Menggunakan Meja Kerja MICKE dari IKEA

11 minutes 40 6

Selama bekerja dari rumah, saya tidak mempunyai meja kerja yang pantas, di mana saya berbagi ruang dengan istri yang digunakan untuk alat riasnya.

memilih meja kerja di Amazon

Sebelumnya saya mengira kebijakan bekerja dari rumah hanya sementara, karena itu saya tidak terpikir untuk meyiapkan area khusus dan berharap bisa kembali bekerja di kantor.

Mengingat kebijakan bekerja dari rumah akan lama diterapkan dari kantor, saya pun akhirnya mulai menyiapkan meja dan kursi kerja yang lebih nyaman.

Selain untuk mengurangi pegal-pegal di leher, saya juga tidak ingin mengambil ruang meja istri saya yang sudah cukup sempit.

Seperti biasa, saya pun menjelajah Amazon mencari meja dan kursi yang cocok, baik dari harga dan waktu pengirimannya.

Sayangnya beberapa meja yang saya suka, masuk dalam anggaran, masa pengirimannya tidak sesuai dengan harapan.

Saya harus menunggu barang sampai ke saya selama 2 hingga 4 minggu, terlalu lama menurut saya.

Beberapa meja yang menarik ternyata sudah habis terjual dan saya harus memesan terlebih dahulu.

Mungkin permintaan akan meja kerja meningkat juga seiring dengan kebijakan bekerja dari rumah.

Mencari Meja Kerja

Höffner Berlin Schöneberg

Akhirnya saya pun beralih ke IKEA dan Höffner, toko yang menjual berbagai macam perabot, namun lokasinya cukup jauh dari pusat kota.

Untuk mencapai lokasi toko-toko yang berada dalam satu area tersebut, setidaknya memerlukan waktu 30 menit menggunakan transportasi umum.

Membeli dari toko-toko ini juga tidak mudah jika tidak memiliki kendaraan, karena seluruh barang harus dibawa sendiri, atau menyewa kendaraan semacam taksi atau jasa pengiriman, yang ongkosnya tidak murah.

Awalnya saya berniat memesan secara online dari IKEA atau Höffner, namun karena lagi-lagi ongkosnya yang ngga murah dan waktu pengirimannya juga kurang asyik.

Meski begitu, saya tetap mendatangi kedua toko tersebut pada 23 Mei 2020, untuk melakukan survei sekaligus melihat jika ada yang menarik langsung bisa saya angkut, selama saya bisa membawanya.

Awalnya saya mendatangi IKEA Berlin-Tempelhof, namun melihat antrean yang luar biasa hingga ke parkiran, saya pun mengurungkan niat dan memilih mendatangi Höffner Berlin Schöneberg yang berada tak jauh dari situ.

salah satu meja kerja yang saya suka di Höffner

Ini pertama kalinya saya masuk ke Höffner dan merasa bahwa barang-barang yang dijual di Höffner sama-sama lucu dan menarik bila dibandingkan dengan IKEA.

Tidak seperti IKEA yang alur masuknya diatur, di Höffner, alur pengunjung bebas, bisa langsung menuju area yang diinginkan.

Jika di Indonesia, Höffner ini mirip dengan Informa, baik dari pemajangan barang hingga jenis-jenis perabot yang dijual.

Saya sebenarnya sempat naksir dengan beberapa meja yang dijual di sana, yaitu sebuah meja kaca kecil, meja tulis kayu dengan kaki-kaki besi, dan meja kayu dengan dua laci.

Selain meja, beberapa kursi kerja juga terlihat menarik, namun karena saya sudah menemukan kursi yang cocok antara harga, spesifikasi, dan waktu pengiriman di Amazon, saya tidak begitu tertarik dengan kursi yang dipajang di sana.

Setelah pusing memikirkan bagaimana saya akan membawanya bila membeli meja tersebut, ukuran meja-meja tersebut masih terlalu besar untuk rumah saya yang mungil.

Saya pun pulang dari Höffner dengan tangan hampa dan memutuskan untuk membeli meja dari Amazon saja.

Membeli Meja IKEA MICKE

mencatat seri dan nomor rak gudang IKEA

Sesampai di rumah, saya kembali melakukan penjelajahan di Amazon dan menemukan penjual yang menjual meja IKEA seri MICKE mungil dengan ukuran yang saya cari dengan harga sekitar 50-60€.

Iseng, saya pun mengecek harga sebenarnya dari situs IKEA dan terbelalak dengan harga asli yang ditawarkan yaitu hanya 39,99€ saja.

Karena cocok dengan spesifikasi yang saya cari namun tidak ingin membeli lewat Amazon karena selain harganya terpaut jauh dan waktu pengirimannya tidak pas, saya pun segera menuju IKEA.

Kali ini saya menuju ke IKEA Berlin-Spandau karena meski lokasinya agak jauh dari rumah, sekitar 8 KM namun bisa diakses dengan mudah menggunakan S-bahn S9.

Meski hari itu sudah agak sore, sekitar pukul 18:00, saya sampai di IKEA dan melihat antrean sudah tidak sepanjang tadi siang.

Walau begitu, meski di dalam toko relatif sepi, karena toko akan tutup jam 21:00, tetap ada petugas yang menahan beberapa orang masuk karena aturan jumlah maksimal pengunjung di dalam.

meja MICKE di ruang pamer IKEA

Saya kemudian langsung menuju ke area meja kantor dengan mengikuti jalur IKEA yang berliku dan langsung gembira melihat meja seri MICKE yang saya incar masih tersedia, meski warna yang ada bukan warna putih, namun warna coklat kayu oak.

Rupanya meja MICKE yang ukurannya 73 cm × 50 cm × 75 cm ini sebenarnya diperuntukkan untuk meja belajar atau meja tulis anak-anak, namun saya memang mencari meja yang panjangnya kalau bisa tak lebih dari 1 meter.

Setelah mengukur, mencoba-coba, saya merasa cocok dengan meja ini, saya lalu mengambil kertas dan mencatat nomor seri, harga, serta nomor rak yang tertera, kemudian menuju ke area gudang yang berada di dekat kasir, dengan mengikuti jalur labirin IKEA yang panjang.

membawa meja MICKE menggunakan troli

Sesampai di rak penyimpan dan menemukan nomor rak yang sesuai dengan catatan, saya langsung mengambil barang dan meletakkannya dalam troli.

Rupanya meja yang harus dirakit dan masih terbungkus kardus ini beratnya 15 KG.

Saya membawa ke kasir dan membayar melalui kasir ekspres, di mana saya harus memindai sendiri barang yang saya beli dan membayar dengan kartu.

Setelah membayar, baru lah saya baru berpikir, bagaimana saya membawa meja ini ke Stasiun S-bahn Stresow yang jaraknya sekitar 800 meter dari IKEA?

Akhirnya saya pun membawa kardus berisi meja ini dengan cara menyunggi dengan berhenti beberapa kali karena berat dan saya sedikit terhuyung-huyung karena tubuh tertiup angin.

Singkat kata, saya berhasil membawa meja tersebut ke dalam kereta S-bahn dan selamat sampai di rumah, meski lengan saya berasa ngilu karena jarang berolahraga.

Merakit Meja IKEA MICKE

merakit meja MICKE

Esoknya, pada siang hari, setelah selesai melakukan silaturahmi Lebaran secara online, saya pun membongkar kardus dan mulai merakit.

Alat yang dibutuhkan adalah obeng dan palu, namun obeng dengan mata plus sudah cukup karena peran palu nantinya bisa digantikan dengan obeng.

Setelah membongkar kardus, saya mengeluarkan seluruh papan-papan kayu dan menghitung jumlah baut dan printilan sesuai dengan buku petunjuk pemasangan.

Proses pemasangannya pun hanya memakan waktu sekitar 30 menit karena petunjuk dari IKEA sangat jelas, mendetail, dan mudah dipahami.

Sesuai instruksi, saya merakit laci meja terlebih dahulu, kemudian menyusun kaki-kaki, di mana jika ingin sisi kaki besi berada di sebelah kiri harus loncat ke halaman 17, dan kemudian bagian atas meja berada di urutan terakhir.

menghitung jumlah baut dan kelengkapan perakitan

Dengan lengan yang masih nyeri karena menggotong meja sehari sebelumnya akibat tidak pernah olah raga dan tiba-tiba harus membawa beban 15 KG, saya berhasil merakit meja sendirian.

Meja tidak terasa goyang walau tidak ada penguatan di bagian kaki-kaki, dan hanya bertumpu pada selembar kayu dan besi lengkung.

Sebuah ruang kecil untuk meletakkan dan menyembunyikan kabel menambah nilai lebih dari meja ini, apalagi ada sebuah lubang kabel yang menurut saya sangat berguna agar kabel lebih rapih.

Rel laci juga sangat responsif, serta ada sistem pengunci untuk mencegah laci keluar dari jalur saat ditarik.

meja IKEA MICKE dengan laci yang terbuka

Namun saya agak ragu dengan kekuatan lacinya yang alasnya hanya sebuah lembar kayu tipis setebal 5 mm, dan hanya diselipkan ke sisi depan dan belakang.

Saya berpikir untuk melakukan penguatan tambahan pada laci, karena akan menggunakan laci di untuk menyimpan MacBook Pro saya.

Selain itu, saya juga berpikir untuk menambah aksesoris untuk mengikat kabel dan sehingga meja mungil saya tetap rapi.

Untuk sementara saya puas dengan meja IKEA MICKE ini, sembari saya menjelajah Amazon lagi untuk aksesoris tambahan tersebut.

Jika dirasa butuh, saya bisa menambah laci MICKE untuk menemani meja kerja saya tersebut.

13 responses
  1. Gravatar of Daeng Ipul
    Daeng Ipul

    Awalnya meja dulu, Abis itu mungkin kursi, terus berasa ada yang kurang. Hmm, lampu meja kayaknya perlu nih. Setelah itu, wah kayaknya beli action figure kecil lucu juga nih.
    Eaaa hahaha

    Gravatar of Muhammad Zamroni
    Muhammad Zamroni

    nah, bahaya bener ini.. kalo action figur sih ngga, tapi dah liat-liat external monitor.. 😆

  2. Gravatar of morishige
    morishige

    Keren mejanya, Mas. 🙂

    Saya gumun juga sih lihat furnitur IKEA. Kapan itu saya pernah ikut gotong-gotong barang pas temen pindahan. Terus ada satu rak yang mesti dipasang. Lumayan juga sih ukuran raknya. Tak sangka bakalan ribet merakitnya. Taunya prosesnya banter banget. Saya gumun, terus temen bilang kalau dia beli rak itu di IKEA yang barang-barangnya mudah banget dirakit dan instruksinya jelas. Hehehe..

  3. Gravatar of Antyo®
    Antyo®

    Perjuangan berat bawa barang itu yang mengesankan 👍😊

    Pada awal 2000-an saya pernah sulit cari kipas angin plafon KDK, sampai menghubungi kantor perusahaan via telepon. Lalu saya dianjurkan ke Jakarta Fair.

    Barangnya dapat, ada diskon pula. Dari stand KDK ke parkiran hrs bawa empat boks kipas angin logam itu, yang diikat tali rafia, bikin jari mau putus.

    Setelah ada pengalaman lain, termasuk bawa barang dengan menyunggi, tapi paling mengesankan ya tubuh basah kuyup dan jari dan tangan pegal di JF. Dan karena urusan itu pula untuk pertama dan terakhir saya ke JF.

  4. Gravatar of Hayu Hamemayu
    Hayu Hamemayu

    Ahahaha, ini meja sejuta umat di sini, anakku pake yg mirip punyamu tapi putih, aku pake yg agak gedean dikit ada rak sampingnya tapi sama2 MICKE 😆

    Gravatar of Muhammad Zamroni
    Muhammad Zamroni

    iyaa.. seri MICKE ini ada 3 jenis.. terang aja sejuta umat, wong IKEA kan dari sana.. 🤣

  5. Gravatar of Zizy
    Zizy

    Duh belum kesampaian saya beli meja Ikea.
    Bulan lalu waktu ke sana ngantri mau masuk saja bisa 2 jam karena saat itu mereka ketatin proses masuk akibat ada kasus positif di sana (cmiiw). Akhirnya pulang deh.
    Saya pengen coba bisa merakit sendiri meja, tapi kalau sudah banyak potongan2nya takut salah… 😀

  6. Gravatar of Zizy
    Zizy

    Eniwei Mas, dari meja yang aku tulis di sini, gampang gak tu ya merakitnya kira2?

Tinggalkan Balasan

This article has been published on 27 Mei 2020 (6 bulan ago). The information provided here might not be accurate.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.