Piknik ke Pantai Baru, Bantul, Yogyakarta

Artikel ini ditayangkan pada 13 April 2017, sekitar 3 bulan yang lalu. Informasi pada tulisan ini mungkin sudah tidak sesuai.

Panas begitu terik menyengat. Padahal jarum jam belum genap menunjuk angka delapan pagi itu.

patung pintu masuk Pantai Baru, Yogyakarta patung pintu masuk Pantai Baru, Yogyakarta

Membonceng Bonang, rekan sekantor saya, kami menunggang motor Kawasaki Bajaj Pulsar. Mesin meraung saat Bonang menggeber motor menuju ke arah selatan kota Yogyakarta.

Kami menuju ke Pantai Baru, pantai yang sedang naik daun di Yogyakarta.

Pantai yang berada di Desa Poncosari, Kecamatan Srandakan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta ini, secara resmi dibuka pada akhir 2010 dan langsung diserbu wisatawan.

Saya tertarik mengunjunginya setelah beberapa kawan mendatangi dan memamerkan fotonya di media sosial. Pada 9 April 2017, beserta rekan sekantor, keinginan saya menjejakkan kaki di Pantai Baru, akhirnya terpenuhi.

Pantai Baru berada satu garis dengan Pantai Pandansari yang terkenal dengan mercusuarnya, Pantai Goa Cemara, Pantai Kuwaru, dan Pantai Pandansimo.

Nama Pantai Baru diambil dari kata “baru” yang memang menunjukkan usianya, bila dibandingkan dengan pantai lainnya yang sudah ada. Nama “baru” juga demi kemudahan pengucapan dan pengenalan.

Pantai ini terletak kurang lebih 30 Km dari pusat kota Yogyakarta, yang bisa ditempuh dalam waktu satu jam berkendara.

mengendarai ATV di Pantai Baru, Yogyakarta mengendarai ATV di Pantai Baru, Yogyakarta

Motor Kawasaki Bajaj Pulsar meniti Jalan Bantul yang kemudian disambung dengan Jalan Samas.

Kendaraan relatif sedikit yang berlalu lalang. Tak jarang, kami mendahului traktor petani yang tertatih menyusuri jalan.

Bonang mengurangi kecepatan sesaat sebelum mendekati pintu gerbang kawasan pantai. Petugas dengan seragam bertuliskan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bantul memungut biaya masuk sebesar Rp 4.000 per orang.

Dari pintu gerbang kami menyusuri jalan beraspal yang mulus. Terlihat sekali jalan belum lama selesai dibangun.

Dari pintu gerbang, kami melewati Pantai Pandansari yang terlihat ujung menara mercusuarnya, menyembul di antara rimbunnya daun bakau dan cemara laut.

Berurutan, kami melewati papan nama bertuliskan Pantai Goa Cemara, Pantai Kuwaru, dan akhirnya Pantai Baru.

Selama perjalanan, saya melihat tambak ikan dan jemuran eceng gondok yang akan digunakan untuk kerajinan. Kincir-kincir angin pembangkit listrik terlihat sesaat sebelum masuk ke kawasan Pantai Baru.

Pantai Baru, Yogyakarta Pantai Baru, Yogyakarta

Patung hiu paus (whale shark) dan harimau menyambut kami saat akan masuk ke area Pantai Baru. Untuk parkir, kami diminta ongkos sepeda motor sebesar Rp 2.000.

Sebuah panggung berada persis di depan pintu masuk. Seorang penyanyi sedang tampil membawakan lagu-lagu campur sari dengan iringan musik dari keyboard dan kendang.

Tikar-tikar berserakan di sepanjang bibir pantai, di bawah rerimbunan pohon cemara udang. Tikar-tikar ini dimiliki oleh warung-warung yang berdiri di sepanjang pantai. Kode pemilik ditandai dengan warna dari meja yang terletak di atas tikar tersebut.

Jika ingin menyewa ATV (all-terrain vehicle), sebuah kendaraan beroda empat khusus untuk menerjang medan sulit, cukup merogoh kocek Rp 30.000 untuk 15 menit. Tempat penyewaan ATV banyak tersebar di penjuru Pantai Baru.

Menyusuri pasir pantai dengan ATV sepanjang rute yang disediakan, tentu memberi pengalaman avontur tersendiri.

Pengunjung dilarang berenang atau mandi di pantai, karena ombak di pantai berpasir hitam ini cenderung besar. Pantai ini langsung menghadap ke Samudera Hindia, sehingga wajar saja jika ombak di sini begitu besar.

bermain layang-layang di Pantai Baru, Yogyakarta bermain layang-layang di Pantai Baru, Yogyakarta

Pantai Baru memfokuskan diri untuk menjadi lokasi bersantai bersama keluarga. Duduk-duduk di atas tikar, menikmati sepoi angin dan teduhnya pohon cemara udang, sambil menikmati hidangan laut hasil tangkapan nelayan atau budidaya tambak, ditemani sebutir es kelapa.

Pohon cemara udang di Pantai Baru memang sengaja ditanam pada tahun 1999, untuk mencegah abrasi. Bibit tanaman pohon ini merupakan bantuan dari Perhutani.

Harga makanan di Pantai Baru masih dalam batas wajar, cenderung murah jika dibandingkan dengan kawasan wisata lain yang sudah terkenal. Ikan cakalang, cumi, kerang, dan hasil laut lainnya masih segar, karena merupakan hasil tangkapan nelayan lokal atau hasil budidaya tambak.

Bersepuluh, kami memesan nasi, ikan cakalang, cumi, kerang, tumis kangkung, dan es kelapa, biayanya tak sampai Rp 300.000. Per orang rata-rata menghabiskan Rp 30.000 bisa kenyang dan tersenyum bahagia.

Para penjual balon sabun, pong-pongan alias umang, mainan anak-anak, dan layang-layang berbentuk burung juga bertebaran di sepanjang pantai.

Jika tak takut kulit menghitam karena terik matahari, menerbangkan layang-layang berbentuk burung bisa menjadi aktivitas yang menyenangkan.

Berikut ini sebuah video pendek saat saya piknik di Pantai Baru, Yogyakarta.

Muhammad Zamroni

pengembang web • penyelam scuba • pejalan pemula • peminat perangkat

Jakarta, Indonesia

1 komentar

Artikel ini ditayangkan pada 13 April 2017, sekitar 3 bulan yang lalu. Informasi pada tulisan ini mungkin sudah tidak sesuai.

wahyu asyari muntoha

14 April 2017 11:21

4000 cukup murah, mantap juga viewnya..

Statistik

Telah dibaca 267 kali. Waktu baca rata-rata 5 menit. Ada 1 komentar.