Naik Kereta Argo Lawu, Kereta Baru

Artikel ini ditayangkan pada 8 April 2017, sekitar 8 bulan yang lalu. Informasi pada tulisan ini mungkin sudah tidak sesuai.

Saya suka naik kereta. Apalagi dalam beberapa tahun terakhir, PT KAI melakukan banyak perbaikan layanan, layak mendapat pujian.

Pada 5 April 2017 lalu, karena urusan pekerjaan, saya pergi ke Yogyakarta dari Jakarta naik kereta eksekutif Argo Lawu. Menurut saya, kereta Argo Lawu merupakan kereta kelas eksekutif yang paling bagus bila dibanding dengan kereta kelas argo dan eksekutif lainnya.

Layanan PT KAI

keluhan layanan terhadap PT KAI ditanggapi keluhan layanan terhadap PT KAI ditanggapi

Rupanya cukup banyak perubahan yang saya rasakan sejak terakhir saya naik Argo Lawu. Terakhir naik Argo Lawu adalah saat arus balik dari Solo pada Lebaran tahun 2016 lalu.

Pengalaman saya saat naik Argo Lawu pada tahun lalu, cukup berkesan dengan pelayanan pelanggannya.

Saat itu saya dan istri mengeluh terhadap layanan restorasi kereta. Kami memesan makanan yang karena kesalahan koordinasi petugas restorasi, akhirnya kami dikecewakan.

Saya menyampaikan keluhan melalui Twitter dengan menyebut akun @KAI121. Tak disangka, keluhan saya direspon hingga akhirnya permasalahan selesai. Padahal saya cukup pesimistis waktu itu bahwa keluhan saya akan ditanggapi.

Menurut kondektur yang bertugas, keluhan saya langsung diteruskan oleh pemegang akun Twitter ke kondektur. Kondektur kemudian menegur petugas restorasi dan datang ke kursi kami untuk meminta maaf secara langsung.

Kondektur juga menyampaikan bahwa keluhan bisa langsung disampaikan melalui nomor telepon yang tertera di setiap kereta agar lebih cepat ditangani.

Rasa kesal saya langsung hilang saat kata maaf dari kondektur terucap. Kekesalan konsumen bisa reda jika suatu produk atau layanan mengucap maaf dan menyelesaikan masalah tersebut.

Naik Kereta Baru

kereta baru Argo Lawu kereta baru Argo Lawu

Pengalaman saya kali ini tentang kereta baru yang digunakan rangkaian kereta Argo Lawu. Saya naik kereta nomor 3.

Dari nomor yang tertera pada lambung kereta, kereta yang saya naiki diproduksi pada tahun 2016.

Badan kereta berwarna krem dengan corak garis biru, oranye, dan putih, warna korporasi PT KAI.

Di bagian tengah terdapat papan nama kereta berupa layar LCD serta papan nama logam yang menyertakan tujuannya.

Di bagian dalam, kursi-kursinya berwarna krem yang berpadu dengan sandaran tangan berlapis corak kayu. Tudung kain berisi iklan menutupi bagian kepala kursi.

Sejak masuk, saya merasa bahwa kursinya terlihat lebih kecil dari yang dahulu. Benar saja, ukuran tempat duduknya terasa tidak selebar sebelumnya.

Namun kompensasi dari menyempitnya tempat duduk, jalan sepanjang koridor terasa lebih lebar dan nyaman untuk wara-wiri.

Jarak kursi juga terasa lebih lapang. Karena sandaran kaki menggunakan sistem per, maka secara default sandaran kaki naik tertutup ke atas. Di sisi lain, cara model ini terasa kurang nyaman, karena saat digunakan, sandaran kaki tidak bisa menahan berat kaki.

Di setiap kursi tersedia bantal kecil berwarna biru dan selimut berwarna tosca yang dibungkus plastik. Karena ini kereta malam, penumpang yang kedinginan bisa menggunakan selimut yang disediakan, meski penyejuk ruangan saat itu menurut saya sudah pas.

Meja kecil untuk makan bisa diambil dengan membuka ruang pada bagian sandaran tangan. Cukup ringkas dan praktis. Di keranjang pada kursi depan, tersedia majalah kereta api dan kresek plastik untuk sampah. Secara berkala petugas kebersihan akan datang mengumpulkan sampah.

Bagasi di bagian atas tempat duduk juga teras lebih lebar dan lega. Di setiap kursi juga tersedia colokan listrik masing-masing 2 buah.

Sekilas saya merasa ruangan di dalam kereta seperti ruangan pada pesawat terbang.

bagian dalam kereta baru Argo Lawu bagian dalam kereta baru Argo Lawu

Di bagian tengah terdapat layar televisi sebagai sarana hiburan dan juga iklan. Sayangnya, acara di televisi tersebut tidak menarik buat saya.

Lagu-lagu dari video klip yang diputar, juga kurang menarik. Mungkin karena lagunya kurang hits atau penyanyinya kurang saya kenal.

Di bagian ujung, di dekat pintu, terdapat papan LED yang menampilkan nama stasiun yang dilewati secara real-time beserta informasi ketinggian stasiun dan perkiraan waktu tiba di stasiun.

Rupanya kereta dilengkapi GPS untuk melacak posisi dan memetakan lokasi kereta untuk tujuan monitoring.

Tirai jendela juga lebih modern. Dengan menggunakan sistem gulung, di mana untuk menutup, tinggal menarik tirai dari atas ke bawah. Tirai otomatis akan mengunci pada lokasi tirai yang diinginkan. Untuk membuka, cukup menghentakkan tirai untuk membuka kunci, dan tirai secara otomatis menggulung ke atas.

Setelah kereta berangkat tepat pukul 20:15 WIB sesuai jadwal, tak berapa lama kondektur lewat. Yang membuat saya heran, kondektur tidak memeriksa karcis. Dengan sebuah ponsel, kondektur memeriksa penumpang dari ponselnya.

Dugaan saya, terdapat sebuah aplikasi khusus yang menampilkan data manifest penumpang saat check-in. Canggih juga.

Saat penumpang di sebelah saya turun di Cirebon, dan tidak ada penumpang yang duduk di samping saya, pak kondektur datang ke kursi saya dan bertanya, “Bapak Handoko?”. Dengan terkaget saya jawab bukan.

ruang antar kursi, dengan penahan kaki terlipat ruang antar kursi, dengan penahan kaki terlipat

Sepertinya ada penumpang yang bernama Handoko yang harusnya naik dari Stasiun Cirebon, namun tidak naik kereta.

Petugas yang mengambil selimut, juga sepertinya memegang manifest yang sama dengan kondektur. Begitu kereta akan memasuki Stasiun Cirebon, penumpang di sebelah saya, selimutnya sudah diminta oleh petugas.

Petugas restorasi pun datang dengan membawa kereta dorong menawarkan makanan. Karena lorong di kereta lebar, memungkinkan petugas restorasi membawa kereta dorong.

Biasanya, petugas membawa makanan dengan menggunakan baki karena harus melalui lorong kereta yang sempit.

Tidak seperti biasanya, seragam petugas restorasi hanya kemeja lengan panjang berwarna putih, celana panjang hitam, dengan dasi berwarna biru.

Mungkin karena kereta malam, dan sudah lewat jam makan malam, saya tidak melihat pramugari menanyakan satu persatu penumpang dengan menyodorkan daftar menu.

Jika dulu lampu terasa redup, sekarang lampu menyala dengan terang. Begitu sudah masuk jam tidur, sekitar pukul 22:00, lampu diredupkan. Jika ingin membaca namun cahaya kurang terang, bisa menekan tombol lampu baca yang berada di bagian atas.

Karena kursi sebelah kosong, saya menaikkan sandaran tangan di bagian tengah, dan dengan jurus menekuk tubuh, saya tidur dengan menggunakan dua kursi.

Sekitar pukul 03:48 WIB, kereta Argo Lawu berhenti di Stasiun Yogyakarta setelah menempuh perjalanan selama tujuh setengah jam.

Sesaat sebelum masuk ke Stasiun Yogyakarta, kondektur berkeliling membangunkan para penumpang yang akan turun di Stasiun Yogyakarta, lagi-lagi berdasar pada data manifest yang ada di aplikasinya.

Muhammad Zamroni

pengembang web • penyelam scuba • pejalan pemula • peminat perangkat

Jakarta, Indonesia

1 komentar

Artikel ini ditayangkan pada 8 April 2017, sekitar 8 bulan yang lalu. Informasi pada tulisan ini mungkin sudah tidak sesuai.

uthie

8 April 2017 18:37

aku lebih suka naik argo lawu ketimbang taksaka kalo pulang, apalagi kalo keretanya baru kek gini. bhaayyy taksaka tukang ngaret. :))

Statistik

Telah dibaca 1.950 kali. Waktu baca rata-rata 8 menit. Ada 1 komentar.