Mengingat Kembali Perjalanan ke Hong Kong

Beberapa kali saya melihat iklan bertema Best of all, it’s in Hong Kong” dari Hong Kong Tourism Board muncul di layar saluran televisi berlangganan. Iklan tersebut menggambarkan anak kecil yang menyukai liburan bersama keluarga saat mengunjungi pamannya, Michael Wong, di Hong Kong.

Ingatan saya kemudian terlempar ke masa perjalanan pertama saya ke Hong Kong pada bulan Agustus 2012. Hong Kong menorehkan kesan mendalam dan membuat saya selalu ingin kembali.

Bandara Hong Kong

Lelah penerbangan selama 4 jam dari Jakarta sirna seketika saat kaki menginjak Bandara Hong Kong International Airport (HKIA).

Bandara Hong Kong dibangun di atas pulau reklamasi, bernama Pulau Chep Lap Kok, di ujung paling barat wilayah Hong Kong.

Bandara Hong Kong beroperasi pada tahun 1998 untuk menggantikan Bandara Kai Tak yang pernah mendapat predikat salah satu bandara berbahaya karena lokasinya berada di Kowloon Bay yang dikelilingi oleh bukit dan gedung-gedung pencakar langit.

Bandara Hong Kong berhasil memukau saya dengan arsitektur modern yang mayoritas berbalur kaca dan pilar-pilar baja. Menurut acara pengetahuan di televisi yang pernah saya tonton, bangunan ini dirancang tahan terhadap serangan badai topan yang rutin menerpa wilayah Hong Kong.

Keluar dari terminal kedatangan di Terminal 1 sisi B, saya melihat sebuah replika pesawat bernama Spirit of Sha Tin. Sha Tin adalah nama tempat di mana pesawat ini pertama kali terbang di bawah kendali pilot asal Belgia, Charles de Bron pada tanggal 11 Maret 1911.

Replika pesawat ini bertujuan untuk mengenang penerbangan pertama di Sha Tin yang menjadi titik tonggak dunia aviasi Hong Kong.

Dari bandara, saya menuju ke Pulau Hong Kong, melewati jembatan Kap Shui Mun yang menghubungkan Pulau Lantau dan Pulau Ma Wan, lalu disambung dengan jembatan Tsing Ma yang menghubungkan Pulau Ma Wan dengan Pulau Tsing Yi.

Dari Tsing Yi, saya menuju Kowloon melalui jalan raya Tsing Sha dan sampai di Pulau Hong Kong melalui terowongan bawah laut pertama Hong Kong, Cross Harbour Tunnel yang dibangun tahun 1979 dan beroperasi pada tahun 1981.

Bandara Hong Kong memiliki fasilitas yang lengkap. Papan petunjuk dalam dua bahasa, Bahasa Cina Tradisional dan Bahasa Inggris, membuat pelancong tidak akan tersesat. Selama di bandara, saya memanfaatkan wifi gratis dan cepat. Untuk umat muslim, tersedia sebuah ruangan ibadah lengkap dengan arah kiblat.

Suasana Hong Kong

Menara-menara apartemen menjulang berjejal di penjuru Hong Kong. Berada di antara kaki-kaki apartemen mengingatkan saya pada film-film Jackie Chan pada era 90-an.

Trem-trem bertingkat (double decker) yang dioperasikan oleh Hong Kong Tramways lalu lalang merayap sepanjang 3 KM di sisi utara Pulau Hong Kong, mulai dari Kennedy Town di timur hingga Shau Kei Wan di barat.

Trem yang pertama beroperasi sejak tahun 1904 tetap dipertahankan dan menjadi salah satu alat transportasi publik paling murah di Hong Kong.

Bus kota bertingkat dan taksi-taksi berwarna merah khas Hong Kong seakan saling bersaing menjejali jalanan kota. Meski begitu, tidak terlihat kemacetan yang membuat frustasi seperti di Jakarta. Setiap kendaraan berjajar rapi dan sangat menghargai pejalan kaki.

Saya naik trem dari Mount Parker Road menuju ke wilayah Causeway Bay, kawasan perbelanjaan dan pusat fesyen di Hong Kong. Saya turun dari trem dan kemudian tenggelam dalam lautan manusia yang lalu lalang.

Jika malam tiba, lampu-lampu iklan dan papan nama menyala begitu terang membuat kawasan ini laksana siang.

Ingin keluar dari hiruk pikuk Causeway Bay, saya berjalan kaki menyusuri Hennesy Road menuju ke Victoria Park.

Nama Victoria Park sering dikenal sebagai tempat berkumpulnya para TKI. Padahal, taman yang dulunya merupakan lokasi penampungan nelayan untuk berlindung dari serangan badai topan ini, merupakan fasilitas terbuka yang bisa dinikmati siapa saja.

Beberapa kali saya mendengar percakapan dalam bahasa Jawa menyeruak di antara keramaian. Rupanya beberapa TKI tengah asyik bercanda dengan rekannya. Uniknya, beberapa kali terdengar mereka berbicara bahasa Kanton namun dengan logat medhok.

Suasana Kowloon

Saya melanjutkan perjalanan dengan menyeberangi Victoria Harbour menggunakan kapal Star Ferry dari Central Pier, Hong Kong, menuju Tsim Sha Tsui, di Kowloon.

Terdapat sekitar delapan kapal feri diesel yang beroperasi melayani rute Central Pier-Tsim Sha Tsui dan Wan Chai-Tsim Sha Tsui.

Bentuk kapal-kapal feri ini mempertahankan ciri khasnya, lengkap dengan warna hijau-putihnya.

Saya naik kapal feri yang bernama Morning Star, salah satu nama kapal yang dioperasikan. Setiap kapal memiliki nama masing-masing, yang selalu diakhiri dengan kata “star“.

Saat akan berangkat atau merapat, beberapa kru dengan seragam ala kelasi berwarna biru akan membantu mengarahkan kapal dengan menggunakan semacam tongkat untuk mendorong kapal dan melepaskan tambang penambat saat meninggalkan dermaga.

Perjalanan dari Central Pier menuju Tsim Sha Tsui memakan waktu sekitar 15-20 menit. Saya menikmati suasana di dalam kapal dengan duduk di bagian haluan.

Saya duduk di bangku kayu panjang. Bentuk bangkunya yang klasik mengingatkan saya akan bangku ruang tunggu dokter praktik saat saya masih kecil.

Avenue of Stars

Dari dermaga Tsim Sha Tsui, saya mampir ke Avenue of Stars yang lokasinya sekitar 400 meter dari dermaga Central Pier.

Avenue of Stars merupakan sebuah jalan di tepi laut yang menampilkan papan nama berisi cap telapak tangan para bintang-bintang Hong Kong.

Lokasi ini diresmikan pada April 2004 sebagai penghargaan terhadap dunia perfilman Hong Kong.

Dari 107 nama bintang Hong Kong yang ditampilkan di Avenue of Stars, saya hanya mengenali beberapa, antara lain Bruce Lee, Jackie Chan, Sammo Hung, Chow Yun Fat, Jet Li, Andy Lau, sutradara John Woo, dan aktris Cecilia Cheung.

Beberapa patung dan seni instalasi juga dipasang di sepanjang rute. Dengan latar belakang gedung menjulang di Pulau Hong Kong dan kapal feri lalu lalang, lokasi ini cocok untuk berfoto.

Warga lokal terlihat memanfaatkan lokasi ini untuk berolah raga. Beberapa orang terlihat jogging atau sekadar berjalan-jalan menikmati semilir angin laut di jalan sepanjang 400 meter ini.

Sky100 Hong Kong Observation Deck

Dari Tsim Sha Tsui, saya menuju ke Sky100 Hong Kong Observation Deck, di mana saya bisa melihat Hong Kong dari titik tertinggi dengan sudut pandang 360 derajat. Sky100 Hong Kong Observation Deck merupakan bagian dari gedung ICC (International Commerce Centre).

ICC adalah gedung tertinggi di Hong Kong, menggeser posisi gedung IFC (International Finance Centre) yang berada di seberang, di Pulau Hong Kong, terpisah oleh Victoria Harbour.

Hong Kong adalah kota dengan jumlah gedung pencakar langit terbanyak di dunia, lebih banyak dari gedung-gedung di New York atau pun di Dubai.

Hong Kong juga mencatatkan beberapa gedung tertingginya ke dalam daftar 100 gedung tertinggi di dunia, dengan ICC dinobatkan (pada saat tulisan ini dibuat) menjadi gedung tertinggi nomor 8 di dunia.

Gedung setinggi 484 meter dengan 118 lantai ini selesai dibangun pada tahun 2010, merupakan bagian dari kompleks komersial dan tempat tinggal. Sesuai namanya, Sky100 Hong Kong Observation Deck berada di lantai 100 gedung ICC.

Sebelum naik ke lantai 100, saya memasuki ruangan yang berisi ruang pamer dan lorong waktu yang berisi video sejarah Hong Kong.

Untuk menuju ke lantai 100, saya masuk ke dalam lift berkecapatan tinggi, di mana dari lantai 2, lokasi pintu masuk Sky100 Hong Kong Observation Deck, hingga ke lantai 100 dibutuhkan waktu tepat 60 detik.

Beberapa kali saya harus menelan ludah untuk melakukan ekualisasi ketika telinga merasa kurang nyaman. Meluncur menuju ke ketinggian mencapai 400 meter dalam waktu satu menit memang membuat telinga merasa kurang nyaman karena perubahan tekanan udara.

Ruangan observasi Sky 100 Hong Kong Observation Deck dikelilingi oleh kaca. Kita bebas melihat ke segala arah, ke setiap sudut Hong Kong. Terdapat beberapa teropong elektronik yang memberikan informasi gedung-gedung yang terlihat.

Di beberapa titik yang strategis, terdapat tempat khusus untuk pengunjung berpose dan mengambil gambar sehingga terlihat jelas latar belakang Hong Kong dari atas.

Tujuan Selanjutnya

Bila menjelajah situs discoverhongkong.com, ada banyak tempat di Hong Kong yang belum sempat saya kunjungi, dan berharap di kesempatan berikutnya saya bisa mengunjunginya.

Dari beberapa lokasi di Hong Kong, saya ingin merasakan naik Peak Tram ke Victoria Peak, salah satu puncak tertinggi di Hong Kong untuk melihat lansekap Hong Kong yang cantik.

Merasakan sensasi menanjak menggunakan trem peninggalan era kolonial Inggris dengan sudut 4-27° tentu akan menjadi pengalaman tak terlupakan.

Saya juga ingin menonton pertunjukan Opera Cina yang mengangkat legenda dengan musik dan nyanyian falsetto yang khas dan diiringi dengan gong. Belum lagi kostum dan riasan wajah warna-warninya tentu membuat pertunjukkan semakin menarik.

Tentu saja, jika perjalanan saya ke Hong Kong 5 tahun lalu saya masih sendiri, kali ini saya ingin mengajak istri saya menikmati suasana Hong Kong selayaknya orang lokal, seperti iklan yang saya tonton.

Kompetisi Blog #WegoDiscoverHK

Wego dan Hong Kong Tourism Board mengadakan kompetisi blog dengan tema “Let’s Discover Hong Kong“. Kompetisi blog ini terbuka untuk umum baik yang sudah pernah atau belum pernah ke Hong Kong, asal memiliki blog.

Hadiahnya cukup menggiurkan, yaitu tiket pesawat PP Jakarta-Hong Kong untuk 2 orang dan voucher menginap di hotel untuk 4 hari 3 malam.

Jika belum beruntung memenangkan hadiah ke Hong Kong pun, tersedia hadiah voucher MAP senilai 2 juta dan 1 juta rupiah.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan baca informasi Kompetisi Blog: Let’s Discover Hong Kong.

Tulisan ini juga diikutsertakan dalam kompetisi blog #WegoDiscoverHK. Seluruh foto diambil dari koleksi instagram pribadi saya.

Semoga saya bisa mewujudkan keinginan saya untuk kembali ke Hong Kong!

Muhammad Zamroni

pengembang web • penyelam scuba • pejalan pemula • peminat perangkat

Jakarta, Indonesia

0 Comments

Statistik

Telah dibaca 0 kali. Waktu baca rata-rata 12 minutes. Ada 0 komentar. Dibagikan 0 kali ke media sosial.