Menerapkan Gravitasi Dalam Kehidupan Sehari-Hari

Entah apa yang dipikirkan oleh Sir Isaac Newton saat ia sedang duduk-duduk di bawah pohon apel. Tiba-tiba saja sebuah apel jatuh menimpa kepalanya.

foto lukisan Sir Isaac Newton oleh Sir Gottfried Kneller
foto lukisan Sir Isaac Newton oleh Sir Gottfried Kneller

Apel yang jatuh menimpa kepalanya seakan-akan menekan tombol “aha!” di kepalanya. Saat itulah, teori gravitasi tercipta.

Dari sudut pandang orang biasa, apel jatuh memang sudah menjadi kodratnya. Namun di mata Sir Isaac Newton, jatuhnya apel menimbulkan pertanyaan, kenapa apel itu jatuh, kenapa selalu ke bawah, hingga apa yang membuatnya jatuh.

Sir Isaac Newton bisa melihat hal-hal sederhana, menelaah, dan akhirnya menemukan jawaban yang bisa menjadi manfaat bagi seluruh umat manusia.

Teori gravitasinya menjadi dasar dari teori terciptanya alam semesta.

Hukum Gravitasi dalam Kehidupan Sehari-Hari

Tentu kita tak harus secerdas Sir Isaac Newton. Namun, apa yang dialaminya bisa menjadi pelajaran untuk kita, bahwa dari hal sederhana, bisa menjadi sesuatu yang luar biasa.

Saya kemudian teringat pelajaran Fisika saat duduk di bangku SMA. Hukum gravitasi Newton menyatakan sebagai berikut.

Setiap massa benda menarik massa benda yang lain dengan gaya segaris yang menghubungkan keduanya. Besarnya gaya tarik yang terjadi berbanding lurus dengan perkalian kedua massa benda dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak antara kedua titik massa tersebut.

Secara awam, gravitasi akan makin besar jika massa benda tersebut besar dan jarak antar kedua benda berdekatan.

ilustrasi Sir Isaac Newton tertimpa buah apel
ilustrasi Sir Isaac Newton tertimpa buah apel

Tentu bukan “besar” secara fisik, namun dengan pengaruh, ide, pengetahuan, hingga kebiasaan yang “besar” akan memberikan “gaya gravitasi” yang besar, sehingga lingkungan dan orang-orang sekitar bisa terpengaruh dan tertarik kepada kita.

Pengaruh “gaya gravitasi” akan makin kuat dan bagus jika kita menerapkannya pada orang-orang terdekat kita, lingkungan terdekat di sekitar kita.

Ini selaras dengan bunyi hukum gravitasi yang kedua, yaitu tentang jarak. Jika makin dekat, maka gaya gravitasinya makin kuat.

Gravitasi memang tidak dapat dilihat, namun bisa dirasakan. Bukan gravitasi atau pengaruh yang kita lakukan yang terlihat, namun perubahan atau hasil dari apa yang kita lakukan lah yang akan tampak.

Saya pribadi sedikit demi sedikit menerapkan teori gravitasi ini untuk membuat lingkungan dan orang-orang di sekitar saya menjadi lebih baik dan menyenangkan.

nongkrong
nongkrong

Saya berusaha memberi contoh membuang sampah sendiri karena saya kesal dengan kelakuan orang-orang yang seenaknya meninggalkan sampah berharap ada petugas yang membersihkan.

Sedikit demi sedikit, teman dan orang-orang yang makan atau nongkrong bersama saya mengikuti kebiasaan saya, membuang sendiri sampah ke tempatnya setelah selesai dan hendak meninggalkan tempat.

Begitu juga dengan kebiasaan saya terhadap fotografi dan videografi. Di tengah maraknya kamera canggih, saya berusaha tetap menggunakan kamera ponsel untuk menuangkan ide dan menjadikannya sebuah karya.

Saya membagikan hasil foto saya ke akun Instagram, di mana seluruh foto yang ada di sana dihasilkan oleh kamera ponsel. Buat saya, memotret menggunakan kamera ponsel memiliki tantangan tersendiri.

Begitu juga dengan membuat video. Saya selalu mengambil video melalui ponsel, mengolahnya menggunakan aplikasi yang terpasang ponsel, lalu mengunggahnya ke vlog saya di Youtube langsung dari ponsel.

Beberapa teman yang mengetahui kebiasaan saya memotret dan mengambil video melalui ponsel, mulai meniru apa yang saya lakukan. Selain senang karena ada yang mengikuti, saya merasa memiliki teman berdiskusi karena melakukan hal yang sama.

Menjadi Pusat Gravitasi Dengan Luna Smartphone

Luna smartphone
Luna smartphone

Apalagi hobi dan kebiasaan saya memotret dan mengambil video menggunakan ponsel, kamera menjadi komponen utama.

Luna smartphone menarik perhatian saya. Seperti slogannya, “be the gravity“, perhatian saya tertarik oleh gravitasi Luna smartphone.

Kamera utama berlensa Sony dengan resolusi 13 MP memberi jaminan hasil foto yang jernih. Bukaan diafragma (aperture) f2.0 membuat kamera Luna smartphone mampu menghasilkan gambar lebih terang bahkan pada kondisi minim cahaya.

Lampu kilat ganda (dual tone flash) berwarna kuning dan putih mampu menyeimbangkan warna sehingga foto yang dihasilkan terlihat natural.

Kamera depan beresolusi 8 MP dan bersudut lebar 80° tentu menjadi andalan saya untuk melakukan swafoto. Sudut lebar membuat berswafoto bersama teman-teman akan lebih menyenangkan karena mampu menampung lebih banyak orang dalam gambar.

Dengan memegang Luna smartphone, saya bisa menjadi pusat gravitasi dari teman-teman yang ingin ikut nampang saat ber-wefie ria.

quad-core
quad-core

Media simpan sebesar 64 GB yang tersedia membuat puas berfoto dan mengambil video tanpa perlu khawatir kehabisan ruang.

Jika masih merasa kurang dengan kapasitas penyimpan, Luna smartphone bisa ditambahkan kartu micro SD hingga 128 GB.

Luna smartphone mendukung kartu SIM ganda berformat micro dan nano. Untuk konektivitas, Luna smartphone mendukung jaringan 4G/LTE kategori 4 yang memiliki kecepatan unduh hingga 150 Mbps. Sebagai vlogger, kecepatan tinggi menjadi salah satu kebutuhan yang harus terpenuhi.

Baterai berkapasitas 3.000 mAh membuat Luna smartphone mampu siaga hingga 500 jam. Teknologi Quick Charge 2.0 mempercepat pengisian baterai hingga 40% dalam waktu 30 menit. Tak perlu lagi menunggu berjam-jam untuk menunggu ponsel terisi penuh.

Badan Luna smartphone terbuat dari logam, membuat ponsel ini kokoh dan berkesan mewah. Layar IPS berukuran 5,5 inchi berlapis Gorilla Glass 3, membuat layar Luna smartphone tak mudah tergores.

Fitur teknologi NFC dan wireless display yang memudahkan ponsel berkomunikasi makin memantapkan Luna smartphone menjadi pusat gravitasi.

Kompetisi Blog #BeTheGravity #SmartphoneLUNA

Total hadiah yang diperebutkan pada kompetisi blog ini adalah Rp 25.000.000.

Cukup dengan menulis blog tentang bagaimana menjadi pusat gravitasi di lingkungan sekitar, baik itu lingkungan kerja, sekolah, keluarga, dan lainnya.

Ceritakan juga bagaimana Luna smartphone mampu menjadi pusat gravitasi di lingkungan sekitar.

Untuk syarat, ketentuan, dan cara mengikuti kompetisi blog lebih lanjut, kunjungi informasi kompetisi blog bertema #BeTheGravity berikut.

Tulisan ini juga diikutsertakan dalam kompetisi blog #BeTheGravity. Gambar Luna smartphone diambil dan diolah dari situs Luna Indonesia. Foto lukisan dan ilustrasi Sir Isaac Newton diambil dari Wikipedia.

Artikel ini dipublikasikan pada 14 April 2017, sekitar 10 bulan yang lalu. Informasi yang dimuat di artikel ini mungkin sudah tidak akurat..

Ada 10 komentar
Banu 14 April 2017 22:54 UTC

Kereeeeennn… Mau mz, mauuu

Muhammad Zamroni 14 April 2017 23:29 UTC

ayo kak Banu, ikut juga, kak Banu!

Samuel 16 April 2017 09:42 UTC

mas, HP luna ini harganya berapa?

Muhammad Zamroni 16 April 2017 09:50 UTC

kalo menurut toko online, harganya sekitar 4 juta rupiah, mas..

Subekti 16 April 2017 17:12 UTC

Tulisan yag bagus. Semoga menang ya!

April Tupai 17 April 2017 12:45 UTC

emang kece yak hape LUNA ini, komen di blog saya juga yuk, ikutan #BeTheGravity juga hihihi

prili 20 April 2017 12:11 UTC

pas sekolah gk ngerti gravitasi.. wkwkwkwkwk

gfhcfgc 22 April 2017 19:40 UTC

wah ternyata smartphone luna itu keren kayak iphone hehe

Ranger Kimi 23 April 2017 06:53 UTC

Gravitasi ini juga bisa diterapkan untuk mencari jodoh juga gak, Kak? Eaaa~

taehyung waifu 14 Januari 2018 19:17 UTC

wah saya tertipu,lagi nyari bahan buat presentasi,udah enjoy bacanya.ujung ujungnya promosi hahahaha