Melihat Taman Dunia di Gärten der Welt, Berlin, Jerman

27 minutes 45 1

Berlin dan Brandenburg memiliki banyak taman, mulai dari yang kecil di area pemukiman hingga taman besar Große Tiergarten yang sering digunakan sebagai tempat piknik.

Stasiun Berlin-Marzahn

Selain gratis, ada juga taman yang perlu membeli tiket masuk, seperti saat saya mengunjungi Volkspark Potsdam.

Sabtu, 8 Juni 2019, saya dan istri jalan-jalan menuju ke timur Berlin, menuju area Marzahn, mengunjungi Gärten der Welt (Gardens of the World).

Untuk menuju ke tempat ini, dari rumah, kami naik S-bahn S7 tujuan Ahrensfelde dan turun di Stasiun Berlin-Marzahn, lalu disambung bus bernomor 195.

Kami sempat salah naik S5 karena menurut petunjuk Google, untuk menuju ke Ahrensfelde, kami disarankan naik S5.

Rupanya S5 yang kami tumpangi menuju ke Strausberg Nord, tidak lewat Stasiun Berlin-Marzahn.

Terminal Bus Berlin-Marzahn

Begitu menyadari kami salah naik jalur S-bahn, kami turun di Stasiun Biesdorf, lalu kembali ke Stasiun Friedrichsfelde Ost dan ganti kereta ke S7.

Dari Stasiun Berlin-Marzahn, kami jalan kaki menuju ke terminal bus yang terintegrasi dengan stasiun S-bahn, yang mana terminal bus ini berada di area mal Eastgate Berlin.

Saya jadi teringat Terminal Blok M atau Terminal PGC Cililitan saat berada di sini, di mana terminal bus menjadi satu dengan pusat perbelanjaan.

Kami turun di halte Blumberger Damm/Eisenacherstraße, yang mana belakangan kami baru ketahui kami bisa turun di halte yang lebih dekat dengan pintu masuk di Eisenacherstraße/Gärten der Welt.

Gärten der Welt

pintu masuk Gärten der Welt

Taman ini dulunya bernama Berliner Gartenschau, taman besar kebanggaan Berlin Timur yang dibuka pada 9 Mei 1987 untuk memperingati ulang tahun kota yang ke-750.

Pada tahun 1991, taman ini berubah nama menjadi Erholungspark Marzahn, dan pada Oktober 2000, berubah nama menjadi Gäten der Welt dengan dibukanya Chinese Garden sebagai bagian dari taman.

Pembukaan Chinese Garden yang bernama lengkap Chinese Garden of  the Recovered Moon ini sekaligus menjadi lambang penyatuan kembali Berlin, di mana bulan dalam filosofi Cina bermakna kesatuan dan harmoni.

Taman seluas 40 hektar ini selain berisi flora dan fauna, juga menjadi lokasi berbagai acara, festival, dan mencoba beberapa kuliner khas negara tertentu.

tiket masuk Gärten der Welt

Begitu sampai, kami menuju ke mesin penjual tiket.

Kami membeli tiket masuk seharga 7€ per orang dan karena kesalahpahaman, kami salah beli tiket yang belakangan kami ketahui rupanya tiket itu untuk penderita disabilitas seharga 5,50€.

Kami awalnya ingin sekaligus membeli tiket untuk naik ke kereta gantung, namun karena bingung, kami salah membeli tiket.

Karena kesalahpahaman ini, kami terpaksa merogoh kocek sebesar 12,50€ per orang untuk masuk.

Sebenarnya ada loket untuk membeli tiket, namun karena kami ingin mencoba membeli tiket melalui mesin, rupanya malah salah beli.

Petugas loket yang mengamati tingkah laku kami sempat mendatangi dan mengomel dalam Bahasa Jerman, sembari memberi tahu bagaimana cara menggunakan tiket untuk masuk dengan memindai kode QR yang tercetak di tiket.

Lain kali sebaiknya membeli tiket melalui loket jika tidak ingin bingung atau salah beli.

Harga tiketnya berbeda untuk musim dingin dan musim panas. Tentu saja, harga tiket di musim dingin lebih murah karena di musim dingin hampir seluruh tanaman akan meranggas.

Seilbahn (Kereta Gantung)

stasiun Sailbahn Gärten der Welt

Begitu masuk, kami langsung mencari lokasi stasiun Seilbahn (kereta gantung), karena ini salah satu hal yang ingin kami naiki di sini.

Kami masih mengira tiket untuk penyandang disabilitas seharga 5,50€ itu adalah tiket untuk naik kereta gantung.

Dengan mengikuti arah kabel yang terlihat, kami menuju ke lokasi stasiun kereta gantung, yang rupanya berada di bagian belakang pintu masuk, di Blumberger Damm.

Namun anehnya, kami tidak melihat satu pun gondola terlihat lalu lalang, di mana harusnya ada 62 gondola beroperasi menyusuri kabel berjarak 1,58 KM ke Kienberg Park.

Saat kami sampai di stasiun, rupanya karena hari itu angin bertiup cukup kencang, dan dianggap terlalu berbahaya, kereta gantung tidak beroperasi.

tiang kereta gantung ke Kienberg Park

Kami tentu saja kecewa, namun mengingat hari itu angin bertiup memang kencang, membuat kami bersyukur bahwa pengelola mengutamakan keselamatan.

Jika kami membeli tiket melalui loket, kami akan diberitahu bahwa kereta gantung tidak beroperasi, sehingga kami tidak terlalu kecewa dan merasa sudah membeli tiket.

Kereta gantung ini dibangun untuk acara pameran hortikultura internasional (Internationale Gartenaustellung) IGA Berlin 2017, yang dibangun dengan kontrak dari pengusaha Italia, Leitner AG.

Ada tiga stasiun pemberhentian, pertama di Blumberger Damm (Gärten der Welt), lalu di puncak bukit Kienberg, dan di Kienberg Park.

Meski gagal menikmati taman dari kereta gantung, kami tetap senang dan kemudian memilih mengelilingi taman.

Makan Siang di Taman

penangkaran kambing di Gärten der Welt

Karena hari jam sudah menunjukkan pukul 13:30, kami memutuskan untuk membuka bekal makan siang yang kami bawa.

Kami mencari lokasi yang nyaman untuk membuka bekal dan makan siang, karena angin yang bertiup cukup kencang hari itu selain dingin juga menyulitkan kami.

Akhirnya kami memutuskan untuk duduk di kaki bukit Kienberg, di dekat pohon sakura yang ditanam oleh Masahiko Asada, sebagai bagian dari pohon sakura sumbangan warga Jepang.

Kami duduk di kursi taman yang berada di pinggir jalur pendakian ke puncak bukit Kienberg Park.

Sembari makan nasi dengan lauk bakso bakar bikinan istri, kami menikmati pemandangan sapi yang ditangkar di taman ini.

Selain sapi, saya juga melihat penangkaran kambing yang dipagari kawat bertegangan listrik.

Chinesischer Garten

bangunan Pemandangan ke Bulan di atas danau

Setelah kenyang, kami menuju ke Chinesischer Garten, yang menjadi ikon dan cikal bakal taman ini.

Area seluas 2,7 hektar ini dikerjakan oleh artis dari Beijing dan materialnya didatangkan langsung dari Cina dengan menggunakan 100 peti kemas.

Taman ini terdiri dari beberapa bagian, yaitu danau “Cermin Surga” seluas 4.500 meter persegi di tengah, Steinboot (bangunan di atas danau) bernama Pemandangan ke Bulan, kedai teh Berghaus zum Osmanthussaft, dan toko suvenir.

Di tengah taman tersebar bunga teratai dan lotus, lengkap dengan ikan koi gendut-gendut dan besar-besar, serta bebek mandarin (mandarin duck).

Sebuah hiasan pagoda mini berdiri di tengah salah satu sisi taman di samping jembatan batu yang memotong danau menuju ke kedai teh.

Di pinggir danau terdapat ditanami berbagai pohon dan tanaman yang memiliki makna filosofi dalam kebudayaan Cina.

ikan koi di tengah danau Cermin Surga

Bunga krisan yang berbunga saat tanaman lain layu melambangkan umur panjang, bunga magnolia yang melambangkan kecantikan perempuan, dan pohon pinus yang kokoh melambangkan kekuatan laki-laki, dan pohon bambu yang bengkok namun tidak pecah melambangkan adaptasi terhadap lingkungan.

Air di danau terlihat sangat jernih, bahkan saya bisa melihat hingga ke dasar. Ikan-ikan koi yang melambangkan kemakmuran dan kekayaan tampak berenang-renang tenang.

Kami berjalan mengelilingi danau, melewati kedai teh yang penuh. Di kedai teh ini tersedia setidaknya 30 jenis teh dan pengunjung bisa melihat secara langsung seni meracik teh Cina.

Beberapa batu terlihat dipajang di beberapa sudut taman. Batu yang disebut dengan batu Taihu ini terpahat nama-nama tempat asal batu ini didatangkan, yaitu dari Danau Taihu di Cina timur.

berpose ala pendekar kungfu di Chinesischer Garten

Sekelompok orang dengan berbaju cheongsam tengah berlatih di area taman sambil memutar musik Cina membuat suasana di taman ini benar-benar seperti di Cina.

Tak heran jika taman ini menjadi idola dan tujuan utama pengunjung saat mendatangi taman ini.

Di beberapa sudut tampak menarik untuk menjadi latar berfoto.

Saya pun tak malu-malu berfoto dengan pose ala-ala pendekar kungfu di beberapa tempat di sini.

Setelah puas menikmati suasana Cina, kami bergerak menuju ke taman lain.

Di tengah perjalanan, kami melihat patung Konfuzius dan patung singa yang biasa ada di depan bangunan khas Cina.

Taman ini dirancang oleh Jin Boling dari Beijing Institute of Landscape and Traditional Architecture Design and Research, dan didanai oleh pemerintah Berlin dan European Regional Development Fund.

Christlicher Garten

rangka emas bertuliskan ayat di Christlicher Garten

Saat menuju ke tujuan berikutnya, kami melewati Christlicher Garten, yang secara harfiah berarti Taman Kristen.

“Ruang Bahasa dan Kata” menjadi tema taman ini, yang memang didominasi oleh kerangka berwarna emas yang terdiri dari 129 huruf.

Taman yang dibuka pada April 2011 ini melambangkan harmoni antara alam dan manusia, yang bisa dibaca dari 60 teks yang dikutip dari kitab Perjanjian Baru dan Lama dan filosof Eropa.

Ayat-ayat berbahasa Jerman tertulis dalam rangka-rangka persegi bersisi 4 meter berwarna emas berbahan khusus mengitari taman dengan air mengalir di tengah.

Jika terkena cahaya matahari, bayangan rangka-rangka ini akan membentuk paragraf yang indah.

Latar belakang hubungan harmonis antara alam dan manusia seperti yang diajarkan dalam agama Kristen menjadi inspirasi taman ini.

Air yang merupakan elemen penting dalam agama Kristen dan menjadi simbol kehidupan dan penyucian, mengalir di tengah taman.

Taman berbentuk persegi yang luasnya sekitar 900 meter persegi ini dirancang oleh Landschaftsarchitekten, Berlin, dengan konsultan agama Dr. Thomas Brose dan Jürgen Israel, dan dibiayai oleh pemerintah Berlin dan Allianz Environmental Foundation.

Märchenwald (Hutan Dongeng)

patung kisah Cinderella di Märchenwald

Kami mampir sebentar ke  Märchenwald (Hutan Dongeng) yang lokasinya tak jauh dari Karl-Foester-Staudengarten.

Di sini terdapat karya seni instalasi berupa patung-patung dari dongeng Grimm.

Patung-patung ini dibuat oleh seniman patung Berlin, Gorch Wenske, yang awalnya digunakan di Berlin Garden Show pada 1987 dan dipasang kembali di taman ini untuk IGA Berlin 2017 oleh artis Anna Rispoli berkebangsaan Italia.

Anna Rispoli bertanya kepada warga di sekitar Marzahn-Hellesdorf tentang kisah-kisah apa yang disukai, dan menceritakan kembali dalam bentuk kolase suara yang diberi nama “Tidak Semua Kisah Diceritakan…”.

Di hutan ini, saya melihat beberapa patung dari beberapa kisah yang terkenal seperti Putri Salju dan 7 Kurcaci, Pangeran Kodok, Cinderella, dan Kucing dalam Sepatu Boot.

Karl-Foester-Staudengarten

Karl-Foerster-Staudengarten

Karl Foerster (1874-1970) adalah tukang kebun, praktisi tanaman, dan filsuf taman, sangat mencintai pekerjaannya.

Berbagai tulisan dan pemikirannya tentang taman, terutama budidaya semak-semak liar, telah mempengaruhi budaya taman Jerman dan internasional.

Karena alasan ini, Gärten der Welt mendedikasikan kepadanya taman khusus yang dibuka pada Maret 2008.

Fitur utama taman ini adalah berbagai macam tanaman semak, yang menjadi keahlian Karl Foster, yang bisa tumbuh subur bahkan di luar musimnya.

Tak heran jika taman ini sering disebut dengan Taman Empat Musim.

Dirancang oleh sejarawan taman Johannes Schwarzkopf dan desainer Christian Meyer, dengan konsep desain yang diambil dari buku karya Karl Foester, Einzug der Gräser und Farne in die Gärten (Koleksi Semak dan Pakis di Kebun) yang diterbitkan pada tahun 1957.

Yang menarik, di taman ini terdapat 88 pergola berwarna alkimia, warna istimewa yang diambil dari warna sampul buku karya Karl Foester.

Beristirahat di Café am Japanischer Garten

es krim kopi dan es krim jeruk

Waktu menunjukkan hampir pukul 15:00 saat kami akan menuju ke Japanischer Garten.

Rasa haus dan hawa panas musim panas membuat kami ingin beristirahat sejenak sambil minum minuman dingin.

Kami mampir di Café am Japanischer Garten yang hanya berada selemparan batu dari Japanischer Garten.

Es krim kopi dan es krim mangga jeruk kami pesan untuk menghilangkan haus dan beristirahat sejenak di dalam ruangan sambil mencari hawa dingin AC.

Terdapat pula tempat duduk di luar untuk menikmati suasana sambil bermandi matahari.

Harga minuman di sini memang agak mahal, sekitar 5€ per gelas, namun terbayar oleh kesegarannya.

Japanischer Garten

pintu masuk Japanischer Garten

Menurut kepercayaan Jepang, sebongkah batu dapat memiliki jiwa, di mana selama jutaan tahun, batu terbentuk membawa cerita.

Di taman ini, setidaknya ada 300 batu yang jika suasana sangat tenang, pengunjung bisa mendengarkan salah satu kisah mereka.

Keheningan memiliki makna khusus bagi orang Jepang, karena ia membuat orang bisa merenung dan melakukan refleksi terhadap egonya sendiri.

Itulah sebabnya taman ini menjadi salah satu taman paling hening di antara taman lain di Gärten der Welt.

Masuk ke taman ini seperti masuk ke pekarangan rumah di Jepang yang penuh dengan filosofi, simbol, dan pertemuan budaya dan sejarah.

Memasuki taman, saya mengikuti jalur yang sudah ditentukan, seakan mengikuti garis waktu yang terdiri dari tiga taman yang mewakili masa lalu, masa kini, dan masa mendatang.

Kami mengikuti jalur mengelilingi taman yang terdapat sungai kecil bertingkat membentuk air terjun.

Di sungai kecil ini terdapat ikan mas berenang-renang melawan arus mencoba melompat ke arah air terjun, yang menurut ajaran Buddhisme Zen, jika ikan mas berhasil melompati air terjun, ia akan menjadi naga.

taman kering (Zen Garden) Japanischer Garten, simbol masa depan

Perumpamaan ikan mas melompati air terjun ini merupakan simbol dari ajaran Buddhisme Zen, bahwa manusia akan mencapai kemuliaan jika berhasil melewati tantangan besar.

Sesaat sebelum keluar, kami masuk ke dalam sebuah bangunan Chaya dengan pintu masuk rendah, di mana pengunjung mau tidak mau harus menunduk untuk masuk.

Simbol seperti ini saya temukan juga di beberapa kebudayaan Jawa, di mana maksudnya adalah agar orang menunduk dan hormat saat memasuki ruangan ini.

Di dalam rupanya sudah ada beberapa orang yang tengah duduk menikmati pemandangan taman kering (Zen garden) yang berupa bebatuan yang disusun sedemikian rupa hingga berbentuk seperti aliran air.

Konsep taman kering menjadi simbol masa depan, di mana masa depan tidak pernah membawa air, karena masa depan tidak pasti dan tidak bisa diisi (oleh air).

Koreanischer Garten

patung penjaga Ksatria Langit dan Ksatria Bumi

Dari Jepang, kami menuju ke Korea, yang lokasi Koreanischer Garten berada persis di samping Japanischer Garten.

Desain Koreanischer Garten dipengaruhi oleh tiga bangunan dari pemikiran yang berbeda, yaitu Buddhisme, ajaran Konfusius, dan kepercayaan perdukunan.

Begitu masuk dari gerbang kayu khas Korea, kami disambut oleh sepasang patung yang melambangkan keseimbangan kekuatan laki-laki dan perempuan.

Suara gemerincing lonceng yang terpasang di dekat pintu gerbang yang tertiup angin menyambut kehadiran kami.

Patung penjaga yang biasanya berada di depan gerbang masuk dan keluar desa ini merupakan patung Ksatria Langit untuk laki-laki dan Ksatria Bumi untuk menggambarkan perempuan.

Taman ini terlihat sangat otentik, dengan fitur unggulan berupa figur kayu abstrak dan tiang-tiang totem, yang merujuk pada kepercayaan perdukunan di Korea.

berpose di halaman rumah ala Korea

Lansekap berbatu, spesies pohon yang ditanam di taman ini, halaman dengan gerbang serta bangunan khas menggambarkan sifat seperti di negara asalnya.

Sebuah bangunan yang berdiri di atas batu Kye Zeong (bangunan di atas air) menjadi obyek utama di tempat ini.

Sayangnya, saat kami datang, bangunan ini tertutup sehingga kami tidak bisa melihat secara langsung tata ruang keluarga khas Korea di dalamnya.

Meski begitu, kami sudah cukup puas bisa berfoto-foto di halamannya yang lengkap dengan miniatur tong-tong untuk mengawetkan kimchi.

Taman yang dibuka pada Maret 2006 ini merupakan hadiah dari Seoul untuk mempererat hubungan Korea Selatan dan Jerman, setelah kunjungan walikota Seoul ke Berlin.

Pohon pinus, bambu, ek, dan mapple Jepang yang banyak ditemukan di Korea ditanam di taman ini.

Balinesicher Garten

rumah kaca Balinesischer Garten (Tropenhalle)

Taman terakhir yang kami kunjungi adalah Balinesicher Garten yang termasuk istimewa, karena selain bertema Bali, taman ini berada di dalam rumah kaca untuk membentuk iklim tropis seperti di Indonesia.

Rumah kaca yang bernama Tropenhalle yang berada di dekat pintu masuk kami ini merupakan bangunan yang dipersiapkan khusus saat IGA Berlin 2017.

Konstruksinya dibuat sedemikian rupa sehingga menjadi rumah kaca yang paling efisien dalam penggunaan energi.

Begitu kami masuk, hawa lembap dan hangat langsung terasa, mengingatkan kami pada hawa di Indonesia.

Meski rumah kaca ini tidak menggunakan pemanas, air bersuhu 45°C bisa mengalir dan memberi efek lembap dan menjaga suhu 24°C sepanjang tahun.

Suasana taman dibuat sangat mirip dengan Bali, lengkap dengan bangunan bersarung kotak-kotak hitam putih, bau dupa dan bunga kamboja, bahkan bangunan pura lengkap berada di dalamnya.

Pura Tri Hita Karana di Balinesischer Garten

Pura Tri Hita Karana, yang upacara melaspasnya dilakukan oleh pemuka agama Hindu dari Bali pada IGA Berlin 2017, merupakan salah satu pura aktif yang digunakan untuk beribadah umat Hindu Bali di Berlin.

Tri Hita Karana sendiri bermakna Taman Tiga Harmoni, di mana dalam ajaran Hindu, ada tiga unsur yang hidup berdampingan dengan harmoni, yaitu dewa, manusia, dan iblis.

Taman ini mengambil konsep perumahan yang sering ditemukan di daerah Bali selatan seluas 500 meter persegi, di mana dindingnya terbuat dari batu bata merah, yang dirancang oleh arsitek Indonesia, I Putu Edy Semara.

Sebagian besar elemen yang digunakan untuk membangun perumahan di dalam taman ini dibuat di Bali.

Memasuki bangunan, kami harus melewati gerbang bernama angkul-angkul, yang melambangkan tiga rangkaian tubuh, yaitu kaki (alas), badan (pintu) dan kepala (atap dengan mahkota).

Sanggah untuk meletakkan sesajen

Sebuah paviliun bernama Bale Dangin merupakan ruang tertutup di mana sesajen disiapkan, ditenun, dijahit, dan ditempatkan.

Paviliun yang disebut “Bale Dangin” adalah ruang tertutup di mana persembahan disiapkan dan tidur, ditenun, dijahit atau dimainkan. Area beraspal di depan paviliun adalah tempat pertemuan komunitas desa.

Tanaman yang ditanam di sini juga tidak sembarang tanaman, karena yang ditanam adalah tanaman obat dan bunga-bunga suci yang digunakan untuk beribadah.

Pohon pisang dan palem yang ditanam mengingatkan saya akan suasana tropis di Indonesia.

Bunga-bunga yang ditanam di sini juga bunga-bunga khas yang bisa ditemukan di Bali, yaitu bunga kamboja dan anggrek.

Tersesat di Labirin

labirin Gärten der Welt

Sebelum pulang, kami memutuskan menyusuri labirin yang berada di tengah Gärten der Welt.

Labirin ini berasal dari masa Renaissance, di mana pohon yang digunakan untuk labirin yang diambil dari tanaman di taman British Royal Castle Hampton Court, yang dianggap salah satu yang tertua di Eropa dan sebagian besar tidak berubah selama berabad-abad.

Di Gärten der Welt, labirin terdiri dari 1.225 pohon cemara hijau yang dipangkas secara teratur yang ditanam di dalam rangka setinggi 2 meter.

Kami yang awalnya menganggap remeh labirin ini pun ikut bingung dan tersesat bersama puluhan orang yang memasuki area seluas 2.000 meter persegi ini.

Namun setelah dengan sabar menyusuri lorong-lorong, kami akhirnya sampai di pusat labirin, dengan ditandai dengan melewati dua batu granit besar dan sebuah menara pengintai.

Rupanya tidak selesai di situ, kami harus menyusuri kembali jalur yang kami tempuh tadi secara berkebalikan untuk menemukan pintu keluar.

Fasilitas Lain

wahana bermain air untuk anak-anak

Selain taman-taman yang kami kunjungi, masih ada beberapa taman lainnya yang tidak sempat kami datangi karena area yang luas.

Di dalam taman juga banyak tersebar taman bermain (spielplatz) dan wahana air (wasserplatz) untuk anak-anak.

Kantin dengan harga yang wajar juga dapat dengan mudah ditemukan, dengan mengikuti petunjuk yang tersebar atau mengikuti peta.

Toilet dengan akses untuk penyandang disabilitas juga terlihat tersebar.

Saya bahkan mendapat Wi-Fi gratis di area tertentu yang kecepatannya mencapai sekitar 2,3 Mbps untuk unduh dan 8,19 Mbps untuk unggah.

Wi-Fi gratis ini disediakan oleh ISP Hetzner dengan SSID (nama Wi-Fi) _Free_Wifi_Berlin.

Saya sempat mengabadikan kunjungan saya ini dalam format foto dan video di Instagram Story saya.

3 responses
  1. Gravatar of Dirman
    Dirman

    Nah.. maksudnya diajak kesini juga, biar bisa foto ala-ala pendekar kungpuh 🙂

Tinggalkan Balasan

This article has been published on 15 Juni 2019 (2 tahun ago).

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.