Melihat Patung Kencing di Brussel, Belgia

Brussel mungkin bukan kota yang masuk dalam daftar kunjungan turis, namun salah satu yang menjadi daya tarik kota ini adalah patung anak kecil kencing yang menjadi kebanggan kota berpenduduk 1,2 juta jiwa.

Saya dan istri cukup penasaran dengan kota yang menjadi ibu kota de facto Uni Eropa ini.

Kebetulan ada tiket pesawat murah Ryan Air dari Berlin Schönefeld ke Brussel, kami pun tak berpikir panjang untuk membelinya.

Tanggal 2 hingga 4 Februari 2020 lalu, kami menginjakkan kaki ke Brussel.

Tiba di Brussel

replika roket dari serial Tintin di Bandara Brussel
replika roket dari serial Tintin di Bandara Brussel

Pesawat Ryan Air bernomor penerbangan FR-164 mendarat tepat waktu di Bandara Brusel pada pukul 08:30.

Kami tiba di Brussel disambut dengan hujan, dan menurut prakiraan cuaca, Brussel akan dilanda hujan hingga tiga hari ke depan.

Suasana komikal langsung terasa saat kami hendak keluar bandara.

Di salah satu aula kedatangan terdapat replika roket merah yang ikonik dari salah satu episode komik Tintin, Perjalanan ke Bulan.

Roket merah berkaki tiga ini memang sangat terkenal dan menjadi salah satu ikon yang banyak bertebaran di Brussel.

Hergé, si pengarang komik Tintin mengambil inspirasi dari roket V-2 buatan Jerman dari era Perang Dunia Kedua.

Karena Bandara Brussel berada di Zaventem, daerah di pinggiran Brussel, untuk mencapai pusat kota kami memilih naik kereta ke Stasiun Brussels Central.

Kami membeli tiket kereta seharga 9,10€ dari mesin tiket, dan naik kereta listrik yang dioperasikan oleh perusahaan kereta Belgia (NMBS/SNCB).

Waktu tempuh dari Bandara Brussel ke Stasiun Brussel Central adalah 20 menit.

Naik Kereta ke Pusat Kota

suasana di dalam kereta dari Bandara Brussel
suasana di dalam kereta dari Bandara Brussel

Kami sempat ragu apakah kereta yang lewat di stasiun yang terletak di bawah tanah Bandara Brussel ini adalah kereta yang benar akan membawa kami ke Stasiun Brussel Central.

Namun setelah mengecek kembali papan pengumuman dalam Bahasa Prancis dan Bahasa Belanda, serta bertanya pada orang yang sedang menunggu di peron bersama kami yang sepertinya orang lokal, kami yakin kami tidak salah tempat.

Kereta yang kami tumpangi memang bukan kereta khusus bandara, namun semacam kereta regional yang kebetulan rutenya lewat bandara dan pusat kota Brussel.

Bahasa Prancis dan Bahasa Belanda adalah bahasa resmi Belgia, untungnya di Brussel beberapa petunjuk ada yang menggunakan Bahasa Inggris.

Tak berapa lama kereta listrik yang bentuknya sekilas seperti tog di Denmark itu datang.

Kami sedikit berlari sebelum meloncat masuk ke dalam kereta karena kereta hanya berhenti sekitar 5 menit.

Setelah masuk ke kereta sesuai dengan kelas tiket kami, tiket kelas 2, kami duduk di mana pun selama bangku tersebut kosong.

amplop yang diserahkan perempuan untuk mengemis
amplop yang diserahkan perempuan untuk mengemis

Dari Stasiun Brussel, kereta akan berhenti di Stasiun Brussel Nord (Brussel Utara) sebelum kami turun di Stasiun Brussel Central.

Saat kereta berhenti di Stasiun Brussel Nord, seorang perempuan mendatangi setiap penumpang yang duduk sambil menyodorkan amplop kosong berisi tulisan dalam Bahasa Prancis.

Amplop tersebut diletakkan di atas kursi di depan saya.

Karena bingung dengan maksud perempuan tersebut, saya melihat gerak-geriknya saat ia berjalan ke depan

Rupanya perempuan tersebut meminta uang seperti pengemis yang biasa ditemui di bus-bus kota, Metro Mini, dan Kopaja di Jakarta.

Tulisan pada amplop tersebut berbunyi sebagai berikut.

sont pauvres avec trois enfants. que je travaille, aidez-moi vous plait acheter, de la nourritore aux enfants, et a payer les gaz d’ electricite, et d’eau. dieu benisse encore. adieu.

Dengan bantuan penerjemahan Google, saya mencoba memahami arti tulisan yang sekilas terdengar indah itu.

Stasiun Brussel Central
Stasiun Brussel Central

Perempuan itu mengaku miskin, mempunyai tiga anak, dan memohon belas kasihan berupa uang untuk membeli makan, membayar tagihan listrik, air, dan gas, lalu menutup permohonan tersebut dengan doa semoga tuhan memberkati.

Ah, rupanya di ibu kota Uni Eropa ini, ada juga warga miskin yang terpaksa harus mengemis di jalan.

Perempuan itu turun di Stasiun Brussel Central, bersamaan dengan kami.

Dari apa yang saya lihat, perempuan tersebut tidak mendapatkan sepeser uang dari penumpang yang tak seberapa yang berada di kereta kami.

Transportasi di Brussel

tiket transportasi umum di Brussel
tiket transportasi umum di Brussel

Seperti pada kota-kota di Eropa pada umumnya, transportasi umum di Brussel sangat bagus.

Selain jalur kereta regional yang dilayani oleh perusahaan kereta Belgia (NMBS/SNCB), transportasi umum di Brussel dikelola oleh STIB/MIVB yang meliputi tram, bus, dan kereta metro.

Mesin tiket ini biasanya berada di halte dan stasiun metro, namun jangan sampai tertukar dengan mesin tiket untuk kereta regional.

Untuk membedakan, mesin-mesin tiket berwarna biru dengan logo huruf B adalah mesin tiket untuk kereta regional, sedangkan mesin tiket transportasi publik terdapat tulisan Go pada badan mesin.

Kami sendiri selama di Brussel tidak pernah menggunakan kereta metro, dan hanya menggunakan tram dan bus.

Tiket ini berupa kertas yang memiliki antena RFID, di mana tiket ini perlu ditempel ke mesin untuk divalidasi saat masuk dan saat keluar.

Tarif untuk sekali jalan adala 2,10€ sementara untuk tiket harian 24 jam, harganya 7,50€.

Patung Kencing

di patung Manneken Pis
di patung Manneken Pis

Sebagai turis, berkunjung ke Brussel tentu saja wajib mendatangi patung anak kecil yang sedang kencing yang menjadi ikon kota Brussel.

Setidaknya ada tiga patung yang terkenal di Brussel dan menjadi lokasi tujuan para turis.

Patung-patung tersebut adalalah Manneken Pis (patung anak laki-laki kencing), Jeanneke Pis (patung anak perempuan kecning), dan Het Zinneke (patung anjing kencing).

Ketiga patung ini terletak tersebar dan berada di sekitaran pusat kota Brussel yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari Stasiun Brussel Central.

Manneken Pis

patung Manneken Pis
patung Manneken Pis

Patung ini berada di pusat kota Brussel, persisnya berada di perempatan Rue du Chêne/Eikstraat dan Rue de l’Étuve/Stoofstraat.

Lokasi patung ini bisa dicapai dengan jalan kaki dari Stasiun Brussel Central dan melewati Grand Place.

Menurut sejarah, kolam ini dulunya satu-satunya sumber mata air di kota tersebut.

Ada berbagai legenda tersebar tentang kenapa anak kecil kencing ini jadi kebanggan.

Salah satu versinya adalah pada abad ke-14, Brussel sedang dikepung oleh pasukan musuh yang akan membakar Brussel.

Seorang anak kecil bernama Julianske ditugaskan mengintai pasukan tersebut berhasil menggagalkan usaha tersebut dengan mengencingi sumbu yang akan digunakan untuk membakar Brussel.

Untuk mengenang jasa anak tersebut, dibuatlah patung si Julian yang terbuat dari batu, namun patung ini beberapa kali dicuri.

Tahun 1619, pematung Hieronimus Duquesnoy membuat patung ini dari perunggu setinggi 61 cm.

Patung ini bertahan pada saat serangan udara ke Brussel oleh tentara Prancis pada tahun 1695.

Sama seperti nasib patung versi batunya, patung ini juga beberapa kali dicuri.

Jika beruntung, pada waktu-waktu tertentu, pengunjung bisa melihat patung diberi kostum untuk memperingati atau memeriahkan suatu peristiwa.

Jeanneke Pis

patung Jeanneke Pis
patung Jeanneke Pis

Pada tahun 1985, dibuatlah patung versi anak perempuannya, dan diberi nama Jeanneke Pis.

Patung anak perempuan ini terletak terpencar dari patung Manneken Pis, tepatnya di sebuah gang buntu di Gang Kesetiaan (de la Fidélité/Getrouwheidsgang), persis di samping sebuah restoran.

Pose anak perempuang berkuncir dua sambil jongkok ini terbuat dari perunggu setinggi 50 cm yang dibuat oleh Denis-Adrien Debouvrie.

Patung Jeanneke Pis tidak seramai Manneken Pis, karena mungkin lokasinya yang agak tersembunyi dan kurang populer bila dibandingkan dengan Manneken Pis.

Pada saat kami datang pun, gang tersebut tertutup oleh sebuah mobil yang tengah melakukan bongkar muat ke sebuah restoran di gang tersebut.

Het Zinneke

di patung Het Zinneke
di patung Het Zinneke

Tahun 1998, pematung Tom Frantzen membuat patung perunggu versi anjing yang sedang kencing.

Patung ini terletak agak jauh dari kedua patung Manneken Pis dan Jeanneke Pis yang terhitung masih satu area.

Het Zinneke terletak di perempatan Rue des Chartreux/Kartuizersstraat dan Rue du Vieux-Marché-aux-Grains/Oude Graanmarkt.

Sepertinya malah tidak ada turis yang datang ke tempat ini selain kami.

Saat kami berfoto-foto di tempat ini, warga yang lewat terlihat senyum-senyum melihat tingkah saya berpose di samping patung.

Patung seukuran anjing sebenarnya ini pernah hancur ditabrak mobil pada Agustus 2015 lalu diperbaiki kembali oleh si pematung.

Toilet Umum

toilet terbuka di Brussel
toilet terbuka di Brussel

Sewaktu kami mencari patung Het Zinneke, kami melewati sebuah toilet umum yang cukup menarik.

Toilet ini hanya terdiri dari urinoir yan ditutup oleh bilah di samping kiri dan kanan.

Tidak ada penjaga atau kotak untuk memasukkan uang seperti yang kerap ditemukan andai kata toilet macam ini ada di Indonesia.

Saya yang penasaran sempat masuk untuk melihat, dan toilet tersebut terhitung bersih, walau tetap tercium bau pesing.

Entah bagaimana pemeliharaan toilet umum ini, namun saya salut dengan pemerintah kota Brussel.

Melihat toilet umum semacam ini makin mengukuhkan citra saya tentang Brussel, bahwa kencing adalah hal yang cukup istimewa di Brussel.

Artikel ini dipublikasikan pada 24 Februari 2020, sekitar 6 bulan yang lalu. Informasi yang dimuat di artikel ini mungkin sudah tidak akurat.

Ada 10 tanggapan
morishige 24 Februari 2020 07:34 WIB

Kaget juga mendapati di Eropa ada yang ngemis pake amplop kayak gitu. Orang dewasa pula. Di tanah air sini aja paling yang ngemis kayak gitu anak kecil.

Bah! Keknya kencing bener-bener jadi trademark-nya Brussel. Nggak ada gitu, Kang, yang nyediain Tour de Pis? Hahaha

Muhammad Zamroni 24 Februari 2020 23:39 WIB

waktu itu liat ada rombongan tur yang sedang menjelaskan soal Manneken Pis, aku cuma curi dengar, makanya tau sedikit sejarahnya 😆

Greatnesia 27 Februari 2020 10:53 WIB

Orang yang ngemis itu beli tiket kereta juga tidak ya. Kasihan juga kalau tidak dapat sepeserpun. Berarti kan lebih besar pengeluarannya dari pada yang didapat yak.

Muhammad Zamroni 27 Februari 2020 14:45 WIB

sepertinya tidak, karena tidak ada pemeriksaan tiket. di Eropa hampir semua sistem mengandalkan kejujuran. kalo ketahuan melanggar, hukumannya cukup berat.

Anggie 28 Februari 2020 13:31 WIB

Ada yang bilang Jeanneke Pis ini dibuat atas tekanan kaum feminisme yang menginginkan adanya kesetaraan gender di tahun 80an.

Muhammad Zamroni 29 Februari 2020 17:45 WIB

wah baru tahu. nice info!

Jauhari 29 Februari 2020 21:22 WIB

Itu Brussel itu yang terkenal Coklat2 itu ya? ketoe dulu pernah mampir kesana…

Muhammad Zamroni 29 Februari 2020 23:47 WIB

benar. Brussel terkenal akan coklat dan wafelnya, kang.

Wisata Komik di Brussel, Belgia — matriphe! personal blog 9 Maret 2020 02:44 WIB

[…] Kemudian kami menemukan mural Tintin di Rue de l’Étuve saat hendak menuju ke Mannekin Piss. […]

Perbatasan Jerman dan Uni Eropa Dibuka Kembali Setelah Pandemi — matriphe! personal blog 16 Juni 2020 03:10 WIB

[…] kami sempat berkunjung ke Lisbon, Brussels, dan Amsterdam awal tahun ini dan sempat deg-degan saat itu mengingat saat itu awal-awal penyebaran […]

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.