Menikmati Musim Semi di Masa Pandemi

5 minutes 44 5

Musim semi tahun 2020 ini terasa sangat berbeda, karena wabah pandemi Covid-19 membuat segalanya berubah.

menikmati matahari di pinggir Sungai Spree

Saya juga masih mengalami alergi serbuk sari, meski tidak keluar ke mana-mana selama masa pembatasan sosial untuk pencegahan penyebaran Covid-19, namun entah bagaimana, serbuk sari yang kasat mata ini masih saja terhirup oleh saya.

Aturan pembatasan sosial yang diterapkan pemerintah Berlin sudah diperbarui pada 2 April 2020, dan kini membolehkan warga untuk duduk-duduk di taman, selama tetap menerapkan jarak setidaknya 1,5 meter dari kelompok lainnya.

Pemerintah juga tidak lagi mewajibkan membawa kartu identitas atau dokumen yang menunjukkan alamat tempat tinggal jika ingin keluar.

Namun beberapa toko masih dilarang buka dan aturan-aturan yang sebelumnya ditetapkan masih berlaku.

Tentu saja kesempatan ini tidak kami sia-siakan, setelah hampir sebulan kami tinggal di rumah dan keluar sesekali hanya untuk berbelanja ke supermarket.

Hari Minggu, 12 April 2020 lalu, kami memutuskan keluar jalan-jalan ke taman di dekat tempat tinggal kami untuk sekadar mencari sinar matahari.

bersantai di taman menikmati musim semi

Apalagi cuaca saat itu sedang cerah dan temperatur udara sekitar 23°C, yang cukup hangat.

Terlalu lama diam di rumah tanpa banyak beraktivitas rupanya juga tidak baik, apalagi saya yang biasa berjalan kaki ke stasiun kereta setiap berangkat kerja kini tidak pernah lagi melakukannya.

Lutut agak mulai nyeri karena sepertinya jarang digunakan untuk berjalan kaki.

Kami menyusuri taman di pinggir Sungai Spree, di samping Schloss Bellevue, istana tempat tinggal presiden Jerman, menuju ke taman yang dekat dengan kantor Kanselir.

Rupanya banyak sekali warga Berlin yang sudah melakukan hal ini, bahkan piknik di taman di pinggir Sungai Spree.

Ada yang duduk-duduk sambil menyesap bir dingin atau wine bersama pasangan atau teman-temannya, membaca buku, mengerjakan tugas sekolah, hanya duduk-duduk, bahkan ada yang memasang hammock dan nyaman tidur sambil menikmati sinar matahari yang mengguyur.

pasangan bersantai di atas perahu di Sungai Spree

Warga juga terlihat santai seperti biasa, berlari-lari bersama anjing piaraannya, atau bersepeda, seperti tidak ada yang dikhawatirkan di masa pandemi ini.

Jika biasanya di Sungai Spree terlihat kapal-kapal tur wisata lalu lalang, kali ini mereka menghilang.

Industri wisata salah satu yang mengalami masa-masa kelam dan banyak yang terpaksa berhenti beroperasi, termasuk tur kapal di Sungai Spree.

Saya malah melihat pasangan tengah bersantai di atas perahu bertenaga surya mengapung dan mengalir mengikuti arus di Sungai Spree.

Entah dari mana dan bagaiman mereka bisa turun ke sungai, saya tidak tahu.

Melihat suasana hari ini membuat kami berencana untuk piknik di taman saat cuaca cerah pekan depan, seperti yang pernah kami lakukan pada musim panas lalu di Tiergarten atau di Schloss Sanssouci.

Kami sempat duduk-duduk sebentar di bawah pohon ceri yang mulai mekar sambil menikmati kopi instan murah yang kami beli dari supermarket.

Ah, rasanya ingin sekali mendatangi acara menonton bunga sakura, di mana saat ini pasti bunga-bunga tersebut sudah bermekaran.

Juga mendatangi pasar malam musim semi sambil makan kembang gula seperti tahun lalu.

Semoga situasi kembali pulih seperti sedia kala, meski kita semua harus terus waspada.

8 responses
  1. Gravatar of morishige
    morishige

    Sudah diperbolehkan ke taman, berarti kondisi di Berlin sudah mulai membaik, Mas Zam? Di sini lagi deg-degan menunggu puasa dan lebaran, nih. Mas Zam mesti sudah dengar kalau mudik boleh tapi diimbau untuk tidak. 😀

    Gravatar of Muhammad Zamroni
    Muhammad Zamroni

    benar, menurut pemerintah Jerman, laju penyebarannya sudah terkendali. meski beberapa aturan seperti menjaga jarak masih diterapkan.

  2. Gravatar of swastika
    swastika

    di Berlin kalau pergi ke taman atau ke luar rumah secara umum, nggak wajib pakai masker (kain) ya? Di Jakarta baru mulai di wajibkan… dan di market place jadi banyaaak yg jual masker kain dari harga 2500 sampai 25000

    Gravatar of Muhammad Zamroni
    Muhammad Zamroni

    masker ini kayanya bukan kebiasaan orang Eropa. mereka jarang banget kulihat pake masker, dan kalo pun ada, biasanya orang Asia. orang sini kalo sakit, ngga ke mana-mana biar ngga nulari. sementara kita masih sering beraktivitas sambil pake masker biar ngga nulari.

  3. Gravatar of Anggie
    Anggie

    Musim semi(soon summer) yang menyebalkan xD
    Soal masker ini memang orang Eropa ga terlalu suka pakai, bahkan di NL sudah jadi jokes kalau orang yang pake masker itu pasti identik dengan turis dari Tiongkok.

  4. Gravatar of nonadita
    nonadita

    Padahal pake masker tetap perlu untuk menghindari penularan dari orang yang terinfeksi tapi tidak bergejala wkwk.

    Aku nggak kebayang kalau wabah ini muncul di musim hujan (atau di musim dingin in your case), mesti parno bener karena lebih gampang sakit 🙁

  5. Gravatar of Daeng Ipul
    Daeng Ipul

    Asyik ya, sudah mulai normal kayaknya. Paling tidak sudah bisa keluar rumah, duduk di taman dan menikmati matahari. Lumayanlah, mengobati rasa bosan di rumah terus 😀

Tinggalkan Balasan

This article has been published on 13 April 2020 (8 bulan ago). The information provided here might not be accurate.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.