Hari ini, salju turun lagi, di mana saya pernah bercerita tentang salju di awal tahun ini.

Bulan Januari hingga awal Februari 2026 lalu, menjadi periode musim dingin yang bakal lama diingat oleh warga Berlin.
Terakhir kali saya mengalami badai salju besar di Berlin adalah pada tahun 2021 lalu.
Bukan sekadar musim dingin biasa, Berlin dilanda gelombang cuaca super dingin ekstrim, berupa hantaman salju dan es terdingin dalam kurun waktu 16 tahun terakhir.
Cuaca ekstrim ini disebabkan oleh Badai Ellie yang terbentuk di atas Samudera Atlantik bagian utara yang kemudian bergerak ke arah Eropa.
Menurut Kantor Layanan Cuaca Jerman (DWD), suhu terendah rata-rata mencapai -1,9°C, bahkan sempat menyentuh titik rendah -14°C.
Badai salju dan hujan es yang datang berulang kali membuat jalan, trotoar, dan jalur sepeda berubah menjadi area ice-skating, licin, tidak aman, dan membuat banyak warga jatuh terpeleset.
Rumah sakit dan layanan darurat pun kewalahan karena kebanjiran pasien yang jatuh di jalan berlapis es (glatteis) atau karena kecelakaan mobil yang terjadi akibat licinnya jalanan.
Jumlah ambulans yang dikerahkan di Berlin untuk menangani warga yang celaka mencapai 150 mobil, yang merupakan jumlah terbanyak dari yang biasanya.
Angkutan umum pun ikut terdampak, terutama tram yang tidak bisa jalan karena kabel-kabel penghantar arus listrik tertutup es setebal hingga 1 cm.
BVG, operator transportasi umum Berlin, juga menghentikan beberapa layanan U-bahn sementara karena menilai rel yang dilalui kereta dianggap berbahaya.
Saking ekstrimnya, bahkan Laut Baltik pun ikut membeku dengan ketebalan hingga 65 cm. Foto-foto dan video Laut Baltik, terutama di perbatasan Jerman-Polandia, yang membeku, banyak beredar di Instagram saya.
Sayangnya, danau-danau dan sungai yang membeku ini membuat hewan-hewan air seperti bebek dan angsa menderita.
Beberapa angsa terlihat banyak yang terjebak air yang membeku, paruhnya lengket karena es, dan akhirnya banyak yang mati.
Di Instagram sempat terekam juga momen heroik yang viral, di mana dua orang pemuda yang mempertaruhkan keselamatan mereka demi menyelamatkan angsa yang terjebak es pada suhu -8°C.
Kedua pemuda ini nekat karena menurut mereka, layanan darurat dan bantuan satwa tidak merespon laporan mereka, karena alasan keselamatan petugas juga.
Larangan Garam Salju

Namun ada yang unik dari penanganan salju yang cukup ekstrim ini.
Di Jerman, ada larangan dan pembatasan penggunaan garam (Streusalz) sebagai bahan pencair salju, terutama untuk trotoar dan pemukiman.
Alasan utama pelarangan ini adalah lingkungan, di mana garam pencair ini mengandung zat-zat berbahaya yang bila meresap ke tanah dapat membahayakan vegetasi, mengganggu air tanah, dan membahayakan hewan jika garam ini terinjak.
Sebagai gantinya, biasanya area yang dilalui orang akan dibersihkan dengan mesin penyapu atau menebarkan kerikil dan pasir untuk menambah daya cengkram.
Di beberapa daerah, terutama di area pemukiman yang sepi, warga diwajibkan untuk membersihkan salju tersebut dengan menyerok area di sekitar rumah.
Penyebaran kerikil-kerikil di situasi kali ini dianggap kurang efektif, karena kerikil bisa terendam salju yang terus bertumpuk, dan jadinya tidak berfungsi.
Saya kemudian terpikir untuk membeli alat tambahan berupa sol berpaku minimal supaya tidak licin.

Rupanya di mana-mana, bahkan di toko online pun, barang ini habis!
Sepertinya semua orang berpikiran hal yang sama.
Saya akhirnya tetap membeli 2 pasang, satu untuk saya dan satu untuk istri, lewat Amazon, meski pengirimannya lama karena harus dikirim dari Tiongkok.
Tapi untungnya, saat barang tersebut tiba, Berlin masih turun salju, dan saya bisa mencoba.
Menurut saya, alat tambahan yang berupa karet dan bisa dipasang-lepas ini cukup efektif menahan licin.
Sayangnya, baru dipakai beberapa kali, paku-pakunya beberapa sudah copot dan hilang.
Berlin sempat mencabut sementara larangan penggunaan garam salju tersebut, namun organisasi pelestari lingkungan, NABU Berlin, melayangkan gugatan hukum terhadap keputusan pemerintah Berlin tersebut.
Gugatan NABU Berlin dikabulkan oleh pengadilan administrasi Berlin, dan larangan penggunaan garam kembali diterapkan.
Warga tentu saja banyak yang heran, karena hal ini dianggap konyol. Banyak yang menggerutu bahwa di saat ini, keselamatan warga sebaiknya lebih diutamakan.
Namun begitulah Jerman, aturan tetap aturan dan sebisa mungkin harus ditegakkan.
Saya sempat bertanya-tanya, apa yang terjadi dengan kerikil-kerikil ini setelah salju mencair.
Rupanya, kerikil-kerikil tersebut nantinya akan disapu dan dibersihkan oleh petugas layanan kebersihan (BSR), yang kemudian kerikil tersebut akan dibersihkan dan didaurulang, atau dibuang ke tempat semestinya.
Beberapa kerikil yang terinjak juga akan hancur dan menyatu dengan alam, jadi menurut saya, bagus juga ide penggunaan kerikil ini.
Hal-Hal Lain
Banyak sekali sebenarnya yang terjadi pada akhir musim dingin tahun ini, namun tidak cukup jika saya tuliskan semua.
Misalnya bandara-bandara yang harus tutup dan tidak beroperasi akibat salju parah dan dianggap berbahaya.
Kemudian aksi mogok masal para pekerja transportasi umum yang menuntut kelayakan tempat kerja karena merasa pekerjaan mereka tambah berat di musim salju ini.
Orang-orang banyak yang bermain ice-skating di atas danau dan sungai yang membeku, yang mana polisi sampai turun tangan memperingatkan warga karena dianggap berbahaya.
Jalanan juga menjadi becek, licin, dan kotor karena salju cair bercampur tanah membuat jalanan makin berbahaya.
Kira-kira unggahan Instagram berikut ini bisa merangkum banyak hal, meski tidak semua.
jadi belum ada teknologi yg lebih mudah untuk meluruhkan salju ya?
menariq