Rekapitulasi Tengah Tahun 2022 Bagian Pertama

16 minutes 58 5

Akhirnya saya ada sedikit waktu dan mood untuk mengisi kembali blog ini setelah terakhir memperbarui tulisan pada Juni 2022.

Tak terasa 2022 sudah hampir usai, dan saat menengok kembali tulisan saya tentang harapan di tahun 2022 yang mana pada tulisan itu saya ingin konsisten ngeblog, sepertinya tidak terlalu berhasil.

Apalagi alasannya selain faktor kesibukan yang selalu menjadi kambing hitam, toh buktinya akun Instagram saya selalu update dengan IG Story.

Kali ini saya akan merangkum beberapa cerita yang beberapa sempat berstatus draft di blog ini, namun saya tidak sempat merampungkannya atau yang masuk ke Instagram Story.

Karena akan sangat panjang, tulisan rekapitulasi ini akan saya bagi menjadi beberapa bagian.

Tulisan ini merupakan bagian pertama dari rekapitulasi tengah tahun 2022.

Kembali Menonton Film di Bioskop

gedung Cinemaxx Potsdamer Platz

Tahun ini saya pertama kalinya menonton film di bioskop lagi, setelah 2 tahun berada di masa pandemi.

Bioskop kesayangan tempat kami biasa menonton, CineStar Potsdamer Platz, tutup pada akhir tahun 2019.

Padahal bioskop tersebut merupakan salah satu bioskop besar di Berlin, yang sering memutar film berbahasa asli tanpa sulihsuara ke Bahasa Jerman.

Untungnya, di lokasi yang sama, di Potsdamer Platz, terdapat bioskop lainnya yang kami belum pernah mengunjungi, yaitu Cinemaxx.

Yang mengejutkannya lagi, tiket di Cinemaxx jauh lebih murah dibandingkan tiket di CineStar!

Harga tiket di Cinemaxx 5,99€, sementara CineStar harganya 9,90€.

Tentu memang ada harga ada rupa, teater di Cinemaxx tidak semegah dan se-wah CineStar, juga tata suara dan tata filmnya.

Jika dibandingkan dengan bioskop jaringan Cinema XXI di Indonesia, bioskop Cinema XXI jauh lebih bagus, megah, nyaman, tata suara dan proyektornya juara, plus tiketnya murah!

popcorn, nachos, dan minuman ukuran jumbo

Kami membeli tiket secara online, dan kami hanya menunjukkan kode QR yang kami dapat kepada petugas sebelum masuk ke pintu-pintu teater.

Tidak ada petugas yang berjaga di pintu teater, atau pengumuman, “pintu teater tiga telah dibuka, para penonton yang telah memiliki karcis, silakan segera masuk ke teater tiga”.

Suasananya mirip dengan suasana di bioskop CGV (entah apakah sekarang masih sama) namun minus keramahan dan senyuman petugas pemeriksa tiket.

Saat itu kami menonton Top Gun: Maverick untuk nostalgia (ketahuan usia) sambil mencoba menu nacho dan kentang ukuran jumbo yang kami beli dengan potongan harga dari kupon!

Selesai nonton pun, kami masih membawa pulang makanan tersebut karena kami tidak sanggup menghabiskan!

Berkunjung ke Wahana Stroberi Karl’s

bersama maskot Karl’s Erlebnis-Dorf

Setiap musim panas, kios-kios stroberi Karl’s menjamur di sudut-sudut Berlin.

Saya bahkan pernah menuliskan tentang stroberi istimewa ini dan sempat mengatakan suatu saat ingin mengunjungi salah satu wahana Karl’s.

Sabtu, 2 Juli 2022, keinginan saya untuk mengunjungi tempat tersebut terkabul.

Saya dan istri akhirnya mengunjungi salah satu wahana bertema stroberi Karl’s Erlebnis-Dorf yang lokasinya tak jauh dari Berlin, tepatnya di Elstal, yang masuk wilayah Brandenburg.

Meski kami tidak memiliki kendaraan pribadi, kami tetap bisa mengunjungi tempat ini dengan menggunakan bus ekspres khusus yang dioperasikan oleh DB Regio Bus Ost, anak perusahaan dari perusahaan kereta Deutsche Bahn.

Bus ekspress ini hanya berhenti di 2 halte sebelum mencapai tujuan akhir di halte Karl’s Erlebnis-Dorf, yaitu di Messe Nord/ICC dan Alt-Pichelsdorf.

di depan pintu masuk Karl’s Erlebnis-Dorf

Saya tentu saja girang dan jiwa kekanakan saya meronta saat sampai di tempat ini.

Untuk masuk ke tempat ini gratis, namun karena saya hendak main beberapa wahana, kami membeli tiket harian seharga 15€, di mana menurut kami cukup menguntungkan.

Tiket harian berupa gelang yang terdapat kode batangnya ini, nantinya setiap masuk ke wahana, saya perlu memindai gelang ini.

Aroma selai stroberi langsung menguar saat kami masuk ke gedung utama yang ternyata adalah toko, kantin, dan lokasi beberapa atraksi.

Dekorasinya pun sangat cantik dan totalitas, di mana tema stroberi bisa ditemukan di mana-mana.

Bangunan utama ini berupa supermarket yang berkonsep farmer’s market, di mana berbagai produk olahan stroberi tersedia di sini.

Selai, sirup, kue, bir, wine, dan berbagai pernak-pernik bertema sabun terpajang dengan apik.

naik wahana Sendok Stroberi

Lepas dari toko, kami menuju ke area wahana yang berada di bagian belakang.

Wahana ini memang sebenarnya ditujukan untuk anak-anak, namun ada beberapa wahana yang bisa dinaiki oleh orang dewasa.

Dari sekian wahana, kami naik mainan Sendok Stroberi, di mana kami naik ke wahana berbentuk stroberi di atas sendok yang berputar mengeilingi botol selai.

Tentu saja wahana untuk anak-anak ini ternyata cukup seru dan kami yang dewasa ini harus antre dan bergantian dengan anak-anak untuk naik.

Selesai pemanasan dengan wahana ini, kami pun antre di wahana roller-coaster berbentuk payung terbalik.

Wahana Payung Terbalik

Wahana ini mirip dengan wahana perahu yang mana peserta dilempar sambil berputar ke udara.

Mendengar teriakan peserta dan melihat sendiri wahana ini, sepertinya seru!

Setelah antre menunggu, akhirnya kami naik ke wahana ini.

Namun usia tidak bisa berdusta, muka saya langsung pucat saat wahana berputar dan badan dilempar ke udara.

Jantung rasanya copot, dengkul saya lemas, dan rasanya saya hendak mengompol.

Saya pun hanya bisa pasrah dan berteriak, “mamaaa..”, saat saya mengingat-ingat dosa saya selama di dunia.

Anak kecil di sebelah saya sepertinya hanya heran dengan kelakuan saya yang berteriak-teriak memohon ampun.

naik Wahana Perahu Luncur

Setelah wahana laknat ini selesai, dengkul saya seperti masih lemas.

Saya pun duduk tersungkur dulu sembari mengumpulkan nyawa saya yang tadi entah ke mana.

Wacana untuk naik roller-coaster seketika itu sirna!

Setelah tenang, saya pun masih ingin main satu wahana lagi, yang kali ini tidak terlalu ekstrim (untuk usia saya).

Saya pun kemudian mengantre ke wahana Perahu Luncur, di mana saya naik ke atas perahu yang ditarik mundur ke atas, lalu diluncurkan ke arah kolam.

Wahana ini merupakan salah satu wahana unggulan dari Karl’s Erlebnis-Dorf, di mana antrean untuk naik ke wahana ini cukup panjang.

berpose di pameran patung es

Bahkan tersedia dua wahana untuk menampung antusiasme pengunjung.

Menariknya, tidak ada penjaga di wahana ini, dimana setelah memindai mandiri kode batang pada tiket, saya naik ke atas perahu dibantu oleh pengunjung lain yang antre di belakang saya.

Demikian pula saat saya antre, saya membantu pengunjung di depan saya untuk naik ke perahu.

Panas matahari musim panas yang cukup terik akhirnya memaksa kami untuk berteduh dan mencari dingin.

Saat itu sedang ada pameran patung es yang berada di gedung utama, dan tiket masuk kami sudah termasuk dengan tiket pameran ini.

Sebelum masuk ke pameran, kami dipinjami jubah untuk melawan hawa dingin di dalam.

burger stroberi

Pameran patung-patung es karya beberapa seniman dunia ini mengambil latar cerita-cerita rakyat Eropa, mulai dari yang terkenal semacam Cinderela, hingga cerita klasik Nordik yang cukup baru untuk saya.

Di beberapa karya, disediakan ruang untuk pengunjung berfoto, bahkan berseluncur di dalamnya.

Bahkan, terdapat sebuah bar yang seluruh meja dan kursinya terbuat dari es, menjual berbagai minuman beralkohol untuk menghangatkan badan.

Makanan yang dijual di tempat ini juga menarik.

Tidak hanya bertema stroberi, namun banyak makanan yang terbuat dari bahan stroberi.

belanja oleh-oleh Karl’s Erlebnis-Dorf

Saya memesan burger berwarna merah yang mana bagian dagingnya diganti dengan keju brie besar, ditambah potongan stroberi, kacang walnut, dan bayam.

Rasanya cukup menarik, apalagi ditambah minum soda stroberi.

Kami juga membeli es krim rasa stroberi, yang rupanya tidak seperti yang kami bayangakan, karena rasanya ternyata cenderung asam karena berjenis sorbet, sementara kami mengira es krim ini berasa manis seperti es krim stroberi yang ada di Indonesia.

Saat pulang, kami pun membeli oleh-oleh selai stroberi, minuman teh stroberi, serta kopi bubuk yang dicampur dengan stroberi.

Pergi ke Leipzig

di depan patung Johann Sebastian Bach

Seorang sahabat tengah berkunjung ke Berlin, dan kami pun berkunjung ke Leipzig, pada hari Sabtu, 9 Juli 2022, setelah si sahabat puas berkeliling Berlin.

Kami berencana mengunjungi kota terbesar kedua di Saxony ini selama sehari, dengan naik kereta ICE pagi dan pulang dengan kereta ICE pada malamnya.

Lepizig merupakan kota yang penting pada masa Republik Demokratik Jerman (Jerman Timur).

Meski Leipzig merupakan kota perdagangan penting sejak era Romawi, ternyata pemerintahan komunis Jerman Timur tidak mampu membawa kesejahteraan ekonomi.

Pada tahun 1989, di Leipzig muncul pergerakan yang mengawali keruntuhan komunisme di Jerman Timur dan menjadi tonggak bersatunya kembali Jerman.

Di Leipzig, kami berkunjung ke area kota tuanya yang cantik, dan berkunjung ke museum komposer klasik terkenal, Johann Sebastian Bach, meski tidak masuk ke museumnya.

lambang kota (coat of arms) Leipzig

Seorang kawan yang pecinta Liga Sepak Bola Jerman Bundesliga, langsung mencemooh tim sepak bola Leipzig.

Tim sepak bola Leipzig menurutnya adalah tim sepak bola kapitalis, karena tidak seperti tim sepak bola lain di Jerman, tim sepak bola RB Leipzig dibentuk oleh perusahaan RedBull GmbH, produsen minuman energi asal Austria.

Pantas saja jika logo tim sepak bola tersebut ada gambar banteng merahnya, yang rupanya merupakan logo dari perusahaan pendirinya, RedBull, yang juga pemilik merek Krating Daeng yang dalam Bahasa Thailand berarti “banteng merah”.

Saya yang tidak mengerti dunia sepak bola, hanya tertawa.

Berlin Pride: Christopher Street Day 2022

peserta parade Berlin Pride: CSD 2022

Berlin yang sangat majemuk membuat kota ini sangat terbuka dan menerima berbagai hal.

Salah satunya adalah keterbukaan kota ini terhadap komunitas LGBTQ+.

Setelah 2 tahun lalu ditiadakan karena pandemi, tahun ini pawai Berlin Pride: Christoper Street Day 2022 kembali digelar pada 23 Juli 2022.

Christoper Street Day alias CSD merupakan acara tahunan di Eropa komunitas LGBTQ+ untuk merayakan perbedaan dan kebebasan berekspresi.

Sejarah CSD sendiri berawal dari upaya untuk mengenang peristiwa kerusuhan Stonewall, di mana saat itu polisi menyerang bar gay Stonewall Inn di Jalan Christopher, New York, Amerika Serikat.

di acara Berlin Pride: CSD 2022

Acara CSD di Eropa diawali di Berlin pada tahun 1979, dan kemudian diadaptasi di berbagai kota-kota lain di Jerman dan Eropa.

Sejak tahun 1993, CSD Berlin menjadi parade terbesar komunitas LGBTQ+ di Eropa.

Selain individual, peserta parade adalah perusahaan-perusahaan atau jenama yang ramah dan mendukung keberagaman termasuk komunitas pelangi.

Truk-truk besar yang disulap menjadi panggung berjalan, menyusuri rute dari Leipziger Straße hingga puncaknya di area Gerbang Brandenburger.

Kami pun ikut memeriahkan dengan menonton parade sambil mengunjungi kios-kios di pinggir jalan di Straße des 17 Juni sambil menunggu peserta parade datang.

makan es krim berbentuk alat kelamin laki-laki

Acara puncak akan dilaksanakan di sebuah panggung besar yang dibangun tepat di belakang Gerbang Brandenburg.

Sebuah kios es krim yang menjual es berbentuk genital menarik perhatian kami, dan tentu saja kami membeli sepasang es berbentuk kelamin laki-laki dan perempuan tersebut.

Setelah cukup lama menunggu, parade pun datang tiada henti.

Peserta parade dengan atribut pelangi, berkostum warna-warni, bahkan beberapa terlihat telanjang bulat, santai saja berjalan mengikuti acara.

Tua, muda, laki-laki, perempuan, transeksual, anak-anak, hingga anjing pun terlihat gembira mengikuti dentuman musik yang dihentakkan dari bus-bus yang disulap menjadi panggung.

Kami tidak mengikuti acara hingga usai, karena cukup khawatir dengan banyaknya manusia yang berkumpul di satu kawasan.

Apalagi saat itu masih dalam masa pandemi, meski aturan untuk mengenakan masker di tempat umum dan pembatasan jumlah orang telah dicabut.

Saat kami pulang, massa masih terus mengalir, dan suara dentuman musik masih sayup-sayup terdengar.

5 responses
  1. Gravatar of Rivai
    Rivai

    Meskipun sudah dewasa, naim wahana permainan seperti itu tetap bakal gemetar. Walaulun sudah beberapa kali mencobanya.

    Acara CSD jadi mengingatkanku pada drama jerman di piala dunia kemarin. Akhirnya konsentrasi terpecah dan ga lolos sari babak grup..

  2. Gravatar of morishige
    morishige

    Dari awal baca tulisan ini sebenarnya sudah banyak terpikirkan topik yang menarik buat dikomentari, tapi ambyar begitu melihat foto terakhir. Hahahaha.

    Btw, selamat tahun baru, Mas Zam!

  3. Gravatar of ainun
    ainun

    aku yang udah gede gini kalau masuk wahana kayak gitu udah pasti pengen semua-muanya dicoba
    baidewei, wahana sendok strawberrynya lucuk banget hahaha, aku juga mau 😀

  4. Gravatar of rezkyra
    rezkyra

    shock liat gambar eskrim yang bentuknya begitu 🙁

  5. Gravatar of rezkyra
    rezkyra

    shock liat gambar eskrim yang bentuknya begitu 🙁
    itu yang jualnya apa enggak malu ya

Tinggalkan Balasan

This article has been published on 19 Desember 2022 (2 bulan ago). The information provided here might not be accurate.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.