matripost! Proyek Mengirim Kartu Pos

14 minutes 0 19

Berawal dari kolaborasi Lia dan Mas Rivai yang membawa kembali masa-masa dulu main postcrossing, alias kirim-kiriman kartu pos, beberapa pekan kemarin saya cukup serius mempersiapkan diri setelah memutuskan ikut serta.

sepeda yang digunakan tukang pos Deutsche Post mengantar surat

Postcrossing sendiri sebenarnya nama dari salah satu situs komunitas mengirim kartu pos ke orang asing, yang saya dulu sempat ikut, lalu saya memutuskan berhenti ikut serta.

Awalnya saya hanya ingin mengirimkan satu atau dua kartu pos kepada peserta yang totalnya 17 orang (minus saya) tersebut, namun akhirnya saya menyerahkan alamat saya di Berlin untuk memberikan kesempatan teman-teman yang mungkin belum pernah merasakan mengirim kartu pos, apalagi ke luar Indonesia.

Saya dulu termasuk gemar mengirim dan menerima kartu pos, yang beberapa kirimannya saya tulis di blog ini.

Dulu jika ada teman yang bepergian ke luar negeri atau kota lain di Indonesia, saya biasanya minta dikirimi kartu pos jika memang tidak merepotkan.

Pun jika misal pas saya yang sedang bepergian, saya gantian mengirim ke beberapa teman.

kartu pos yang dikirim dari kantor pos di Praha, Republik Ceko

Terakhir kali saya mengirim kartu pos kepada teman adalah saat saya berkunjung ke Praha, Republik Ceko, di mana kartu pos tersebut mendarat dengan selamat di Yogyakarta.

Kemudian saat saya dan istri berkunjung ke Lisbon, Portugal, dan Brussel, Belgia, kami menyempatkan diri mengirimkan kartu pos ke diri kami sendiri.

Waktu di Praha, kami membeli dan mengirim kartu pos dari sebuah kantor pos kecil tepat di depan Gereja Katedral St. Vitus yang berada di dalam kompleks Kastil Praha yang berdiri di atas bukit.

Sementara saat di Lisbon, kami membeli kartu pos dari sebuah kios suvenir di depan Stasiun Metro Baxia-Ciado, tak jauh dari hotel kami menginap, sekaligus membeli prangko dan menyemplungkan ke dalam kotak surat mungil yang kata si pemilik kios akan diambil oleh petugas.

Belakangan saya ketahui bahwa prangko yang kami beli dari kios tersebut bukan lah prangko resmi dari CTT, perusahaan pos Portugal, tapi sebuah perusahaan swasta yang punya lisensi mengirimkan surat, terutama kartu pos, yaitu Openmail.

prangko Openmail dari Portugal dan prangko dari Belgia

Openmail bisa melihat peluang bahwa usaha mengirim kartu pos masih cukup populer di kalangan turis, dan mampu merangkul kios-kios penjaja suvenir.

Menurut saya, ide Openmail ini sungguh cerdas, apalagi menemukan kantor pos, terutama saat bepergian, tidak lah mudah.

Saat di Brussel, kami menyempatkan diri mengirim kartu pos dari kantor pos yang ada di Stasiun Brussel Noord, sebelum kami naik bus murah Flixbus yang mangkal di depan stasiun itu ke Amsterdam, Belanda.

Saya membeli kartu pos bergambar Lucky Luke dari Museum Komik Strip yang sejak awal saya niatkan untuk saya kirim untuk kami.

Yang menarik perhatian saya dari prangko Belgia ini, bentuknya adalah seperti sticker, sehingga saya tidak perlu repot membasahi bagian perekat di belakang prangko, dan cukup mengelupas lapisan pelindung sticker.

Sangat praktis dan tidak merepotkan.

Saya sendiri tidak ingat, berapa harga prangko untuk mengirimkan kartu pos itu, tapi yang pasti harganya tidak sampai 1€ untuk pengiriman luar negeri.

Sejak saat itu, saya hampir tidak pernah mengirim kartu pos lagi.

Makanya proyek mengirim kartu pos ini membuat saya kembali semangat untuk kirim-kirim kartu pos kembali.

matripost!

kartu pos yang dikirim untuk proyek matripost!

Saya mencuri ide dari layanan Postcrossing, di mana di situs itu, kita bisa melacak dan mengetahui beberapa data terkait dengan kartu pos yang dikirim.

Dari situ, saya membuat matripost!, yang selain untuk pelacakan, saya juga menambahkan beberapa informasi terkait kartu pos yang saya kirimkan ke 17 orang peserta, beserta 6 huruf kode pelacakan yang unik, khusus untuk masing-masing peserta.

Setelah peserta menerima kartu pos tersebut, dengan memasukkan kode yang saya kirim melalui kartu pos ke matripost!, saya bisa mengetahui waktu kartu pos diterima.

Penerima juga bisa meninggalkan pesan balasan di matripost! dengan memasukkan kode tersebut sebagai kredensial.

Saya juga menuliskan pesan di halaman tersebut karena saya tahu, menuliskan pesan di selembar kartu pos tidak akan cukup, sehingga ide untuk menulis pesan di halaman digital yang hanya bisa diakses melalui kartu pos, menjadi salah satu dasarnya.

Dengan cara ini, saya menggabungkan dua media, yaitu konvensional melalui kartu pos dan digital melalui halaman web.

Menyetak Kartu Pos

kertas foto berukuran kartu pos Media Range MRINK104

Ketujuhbelas peserta akan menerima kartu pos dengan gambar yang unik, yang saya buat khusus untuk mereka.

Seluruh gambar pada kartu pos merupakan hasil jepretan ponsel Google Pixel 4a saya, yang saya potret sendiri, yang saya rasa bisa mewakili Berlin dari mata saya sebagai warga.

Foto tersebut kemudian saya cetak menggunakan kertas foto bermerek Media Range seri MRINK104 yang berukuran kartu pos, 10 cm × 15 cm, yang jika dihitung, bisa cukup menghemat biaya.

Kertasnya cukup tebal, dengan berat 220 gram per meter persegi, dengan bahan permukaan glossy.

Media Range sendiri merek Jerman yang selama 10 tahun bermain di teknologi penyimpanan optikal seperti CD, DVD, dan Blu-Ray, yang melebarkan sayap ke media simpan berbasis flash macam SSD dan flashdrive, dan kini merambah dunia kertas.

kartu pos dijual di toko suvenir

Harga kartu pos di Berlin berkisar antara 1€ hingga 1,5€, di mana jika dikali 17, harganya bisa mencapai 17€ hingga 25,50€.

Sementara kertas foto yang saya beli berisi 50 lembar yang saya beli dari toko alat tulis McPaper, harganya 9,99€.

Namun rupanya menyetak kartu pos tersebut cukup menguras tinta printer Epson Expression Home XP-3510 saya.

Saya kemudian saya membeli tinta pihak ketiga GPC Image 603 XL dari Amazon untuk menyelesaikan pencetakan 17 kartu pos tersebut, karena harganya lebih murah dan ratingnya cukup bagus.

Benar saja, kualitas tinta merek GPC Image tersebut cukup bagus dan saya tidak bisa membedakan hasil cetakan karena kualitas cetaknya sama-sama bagus.

Meski secara ongkos, menyetak kartu pos sendiri jatuhnya lebih mahal, namun saya puas karena kartu pos yang saya kirim sangat eksklusif dan unik.

Mengirim Kartu Pos

kantor pos Deutsche Post di Stasiun Friedrichstraße

Tanggal 15 Maret 2021, seluruh kartu pos saya kirim menggunakan layanan Deutsche Post.

Di Jerman, layanan pos masih sangat berjaya dan bisa dibilang menjadi tulang punggung birokrasi Jerman.

Seluruh dokumen resmi lembaga akan dikirim menggunakan pos.

Bahkan urusan perbankan pun, misal jika kehilangan kartu ATM, kartu ATM pengganti beserta nomor PIN akan dikirim melalui surat secara terpisah.

Deutsche Post sendiri awalnya perusahaan negara, Deutsche Bundespost, yang kemudian diprivatisasi pada tahun 1995 dan berubah nama menjadi Deutsche Post AG.

Pada tahun 1998, Deutsche Post mengakuisisi perusahaan logistik DHL International, lalu pada tahun 2000, Deutsche Post menjadi perusahaan swasta penuh dengan melantai di lantai bursa Frankfurt Stock Exchange.

Saya membeli prangko di kantor pos langganan saya yang berada di Stasiun Friedrichstraße.

rentengan prangko seharga 0,95€ per buah

Saya memilih pergi ke kantor pos ini meski di dekat rumah ada kantor pos juga, karena petugas di kantor pos ini bisa berbahasa Inggris, sementara petugas di kantor pos dekat rumah saya hanya bisa berbahasa Jerman.

Untuk pengiriman kartu pos luar negeri, harga prangkonya 0,95€, sementara untuk pengiriman kartu pos dalam negeri Jerman, ongkos prangkonya 0,60€.

Petugas menyerahkan prangko sebanyak 17 buah yang saya beli seharga 0,95€ untuk pengiriman luar negeri berupa rentengan prangko bergambar Flockenblume, alias Knapweeds, atau bunga Centaurea, sejenis aster, yang merupakan bunga endemik di Eropa.

Sebenarnya prangko ini bisa dibeli secara online atau melalui mesin, namun saya sendiri memilih untuk langsung datang ke kantor pos karena lebih cepat dan lebih mudah.

Di rentengan prangko tersebut, setiap 5 prangko terdapat kode EAN (European Article Number), kode batang standar Eropa yang digunakan untuk mengidentifikasi barang.

Kode EAN prangko seri Flockenblume ini adalah 4050357017493.

Menunggu Kartu Pos

kartu pos siap dikirimkan

Setelah seluruh kartu pos saya kirim, saya kini hanya bisa menunggu kartu pos tersebut sampai ke alamat para penerima.

Saya tentu saja juga menunggu kartu pos kiriman dari peserta masuk ke kotak surat saya.

Rupanya banyak juga peserta yang baru pertama kali mengirim kartu pos, dan saya pun berbagi pengalaman serta informasi tentang kartu pos melalui surel.

Senang rasanya saat para peserta antusias mengirimkan kartu pos pertama mereka.

Dari cerita yang dibagikan melalui surel, beberapa peserta bercerita bahwa ternyata tidak semua petugas kantor pos mengetahui tentang kartu pos, bahkan tidak tahu berapa biaya prangko untuk mengirim kartu pos.

Bayu bahkan bercerita saat menerima kartu pos dari Mbak Fanny, bapak tukang posnya sampai terkejut dan bercerita bahwa kartu pos yang ia antar merupakan kartu pos pertama sejak terakhir ia mengantar 3 tahun lalu.

Mbak Fanny bahkan bercerita, ia harus pergi ke kantor pos yang agak besar dan harus berbincang dengan petugas yang lebih senior, karena petugas yang melayaninya masih cukup muda dan tidak begitu mengerti tentang kartu pos.

Postcardware

Setelah proyek ini, saya berencana meneruskan kebiasaan kirim-kirim kartu pos ini lagi, terutama kepada sesama blogger.

Jika ingin mendapat kartu pos dari saya, bisa meninggalkan komentar di tulisan ini, dan saya akan menghubungi melalui surel untuk meminta alamat pengiriman.

Saya juga menerima kiriman kartu pos, jika ada yang ingin mengirimkan, silakan tinggalkan komentar juga di tulisan ini.

Namun mungkin tidak semua bisa saya penuhi, karena ada beberapa pertimbangan, terutama beberapa blogger yang saya kenal secara pribadi, atau rutin saling berkunjung dan berkomentar di blog ini, akan saya utamakan.

Model ini biasa dikenal dengan postcardware, di mana istilah ini saya kenal dari pengembang software yang “menerima bayaran” berupa kiriman kartu pos sebagai imbalan penggunaan software yang ia gunakan.

Salah satu pengembang software yang menerapkan sistem ini adalah Spatie, perusahaan dari Belgia.

24 responses
  1. Gravatar of uthie
    uthie

    ahhh kangen postcrossing tapi mager ke kantor pos :)))

  2. Gravatar of Peri Kecil Lia 🧚🏻‍♀️
    Peri Kecil Lia 🧚🏻‍♀️

    Kak Zam, terima kasih karena akhirnya memutuskan untuk ikut kegiatan ini dan bersedia dikirimi postcard oleh teman-teman lainnya 🥺. Semoga bisa semua sampai di tempat Kakak!
    Aku jadi kepikiran ingin melanjutkan kegiatan ini juga, terutama kalau lagi berpergian. Semoga bisa 🤣
    Terus aku baru tahu kalau Matripost itu sistem yang Kakak bikin sendiri, kerennyaaaa 🤩👏🏻

  3. Gravatar of Rifki
    Rifki

    Halo Mas Zam, kalau tidak salah di Indonesia dulu juga ada situs untuk bertukar kartu pos, tapi saya lupa apa yaa namanya?

  4. Gravatar of snydez
    snydez

    yahhh telatt..
    *mau juga dikirimi kartu pos

    Gravatar of Muhammad Zamroni
    Muhammad Zamroni

    haha, boleh. silakan kirim alamat lewar e-mail. nanti kalo pas ada yang menarik kukirimi kartu pos!

  5. Gravatar of Didut
    Didut

    Sakjane aku selalu merasa salut dengan komitmen teman-teman dalam membuat dan mengirimkan kartu post ini, hebat sih bisa meluangkan waktu di tengah kesibukan.

    Dan membaca bagian akhir dari post ini merasa lucu juga kalau ada petugas pos yang sudah tidak tahu apa dan bagaimana mengirimkan sebuah kartu pos, ini seperti barang pra-sejarah yo di jaman yang serba cepat dan digital ini hihihi

    BTW jadi inget, di Berlin itu klub bolanya lagi naik daun banget, kalo ada kartu pos Union Berlin aku mau dong dab dikirimin hahahaha
    Kalo ada dan inget aja sak selonya entah kapan, pas nulis ini kok jadi ingat klub bolanya Berlin yang satu itu.

    Gravatar of Muhammad Zamroni
    Muhammad Zamroni

    aku malah baru tau ada klub Union Berlin. soalnya yang terkenal di Berlin malah Hertha BSC. nanti kalo pas nemu, aku coba kirim deh kartu posnya. kirim alamat lewat e-mail, yak!

  6. Gravatar of Ranger Kimi
    Ranger Kimi

    Senaaang ternyata teman blogger lumayan banyak yang main kartu pos. Aku jadi kangen pengen mainan postcrossing lagiii… tapi sama kayak Uthie: mager. Hahahaha…

  7. Gravatar of ainun
    ainun

    mas Zammm, sampe sekarang aku belum joint di grup postcrossing dunia, padahal penasaran banget
    Dan dengan proyek ini, akhirnya cita cita buat kirim kartupos dan nostalgia zaman dulu bisa terjadi juga.
    Seneng baca cerita mas Zam waktu proses pembuatan sampe pengirimannya
    Ceritaku belum tayang nih hahahaha
    aku pengen cepet cepet ngetik kode yang alamat linknya udah dikasih mas Zam dan aku penasaran buat utak atik proses postcrossing dunia itu.ternyata bisa juga dilacak ya

    kemarin rencana pribadi mau kirim kartupos lebih dari satu. Salah satunya mau pake koleksi pribadi atau buat sendiri.
    sayangnya rencana mau buat sendiri nggak terlaksana, kesibukan yang sepertinya ga memungkinkan untuk pergi ke percetakan. Padahal kalau diniatin harusnya bisa hiks

    aku bakalan seneng kalau bisa kirim kartu pos lagi ke mas Zam, next ahh mau aku agendakan dulu

    Gravatar of Muhammad Zamroni
    Muhammad Zamroni

    siap menerima dengan senang hati! nanti kalo pas ada kesempatan lagi, aku kirimi kartu pos lagi, deh!

  8. Gravatar of Phebie
    Phebie

    Masa covid begini dimaklumi kalau pada mager ke kantor pos. Kalau kondisi normal pasti asyik bener yah

  9. Gravatar of Bayu Kurniawan
    Bayu Kurniawan

    Halo Mas Zam.. first time komen dimari.. wkwk 😅
    Waahhh, pengalaman surat menyurat Mas Zam ternyata udah mendunia yah.. wkwk.
    Saya krim postcard ke LN aja ya baru ini. Bahkan debut kirim surat pos antar provinsi aja yah baru ini.. wkwk 😆
    Kira2 ntar sampe sana nggk yah mas? Harusnya sih nympe ya walaupun waktunya mngkin agak lama.

    Btw saya kok salfok sama sepeda yg dipake buat ngnter surat. Itu standarnya ada rodanya. 😁 tak kiran itu sepeda roda 4. 🤭

    Wahh sama donk kita, sama2 ngeprint sndiri kartu posnya.. hehe. Lohh ternyata Matripost itu sistem yg Mas buat toh..? Aku pikir itu sistem yg dipakai sama pengirimab surat sana.. haha. Kerenn beud.

  10. Gravatar of Zizy Damanik
    Zizy Damanik

    Ini tulisan paling lengkap mengenai project kartu pos ini.

    Keren banget Mas denya bikin project matripost, jadi begitu penerima masukin kode maka di sini otomatis mendapat kabar kapan diterima. Cakep betul. Itu bisa dijadikan plugin tuh Mas, siapa tahu nanti kita mau pakai d sini buat lainnya..

    Aku termasuk yang jarangggg sekali berkirim kartu pos. Mungkin karena terlalu pendek ya, sementara aku ada di jaman yang biasa surat2an.

    Dulu teman2 ada yang suka saling berkirim saat mereka lagi keluar negeri, jadi dikirim dari sana, terus nyampeknya juga setelah si teman balik ke Indonesia haha.

  11. Gravatar of fanny_dcatqueen
    fanny_dcatqueen

    Jujur aja kartu poii pengalaman pertamaku :D. Walopun zaman dulu aku srg ke kantor pos, tp untuk urusan surat menyurat dengan sahabat pena, ato kirim kartu ucapan natal dan lebaran mas :D. Seingetku yaaa ga prnh kirim kartu pos. Eh pernah dink, tp kartu pos yg utk lomba2 ituuuu hahahahaha. Lomba lewat majalah, ato tivi, walo jarang menang wkwkwkwkw.. itu kan ada yg pake kartu pos jugaaa :D.

    Sedih memang pas staff post banyak yg udh ga tau kartupos. Bahkan mereka ga jual lagi kartunya.

    Aku sbnrnya berharap bgt semua kartu pos temen2 bisa aku trima. Tp sampe skr blm ada yg DTG hiks :(. Nth di mana salahnya. Apa si pak pos kebingungan nyari alamat??

  12. Gravatar of christin
    christin

    aku mau kak, ingin juga mengirimimu tapi aku malas ke kantor pos 🙁 tapi gak papa mau dong alamatmu, biar aku ada alasan pit-pitan ke kantor pos

  13. Gravatar of iKurniawan
    iKurniawan

    Kok seruuu hahhaha
    Pengalaman sama kartu pos, cuma saat kecil dulu di era 90an untuk kirim kuis-kuis. Biasanya diadakan produk-produk snack atau shampo
    😀

  14. Gravatar of morishige
    morishige

    Wah, ntar kalau jalan ke mana saya kirim kartu pos ke Berlin. 😀

  15. Gravatar of Rivai Hidayat
    Rivai Hidayat

    Aku seneng ketika mas zam dan kawan-kawan sangat antusias ikutan project ini. Apalagi pengalaman mas zam tentang berkirim postcard sangat banyak dan menarik.

    Harapannya sih, budaya berkirim postcard bisa kembali menjamur di indonesia 😀

  16. Gravatar of Antyo®
    Antyo®

    Menarik ini.
    Tapi sekarang kayaknya saya kehabisan energi untuk bikin ini dan itu. Dulu terlalu banyak mainan saya, termasuk beraneka blog tanpa iklan dan kartu pos. 🙈

  17. Gravatar of Dinilint
    Dinilint

    Seru ya denger cerita tentang kartu pos di jaman serba internet ini.
    Ternyata, anak-anak yang usianya lebih muda ada yang nggak paham tentang apa itu kartu pos. Aku rasa kegiatan postcrossing begini jadi kegiatan langka. Ahahaha.

    Soal ide mencetak kartu pos sendiri, keren kak. Kartu pos dari Bang Zam jadi satu-satunya di dunia, unik, langka, dan tiada dua.

  18. Gravatar of Tari lestari
    Tari lestari

    Waaah? Menarik sekali , namun kayaknya saya tak memiliki bakat untuk membuat post crossing ini. Salam kenal?

  19. Gravatar of Prima
    Prima

    Dari twitter mampir kesini, cerita Mas menarik sekali, apalagi buat aku yg sama sekali belum pernah kirim maupun terima surat. Sayangnya baru ketemu blog ini sekarang, padahal pengen join juga. Hehehe

Tinggalkan Balasan

This article has been published on 23 Maret 2021 (4 bulan ago). The information provided here might not be accurate.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.