Rangkuman, Kilas Balik 2021, dan Harapan di 2022

25 minutes 0 12

Sudah 2 kali saya membuat catatan kilas balik di akhir tahun, yaitu pada tahun 2020 dan 2019.

ringkasan foto kiriman Instagram terbaik 2021

Kali ini saya kembali menulis catatan kilas balik di tahun 2021 ini, yang tentunya saya tujukan untuk menjadi bahan retropeksi dan menyusun harapan di 2022.

Kilas balik kali ini akan banyak menulis hal-hal yang tidak sempat saya tulis di blog, dan menjadi semacam rangkuman.

Bagi sebagian orang, tahun 2021 terasa cepat berlalu, namun bagi sebagian lainnya, tahun ini berjalan dengan sangat lambat.

Saya sendiri merasakan tahun ini tidak terlalu cepat atau terlalu lambat, steady pace.

Tentu saja, ada beberapa harapan saya yang terwujud, sebagian lainnya tidak terwujud, namun ada juga hal yang tidak saya duga malah terjadi.

Semuanya tentu saya syukuri karena masih diberi kesempatan untuk melalui tahun yang sebagian orang bilang tidak jauh berbeda dengan 2020.

Saya pribadi tidak sepakat dengan pernyataan bahwa 2021 tidak jauh berbeda dengan 2020, karena situasinya memang berbeda.

Di tahun 2020, situasi masih sangat chaos, sementara di tahun 2021, patut diakui bahwa situasinya bisa dibilang jauh lebih membaik, setidaknya dari yang saya alami.

Tentang Pandemi

menggunakan masker di dalam toko

Situasi terakhir di Jerman, pengetatan protokol  pandemi kembali ditegakkan setelah beberapa bulan sebelumnya dilonggarkan.

Saat itu, program vaksinasi Covid-19 tengah berjalan lancar, setelah di awal tahun berjalan tersendat.

Angka vaksinasi bergerak naik menuju ke target pemerintah Jerman, yaitu 70-75% agar terbentuk kekebalan imunitas (herd immunity), terlihat menjanjikan.

Gelombang ketiga pada musim panas yang dikhawatirkan para pakar bisa dilalui dengan cukup baik, terbukti dengan angka penyebaran yang rendah dan stabil.

Semua orang terlihat optimistis bahwa pandemi segera berakhir, hingga pada pertengahan November 2021 lalu, situasi berubah drastis dalam waktu 2 minggu.

Saat itu, angka penularan mencapai titik tertinggi, 65.000 kasus dalam sehari, angka tertinggi dari sejarah penularan Covid-19 di Jerman.

Jika kapasitas tempat duduk di Stadion Gelora Bung Karno mencapai 77.000-an, bayangkan jika dalam waktu sehari, sekitar 85% penonton di Stadion GBK itu tertular dalam waktu 24 jam.

sertifikat vaksin digital dicetak di kertas

Keadaan ini diduga karena melambatnya laju vaksinasi, karena warga menganggap situasi sudah terkendali dan sebagian warga (terutama kaum antivaksin) makin merasa tidak perlu vaksin.

Ditambah melonggarnya protokol kesehatan, misal masker tidak wajib lagi di beberapa tempat, tidak perlu lagi menunjukkan hasil tes untuk berkegiatan, juga ikut andil.

Ini di luar kasus mutasi Delta dan Omicron yang saat itu juga mulai mengancam.

Pemerintah Jerman segera bergerak cepat walau agak terlambat, meski situasi politik saat itu sedang cukup panas setelah pemilu, di mana parlemen (Bundestag) beserta kanselir yang biasanya menentukan aturan, diganti.

Kekosongan kekuasaan ini yang membuat situasi makin rumit, misalnya siapa yang berwenang dan bagaimana keputusan penanganan pandemi diambil.

Dalam situasi normal, kanselir dan anggota parlemen bisa dengan segera melakukan rapat untuk menegakkan aturan, sementara pada saat itu sedang terjadi transisi kekuasaan.

aturan 3G, Genesen (sembuh), Geimpft (vaksin), Getested (tes negatif) di pintu kereta S-bahn

Pemerintahan lama sudah melepas jabatan, sementar yang terpilih belum bisa menjalankan tugasnya karena belum secara resmi dilantik.

Situasi “darurat” segera diterapkan, yang mana aturan dikembalikan ke pemerintah negara bagian.

Beberapa negara bagian mengambil tindakan cukup ekstrim, dengan melihat data penularan yang ada.

Negara bagian Bavaria dan Saxony misalnya, mereka membatalkan kegiatan pasar natal, yang merupakan tradisi tahunan, meski kios-kios sudah berdiri dan siap dibuka.

Pedagang pemilik kios di pasar natal yang dibatalkan hanya bisa kecewa tanpa bisa berbuat apa-apa.

Aturan lain yang ditegakkan adalah yang disebut dengan 3G (Genesen, Geimpft, Getestet), yaitu pengecekan sertifikat vaksin (geimpft), hasil tes negatif (getestet), atau bukti sembuh dari Covid-19 (genesen) setiap masuk ke toko selain toko kebutuhan pokok, saat makan di dalama restoran atau kafe (dine in), bahkan di kendaraan umum.

Vaksinasi booster pun sudah dimulai dan rencananya, tahun depan, rencananya vaksinasi akan diwajibkan, yang tentunya menimbulkan pertentangan dari kaum antivaksin.

Secara aturan, vaksin booster diberikan kepada mereka yang sudah lewat 6 bulan dari vaksin kedua, namun di Berlin, untuk mempercepat penanganan, yang baru lewat 3 bulan pun sudah diperbolehkan mendapat vaksin booster.

Di tahun 2021 ini saya sudah mendapatkan 2 kali suntikan vaksin BioNTech/Pfizer (Comirnaty), dan rencananya di tahun depan saya mendapatkan vaksin booster.

Tentang Pekerjaan

kartu identitas karyawan HelloFresh

Saya bersyukur karena saya masih diberi kesempatan bekerja, di mana di situasi pandemi seperti ini banyak orang justru kehilangan pekerjaan.

Kantor saya bekerja, HelloFresh, di tahun ini mengalami perkembangan cukup pesat, yang mana cukup berpengaruh juga pada karir saya.

Tahun ini pula saya senang karena teman lama saya Firman @kakilangit, yang juga berperan dalam kehidupan saya, terutama mengambil keputusan untuk pindah ke Berlin, bergabung dengan kantor saya, setelah 2 tahun ia bekerja di Zalando.

Di tahun ini pula saya baru tahu bahwa saya bukan lah satu-satunya orang Indonesia yang bekerja di perusahaan multinasional ini, sejak Firman masuk.

Ternyata ada 6 orang Indonesia yang rupanya masing-masing juga tidak menyadari ada orang Indonesia lain di kantor yang karyawannya terdiri dari 90-an kewarganegaraan ini.

lobi kantor HelloFresh

Beberapa orang Indonesia juga baru bergabung, dan hampir semua pernah membaca tulisan saya tentang pembuatan visa Blue Card, yang kemudian kami ketemu secara langsung di kantor.

Terkait dengan perkembangan kantor, saya yang dulu berada di tim kecil (squad) sempat bergabung dengan tim lain, yang lalu berkembang menjadi tim yang agak besar, dan kemudian harus dipisah lagi mengikuti semangat agile karena dianggap terlalu besar.

Di tahun ini pula, saya menerima tanggung jawab baru, naik tingkat dan menjalani role berbeda yang lebih menantang, yang baru dimulai tahun depan.

Selama pandemi ini, saya 90% bekerja dari rumah, di mana 10%-nya saya sempat bekerja di kantor secara sukarela, setelah kantor pindah ke tempat baru, saat situasi pandemi terkendali.

Jika dulu kantor lama menyewa sebuah gedung lama yang dulunya adalah pabrik roti, di mana di gedung ini dulu banyak lahir perusahaan rintisan yang kemudian menjadi unicorn, kini kantor membangun kampus sendiri.

bagian pantry kantor HelloFresh

Ini karena jumlah karyawan yang makin bertambah, seiring dengan berkembangnya usaha kantor sekaligus merayakan usia 10 tahun.

Gedung kantor baru yang mulai buka pada awal September 2021, yang disebut dengan Fresh Campus ini, lumayan luas dan terasa seperti kantor-kantor rintisan teknologi di film-film.

Sayangnya karena situasi pandemi terkini, karyawan diminta untuk kembali bekerja dari rumah, sehingga saya pun tidak dapat menikmati fasilitas kantor, terutama bagian pantry.

Karena kantor bergerak di bidang makanan, tentu saja urusan perut karyawan sangat diperhatikan.

Mesin kopi, berbagai jenis jus, susu, teh, minuman bersoda, sereal, müsli, buah, semua gratis bisa diambil sepuasnya.

Saya sendiri suka bekerja di kantor, selain karena pantry-nya, saya merasa benar-benar terpisah antara waktu bekerja (di kantor) dan saat bersantai di rumah, yang menurut saya tidak mudah diterapkan jika bekerja dari rumah.

MacBook Pro M1 2020 dan layar monitor di kantor

Menurut saya, waktu komuter naik kereta S-bahn lalu berganti dengan U-bahn yang saya tempuh dalam waktu 45 menit itu menjadi waktu pemisah saya untuk modus bekerja dan modus rumah.

Sementara jika bekerja dari rumah, waktu komuter ini tidak ada, sehingga batas antara bekerja dan di rumah sangat tipis dan cenderung bias.

Masih terkait pekerjaan, di tahun ini pula saya merasakan untuk pertama kalinya performa prosesor Apple M1 yang dirilis pada tahun 2020.

MacBook Pro M1 base model keluaran 2020 jatah kantor ini merupakan faktor penentu saya untuk membeli Mac Mini M1 setelah merasakan sendiri performanya.

Saya juga mendapat jatah keyboard dan mouse untuk menunjang pekerjaan saya, terutama saat menggunakan monitor eksternal di kantor, yaitu keyboard Logitech MX Keys dengan layout ISO dan mouse Logitech M590 yang senyap.

Keyboard ini sangat nyaman digunakan, sekaligus senyap, namun karena layout-nya ISO, bukan layout ANSI yang biasa kita gunakan, membuat saya lebih sering menggunakan keyboard mekanik Keychron K6 saya.

Tentang Blog

jumlah artikel pada tahun 2021

Harapan saya untuk konsisten menulis di blog rupanya tidak terlalu tercapai.

Dari target saya minimal satu tulisan setiap pekan, di tahun 2021 hanya menghasilkan 42 tulisan.

Jika jumlah pekan pada tahun 2021 adalah 52, saya hanya mencapai target sekitar 80%.

Alasannya tentu saja cliché, perkara kesibukan, terlebih menjelang akhir tahun dan terutama tentang karir saya.

Menurut halaman arsip, bulan terproduktif saya adalah pada bulan Januari, di mana ada 11 tulisan terpublikasikan di bulan itu.

Secara teknis, saya bahkan tidak sempat mengutak-atik sedikit pun, kecuali hanya melakukan pembaruan mesin WordPress secara rutin yang bisa saya otomasi.

Saya bahkan punya niat untuk meninggalkan WordPress dan beralih ke mesin blog yang lebih sederhana, namun belum menemukan yang pas, terutama untuk melakukan migrasi data.

Salah satu alasannya adalah WordPress makin lama makin besar dan menurut saya performanya tidak sebaik dahulu, apalagi jika banyak plug-in terpasang.

Saya juga beberapa kali mendapat laporan bahwa blog ini error saat menerima komentar, yang saya sendiri belum menemukan sumber masalahnya, yang menurut saya, ini sangat memalukan.

Mungkin saya perlu melakukan investigasi dan debugging lebih dalam, namun lagi-lagi, masalahnya adalah waktu dan kesempatan saja.

Kunjungan dan Pendapatan

statistik kunjungan 2021 dari Jetpack

Sejak awal saya ngeblog, saya tidak meniatkan blog ini menjadi sumber uang atau pemasukan.

Jika ada pemasukan, misal dari Adsense atau artikel bayaran, seluruh uang yang tidak cukup besar tersebut saya gunakan untuk biaya operasional blog ini, semacam membayar sewa server dan nama domain.

Saya juga tidak melakukan optimasi SEO atau apa pun, karena memang tidak mengejar peringkat di situs pencarian, karena memang blog ini saya niatkan lebih ke semacam dokumentasi serta catatan pribadi saya, yang syukur-syukur bisa berguna bagi orang lain yang nyasar ke blog ini.

Di tahun 2021 ini, kunjungan ke blog ini juga menurun drastis, di mana pada tahun 2020 rata-rata kunjungannya sekitar 400-an per hari, kini hanya sekitar 250-an kunjungan per hari.

Tentu saja ini berkorelasi dengan aktivitas blog saya yang sangat minim, baik dari posting dan blogwalking.

Pendapatan dari Adsense juga tidak menggembirakan, bahkan saya berencana untuk menyopot saja tampilan iklan Adsense di blog ini karena tidak terlalu menghasilkan dan merusak tampilan.

Tentu saja ini terkait dengan performa blog ini yang jumlah kunjungannya sedikit.

Jumlah artikel berbayar juga tidak banyak, hanya 3 artikel di tahun 2021 ini, jauh lebih sedikit dari 7 tulisan berbayar di tahun 2020 lalu.

Saya juga beberapa kali menolak tawaran artikel berbayar di blog ini pada akhir tahun, karena selain materinya kurang sesuai, juga harganya terlalu rendah, terutama untuk membayar sewa server ini.

Memang salah satu cara untuk “memaksa” saya menulis di blog adalah memenuhi kewajiban menulis artikel pesanan, namun jika harganya tidak sebanding, saya memutuskan untuk tidak menulis saja.

Tentang Siniar dan Vlog

siniar Cerita Makassar

Patut diakui, rupanya saya tidak terlalu berbakat untuk membuat siniar atau podcast.

Keinginan saya untuk membuat siniar akhirnya tidak saya teruskan.

Bercerita melalui suara memang terlihat mudah, namun saya merasa lebih nyaman menulis daripada bercerita melalui suara.

Belum lagi usaha yang harus dilakukan, misalnya menyunting suara, membutuhkan ketelatenan tersendiri.

Begitu juga dengn mendapatkan kualitas suara yang bagus, tentunya membutuhkan mikrofon dan peralatan rekam yang bagus.

Saya memang lebih menikmati menjadi pendengar, daripada menjadi “penyiar”.

Siniar favorit saya adalah tentunya siniar milik Om Rane, yaitu Gen-B dan Suarane, Cerita Makassar, dan OKR (Obrolan Kala Rehat).

Selain siniar tersebut, saya sering mendengar siniar acak dari yang muncul di Spotify saya.

Lain ceritanya dengan vlog.

Saya punya banyak footage video yang niatnya ingin saya jadikan vlog, namun kendalanya adalah waktu.

Buat saya, mengambil video itu tak jauh berbeda dengan memotret, sebuah kegiatan yang memang saya gemari.

Di tahun 2021 ini saya telah menghasilkan 7 vlog, yaitu matrivlog episode 21 hingga 27.

Dari ketujuh vlog tersebut, vlog terakhir saya yaitu saat berkunjung ke Bastei, termasuk istimewa, karena di episode tersebut saya tidak lagi menggunakan ponsel untuk mengambil video dan menyuntingnya.

Di episode terakhir di tahun 2021 tersebut, saya menggunakan kamera video ringkas DJI Pocket 2 yang saya beli khusus untuk video karena mengambil video di ponsel menghabiskan cukup banyak media simpan.

Proses penyuntingan juga tidak saya lakukan sendiri, namun saya sudah “mempekerjakan” istri saya untuk menyunting video tersebut menggunakan iPad Pro 2020.

Di tahun depan mungkin konten videonya makin banyak, terutama konten jalan-jalan karena tema vlog jalan-jalan adalah tema yang mudah untuk vlogger pemula seperti saya.

Tentang Media Sosial

Twitter 2021 year in review menurut literoom.co

Saya menyadari bahwa salah satu penyebab menurunnya aktivitas ngeblog saya adalah kehadiran media sosial.

Jika dulu media sosial banyak berfungsi sebagai microblogging, wadah komunikasi, hingga berbagi informasi, kini isinya lebih banyak keributan, drama, dan menyebarkan kelakuan brengsek siapa pun.

Meski begitu, Twitter masih jadi media sosial saya yang paling aktif, karena saya bisa menemukan banyak hal, terutama perkembangan informasi di Indonesia dan berkomunikasi dengan teman-teman.

Di Jerman sendiri, sepengetahuan saya, media sosial tidak seramai di Indonesia yang segala hal di-posting ke media sosial.

Mungkin memang faktor budaya, di mana orang Jerman (dan Eropa pada umumnya) memang “kurang suka bersosialisasi” dan cenderung lebih suka privasi dibandingkan orang Indonesia yang terkenal “ramah” dan suka berinteraksi.

Selama tahun 2021, saya merasa sudah mengurangi ngetwit, namun rupanya menurut data analitk Twitter, saya malah lebih banyak ngetwit dibanding pada tahun 2020.

Menurut data analitik, sepanjang 2021, saya telah ngetwit sebanyak 6.477 kali dengan rata-rata 539 cuitan per bulan.

Sementara pada tahun 2020, saya ngetwit sebanyak 5.300 kali dengan rata-rata 445 cuitan per bulan.

Menariknya, menurut literoom.co, di tahun 2021 saya hanya ngetwit sebanyak 845 kali, yang dugaan saya ini adalah twit langsung yang bukan balasan atau retweet.

Saya seringkali hampir terpancing, alias triggered jika menurut bahasa anak Jaksel, dan ikut mengomentari suatu isu, namun akhirnya berujung menekan tombol “Hapus” daripada “Kirim” setelah menumpahkan kekesalan saya di kolom “Apa yang sedang terjadi?” pada aplikasi Twitter.

Seringkali saya merasa cuitan saya tersebut bisa memperumit suasana, apalagi jika sampai terjerat UU ITE, membuat saya lama-lama bisa membangun tameng tak peduli dan memilih shitposting saja.

Karena di Twitter sudah terlalu toxic, saya tahun 2020 berencana utuk mengurangi atau mungkin berhenti sama sekali untuk ngetwit.

Istri saya yang beberapa bulan belakangan sudah sama sekali tidak membuka Twitter mengaku lebih bahagia karena tidak melihat atau membaca informasi dari Indonesia yang sebagian besar bikin emosi.

profil Instagram @matriphe

Begitu juga dengan Instagram yang dulunya saya gunakan untuk menampilkan foto-foto kini sudah berubah fungsi sejak diakuisi Facebook pada tahun 2012.

Saya memang merasa tidak cocok dengan visi dan misi Mark Zuckerberg dan memutuskan untuk tidak membuka kembali Facebook saya.

Produk dari Facebook, yang tahun ini menggunakan nama Meta sebagai induk perusahaannya, hanya 2 yang saya pakai, yaitu WhatsApp yang sangat jarang saya gunakan kecuali untuk menghubungi keluarga dan Instagram.

Untuk Instagram sendiri saya merasa fiturnya makin lama makin tidak jelas.

Jika dulu feeds Instagram merupakan fitur utama, kini Instagram lebih mengutamakan fitur Story dan Reels karena dianggap lebih banyak aktivitas dan engagement.

Memang saya akui, saya lebih banyak mem-posting sebanyak 1.707 kali di Story daripada di feed yang hanya ada 42 postingan.

Sementara di tahun 2020, ada sekitar 1.900-an Story dan 335 postingan di feed.

Saya memiliki 2 rencana terkait akun Instagram saya, yaitu pertama akan mengurangi mem-posting ke Story dan kembali mengisi feed.

Pilihan kedua adalah mengurangi penggunaan Instagram dan mulai mengalihkan material Story ke blog.

Kita lihat mana nanti yang bisa saya lakukan di tahun depan, yang mana intinya saya ingin mengurangi penggunaan media sosial.

Tentang Jalan-Jalan

di Bandara Berlin-Brandenburg (BER)

Kami beruntung di tahun 2021 kami bisa jalan-jalan karena situasi pandemi saat itu yang cukup terkendali sekaligus menghabiskan jatah cuti saya.

Setelah jalan-jalan ke München dan Zugzpitze, kami berkunjung ke Barcelona, Spanyol pada Oktober 2021 untuk berjumpa dengan Laut Mediterania.

Barcelona menjadi tujuan kami untuk mencari kehangatan sebelum masuk ke musim dingin sekaligus merayakan ulang tahun istri.

Perjalanan ke Barcelona juga menjadi pengalaman pertama kami terbang di era pandemi sekaligus mencoba bandara baru Berlin-Brandenburg (BER).

Dibandingkan dengan Bandara Tegel (TXL) atau Schönefeld (SXF), bandara yang kontroversial ini terbilang megah dan terasa seperti “bandara sungguhan”.

Namun terus terang, bandara ini mengingatkan saya akan Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta yang menurut saya tidak efisien dan bermasalah.

manhole bergambar logo kota Dresden

Pada bulan November 2021, kami mengunjungi Dresden, kota tua yang cantik di Jerman bagian timur yang berdekatan dengan Republik Ceko.

Saat bus yang kami tumpangi menuju Praha, pada Desember 2019, bus kami sempat transit di Dresden dan kami terkesima dengan kecantikan kota ini dan berharap akan mengunjungi.

Dari Dresden, kami mengunjungi Bastei, gugusan batu menjulang di tepi Sungai Elbe yang berhulu di Republik Ceko dan berhilir ke Laut Utara.

Saat kami berkunjung ke Dresden, pasar natal tertua di Eropa, Dresdner Striezelmarkt belum dibuka walau kios-kiosnya sudah banyak berdiri.

Kami pun berencana kembali ke Dresden pada Desember untuk mengunjungi pasar natal legendaris tersebut, namun sayangnya kami harus merelakan tiket kereta yang kami pesan karena pasar natal tersebut dibatalkan.

Melihat perkembangan situasi, kami sempat ketar-ketir karena kami memiliki satu rencana jalan-jalan lagi di bulan Desember 2021, yaitu mengunjungi Helsinki, Finlandia.

di Bandara Helsinki, Finlandia

Rencana ke Helsinki sudah kami susun jauh-jauh hari dan semua hal, dari tiket pesawat hingga hotel sudah kami pesan, dan kami berharap tidak batal.

Untungnya situasi di Finlandia belum separah di Jerman, dan setelah menimbang dengan matang, kami memutuskan untuk tetap berangkat ke Helsinki.

Cerita perjalanan ini belum sempat saya tulis di blog, dan rencananya akan saya tulis di tahun depan.

Tahun depan kami tidak berencana untuk jalan-jalan, karena istri sudah mulai kembali sekolah, dan kami berencana untuk mudik ke Indonesia.

Tentu saja kami melihat situasi, karena saat ini kami tidak ingin menjalani karantina selama 10-14 hari, karena selain buang-buang waktu juga biaya.

Saat kami berkunjung ke Spanyol dan Finlandia, kami tidak perlu menjalani karantina karena kami sudah divaksin, dengan menunjukkan sertifikat vaksin Eropa.

Kami berharap saat mudik nanti, kami tidak perlu menjalani karantina karena kondisi di Indonesia sudah membaik, plus kami sudah divaksin (termasuk booster), dan sertifikat vaksin Eropa kami diakui di Indonesia.

13 responses
  1. Gravatar of Antyo®
    Antyo®

    Ohhhhhh komplet.
    Menyenangkan baca cerita ini.
    Agak bingung juga baca info kok kunjungan ke blog ini tak setinggi yang saya bayangkan. Kalo blog saya jelas jauh lebih rendah, mungkin karena saya muncul lagi setelah gairah ngeblog orang-orang, termasuk dengan blogwalking, sudah surut. Tapi ya tetap saya nikmati. Sekarang lagi mikir buka ruang iklan buat mengongkosi blog 🙈

  2. Gravatar of Roem Widianto
    Roem Widianto

    Selamat tahun baru, Mas Zaaaaaam 🥳. Semoga tahun ini lebih baik daripada tahun kemarin yaaaa. 😆

    Ini cerita tentang pandeminya lebih komplit daripada yang aku baca di media online ya, Mas. Hehehe 😬. Di Indonesia pun situasi pandemi menjadi parah banget pas pertengahan tahun. Semoga aja tahun 2022 kita semua sudah gak disusahkan karena covid lagi. Kalaupun covid gak bisa hilang, mudah-mudahan semua orang yang hidup di bumi sudah kenal semua dengan virus ini.

    Ngomong-ngomong, kayaknya aku cocok nih, Mas, jadi orang Eropa. Soalnya aku jarang pakai medsos dan aku nganu.. agak kurang suka bersosialisasi 🙈. Mas Zam percaya nggak? Wkwkwk.

  3. Gravatar of Endah April
    Endah April

    Selamat tahun baru mas Zam dan istri, semoga nanti mudiknya lancar ke Indonesia. Wah sama mas, aku juga lagi ngurangin aktivitas di medsos, lebuh aktif di blog aja karena pace-nya lebih lambat untuk menerima feedback orang. Blog juga lebih bebas buat nulis.

    Podcast mas Zam apaaa??? Belum pernah dengerin eh udah mau vakum aja 🙁

  4. Gravatar of Liii
    Liii

    Selamat tahun baru Kak Zam dan keluarga 🥳
    Semoga selalu diberi kesehatan dan berkah berlimpah-limpah.

  5. Gravatar of Ira
    Ira

    Selamat tahun baru Mas Zam dan keluarga!!

  6. Gravatar of junianto
    junianto

    Halo Mas Zam, semoga sehat terus di negeri orang.

    Dan semoga masih inget saya.😁

    Gravatar of Muhammad Zamroni
    Muhammad Zamroni

    masih, mas! kapan-kapan saya mampir warung selatnya.. 😆

  7. Gravatar of Nina
    Nina

    Wah, suasana kantornya sepertinya menyenangkan.

  8. Gravatar of CREAMENO
    CREAMENO

    Happy new year mas Zam, seru banget baca rangkuman kilas baliknya 😍

    Semoga tahun ini semua rencana mas Zam dan keluarga bisa berjalan lancar sesuai harapan yah, dan semua mimpi serta cita dapat dikabulkan Tuhan. Semangat untuk 2022 🥳🎉

  9. Gravatar of Phebie
    Phebie

    Happy New Year 2022 mas Zam. Sukses sehat selalu di tahun yg baru. Suka selalu dengar ceritanya yang selalu komprehensif. 😃

    Mengenai medsos ya seperti double edged sword. Bisa menginspirasi sekaligus bikin nggak bahagia. Saya memahami kondisi kawan-kawan yang tinggal di luar, yang kadang membutuhkan medsos untuk sekedar berkomunikasi dengan negara asal. Tapi memang kalau nggak kuat jangan karena selain ada sisi negatif medsos, juga ditambah unsur reverse culture shocknya yg besar.😅 Been there done that.🥴

    Idem dito saya juga lama nggak update IG yang fungsinya lebih ke penyimpanan dokumentasi. Tapi saya berencana mengalihkan itu di blog juga. Sama saja fungsinya sebetulnya. Ada sirkelnya juga.😄

  10. Gravatar of juandisay
    juandisay

    Muantab banget.

  11. Gravatar of fanny_dcatqueen
    fanny_dcatqueen

    Mas zam, semoga 2022 memang jadi lebih baik yaaa. Aku menunggu juga tulisan2 Helsinki, 😄😍. Secara itu negara paling tinggi kedudukannya dlm bucket listku 🤣🤣. Pengeeeen byangettttt kesana.

    Btw, kalo ttg blog nya mas zam, memang sih tiap posting komen, selalu aja eror. Tapiiii sbnrnya masuk komennya. Krn tiap eror, trus aku LGS back, dan balik ke home, trus cek lagi komennya, dan ternyata masuk. Jadi buatku sih ga masalah, yg pentingkan memang beneran masuk walo eror di awal😁

  12. Gravatar of ana
    ana

    Ya begitulah harapan. Tanpa adanya harapan kita seolah tk ada motor utk bergerak. Meskipun akhirnya yg tercapai tk sesuai harapan, toh akan ada kenangan perjuangan yang tak pernah luput terbayar dg hikmah.

Tinggalkan Balasan

This article has been published on 1 Januari 2022 (6 bulan ago). The information provided here might not be accurate.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.