musik dengan volume yang cukup lantang, meski bocornya hanya samar-samar.

Kebetulan daun telinga saya cukup besar, sehingga beberapa bagian daun telinga saya terasa menonjol keluar, namun tetap tidak mengurangi kualitas peredaman suaranya, toh memang konsep headphone ini adalah on-ear.

Lengkung rangkanya juga sangat mudah disesuaikan, membuat headphone ini bisa dengan mudah diatur saat headphone ini dipinjam oleh istri saya.

speaker headphone Sony WH-CH510 terlipat dikalungkan

Saya sendiri menggunakan headset ini saat melakukan pekerjaan rumah tangga selain saat mengerjakan sesuatu di depan komputer atau menonton Youtube di layar ponsel.

Meski saya tidak pernah menggunakan headset ini untuk aktivitas olah raga, namun saya cukup yakin headphone ini juga nyaman saat digunakan untuk berolahraga di pusat kebugaran.

Satu hal yang saya suka, speaker ini bisa diputar 90° sehingga saat headphone ini dikalungkan saat tidak dipakai sementara, speaker akan terlipat dan logo Sony-nya bisa terlihat.

Speaker yang terlipat ini juga sangat memudahkan dalam menyimpan, karena headphone bisa tergeletak datar tanpa ada bagian yang menyembul.

Koneksi Bluetooth

pengaturan codec AAC Bluetooth di ponsel Xiaomi Mi 8 Lite

Koneksi Bluetooth-nya stabil, meski di MacBook Pro mid-2012 saya yang menggunakan Bluetooth versi 4.0,koneksinya agak patah-patah terutama saat berada pada jarak yang agak jauh atau terhalang sesuatu.

Dugaan saya karena Bluetooth 4.0 tidak mampu mengirim data sejauh dan sekuat Bluetooth 4.2 atau 5.0.

Saat terhubung ke MacBook Pro 2017 dari kantor yang menggunakan Bluetooth versi 4.2, atau di ponsel Xiaomi Mi 8 Lite dan Google Pixel 3a milik istri yang sudah mengunakan Bluetooth 5.0, koneksi ini sangat stabil.

Meski stabil, ada delay beberapa detik saat saya menekan tombol pada headphone untuk memerintahkan sesuatu ke perangkat, misal menghentikan sementara suatu lagu, atau memilih lagu berikutnya.

Saat terhubung ke ponsel, akan muncul indikator status baterai dan beberapa pengaturan lainnya, terutama memilih codec yang digunakan.

Secara default, Sony WH-CH510 akan menggunakan codec SBC karena ini adalah codec standar, namun jika perangkat mendukung, sebaiknya mengaktifkan codec AAC untuk kualitas suara lebih baik.

Namun yang agak mengganggu adalah saat pertama kali terhubung ke ponsel, headphone Sony WH-CH510 meminta akses ke daftar kontak telepon.

Tentu saja saya tidak memberi izin karena menurut saya selain tidak berguna juga untuk menjaga agar daftar kontak tidak sengaja tersebar melalui perangkat ini.

Kualitas Audio

Dentuman bas cukup terdengar menghentak dan lengkingan suara gitar cukup terasa kaya saat memainkan lagu Enter Sandman dari Metalica atau DEUTSCHLAND dari Rammstein.

Untuk memainkan musik-musik EDM dan Eurodance dari Robin Schulz misalnya, headphone Sony WH-CH510 cukup membuat badan saya bergoyang.

Namun saya merasa rentang suara bas dan trebel-nya agak sedikit kurang, mungkin karena saya menggunakan equalizer datar dan apa adanya dari Spotify.

Saya menduga jika saya bisa mengatur equalizer ini, suara yang headphone Sony WH-CH510 ini akan makin mantap.

Lagu saya dengarkan dengan mengatur volume suara pada headset hingga mentok lalu mengatur volume suara dari Macbook Pro atau dari ponsel.

Saya suka dengan notifikasi dari headset misal saat menyala atau terhubung dengan perangkat Bluetooth.

Suara perempuan mengucapkan, “power on, battery 70%“, saat menyalakan perangkat sangat berguna mengetahui dengan cepat kapasitas baterai headset.

Untuk menghubungkan perangkat baru pun cukup tricky, yaitu dengan menekan tombol power selama 7 detik, yang seringkali tidak sengaja justru mematikan atau menyalakan perangkat.

Jika headset dipakai bersama, saya harus memastikan headset sudah tidak terhubung dengan perangkat sebelumnya, karena nanti saat dinyalakan, ia akan otomatis terhubung ke perangkat terakhir.

Misalnya saat istri saya meminjam headphone, lalu setelah ia selesai, ia harus memutuskan hubungan Bluetooth di ponselnya sebelum saya bisa menggunakan.

Microphone-nya pun cukup bisa diandalkan dan kualitas suaranya lumayan jernih terutama saat melakukan panggilan telepon atau rapat jarak jauh.

Jika headphone tidak digunakan dalam waktu lama, headphone akan mati sendiri untuk menghemat daya listrik.

Demonstrasi Menentang Penerapan Protokol Kesehatan di Berlin, Jerman: 2017

Jerman sempat dipuji dalam penanganan pandemi Covid-19, meski sempat menjadi salah satu negara dengan jumlah kasus terbanyak.

iklan layanan masyarakat tentang protokol kesehatan di Berlin, tentang menjaga jarak, mencuci tangan, dan mengenakan masker

Hingga 1 Agustus 2020, menurut Robert Koch Institut, institusi resmi penanganan Covid-19 yang ditunjuk pemerintah Jerman, total kasusnya 209.653 dengan penambahan kasus 955.

Soal pencarian vaksin dan obat untuk melawan virus SARS-Cov-2 itu pun, Jerman termasuk salah satu negara terdepan.

Namun rupanya ada saja sebagian warga Jerman yang berpikir sebaliknya, bahwa pandemi dan segala urusan virus ini hanyalah teori konspirasi dan akal-akalan pemerintah.

Kok ya kebetulan di Indonesia, isu ini juga merebak di media sosial Indonesia, setelah seorang penyanyi mengungkapkan pendapat kontroversialnya di media sosial yang berawal dari foto jenazah pasien Covid-19 yang diambil oleh fotografer National Geographic, Joshua Irwandi.

Inti dari pendapatnya tersebut mengatakan bahwa Covid-19 dan pandemi ini tidak semengerikan yang dibayangkan, sehingga tak perlu warga terlalu takut dan tak perlu serius menerapkan protokol kesehatan.

poster bertuliskan, “berpikir, bukannya mengenakan masker” yang dibawa demonstran

Rupanya orang yang berpendapat seperti musisi tersebut juga banyak di Jerman, di mana selama ini orang Jerman dikesankan dengan sangat melek teknologi, logis, dan berpemikiran maju.

Terbukti dengan adanya demonstrasi besar-besaran yang diadakan di Berlin, pada Sabtu, 1 Agustus 2020, yang berpusat di Brandenburger Tor.

Awalnya saya tidak tahu ada demonstrasi ini, karena sejak pelonggaran Covid-19 diterapkan, hampir setiap Sabtu pasti ada saja demonstrasi dengan mengusung berbagai tema dan isu.

Demonstrasi dan demokrasi memang sudah menjadi bagian dari kehidupan warga Jerman, di mana saya pernah melihat sekelompok anak sekolah pun diajari untuk melakukan demonstrasi, dengan mengusung poster buatan mereka sendiri, menyuarakan pendapatnya, yang tentunya didampingi oleh gurunya.

Namun Sabtu itu agak sedikit berbeda, apalagi saat pandemi begini, saya memilih untuk menjauh dari kerumunan, apalagi ada demonstrasi.

bertemu rombongan demonstran di Stasiun Friedrichstraße

Saya berniat naik Tram dari Stasiun Friedrichstraße untuk membeli makan di sebuah warung ayam korea, namun ketika turun dari kereta S-bahn, saya melihat banyak polisi berjaga-jaga.

Saat keluar dari stasiun dan hendak menuju halte tram, mobil polisi datang dan mengawal sebuah rombongan.

Awalnya saya mengira ini adalah rombongan demo kecil yang hanya lewat, namun rupanya saya salah.

Para peserta tidak terlihat menggunakan masker, dan samar-samar saya mulai bisa membaca pesan-pesan apa yang mereka bawa di poster yang mereka bawa.

Saat rombongan mendekat, baru lah saya bisa bisa membaca beberapa pesan yang mereka bawa, dan rupanya mereka protes terhadap penerapan protokol kesehatan yang diterapkan pemerintah Jerman untuk menanggulangi pandemi karena dianggap mengekang kebebasan.

poster bertuliskan, “hentikan vaksinasi paksa”

Menggunakan masker, menurut mereka simbol represi pemerintah untuk membungkam, membatasi jarak dan jumlah orang berkumpul menyimbolkan perpecahan, dan teori konspirasi lainnya.

Padahal aturan wajib menggunakan masker hanya di angkutan umum dan toko saja, sementara beberapa aturan lain juga selalu dievaluasi mengikuti perkembangan.

Saya yang awalnya ingin tahu langsung merasa gelagat tidak enak saat peserta yang semuanya tak menggunakan masker, melihat saya yang berada di pinggir dengan masker menutupi mulut dan hidung.

Setelah mengambil beberapa video dan foto, lalu mengunggahnya ke Twitter, saya pun menyingkir dari situ, karena selain menjaga diri, saya juga harus membeli ayam goreng korea.

Dalam perjalanan ke warung ayam goreng korea, saya mencari informasi di Twitter tentang demonstrasi hari itu.

mencari informasi di Twitter dengan tagar #b0108

Agak tricky untuk mencari informasi di Twitter, karena perilaku netizen Jerman dan Indonesia sangat berbeda.

Di Indonesia, rasanya informasi tentang suatu kejadian bisa dengan mudah dan cepat ditemukan, bahkan bisa dibilang hampir real-time, karena apa-apa diunggah ke media sosial.

Sementara di Jerman, orang-orang sepertinya tidak sekecanduan itu terhadap media sosial, dan informasi biasanya bermunculan beberapa jam setelahnya.

Jikalau ada pun, biasanya dari wartawan, jurnalis, atau dari lembaga yang mengeluarkan pernyataan resmi.

Salah satu akun Twitter lembaga resmi yang cukup informatif saat ada kejadian adalah akun Kepolisian Berlin.

Dari akun ini pula lah, saya tau ada trik untuk mencari informasi di Twitter, yaitu dari tagar b disertai dengan angka tanggal dan bulan.

Misal karena saat itu tanggal 1 Agustus, maka saya tinggal mencari tagar #b0108 dan beberapa informasi bisa saya temukan di situ.

Beberapa netizen juga sepertinya menggunakan tagar tersebut untuk melaporkan kejadian.

Dari beberapa twit yang tersebar, baru lah saya tahu bahwa demonstrasi tersebut dimotori oleh kalangan sayap kanan ekstrim yang sangat konservatif.

Video dan foto yang beredar pun membuat saya tercengang, salah satunya yang dicuitkan jurnalis Deutsche Welle, Benjamin Alvarez.

cuitan dari Benjamin Alvarez

Kepolisian Berlin melaporkan bahwa peserta demonstrasi mencapai 17.000, namun menurut beberapa cuitan yang beredar, jumlahnya diperkirakan lebih dari itu.

Ada yang bilang jumlahnya 100.000, 200.000, dan ada pula yang melakukan klaim 1-2 juta orang turun ke jalan.

Klaim 1 juta orang tersebut rasanya agak kurang masuk akal, karena jumlah warga Berlin sendiri hanya sekitar 3,7 juta orang.

Demonstrasi diawali dengan long march dari beberapa kawasan di Berlin, salah satunya dari Alexanderplatz, menyusuri Unter den Linden, berbelok ke Friedrichstraße, di mana di sini saya berjumpa dengan rombongan ini, lalu berakhir di Straße des 17. Juni tepat di belakang Brandenburger Tor.

Dasar Jerman, semua sudah terencana, di mana di sana, panggung sudah berdiri untuk melakukan orasi lengkap dengan beberapa layar besar untuk mengakomodir peserta yang jauh dari panggung.

Namun rupanya aksi demonstrasi tersebut harus berakhir lebih awal, karena polisi terpaksa membubarkan acara dan menangkap beberapa panitia aksi untuk dimintai keterangan karena aksi demonstrasi tersebut dianggap melanggar aturan protokol kesehatan.

Sebuah hal yang lucu, di mana aksi menolak penerapan protokol kesehatan, namun peserta aksi diminta untuk menerapkan protokol kesehatan oleh polisi.

twit Kepolisian Berlin untuk mengingatkan peserta demo mematuhi protokol kesehatan, yang berujung pembubaran karena ketidakpatuhan peserta

Tentu saja ini menjadi celah aparat penegak hukum untuk bertindak, karena tidak ada yang salah dengan demonstrasinya atau pesan yang disampaikan, namun ada pelanggaran yang jelas, yaitu melanggar protokol keamanan.

Menurut saya ini salah satu trik pemerintah Jerman untuk mengakomodir namun tetap mengikuti koridor hukum.

Seperti misalnya di Jerman, melakukan usaha melarikan diri dari penjara adalah perbuatan yang tidak melanggar hukum, karena insting untuk bebas adalah insting dasar manusia.

Namun jika melakukan usaha tersebut, si narapidana pasti akan melakukan perbuatan melanggar hukum lainnya, misal merusak properti penjara, melakukan penyerangan kepada petugas, dan lain-lain, maka secara hukum, si narapidana tetap saja melanggar hukum.

Termasuk dalam menangani demonstrasi Sabtu lalu, meski pemerintah memberikan izin untuk melakukan demonstrasi, namun karea ada unsur aturan yang dilanggar, polisi boleh bertindak dengan membubarkannya.

Tentu saja pembubaran ini pun tidak berlangsung lancar, karena tentu saja masa pendemo melawan.

Tidak hanya saat pembubaran, sebuah insiden dialami oleh reporter ZDF, Dunja Hayali, saat melakukan liputan di area demonstrasi, yang sempat ia videokan dan unggah ke Instagramnya.

Helikopter polisi tampak wara-wiri di sekitar lokasi, termasuk raungan sirene polisi, pemadam kebakaran, dan ambulans.

Dari tempat tinggal kami yang tak jauh dari Brandenburger Tor, terdengar suara sayup-sayup teriakan demonstran.

Kepolisian Berlin akhirnya merilis laporan resminya yang menyatakan bahwa aksi demo sudah dimulai sejak pukul 3:30 pagi dengan mengusung slogan, “Hari Kemerdekaan: Akhir Pandemi”.

Pantas saja saat saya berada di Stasiun Friedrichstraße, saya sempat mendengar teriakan, “freiheit! freiheit! freiheit!“, dari para peserta demonstrasi.

bendera beberapa negara bagian di Jerman yang dibawa saat demonstrasi

Peserta demonstrasi berasal dari beberapa wilayah negara bagian di Jerman, terlihat dari beberapa bendera yang mereka bawa saat demo.

Gagasan demo dimulai dari ide pemikiran gerakan Querdenken 711 (Pemikiran 711), yang berasal dari Stuttgart, karena kode 711 adalah kode telepon kota Stuttgart.

Rencana ini kemudian menyebar dan akhirnya terealisasi dengan demonstrasi di Berlin, sebagai ibukota negara.

Namun di aksi demonstrasi apa pun, seringkali ada kelompok yang menunggangi, di mana saat demo, terlihat beberapa bendera dan simbol organisasi dan gerakan terlarang.

twit berisi video peserta demo membawa bendera simbol organisasi terlarang di Jerman

Saya sendiri baru tahu bahwa bendera berwarna hitam-putih-merah merupakan bendera simbol dari organisasi terlarang di Jerman.

Polisi pun menangkap dan menangkap peserta yang membawa simbol-simbol ini, karena memang secara hukum, memperlihatkan simbol ini masuk dalam tindakan kriminal.

Menurut laporan polisi, terjadi pula aksi rusuh di area Hermanplatz, Neuköln, yang tidak ada hubungannya dengan demonstrasi dan telah mengamankan situasi.

Polisi yang menurunkan sekitar 1.100 personel untuk mengamankan aksi dan menyatakan 45 personel terluka.

Meski saya pernah mengalami peristiwa demonstrasi, bahkan kerusuhan di Indonesia, namun tetap saja buat kami, peristiwa ini cukup membuat kami khawatir, meski kami yakin pihak keamanan Berlin bisa mengendalikan situasi.

Apalagi sejak pandemi ini, sentimen terhadap warga Asia cukup meningkat, di mana kami pernah diteriakin orang, “Corona! Corona!” karena wajah Asia kami.

Hal tersebut cukup mengagetkan kami, karena Berlin merupakan melting pot berbagai bangsa dan budaya.

Semoga saja pandemi ini bisa berlalu dan situasi aman terkendali.

Melihat Merak di Pulau Merak (Pfaueninsel), Berlin, Jerman: 2017

Saya sendiri hampir tak percaya saat seorang teman bilang di Berlin ada Pulau Merak, yang berisi puluhan burung merak.

burung gagak hinggap di balkon

Memang, soal burung, saya sudah sering melihat burung gagak, burung dara, dan burung gereja berkeliaran bebas di sekitar Berlin.

Bahkan saya sudah terbiasa dengan suara burung gagak yang suaranya parau koak-koak dan seakan-akan menjadi pengganti suara kokok ayam setiap pagi, bahkan siang, sore, hingga malam hari.

Beberapa kali burung gagak hinggap di balkon apartemen kami dan meninggalkan jejak berupa tahi burung.

Burung gereja dan burung dara juga biasanya mendatangi orang yang sedang duduk-duduk di taman atau tempat keramaian, untuk minta remah-remah roti atau makanan.

Kelakuan mereka mirip dengan kucing liar di warung tenda kaki lima di Indonesia.

Di beberapa tempat, burung gereja suka caper dengan mandi-mandi pasir, atau kadang nekat masuk ke restoran (terutama yang terbuka) dan berpesta mengais sisa makanan.

Kembali soal burung merak, karena setahu saya burung merak adalah burung khas Asia, terutama India, saya pun mengiyakan ajakan teman tersebut untuk mengunjungi pulau ini.

Berkunjung Ke Pulau Merak

halte bus Wansee

Hari Sabtu, 18 Juli 2020, kami meluncur ke Wansee, sebuah danau besar yang menjadi salah satu tujuan warga Berlin untuk menikmati musim panas.

Kami memutuskan pergi di hari Sabtu karena menurut prakiraan cuaca, Sabtu akan sangat cerah setelah sepekan cuaca Berlin sendu.

Untuk menuju Wansee, kami naik kereta S-bahn S7 bertujuan Potsdam Hauptbahnhof.

Kenapa tidak di hari Minggu, selain karena cuacanya kelabu, di hari Minggu biasanya orang Berlin lebih memilih bermalas-malasan di rumah, apalagi hampir sebagian besar toko dan tempat wisata tutup.

Dari Stasiun Wansee, yang memiliki lukisan pixel art menarik dari keramik di salah satu sudutnya, kami menunggu bus bernomor 218 dengan tujuan Pfaueninsel.

jalan melewati hutan menuju Pulau Merak

Dalam Bahasa Jerman, Pfauen berarti merak(-merak) dan Insel berarti pulau.

Jika ingin menuju ke Jembatan Glienicker, bisa juga naik bus 316 dari halte ini.

Tak lama bus yang kami tunggu datang, dan kami segera naik bus tingkat tersebut untuk membawa kami ke pelabuhan Pulau Merak.

Bus yang membawa kami tiba-tiba berbelok masuk ke semacam hutan selepas dari Königstraße, yang mana lebar jalannya hanya bisa dilewati oleh bus ini.

Jika lurus mengikuti Königstraße, bus akan sampai ke Jembatan Glienicker, karena memang lokasi pulau ini tak jauh dari jembatan yang dulu digunakan untuk menukar mata-mata pada era perang dingin tersebut.

Jalan sempit ini akan membawa kami ke halte terakhir, yaitu dermaga yang akan membawa kami menyeberangi Sungai Havel untuk menuju ke Pulau Merak.

Pulau ini juga berada di perbatasan Berlin-Brandenburg, yang mana pulau ini masuk ke wilayah Berlin.

Menyeberang ke Pulau Merak

mengantre masuk kapal menuju Pulau Merak

Bus berhenti di halte terakhir, halte yang sekaligus menjadi dermaga untuk menyeberang ke Pulau Merak.

Saat kami datang, sekitar pukul 10:30, belum banyak warga yang mengantre.

Wah, rupanya meski kami sudah datang pagi (di Berlin, pagi biasanya dimulai sekitar pukul 10:00), rupanya ada yang sudah datang lebih pagi.

Dari sekian orang, rasanya hanya kami bertiga yang berkulit gelap, selain serombongan keluarga India di depan kami.

Memang tempat ini bukan tempat wisata populer untuk turis asing, terutama yang tidak tinggal di Berlin, karena memang lokasinya bisa dibilang cukup jauh dari pusat kota Berlin.

Kami mengantre untuk masuk ke kapal, di mana tiket dibeli di atas kapal yang sudah termasuk tiket pulang-pergi dan tiket masuk ke area Pulau Merak.

tiket Pulau Merak seharga 4€ per orang

Harga tiketnya 4€ per orang dan 3€ untuk mahasiswa dan orang-orang sepuh serta difabel, sementara untuk satu keluarga yang terdiri sepasang orang tua dan empat anak, cukup membayar 8€.

Benar, area Pulau Merak ini termasuk ramah terhadap pengguna kursi roda, meski jalannya banyak terbuat dari tanah dan menanjak, namun masih bisa dilewati kursi roda.

Keluarga yang membawa kereta bayi atau stroller pun bisa melewati jalur yang ada di pulau ini karena memang pulau ini didesain ramah terhadap keluarga dan anak-anak.

Anjing dan sepeda tidak boleh masuk ke area pulau ini, tentunya untuk melindungi merak-merak di dalam pulau.

Kami naik ke kapal penyeberangan yang panjangnya 31 meter dengan lebar 9,91 meter dan tinggi 1,15 meter.

Kapal ini bisa mengangkut 150 orang dan mampu menahan beban hingga 20 ton.

Saat kami menyeberang, ada sebuah mobil naik ke dalam kapal, yang merupakan mobil operasional dari pengelola taman.

tiba di Pulau Merak

Palang pintu pun ditutup dan kapal segera bergerak menuju ke dermaga seberang di Pulau Merak.

Perjalanannya tak memakan waktu lama, tak sampai 5 menit kami sudah tiba di seberang.

Selain menuju ke Pulau Merak, terdapat beberapa dermaga yang digunakan oleh kapal-kapal wisata di Berlin untuk menaikkan dan menurunkan penumpang.

Kapal wisata ini memiliki rute berkeliling danau-danau dan sungai di Berlin, tergantung dari operatornya.

Tiket yang kami dapat berbentuk lembaran brosur besar yang berisi peta dan lokasi-lokasi penting di dalam pulau.

Ada dua toilet gratis yang sangat bersih di pulau ini, di mana saya jarang menemukan toilet gratis terutama di tempat-tempat wisata di Berlin.

lapangan khusus untuk piknik

Tidak semua tempat pun menyediakan toilet, bahkan pusat perbelanjaan, stasiun kereta, atau pom bensin belum tentu menyediakan toilet.

Jika pun ada, biasanya ke toilet harus bayar sekitar 0,50€ hingga 1€, tergantung lokasinya.

Piknik dan duduk-duduk pun tidak boleh sembarangan, karena itu, disediakan lapangan besar yang dikhususkan untuk menggelar tikar, piknik, berlari-lari, bahkan terdapat sebuah kafe dan resto kecil jika ingin mengudap atau sekadar menikmati bir dingin.

Tentu saja, salah satu tujuan utama kami ke pulau ini selain melihat merak, adalah piknik menikmati musim panas.

Dan sepertinya kami tidak sendiri, tujuan kami sama dengan tujuan puluhan orang yang datang ke tempat ini.

Berkeliling Pulau Merak

jalur tanah di Pulau Merak

Di pulau ini terdapat jalur yang bisa diikuti, serta beberapa tempat-tempat menarik yang bisa dikunjungi.

Jalurnya berupa bebatuan yang disusun hingga jalur tanah yang sama-sama bisa dilalui oleh kursi roda atau stroller.

Begitu kami menginjakkan kaki ke pulau, kamu langsung disambut dengan suara teriakan merak di kejauhan.

Kami makin semangat dan tak sabar untuk berjumpa dengan merak-merak ini.

Dari dermaga, kami memilih mengambil arah ke kanan, menuju ke arah timur laut melewati taman mawar dan sebuah bengkel kapal kayu.

Pulau ini dulunya digunakan untuk riset dan membuat kaca-kaca cantik oleh salah seorang tukang kaca, Johannes Kunckel, pada masa pemerintahan Raja Friedrich Wilhelm.

padang ilalang di Pulau Merak

Kunckel seorang tukang kaca yang sangat berbakat, di mana di pulau ini lah ia menemukan teknik membuat batu ruby imitasi yang terbuat dari kaca berwarna merah.

Setelah Raja Friedrich Wilhelm meninggal pada 1688, tidak ada lagi dukungan dana kepadanya.

Tahun 1689, bengkel kerjanya terbakar habis, dan sisa-sisa lokasi bengkel Kunckel ini bisa terlihat dari semacam lapangan panjang di ujung timur pulau.

Johannes Kunckel kemudian pergi ke Stockholm untuk bekerja kepada Raja Swedia pada 1692.

Pulau ini sempat mangkrak tak terurus selama sekitar 100 tahun, hingga pada masa pemerintahan Raja Friedrich Wilhelm II, yang sering dikenal dengan Friedrich Yang Agung, mengubah pulau ini menjadi salah satu lokasi favoritnya untuk menikmati musim panas, selain di Istana Sanssouci pada 1793.

Friedrich Yang Agung mempersembahkan pulau ini untuk selirnya, Wilhelmine Enke, yang kemudian bergelar Wilhelmine von Lichtenau.

Istana Pulau Merak (Schloss Pfaueninsel)

Sebuah istana dibangun di pulau ini, Istana Pulau Merak (Schloss Pfaueninsel) yang tentu saja sangat cantik dengan warna berwarna putih dan terdiri dari dua menara yang menyambung di bagian tengah dengan sebuah jembatan bergaya Roman.

Di sekitar istana ini terdapat taman bunga mawar, berbagai bunga tropis, dan tanaman palem yang eksotis.

Meski terlihat sangat indah dan berwarna putih seperti marmer, rupanya ini hanya ilusi karena istana tersebut dindingnya terbuat dari kayu yang dicat sedemikian rupa hingga menyerupai marmer.

Saat kami ke sana, bangunan ini sedang dalam tahap renovasi yang rencananya selesai pada tahun 2024.

Di tengah pulau ada bangunan berbentuk seperti benteng bernama Kavalierhaus bergaya neo-gothic ala Inggris yang digunakan untuk tempat menginap anggota kerajaan.

Kavalierhaus di Pulau Merak

Karena bentuknya yang unik seperti benteng ini, lokasi ini sering digunakan untuk lokasi syuting film-film lokal Jerman.

Padang rumput ilalang tinggi menghampar persis di depan bangunan ini, mengingatkan saya akan pemandangan di Baluran.

Dulu, saya dan istri punya keinginan untuk mengunjungi Taman Nasional Baluran saat musim kemarau karena ingin melihat pemandangan sabana dan padang rumput seperti ini, namun rupanya cita-cita kami tersebut belum terpenuhi.

Rupanya kami mendapat ganti pemandangan yang tak kalah cantik di Pulau Merak ini.

Sebuah air mancur besar dibangun di tengah pulau, dan dari air mancur ini kami bisa melihat Istana Pulau Merak menyembul di antara pepohonan.

di depan air mancur Pulau Merak

Selain merak, ada beberapa kandang di pulau ini, yaitu kandang merak putih, kandang merak dan beberapa unggas eksotik, kandang kuda poni, kandang domba, kandang kerbau air, dan kandang sapi.

Kerbau air yang berwarna hitam ini sering dilepas di ladang ilalang untuk memangkas ilalang dengan memakannya.

Ada sepetak ladang yang digunakan untuk menanam beberapa tanaman makanan pokok, yang mana kerbau-kerbau ini juga digunakan sebagai pembajak.

Selain itu, kebutuhan susu juga diperoleh dari sapi dan kambing yang dipelihara di pulau ini.

Terdapat sebuah gedung yang digunakan sebagai laboratorium perkembangbiakan merak, namun saat kami ke sana, laboratorium ini tutup dan tidak menerima kunjungan karena pandemi.

bangunan kandang sapi di Pulau Merak

Di beberapa area pulau dipasang pagar kawat beraliran listrik, yang menurut dugaan saya untuk menghalau binatang agar tidak keluar area dan nyemplung ke sungai.

Selama di pulau, pengunjung dilarang keras memberi makan hewan apa pun di sini, karena dikhawatirkan si hewan bisa keracunan, sakit, dan kemudian mati.

Pulau Merak seluas 67 hektar ini bisa dijelajahi hanya dalam waktu sehari saja, tentu dengan mengikuti jalur yang sudah disediakan.

Untung kami membawa air minum yang cukup, sepatu yang nyaman, dan kaos yang tipis saat berkeliling di pulau ini.

Di sekitar pulau terlihat beberapa kapal sewaan membuang sauh dan berhenti di sekitar pulau.

Beberapa di antaranya terdengar suara musik kencang karena menggelar pesta di atas kapal, sebuah pemandangan yang sangat kontras.

Berjumpa Merak

merak putih di Pulau Merak

Meski saya sudah pernah melihat dan bertemu merak sebelumnya, namun tetap saja saya antusias dan penasaran bertemu dengan merak secara langsung yang berkeliaran di alam bebas.

Di pulau ini ada dua kandang merak, yang pertama adalah kandan merak putih namun bukan albino, karena mata merak putih ini tidak berwarna merah.

Merak putih ini merupakan merak hasil mutasi dari merak India, dan bernama latin Pavo cristatus mut. alba).

Kandang luar merak putih ini dibangun pada 2003 dan merupakan sumbangan dari Yayasan Cornelsen.

Tak jauh dari kandang, saya melihat banyak orang bergerombol, melihat ke arah semak-semak sambil menodongkan kamera dan ponsel.

burung merak liar di Pulau Merak

Rupanya ada seekor merak biru jantan tengah bersantai di atas batang kayu.

Dengan santainya ia duduk seolah-olah tidak ada manusia di sekelilingnya yang sedang takjub.

Sayangnya karena saat itu bukan musim kawin, ekor merak jantan tersebut tidak mengembang untuk menarik betina.

Musim kawin merak yang merupakan hewan endemi padang savana dari India, Asia Selatan, dan Indonesia ini adalah bulan Januari hingga April.

Untungnya merak-merak ini tidak perlu memikirkan resepsi, karena bisa dipastikan mereka akan kesulitan mencari gedung resepsi pada saat musim kawin.

Meski dibilang binatang endemi, rasanya di Indonesia sendiri, merak sudah kehilangan habitat aslinya. Sangat disayangkan.

kandang utama di Pulau Merak

Puas melihat si merak yang sedang santai, kami berjalan menuju ke kandang utama yang menjadi rumah bagi beberapa hewan eksotis lainnya.

Kandang yang bergaya Inggris ini dibangun pada 1824 yang dirancang oleh Martin Friedrich Rabe, yang juga merancang berbagai istana.

Burung-burung dan beberapa hewan yang didatangkan oleh Raja Friedrich Wilhelm III, yang menyukai hewan-hewan eksotis, dikandangkan di kandang ini.

Dulunya ada beberapa hewan seperti singa, llama, monyet, buaya, hingga beruang, didatangkan ke pulau ini oleh Raja Friedrich Wilhelm III.

Kemudian pada pemerintahan Friedrich Wilhelm IV, beberapa hewan ini dipindahkan ke Kebun Binatang Berlin, yang saat itu merupakan kebun binatang pertama di Jerman, yang dibuka pada 1844.

Hanya beberapa burung, terutama merak saja yang tetap tinggal di pulau ini.

ayam silkie di kandang Pulau Merak

Di kandang, beberapa merak langka seperti merak emas (Chrysolophus pictus) dari Cina, ayam vorwerk yang merupakan ayam asli Jerman, ayam brahma yang besar dan berasal dari Amerika Serikat, dan ayam silkie yang memiliki bulu halus.

Merak-merak liar di luar sangkar ini rupanya juga berjalan-jalan di sekeliling kandang, seolah-olah mengejek saudaranya yang berada di dalam kandang.

Mereka tidak takut terhadap manusia, bahkan mendekat untuk meminta makan, namun penjaga kandang yang saat itu bertugas memberi makan memperingatkan kepada seorang pengunjung yang terlihat kasihan dan hendak memberi makan kepada merak tersebut.

Saya bisa membandingkan langsung seberapa besar si merak ini, dan rupanya mereka ini besar!

merak berkeliaran di dekat kios makanan

Dugaan saya, usia merak-merak yang berkeliaran ini masih remaja, karena terlihat dari ekornya yang belum banyak dan baru muncul beberapa.

Saat kami duduk-duduk di lapangan rumput yang dikhususkan untuk piknik, seekor merak tengah berkeliaran di sekitar warung yang ada di lokasi ini.

Mereka seakan-akan meminta belas kasihan orang-orang yang tengah makan atau piknik, untuk mendapat remah-remah makanan.

Namun sepanjang pengamatan saya, tidak ada satu pun orang yang memberinya makan, meski si merak sudah caper dan mendekat dan melakukan gerakan-gerakan meminta perhatian.

Bahkan saat ia mendekati kami yang sedang duduk-duduk di atas tikar, kami tidak memberi apa pun.

Kami hanya memotret dan mengambil video saat si merak mendekat sambil menikmati es kopi dan es coklat yang kami pesan dari kios di area ini.

merak rebahan mencari perhatian

Walau sebenarnya kasihan melihat tingkahnya, namun karena memang kami dilarang memberinya makanan, kami tidak berani melanggarnya.

Saya belum pernah mengalami hal seperti ini, didekati merak saat piknik di taman.

Entah karena lelah atau ngambek, si merak tiba-tiba rebahan di tengah lapangan dengan pose yang aneh.

Tingkahnya seperti kucing yang kesal lalu seperti mencari perhatian kepada majikannya.

Namun sayangnya, usahanya tersebut gagal.

Orang-orang tetap saja tidak memberinya makan, lalu entah ke mana si merak tersebut pergi.

Kami sempat kaget saat terdengar suara teriakan yang berasal dari pohon besar di tengah padang ilalang saat sedang menjelajah berkeliling pulau.

merak di taman mawar Pulau Merak

Lalu terdengar suara sahutan merak lain yang membalas teriakan merak yang terdengar sangat dekat tersebut.

Rupanya ada seekor merak tengah bertengger di sebuah pohon besar dan sepertinya sedang berbincang dengan sesamanya.

Saat perjalanan pulang dan menuju ke dermaga, kami lagi-lagi berjumpa dengan merak.

Kali ini si merak muncul di sekitaran taman mawar lalu mengikuti kami hingga ke pelabuhan, seakan hendak mengantar kepergian kami.

Saya memperhatikan di salah satu kaki merak terdapat gelang plastik yang digunakan sebagai identifikasi si merak.

Kami sangat puas bisa berjumpa dan melihat langsung merak-merak ini dengan bebas di habitatnya.

Suatu saat kami pasti akan kembali ke sini, berjumpa lagi dengan merak-merak di taman nasional yang menjadi warisan dunia UNESCO ini.

Pulau ini dikelola oleh Yayasan Istana dan Taman (Stiftung Preußische Schlösser und Gärten) Berlin-Brandenburg.

Galeri Foto

Melihat ke Dalam Rumah Cina Sanssouci, Potsdam, Jerman: 2017

Penasaran dengan isi Rumah Cina saat kami mengunjungi Istana Sanssouci tahun lalu, kami akhirnya berkesempatan mengunjungi dan masuk ke dalamnya, pada 16 Juli 2020 lalu.

loket tiket Rumah Cina Sanssouci

Tahun lalu kami datang sudah terlalu sore dan penjualan tiket sudah ditutup, sehingga kami tidak bisa masuk ke dalam.

Setelah mengunjungi Jembatan Glienicker, kami menuju ke kawasan istana musim panas Sanssouci yang dibangun oleh kaisar Prusia, yang sekarang menjadi wilayah Jerman, Friedrich Yang Agung.

Kami sengaja langsung mendatangi Rumah Cina yang berjarak sekitar 700 meter dari Istana Sanssouci.

Setelah membeli tiket seharga 4€ per orang dari sebuah loket yang bentuknya seperti bangunan peti kemas, kami pun masuk ke dalam rumah mungil yang dulunya digunakan untuk mendengar musik sambil minum teh.

Bangunan yang dirancang oleh Johann Gottfried Büring ini bergaya rococo yang memadukan banyak ornamen Cina.

tiket masuk ke Rumah Cina Sanssouci

Saat kami masuk, seorang bapak pemandu yang berjaga di dalam menjelaskan beberapa hal kepada kami tentang rumah ini.

Rumah cina ini dibangun karena kekaguman kaisar Friedrich akan budaya Cina yang saat itu masuk ke Eropa melalui jalur perdagangan.

Porselen cina, lukisan, sutera, dan komoditas Asia yang bagi orang Eropa terlihat indah dan menarik, rupanya juga menarik hati kaisar.

Karena sang kaisar dan si perancangnya sendiri belum pernah ke Cina, mereka hanya membayangkan bagaimana suasana di Cina, dan mulai menerapkan gaya-gaya Cina namun dengan sentuhan khas Eropa.

lukisan di bagian atap Rumah Cina Sanssouci

Saat pertama kali melihat patung-patung berlapis lembaran emas (gilded) di sekeliling rumah ini menggambarkan suasana minum teh dan bermain musik, namun terlihat jelas gaya-gaya patung dan raut muka Eropa terpahat di patung tersebut.

Seni patung merupakan seni yang sangat lazim di Eropa, padahal di Cina sendiri, seni patung saat itu kurang begitu dikenal.

Bentuk rumahnya pun juga berbentuk rumah ala Eropa, berbentuk bundar dengan atap lancip yang sangat jauh berbeda dengan arsitektur Cina.

Konser musik kecil sering dilangsungkan di dalam bangunan ini, karena sistem akustiknya yang luar biasa, bisa membuat suara musik lebih nyaring tanpa menggunakan amplifier atau perangkat audio modern.

Benar saja, saat pemandu meminta kami berdiri di tengah ruangan dan berteriak atau berbicara, suara akan memantul ke sana kemari dan membuat suara terdengar lebih nyaring.

salah satu ruang untuk mnium teh di Rumah Cina Sanssouci

Ada tiga ruangan kecil di dalam, yang dugaan saya digunakan oleh penonton melihat pertunjukan musik di tengah sambil minum teh dengan menggunakan peralatan makan porselen dari Cina.

Saat kami datang, ada salah satu ruang yang sedang direnovasi karena lantai kayunya lapuk dan keropos karena usia.

Mendongak ke atas, akan terlihat lukisan suasana minum teh di Cina yang dilukis oleh Thomas Huber.

Lukisan ini pun, meski sekilas terlihat seperti gaya Cina, namun sentuhan khas Eropanya sangat terasa, terutama di pemilihan warna dan figurnya.

Karena Raja Friedrich Yang Agung suka dengan monyet, maka di lukisan tersebut banyak gambar monyet, selain burung kaktua, merak, dan naga.

ornamen monyet di Rumah Cina Sanssouci

Saat saya bertanya apakah dulu di kawasan taman ini ada monyet, pemandu tersebut mengatakan tidak ada monyet di taman ini, dan seluruh hewan yang tergambar di lukisan itu sepenuhnya hasil imajinasi si pelukis.

Salah satu ketidakakuratan lukisan ini, terutama karena ketiadaan referensi pada saat itu, adalah gambar naga.

Naga merupakan makhluk legenda yang dikenal di Eropa dan Cina, namun kedua sosok makhluk ini sangat jauh berbeda.

Menurut kebudayaan Cina, naga merupakan mahkluk yang agung, makhluk setingkat dewa, sementara di Eropa, naga adalah makhluk jahat yang bisa dibilang sebagai iblis.

Bentuknya pun jauh berbeda, di mana menurut kebudayaan Cina, naga tidak memiliki sayap, sementara menurut kebudayaan Eropa, naga memiliki sayap.

bangunan dapur di Rumah Cina Sanssouci

Lukisan naga yang tergambar di atap rumah ini tentunya naga Eropa, dengan memiliki sayap.

Selain lukisan, ornamen berlapis emas di dalam rumah ini juga banyak menampilkan bentuk monyet.

Dinding bagian dalam terbuat dari marmer yang adem dan dihiasi dengan stucco alias ornamen khas.

Tak jauh dari rumah ini, terdapat sebuah bangunan yang dulunya berfungsi sebagai dapur, di mana makanan akan disiapkan di bangunan ini, kemudian dibawa ke Rumah Cina untuk dihidangkan.

Bangunan ini pun tak kalah cantik dengan bangunan Rumah Cina.

Tentu saja, secara umum bentuk bangunannya seperti bangunan pada rumah Eropa, hanya dengan menambahkan beberapa ornamen yang saat itu dipercaya berasal dari Cina.

Glienicker Brücke, Jembatan Pertukaran Mata-Mata dan Saksi Persatuan Jerman: 2017

Jika pernah menonton film Bridge of Spies (2015) film yang dibintangi oleh Tom Hanks, pasti tahu tentang jembatan Glienicker yang menjadi salah satu lokasi di film tersebut.

di Jembatan Glienicker

Film yang diadaptasi dari kisah nyata tersebut, sangat membekas dalam ingatan saya ketika saya menonton film tersebut di bioskop di Jakarta.

Tak menyangka, saya bisa menginjakkan kaki di jembatan bersejarah tersebut beberapa tahun setelah menonton filmnya.

Kisah pertukaran mata-mata dan sekilas tentang jembatan Glienicker ini juga saya dapatkan saat mengunjungi museum mata-mata di Berlin.

Jembatan yang menyimpan banyak cerita ini kini tidak menyisakan bekas-bekas sejarahnya.

Sekilas nampak seperti jembatan biasa yang melintasi Sungai Havel yang menghubungkan Potsdam, Brandenburg dan Berlin.

papan peringatan penyatuan Jerman di Jembatan Glienicker

Jerman sepertinya mengubur sejarah kelam yang ditorehkan di jembatan ini, membuang semua jejak sejarah, misal pos-pos penjagaan, dan menggantikannya dengan sebuah papan informasi agar generasi tidak lupa.

Maklum saja, jembatan yang dibangun pada tahun 1904 hingga 1907 ini, sempat hancur pada Perang Dunia Kedua, dan dibangun kembali pada 1949.

Saat Jerman terpecah menjadi dua dan Tembok Berlin dibangun pada 13 Agustus 1961, jembatan ini menjadi salah satu perbatasan yang menghubungkan Republik Demokratik Jerman alias Jerman Timur dan wilayah Berlin Barat milik Republik Federal Jerman alias Jerman Barat.

Hanya militer dan diplomat saja yang boleh melewati jembatan ini tentunya dengan izin khusus.

penanda penyatuan pada bagian tengah Jembatan Glienicker

Saat Tembok Berlin runtuh pada tanggal 9 November 1989, jembatan ini pun akhirnya dibuka untuk umum dan kembali menyatukan Jerman pada tanggal 10 November 1989 pukul 18:00.

Nama Glienicker sendiri diambil dari nama istana (schloss) Glienicke yang berada di sisi timur jembatan di wilayah Berlin.

Kini jembatan ini merupakan jalan utama negara (Bundesstraße 1) yang bisa dilintasi mobil, sepeda, dan pejalan kaki.

Kapal-kapal wisata pun banyak yang melintasi bagian bawah jembatan, menyusuri Danau Glienicke (Glienickesee) dan Danau Jungfern (Jungfernsee).

Saat kami mengunjungi jembatan ini pada 16 Juli 2020 lalu, kami melihat banyak kapal pribadi yang tengah bersandar di sekitar jembatan, serta sebuah kapal tongkang besar melintas.

kapal melintas di bawah Jembatan Glienicker

Jembatan ini bisa dicapai dari Potsdam, dengan naik tram bernomor 93 dari Stasiun Potsdam, di Brandenburg, atau menggunakan bus kota bernomor 316 dari Stasiun Wansee di Berlin.

Kami berjalan menyusuri trotoar jembatan dari Potsdam menuju ke Berlin, dan tepat di tengah, terdapat sebuah penanda di mana di lokasi ini perbatasan yang dulu memisahkan Jerman.

Di tengah-tengah jembatan ini lah, tawanan mata-mata ditukarkan pada masa perang dingin, di mana seperti kisah yang diceritakan di film Bridge of Spies, mata-mata Uni Soviet, Rudolf Abel ditukar dengan pilot mata-mata Amerika Serikat, Gary Powers pada Februari 1962.

Sejak saat itu pertukaran agen dan mata-mata yang tertangkap oleh kedua belah pihak dilakukan di jembatan ini.

Tak heran julukan bridge of spies cocok disematkan pada jembatan yang terbuat dari baja dengan warna toska ini.

area Berlin dan Große Neugierde, bagian dari Istana Glienicke

Hanya penanda di tengah jembatan serta beberapa plakat dan papan informasi turis, yang menunjukkan bahwa jembatan ini bersejarah.

Lambang negara Republik Federal Jerman yang dulunya tergantung di atas jembatan pun kini tiada berbekas, termasuk bekas pos-pos penjagaan di ujung-ujung jembatan.

Di sisi timur, di area Berlin, terdapat patung centaur, makhluk dari mitologi Yunani yang berbentuk setengah manusia setengah kuda di bagian sisi kanan dan kiri, karya pematung Stephan Walter.

Sementara di sisi barat, di area Potsdam, terdapat gerbang cantik yang merupakan bagian dari vila Schöningen yang kini menjadi museum yang berisi sejarah Jembatan Glienicker.

Pemandangan di sekitar jembatan ini sangat cantik, tak heran, selain jadi tujuan wisata sejarah, tempat ini juga menjadi salah satu tujuan utama turis untuk menikmati pemandangan.

Bahkan jembatan ini menjadi salah satu paket dalam kunjungan bus wisata Hop-On-Hop-Off dari Potsdam, yang sayangnya karena pandemi, bus wisata ini tidak beroperasi.

Galeri Foto

Menikmati Musim Panas di Botanischer Garten, Berlin, Jerman: 2017

Sejak tahun lalu kami punya rencana untuk mengunjungi kebun raya botani yang mempunyai nama lengkap Botanischer Garten und Botanischer Museum, Berlin ini.

Namun karena tahun lalu di musim panas kami liburan ke Roma, Italia, di masa pandemi ini, kami memutuskan untuk menikmati liburan musim panas di sekitar Berlin saja.

Kami penasaran dengan tempat ini setelah suatu waktu pada musim dingin kami lewat area ini dengan bus kota saat bepergian ke suatu tempat.

Botanischer Garten

pintu masuk Botanischer Garten di Unter den Eichen

Hingga Senin, 13 Juli 2020 lalu, akhirnya kami mengunjungi taman yang kini menjadi bagian dari Free University of Berlin.

Membaca sejarahnya, taman seluas 43 hektar dan memiliki koleksi 22.000 spesies ini dibangun pada tahun 1897 hingga 1910.

Tujuan dibangunnya taman ini adalah untuk menyimpan koleksi tanaman dari negara-negara koloni Jerman, namun dalam perkembangannya, taman ini menyimpan koleksi dari hampir seluruh negara di dunia.

Ada dua pintu masuk ke taman ini, pertama di Unter den Eichen yang bisa dicapai dengan bus bernomor M48 dan dari Königin-Luise-Platz yang bisa dicapai dengan bus bernomor X83 atau 101.

Saat kami datang, sedang ada pekerjaan konstruksi sehingga pintu di Königin-Luise-Platz ditutup dan keluar masuk melalui pintu di Unter den Eichen.

papan pengumuman terkait pandemi

Untuk masuk kami harus membeli tiket melalui online karena selama pandemi, loket tiket tidak melayani penjualan langsung untuk menghindari antrean.

Kami segera membeli tiket dengan menggunakan ponsel sambil berdiri di depan pintu masuk taman melalui situs resmi yang kemudian dilayani oleh Ticketino.

Informasi ini kami dapat dari papan pengumuman yang dipasang di depan pintu masuk.

Segera kami membeli tiket seharga 6€ per orang untuk hari itu, memilih jam kunjungan yang saat itu menunjukkan pukul 14:00, lalu setelah pembayaran berhasil dan tiket dalam format PDF dikirim ke alamat e-mail, kami menunjukkan kode QR yang ada di dalam tiket untuk dipindai petugas.

peta di Botanischer Garten

Kami tidak mendapat brosur atau informasi apa pun dari petugas, namun ada peta area dan informasi terkait pekerjaan konstruksi yang sedang berlangsung di area taman.

Peta areanya cukup jelas dan lengkap, dan saya pun menambil foto peta tersebut sebagai panduan kami menjelajah taman yang luas ini.

Sayangnya kami baru tahu bahwa rumah kaca yang menjadi tujuan kami berkunjung, ditutup selama pandemi, saat kami sudah masuk ke dalam taman.

Selain rumah kaca, Museum Botani yang berada di area Königin-Luise-Platz juga ditutup.

Kami memang kurang jeli membaca informasi terkait Covid-19 di situsnya.

Karena terkait Covid-19 juga, setiap pengunjung dibatasi maksimal 4 jam berada di dalam taman.

Taman Bunga

bunga warna-warni di Botanischer Garten

Di Botanischer Garten, ada beberapa taman bunga atau area yang dikhususkan untuk bunga yang berwarna-warni.

Dari pintu masuk di Unter den Eichen, taman dengan bunga berwarna kuning, ungu, merah, putih, hijau langsung terlihat dengan latar sebuah gedung yang dirambati tanaman, yang merupakan bagian dari gedung sekolah botani (Botanikschule).

Saat mendekati taman, saya melihat puluhan lebah tengah berpesta pora meloncat dari kuntum bunga ke kuntum bunga yang lain.

Saking banyaknya, saya bahkan bisa mendengar suara buzzing dari kepak sayap mereka.

Saya yang tadinya hendak mendekat, langsung beringsut mundur menghindar agar tidak kena sengat.

Lebahnya beraneka bentuk, ada yang gendut besar berwarna hitam hingga yang kecil-kecil seukuran lalat berwarna kuning.

lebah tengah berpesta di bunga

Rambut-rambut halus lebah sampai terlihat karena saking besarnya, membuat saya bergidik ngeri.

Di antara lebah, tampak kupu-kupu juga terlihat tengah mengais-ngais madu dari bunga yang tidak dikerumuni pasukan lebah.

Ada juga area bernama taman sentuh dan aroma, di mana di taman ini ditanam bunga-bunga wangi yang bisa disentuh.

Area ini dibangun pada tahun 1984, yang difungsikan agar penyandang disabilitas bisa ikut menikmati keragaman tanaman di taman.

Karena sedang ada konstruksi jalan di depan area ini, kami tidak masuk dan mencium aroma atau menyentuh bunga-bunga di area ini.

rumah kaca terlihat di antara ilalang

Kami harus memutar melalui jalur-jalur setapak, di antara pepohonan besar area taman geografi untuk menuju ke arah rumah kaca.

Rumah kaca yang megah terlihat menjulang dengan latar langit berwarna biru yang dihiasi awan-awan putih.

Ilalang yang menyembul seolah-olah membawa saya ke gambar latar belakang layar komputer yang biasanya menampilkan pemandangan indah.

Tak jauh dari sana terdapat taman italia yang dibentuk simetris dengan latar gedung rumah kaca.

Sayangnya pemandangan agak sedikit terganggu dengan keberadaan traktor dan alat berat yang tengah mengerjakan konstruksi.

Rumah Kaca

salah satu ruang rumah kaca di Botanischer Garten

Harapan kami sirna saat membaca pengumuman bahwa rumah kaca ditutup hingga jangka waktu yang tak diketahui karena pandemi.

Salah satu dari rumah kaca terbesar yang menjulang setinggi 23 meter dan panjang 60 meter ini menjadi rumah bagi tanaman tropis dari Asia, Afrika, dan belahan bumi selatan seperti padang gurun Afrika, Australia, dan Selandia Baru.

Setidaknya ada 15 ruang yang masing-masing menampilkan koleksi tanaman dari berbagi musim dan iklim.

Kami dari luar hanya bisa mengintip ke dalam, terutama di bagian Afrika Selatan yang menampilkan berbagai macam kaktus.

Di depan rumah kaca terdapat kafe yang menyediakan minuman dingin dan es.

Sebuah tanah lapang dengan rumput yang terpapras digunakan oleh orang-orang untuk berjemur menghitamkan kulit.

Saat kami datang, seorang perempuan dengan bikini tengah asyik tiduran telentang bermandi matahari.

Kami justru malah melipir mencari yang teduh-teduh dan beralih menuju ke area taman geografi.

Taman Geografi

tanaman fuki (Petasites japonicus)

Taman Geografi merupakan rumah bagi tanaman dan pepohonan dari berbagai benua, terutama yang berada di belahan bumi utara.

Tanaman dari Eropa, Asia, dan Amerika memenuhi sepertiga dari total area taman.

Saya melihat tanamn fuki (Petasites japonicus), daun yang digunakan sebagai payung pada karakter Totoro karangan Hayao Miyazaki dari Studio Ghibli.

Selain dari Jepang, beberapa vegetasi dari Cina dan Korea, hingga Asia Tengah seperti Himalaya juga ada di area Asia ini.

Dari area Eropa sendiri, banyak ditumbuhi vegetasi dan tetumbuhan yang biasa saya lihat di sini, seperti oak, cemara, pinus, dan mapel.

Sementara dari area Amerika, meski tanamannya hampir mirip dengan yang tumbuh di Eropa, ada beberapa koleksi tanaman yang berasal dari Pegunungan Rocky dan area di sekitar Samudera Atlantis.

bunga-bunga di area perbukitan

Selain pepohonan besar, ada area yang penuh dengan bunga, yang tumbuh di semacam bukit berbatu yang meniru keadaan di alam sesungguhnya.

Di area ini, terdapat banyak bangku duduk yang beberapa di antaranya merupakan sumbangan dari orang-orang.

Saya melihat dari plakat yang tertempel sebuah bangku yang merupakan hadiah ulang tahun pernikahan kepada taman ini.

Ada juga bangku yang merupakan persembahan dari karyawan taman kepada seseorang yang pensiun.

Kami sempat duduk di salah satu bangku, menikmati suasana teduh dan nyanyian burung yang berkicau sambil membuka bekal makanan ringan yang kami bawa.

Arboretum

area tanaman obat di Arboretum

Kami sadar diri bahwa kami tidak mungkin menjelajah seluruh area di taman ini, apalagi ada jangka waktu maksimal 4 jam yang harus kami patuhi.

Sambil menyusuri jalan setapak untuk kembali ke pintu keluar, kami melihat beberapa tanaman semak dan tanaman obat yang disemai di area ini.

Saya jadi teringat dengan konsep tanaman obat keluarga (TOGA) yang ada di Indonesia.

Tanaman-tanaman yang bermanfaat sebagai obat dan jamu yang bisa ditanam di rumah-rumah, rupanya juga dikenal di Jerman.

Area tanaman obat yang ada di Botansicher Garten ini jauh berbeda dengan tanaman obat yang saya kenal di Indonesia.

pohon apel yang berbuah

Saya juga melihat beberapa pohon apel tengah berbuah, yang mengingatkan saya akan wisata memetik apel di Malang dan Kota Batu.

Soal apel, orang Eropa sepertinya suka sekali dengan apel, karena saya sering menemukan apel lebih banyak dijual.

Hampir tiap resto biasanya ada jus apel, baik yang diberi soda atau air jus apel.

Laboratorium botani, rumah-rumah kaca kecil, dan ruang persemaian bibit milik Free University of Berlin berada juga di area ini, namun tidak boleh dimasuki oleh pengunjung.

Di area ini juga terdapat kolam-kolam, lengkap dengan tanaman rawa seperti teratai dan lotus.

Beberapa ekor bebek terlihat berenang-renang atau tengah beristirahat di tepi danau.

danau di Botanischer Garten

Danau ini merupakan penanda bahwa perjalanan kami di Botanischer Garten akan berakhir, karena danau ini berada di dekat pintu masuk.

Sebuah restoran yang berada di dekat pintu masuk terlihat ramai dengan orang-orang yang tengah menikmati suasana dengan pamandangan ke tepi danau sambil menikmati makan sore.

Sebelum meninggalkan taman ini, kami sekali lagi kembali ke taman bunga, menikmati sekali lagi keindahan warna-warni bunga di musim panas ini.

Kini saya mengerti kenapa orang Eropa begitu tergila-gila dengan musim panas, karena selain cuaca yang hangat dan langit biru, warna-warni bunga yang mekar memang memberikan suasana yang sangat berbeda.

Saya sendiri merasa sedang tidak berada di Jerman, karena panas yang menyengat dan membuat kaos saya basah karena keringat.

Botanischer Garten memang layak dikunjungi di musim panas.

Kami sendiri masih penasaran dengan rumah kaca dan museum botani yang ada di taman ini dan kemungkinan akan kembali lagi ke sini.

Semoga pandemi segera berlalu dan situasi kembali normal seperti semula.

There are 357 articles in total and 35 articles in year 2017.

Februari 2017 1 article

Maret 2017 2 articles

April 2017 16 articles

  1. Konfigurasi dan Optimasi Nginx
  2. Akses Cepat SSH Dengan Config

Mei 2017 2 articles

  1. Menjajal Samsung Galaxy S8

Juni 2017 3 articles

  1. Memasang Nginx Amplify

Juli 2017 2 articles

Agustus 2017 1 article

September 2017 4 articles

  1. Membeli Voucher Google Play di Tokopedia
  2. Xiaomi Mi A1 Resmi Dijual di Indonesia
  3. 7 Tempat Wisata Ramah Anak di Malaysia

Oktober 2017 2 articles

November 2017 2 articles