Selamat Datang, MacBook Pro!

Artikel ini ditayangkan pada 26 Januari 2013, sekitar 5 tahun yang lalu. Informasi pada tulisan ini mungkin sudah tidak sesuai.

Saat itu saya tengah bekerja dengan laptop Lenovo IdeaPad G460 yang telah menemani saya selama kurang lebih 4 tahun. Tiba-tiba dia mati sendiri karena kepanasan. Sembari mengumpat saya pun mencoba melakukan booting.

MacBook Pro MacBook Pro

Nyut.. Nyut.. Nyut.. Layar di laptop tak kunjung muncul, hanya tulisan Ubuntu saja dengan garis proses yang bergerak-gerak dari kiri ke kanan tanpa henti.

Saya tekan tombol power, kemudian proses booting terulang dan mentok di kemunculan logo Ubuntu tadi.

Saya coba melakukan perbaikan sistem menggunakan recovery disk Ubuntu, namun pas di tengah proses, tiba-tiba laptop saya mati lagi. Saya coba booting kembali tapi tampaknya sistemnya telah rusak.

Frustasi, saya pun menyerah. Padahal saat itu pekerjaan masih banyak yang harus diselesaikan.

Saya merupakan orang yang jarang berganti barang. Jika barang belum rusak dan masih bisa digunakan, saya tidak akan ganti atau membeli baru. Namun mengingat laptop ini sudah cukup lama mengabdi, saya akhirnya memutuskan untuk memensiunkannya.

Sudah sejak lama saya ingin memiliki MacBook. Sudah banyak teman yang meracuni saya untuk memiliki produk Apple ini. Namun, lagi-lagi karena laptop saya masih bisa dipakai, saya belum merasa butuh untuk beli Macbook.

Kejadian ini akhirnya “memaksa” saya untuk beranjak ke iBox di Gandaria City sore itu tanggal 11 Januari 2013. Apalagi mumpung dananya sudah ada, hasil menabung saya selama satu tahun penuh, jadi rasanya ini sudah saatnya.

Awalnya saya ingin membeli MacBook Air 13-inch karena ingin memiliki laptop yang ringan dengan layar yang cukup nyaman untuk pekerjaan saya. Namun ternyata harganya lebih mahal beberapa ratus ribu dari MacBook Pro.

Dengan pertimbangan spesifikasi MacBook Air “lebih rendah” dari MacBook Pro, saya akhirnya memutuskan membeli MacBook Pro 13-inch (non retina display) saja. Pertimbangan saya yang lain, dengan MacBook Pro saya bisa melakukan upgrade jika dibutuhkan.

Saya mendapatkan MacBook Pro seri pertengahan 2012 yang telah tertanam sistem operasi OS X 10.8 Mountain Lion yang dilengkapi dengan aplikasi iPhoto, iMovie, dan GarageBand (iLife bundled). Namun setelah digunakan, OS X harus segera diperbarui ke versi 10.8.2 karena ada beberapa bug di colokan firewire dan thunderbold serta pembaruan aplikasi iPhoto dan iTunes.

Pengalaman Menggunakan MacBook Pro

menggunakan MacBook Pro menggunakan MacBook Pro

Produk Apple memang terkenal akan kualitasnya. Namun sebagai pengguna awam yang terbiasa dengan sistem operasi Ubuntu, saya sempat mengalami kegagapan dan merasa ada beberapa kekurangan.

Sebagai pekerja yang sering berhubungan dengan server dan aplikasi pengembangan web, dukungan aplikasi yang saya butuhkan rasanya kurang banyak di OS X bila dibandingkan dengan dukungan di Ubuntu.

Namun setelah melakukan googling, proses instalasi aplikasi yang saya butuhkan dipermudah oleh adanya MacPorts, meski rupanya konfigurasi di OS X tidak semudah yang saya bayangkan.

Saya masih harus banyak googling, membaca beberapa referensi, dan melakukan trial and error agar saya bisa nyaman bekerja.

Konsumsi memori saya rasakan juga cukup besar. Dengan kapasitas bawaan memori 4 GB, rasanya membuka banyak aplikasi dalam waktu bersamaan membuat sistem sedikit lemot. Memang sebaiknya memori yang digunakan minimal 8 GB.

Urusan mengganti memori rupanya juga nggak murah. MacBook Pro menggunakan sistem dual-channel, sehingga untuk menambah memori, harus mengganti kedua keping memori.

Ada lagi kebiasaan saya yang rasanya masih sulit saya tinggalkan. Saya belum terbiasa menonaktifkan laptop dalam posisi sleep, padahal ini merupakan salah satu keunggulan Mac. Saya masih terbiasa menutup semua aplikasi sebelum saya menutup layar laptop. Di Mac hal ini tidak perlu, sehingga ketika layar laptop dibuka saya disuguhkan kondisi terakhir saya sesaat sebelum menonaktifkan laptop.

Saya juga membaca bahwa menonaktifkan MacBook dengan cara sleep justru bisa menghemat batere bila dibandingkan dengan melakukan shut-down. Hal ini dikarenakan ketika melakukan booting, energi yang digunakan akan lebih besar daripada ketika MacBook wake-up.

Yang saya sukai dari produk Apple salah satunya adalah ketahanan batere-nya. Batere MacBook Pro diklaim bisa tahan hingga 7 jam jika digunakan secara normal.

Satu hal lagi yang saya suka dan cukup penting, saya bisa melakukan sinkronisasi data dengan iPhone 4S saya melalui iCloud!

Muhammad Zamroni

pengembang web • penyelam scuba • pejalan pemula • peminat perangkat

Jakarta, Indonesia

8 komentar

Artikel ini ditayangkan pada 26 Januari 2013, sekitar 5 tahun yang lalu. Informasi pada tulisan ini mungkin sudah tidak sesuai.

Thomas Arie

27 Januari 2013 02:24

Jiyeeeehhhhhhhhh...

Jadi, cuma gara-gara iCloud? Wihhh!

*run run small*

faniez

29 Januari 2013 09:49

Azeeg... fanboy skrg.. hihihi :P

Kalo buat kerja, batere tahan berapa lama, Zam? MBPku biasa aja, masih lebih tahan lama laptop ultrabook jaman skrg kayaknya.

nanahapsari

30 Januari 2013 03:54

saya juga pake mbp, mungkin juga rada gagap pas awalnya, apalagi untuk program draft-arsitek (autocad), cara2nya juga beda wlopun apple lebih canggih tapi masih aneh. btw klo 3D pake mbp lebih mantep.

ayah saya juga seneng pake mac-air karena beliau udah tua dan suka maen tutup aja laptopnya. :))

Ceritaeka

30 Januari 2013 10:34

Eh ciyee lepi baru nih yeee

Jauhari

17 Februari 2013 18:02

Tetep kudu makan2 :D

Aad

21 Februari 2013 22:29

aku sebelumnya pake macbook, gara2 mati sekarang kembali ke windo$

nopan

24 April 2013 15:02

masih menabung untuk yg pro

DWI

6 Juli 2014 16:57

tapi kalo buat autocat sama 3dmax kuat gak bro

Statistik

Telah dibaca 7.260 kali. Waktu baca rata-rata 5 menit. Ada 8 komentar.