Berlin Dilanda Panas Ekstrim

·
4 menit
· 733 kata · 0 dilihat · komentar ·

Mengalami gelombang panas ekstrim 40°C di Berlin akibat heat dome yang terasa lebih menyiksa karena udara kering dan minim AC, hingga polisi menyemprot air ke warga dan kipas angin habis terjual, diikuti badai petir malam hari yang sama.

🤖 dirangkum oleh AI dengan model Nemotron 3 Ultra Free, menghabiskan total token: 2.340 dalam waktu 15 detik

Muhammad Zamroni

Muhammad Zamroni

Berlin, DE

Setelah di Januari 2026 lalu, beberapa negara Eropa termasuk Jerman dan terutama Berlin, dihajar gelombang musim dingin, kali ini gelombang panas ekstrim yang menghantam.

temperatur pada aplikasi cuaca pada hari Sabtu, 27 Juni 2026
temperatur pada aplikasi cuaca pada hari Sabtu, 27 Juni 2026

Temperatur udara mencapai suhu 40°C yang jatuh pada Hari Sabtu, 27 Juni 2026. Jika gelombang dingin ekstrim kemarin disebabkan oleh Badai Elie, gelombang panas tahun ini terjadi karena kubah panas (heat dome) yang terjadi ketika panas dari permukaan bumi dihembuskan kembalik ke bawah oleh tekanan udara hangat di atas.

Panas menyengat mengakibatkan kandungan air di udara ikut menguap, membuat kelembapan udara menurn, udara makin kering, memperparah karena kandungan udara bisa membantu mendinginkan temperatur.

Eropa yang pada umumnya udaranya kering, membuat efek panasnya makin menggila.

Saya ingat di tahun lalu pun, saya mengalami gelombang panas seperti ini, tapi rasanya tahun ini terasa lebih jauh lebih panas, tidak hanya terik, tapi terasa terpanggang.

Aplikasi prakiraan cuaca dan berita sudah jauh-jauh hari memperingatkan tentang fenomena ini, namun tetap saja, saya dan warga kewalahan.

Kolom peringatan khusus pun muncul, yang bersumber dari badan cuaca Deutscher Wetterdienst, soal peringatan merah untuk temperatur tinggi plus badai petir yang akan terjadi pada hari Sabtu 27 Juni 2026.

Cuaca di musim panas tahun ini memang cukup aneh, karena di pekan-pekan sebelumnya, cuaca masih berada di suhu 20°C hingga 30°C, tiba-tiba bisa mencapai panas tinggi, lalu turun lagi ke sejuk.

Dibandingkan panas di Indonesia, panas di Eropa cenderung lebih menyiksa.

Di Indonesia, udara lembap masih membantu mendinginkan temperatur udara, karena partikel air memerangkap panas, dan mengubah air menjadi gas alias menguap.

Karena kelembapan yang tinggi ini pula, badan menjadi lebih gampang berkeringat dan membuat temperatur badan lebih dingin.

Sementara di Eropa, udara kering membuat panas tidak ada yang menangkap, plus badan menjadi sulit berkeringat, yang mengakibatkan badan terasa sangat panas.

Panas matahari pun terasa langsung menyengat ke kulit, menambah panas makin menyiksa.

Apalagi di Eropa, terutama Jerman, penggunaan AC sangat lah jarang.

Alasan utamanya adalah faktor lingkungan, di mana penggunaan AC juga berkontribusi pada pemanasan lingkungan, karena AC menarik panas dari dalam dan membuangnya ke luar.

Belum lagi soal pemasangan AC harus sesuai standar dan aturan gedung, karena rumah-rumah di Jerman dirancang untuk menahan panas di dalam saat musim dingin, sehingga memasang AC akan mempengaruhi hal ini.

Juga soal listrik, karena mengoperasikan AC membutuhkan listrik yang besar, dan harga listrik yang mahal, membuat orang cukup berpikir untuk memasang AC.

Memasang AC di rumah juga dianggap tidak ekonomis karena panas di Jerman hanya berlangsung selama 3 bulan saja, itu pun hanya sekitar 10 hari rata-rata yang panasnya luar biasa.

Kipas angin menjadi satu-satunya alat untuk memerangi panas di rumah-rumah, yang mana pada pekan menjelang panas tertinggi ini, kipas angin laku keras dan stok di toko-toko elektronik kosong!

Tanda bertulisan bahwa stok kipas angin kosong pun terpampang di depan toko, untuk mencegah calon pembeli kecele karena benda yang dicari tidak ada.

Di toko online pun, kipas angin ini juga baru bisa dikirim sekitar sepekan atau dua pekan dari tanggal pemesanan, karena lagi-lagi, stok kipas anginnya kosong.

rak penjualan kipas angin yang kosong di toko Saturn, pada Jumat 26 Juni 2026
rak penjualan kipas angin yang kosong di toko Saturn, pada Jumat 26 Juni 2026

Pada hari Sabtu, 27 Juni 2026, kepolisian Berlin berinisiatif dengan mengerahkan mobil taktis yang biasa digunakan untuk menghalau demonstrasi, menyemprotkan air ke kerumunan warga, untuk membantu mendinginkan suasana.

Aksi ini pun kemudian ramai dan viral di sosial media dan dikutip oleh beberapa media-media utama.

Meski aksi heroik polisi Berlin ini disambut baik oleh warga, kritik tetap muncul karena pemerintah Jerman tidak dapat merespon kondisi ini dengan baik.

Salah satu kritik yang dilontarkan adalah tentang anggaran pengadaan kendaraan taktis tersebut, yang menurut si pengkritik, akan lebih baik jika anggaran itu digunakan untuk memasang AC terutama di rumah sakit-rumah sakit dan area yang rentan.

Transportasi publik pun sempat terganggung, karena bus, tram, dan kereta S-bahn tidak dilengkapi AC atau jika ada pun, tidak akan kuat menahan panas.

Deutsche Bahn juga menyarankan untuk menunda perjalanan, dan menjanjikan pengembalian dana secara utuh jika calon penumpang hendak membatalkan tiket karena alasan ini.

Yang membuat saya tidak habis pikir, Sabtu malam, setehal siangnya dihajar panas yang ganas, malamnya Berlin dilanda badai petir.

Benar-benar cuaca yang aneh!

Semoga ini menjadi yang terakhir dan ke depan tidak lagi terjadi gelombang panas seperti ini.

Saya sendiri segera mencari tambahan kipas angin, dan akan mempertimbangkan membeli AC portabel jika kejadian seperti ini akan berulang.

Artikel Terkait

Komentar

0

Tinggalkan Komentar