Selamat Datang, MacBook Pro!

Saat itu saya tengah bekerja dengan laptop Lenovo IdeaPad G460 yang telah menemani saya selama kurang lebih 4 tahun. Tiba-tiba dia mati sendiri karena kepanasan. Sembari mengumpat saya pun mencoba melakukan booting.

MacBook Pro
MacBook Pro

Nyut.. Nyut.. Nyut.. Layar di laptop tak kunjung muncul, hanya tulisan Ubuntu saja dengan garis proses yang bergerak-gerak dari kiri ke kanan tanpa henti.

Saya tekan tombol power, kemudian proses booting terulang dan mentok di kemunculan logo Ubuntu tadi.

Saya coba melakukan perbaikan sistem menggunakan recovery disk Ubuntu, namun pas di tengah proses, tiba-tiba laptop saya mati lagi. Saya coba booting kembali tapi tampaknya sistemnya telah rusak.

Frustasi, saya pun menyerah. Padahal saat itu pekerjaan masih banyak yang harus diselesaikan.

Saya merupakan orang yang jarang berganti barang. Jika barang belum rusak dan masih bisa digunakan, saya tidak akan ganti atau membeli baru. Namun mengingat laptop ini sudah cukup lama mengabdi, saya akhirnya memutuskan untuk memensiunkannya.

Sudah sejak lama saya ingin memiliki MacBook. Sudah banyak teman yang meracuni saya untuk memiliki produk Apple ini. Namun, lagi-lagi karena laptop saya masih bisa dipakai, saya belum merasa butuh untuk beli Macbook.

Kejadian ini akhirnya “memaksa” saya untuk beranjak ke iBox di Gandaria City sore itu tanggal 11 Januari 2013. Apalagi mumpung dananya sudah ada, hasil menabung saya selama satu tahun penuh, jadi rasanya ini sudah saatnya.

Awalnya saya ingin membeli MacBook Air 13-inch karena ingin memiliki laptop yang ringan dengan layar yang cukup nyaman untuk pekerjaan saya. Namun ternyata harganya lebih mahal beberapa ratus ribu dari MacBook Pro.

Dengan pertimbangan spesifikasi MacBook Air “lebih rendah” dari MacBook Pro, saya akhirnya memutuskan membeli MacBook Pro 13-inch (non retina display) saja. Pertimbangan saya yang lain, dengan MacBook Pro saya bisa melakukan upgrade jika dibutuhkan.

Saya mendapatkan MacBook Pro seri pertengahan 2012 yang telah tertanam sistem operasi OS X 10.8 Mountain Lion yang dilengkapi dengan aplikasi iPhoto, iMovie, dan GarageBand (iLife bundled). Namun setelah digunakan, OS X harus segera diperbarui ke versi 10.8.2 karena ada beberapa bug di colokan firewire dan thunderbold serta pembaruan aplikasi iPhoto dan iTunes.

Pengalaman Menggunakan MacBook Pro

menggunakan MacBook Pro
menggunakan MacBook Pro

Produk Apple memang terkenal akan kualitasnya. Namun sebagai pengguna awam yang terbiasa dengan sistem operasi Ubuntu, saya sempat mengalami kegagapan dan merasa ada beberapa kekurangan.

Sebagai pekerja yang sering berhubungan dengan server dan aplikasi pengembangan web, dukungan aplikasi yang saya butuhkan rasanya kurang banyak di OS X bila dibandingkan dengan dukungan di Ubuntu.

Namun setelah melakukan googling, proses instalasi aplikasi yang saya butuhkan dipermudah oleh adanya MacPorts, meski rupanya konfigurasi di OS X tidak semudah yang saya bayangkan.

Saya masih harus banyak googling, membaca beberapa referensi, dan melakukan trial and error agar saya bisa nyaman bekerja.

Konsumsi memori saya rasakan juga cukup besar. Dengan kapasitas bawaan memori 4 GB, rasanya membuka banyak aplikasi dalam waktu bersamaan membuat sistem sedikit lemot. Memang sebaiknya memori yang digunakan minimal 8 GB.

Urusan mengganti memori rupanya juga nggak murah. MacBook Pro menggunakan sistem dual-channel, sehingga untuk menambah memori, harus mengganti kedua keping memori.

Ada lagi kebiasaan saya yang rasanya masih sulit saya tinggalkan. Saya belum terbiasa menonaktifkan laptop dalam posisi sleep, padahal ini merupakan salah satu keunggulan Mac. Saya masih terbiasa menutup semua aplikasi sebelum saya menutup layar laptop. Di Mac hal ini tidak perlu, sehingga ketika layar laptop dibuka saya disuguhkan kondisi terakhir saya sesaat sebelum menonaktifkan laptop.

Saya juga membaca bahwa menonaktifkan MacBook dengan cara sleep justru bisa menghemat batere bila dibandingkan dengan melakukan shut-down. Hal ini dikarenakan ketika melakukan booting, energi yang digunakan akan lebih besar daripada ketika MacBook wake-up.

Yang saya sukai dari produk Apple salah satunya adalah ketahanan batere-nya. Batere MacBook Pro diklaim bisa tahan hingga 7 jam jika digunakan secara normal.

Satu hal lagi yang saya suka dan cukup penting, saya bisa melakukan sinkronisasi data dengan iPhone 4S saya melalui iCloud!

Artikel ini dipublikasikan pada 26 Januari 2013, sekitar 6 tahun yang lalu. Informasi yang dimuat di artikel ini mungkin sudah tidak akurat.

Ada 14 tanggapan
Thomas Arie 27 Januari 2013 02:24 WIB

Jiyeeeehhhhhhhhh…

Jadi, cuma gara-gara iCloud? Wihhh!

*run run small*

Muhammad Zamroni 29 Januari 2013 00:57 WIB

cerewet!! puas? puas? puas?? :))

faniez 29 Januari 2013 09:49 WIB

Azeeg… fanboy skrg.. hihihi 😛

Kalo buat kerja, batere tahan berapa lama, Zam? MBPku biasa aja, masih lebih tahan lama laptop ultrabook jaman skrg kayaknya.

Muhammad Zamroni 30 Januari 2013 15:23 WIB

7 jam-an, Fan. mungkin masih baru sih, ya? cuma MacBook itu boros memori.. 😐

nanahapsari 30 Januari 2013 03:54 WIB

saya juga pake mbp, mungkin juga rada gagap pas awalnya, apalagi untuk program draft-arsitek (autocad), cara2nya juga beda wlopun apple lebih canggih tapi masih aneh. btw klo 3D pake mbp lebih mantep.

ayah saya juga seneng pake mac-air karena beliau udah tua dan suka maen tutup aja laptopnya. :))

Ceritaeka 30 Januari 2013 10:34 WIB

Eh ciyee lepi baru nih yeee

Jauhari 17 Februari 2013 18:02 WIB

Tetep kudu makan2 😀

Aad 21 Februari 2013 22:29 WIB

aku sebelumnya pake macbook, gara2 mati sekarang kembali ke windo$

nopan 24 April 2013 15:02 WIB

masih menabung untuk yg pro

DWI 6 Juli 2014 16:57 WIB

tapi kalo buat autocat sama 3dmax kuat gak bro

Mengintip Fitur Microsoft Windows 10 | matriphe! 22 Maret 2017 18:38 WIB

[…] Semenjak bekerja, berawal dari tuntutan pekerjaan, saya beralih ke Linux Ubuntu, dan tak terasa sudah lebih dari 5 tahun saya menggunakan Linux. Hingga sejak sekitar 2 tahun lalu, saya mulai menggunakan Mac OSX. […]

Pengalaman Menggunakan Avast Mac Security dan Avast Premier — matriphe! personal blog 19 April 2017 23:49 WIB

[…] Saya telah menggunakan MacBook Pro sekitar 4 tahun lalu. Hingga saat ini, saya memang tidak pernah risau dengan gangguan virus. Virus memang bukan gangguan utama bagi pengguna Mac, namun ada ancaman lain yang patut diwaspadai. […]

ari 20 April 2018 22:19 WIB

Kenapa Macbook Pro lelet pelan loading terus
http://zapplerepair.com/Kenapa-Macbook-Pro-lelet-pelan-loading-terus.html

Mengganti Baterai MacBook Pro di Mac Arena Mal Ambassador — matriphe! personal blog 15 Juli 2018 22:41 WIB

[…] MacBook Pro yang saya beli 5 tahun lalu akhirnya saya ganti setelah saya menunda-nunda, meski indikator baterai sudah menyatakan baterai […]

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.