Mengungkap Sisi Gelap Berlin di Serial “Dogs of Berlin”

19 minutes 37 5

Sebagai ibukota negara, Berlin bisa dibilang unik dan menarik, karena tidak seperti ibukota negara yang umumnya wah, Berlin justru menjadi kota metropolitan yang kumuh.

menara TV berlin dan menara Rote Rathaus di Berlin

Pada tahun 2003, walikota Berlin saat itu, Klaus Wowereit, menyematkan istilah poor but sexy untuk kota yang mempunyai kisah sejarah panjang ini.

Sempat mengalami blokade udara, terpecah menjadi dua bagian, dan hancur karena perang dunia, membuat kota yang luasnya sedikit lebih luas dari provinsi DKI Jakarta ini membuatnya berbeda dengan kota-kota besar lain di Jerman.

Kesan rapih, presisi, dan teratur ala Jerman yang dulu saya bayangkan langsung buyar, apalagi setelah tinggal di kota ini selama 2 tahun.

Tak perlu membandingkan jauh-jauh, dengan Potsdam, kota tetangga yang berada di wilayah Brandenburg saja, terasa berbeda sekali kerapihan dan keteraturannya.

Namun saya tetap jatuh cinta dengan kota ini, karena denyut nadinya begitu dinamis, di mana semua hal bisa ditemukan dan terjadi di sini.

In Berlin ist alles möglich. Di Berlin semuanya mungkin.

poster Dogs of Berlin (2018) dari Netflix

Kesan dekat, relatable, “Berlin banget”, langsung saya rasakan saat menonton serial Dogs of Berlin (2018) di Netflix.

Saya tidak tahu apakah serial yang dirilis pada 7 Desember 2018 ini tayang di Netflix Indonesia, namun jika tayang, serial ini menarik untuk diikuti, terutama penggemar serial kriminal.

Serial ini adalah serial Jerman kedua yang diproduksi oleh Netflix setelah serial fiksi ilmiah Dark yang meraih sukses.

Saya tidak akan menulis spoiler di tulisan ini, namun berusaha memberi konteks tambahan sebagai warga Berlin yang membuat saya bisa bilang serial ini pada beberapa hal cukup akurat untuk menggambarkan sisi lain Berlin.

Seperti rahasia umum kota-kota besar lain, Berlin juga punya masalah kriminalitas, narkoba, perang antar geng, hingga polisi yang korup.

Walau angka kriminalitas di Jerman bisa dibilang rendah dibandingkan dengan di Indonesia, namun Berlin memiliki angka kriminalitas tertinggi di antara kota-kota lain di Jerman.

Saya seperti merasakan benar aura gelap kota metropolitan ini setelah tinggal di Berlin, meski tidak secara terang-terangan.

Di Jakarta, di mana saya tinggal selama kurang lebih 10 tahun, saya seperti tidak bisa relate dengan cerita-cerita kelam yang seringkali terdengar.

Mungkin saat di Jakarta, saya tidak bersinggungan dengan lingkungan tersebut sehingga saya tidak merasakan aura atau greget-nya.

Kembali ke serial Dogs of Berlin, jalan cerita serial 10 episode pada season pertama ini adalah bagaimana penyelidikan kasus pembunuhan seorang bintang sepak bola tim nasional Jerman keturunan Turki yang membuat polisi terseret ke rumitnya pengungkapan tersangka pembunuhan yang melibatkan jaringan organisasi kriminal dan fasisme di Berlin.

Kisah organisasi kriminal dan fasisme, adalah masalah yang sepertinya hendak disorot oleh Christian Alvart, sang penulis cerita.

Alvart sangat ingin bercerita tentang kota yang ia tinggali sejak 1996 ini, yang menurutnya adalah gabungan dari berbagai kota yang berbeda.

“Berlin adalah karakter utama lain yang ada di serial ini,” ujarnya.

Di IMDB, serial ini mendapat peringkat 7,5 dari 10, dan mendapat rating 16 yang memiliki banyak unsur seksual, kekerasan, kalimat kasar, dan alkohol.

Isu Rasisme dan Fasisme

seorang artis jalanan menggambar bendera berbagai negara untuk menggambarkan keberagaman di Berlin

Sebagai konteks, di Berlin, komunitas Turki memang banyak sekali, sekitar hampir 20% warga asing dari 190 negara yang tinggal di Berlin adalah orang Turki.

Mereka tinggal dan beranak pinak, bahkan beberapa di antara mereka sudah menjadi warga negara Jerman.

Jika diibaratkan, etnis Turki ini semacam etnis Tionghoa di Indonesia.

Seperti di Indonesia, jika sebagian orang mempunyai sentimen negatif terhadap warga etnis Tionghoa, di Jerman sentimen semacam ini menimpa etnis Turki dan keturunan Arab.

Ini merupakan efek dari Jerman yang membuka dan menampung pengungsi dari Turki, Syria, Libanon, yang oleh sebagian orang Jerman dianggap mengambil lahan pekerjaan dan menggerogoti kesejahteraan Jerman.

Sesuai undang-undang Jerman, pengungsi ini berhak mendapat bantuan sosial dari pemerintah Jerman dan berhak mendapat pekerjaan dan penghidupan layak seperti warga Jerman lainnya.

Akibat rasa benci semacam ini, muncul beberapa kelompok ekstrim hingga Neo-NAZI, yang secara hukum dilarang.

spanduk menentang rasisme dan fasisme di Altes Museum, Berlin

Meski secara umum di Jerman, terutama di Berlin, rasialisme dan fasisme sangat ditentang.

Apalagi warga Berlin sangat beragam, sehingga kelompok-kelompok fasisme ini biasanya tersingkir ke wilayah pinggiran.

Namun kelompok-kelompok ini mulai berani muncul lagi, terutama saat demo menentang penerapan protokol kesehatan beberapa waktu lalu, yang secara politis berseberangan dengan pemerintah.

Di serial Dogs of Berlin, salah satu kelompok ini digambarkan bermarkas di Marzahn, salah satu distrik di Berlin timur, yang cukup terkenal akan basis kelompok Neo-NAZI sejak keruntuhan Tembok Berlin di 1989.

Distrik Marzahn sendiri dulunya menjadi salah satu wilayah untuk mengumpulkan warga Yahudi sebelum dikirimkan ke kamp eksekusi di Auschwitz-Birkenau, Polandia, pada era NAZI.

Kami sendiri pernah berkunjung ke Marzahn saat berkunjung ke Garten der Welt, yang untungnya saat itu tidak menemui sentimen rasisme.

Soal rasisme, saya dan istri justru pertama kali mendapat sentimen rasisme saat awal-awal pandemi, di mana kami sempat diteriaki, “corona! corona!” saat melihat muka Asia kami.

Untungnya sentimen tersebut tidak menjurus ke kekerasan fisik, karena ada kabar kerabat rekan sekantor bahkan sempat dipukul hanya karena berbeda etnis.

Dari serial Dogs of Berlin ini pula saya tahu ada sebutan Kanake yang merujuk ke warga keturnan Turki, Arab, dan keturunan Timur Tengah, yang setara dengan sebutan Nigga.

Geng, Klan, dan Jaringan Perjudian

suasana jalan yang penuh resto Asia yang menjadi wilayah salah satu klan Tiongkok

Soal geng dan jaringan perjudian, saya juga beberapa kali mendengar informasi di beberapa area memang dikuasai oleh beberapa kelompok dari etnis tertentu, mirip seperti apa yang digambarkan di serial tersebut.

Sebagai salah satu contoh, di salah satu area perbelanjaan yang banyak terdapat restoran Asia, konon dikuasai oleh salah satu klan Tiongkok yang mengutip uang keamanan.

Menariknya, seluruh restoran yang buka di sepanjang jalan itu, tidak ada yang menerima pembayaran nontunai.

“Kami bisa kena masalah jika kami menerima pembayaran nontunai,” ujar salah satu staf restoran Korea yang pernah kami kunjungi.

Asumsinya, dengan transaksi nontunai, seluruh uang akan masuk langsung ke bank, sementara si restoran bisa berkilah tak ada uang tunai saat dimintai uang keamanan.

Pun, seluruh pengeluaran semacam pajak akan tercatat, sementara kutipan uang keamanan yang dibayar ke kelompok tersebut tentu akan mudah terendus jika dilakukan secara nontunai.

stasiun Berlin-Neukölln

Namun ulah klan Tiongkok ini tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan klan Arab-Libanon yang berkuasa di wilayah Sonnenallee, Neukölln (yang di serial Dogs of Berlin namanya disamarkan menjadi Kaiserwarte).

Area Sonnenallee bahkan mendapat julukan “Jalan Arab” karena banyaknya bar, restoran, dan unit usaha yang dimiliki oleh orang Arab di Berlin.

Distrik Neukölln bersama dengan distrik Kreuzberg memang menjadi salah satu area paling beragam dan dinamis, karena banyaknya pendatang dan pengungsi yang bermukim dan tinggal di sana.

Ulah klan Arab ini cukup mengerikan, bahkan mereka pernah melakukan perampokan pada sebuah turnamen poker pada tahun 2010, merampok toko perhiasan di pusat perbelanjaan KaDeWe pada masa belanja natal di 2014, serta merampok dan meledakkan Bank Sparkasse di Tempelhof pada tahun yang sama.

Anggota klan ini pun juga ditangkap atas tuduhan perampokan koin emas seberat 100 kilogram koleksi Museum Bode pada tahun 2017 yang hingga kini barang buktinya entah ke mana dan diduga telah dilebur.

Saking berkuasanya klan ini, polisi bahkan tidak berani masuk ke area mereka tanpa bantuan satu pasukan, bahkan untuk menangkap kejahatan kecil sekali pun.

Kemungkinan ini lah yang menjadi inspirasi “police no go zone” yang digambarkan pada serial tersebut.

Ulasan tentang ulah dan pengaruh klan Arab ini bisa dibaca di artikel yang ditulis oleh Andreas Kopietz, editor media Berliner Zeitung.

kasino dan tempat perjudian bisa ditemukan dengan mudah di Berlin

Tidak hanya klan dari Arab, jaringan klan dari Eropa Timur yang banyak menguasai Spielbank, tempat taruhan, dan kasino, juga menjadi masalah tersendiri bagi Kepolisian Berlin.

Urusan perjudian, biasanya dikuasai oleh klan dari Yugoslavia yang konon sempat menguasai bisnis keamanan yang kini dikuasai oleh klan Tiongkok.

Perjudian memang diperbolehkan, namun aturannya cukup ketat dan melakukan kecurangan sangat dilarang.

Pertandingan sepak bola menjadi salah satu target taruhan yang umum, apalagi pertandingan sepak bola di Jerman baik tim nasional dan Bundesliga-nya cukup terkenal.

Serial Dogs of Berlin juga sedikit menyinggung bagaimana sebuah pertandingan bisa diatur oleh pihak tertentu untuk menguntungkan salah satu pihak.

Selain masalah klan, geng motor juga ikut menguasai beberapa area di Berlin.

Meski begitu, Kepolisian Berlin terus memerangi sepak terjang organisasi kriminal ini, meski di era pandemi yang begitu menyulitkan.

Saya juga beberapa kali membaca berita tentang penggerebekan yang dilakukan Kepolisian Berlin ke beberapa klub, bar shisha, terutama di wilayah tersebut.

Narkoba

poster acara pameran ganja di Berlin

Di Berlin, narkoba serta ganja bisa dengan mudah didapatkan, bahkan beberapa pengedar terang-terangan menjajakan benda ini.

Saya pernah melihat sendiri pengedar ini dengan terang-terangan menjual benda terlarang ini di depan pintu masuk stasiun kereta U-bahn ke siapa pun yang lewat.

Soal narkoba dan ganja, meski menurut secara umum di Jerman dilarang, namun untuk kepemilikian sejumlah kecil benda tersebut tidak dapat menjerat si pemilik ke ranah hukum.

Berapa jumlah yang boleh dimiliki, aturan ini dikembalikan ke negara bagian, di mana di Berlin, untuk jumlah di bawah 10 gram biasanya tidak akan diproses secara hukum.

Sebagian besar aturan hukum federal tentang narkotika (Betäubungsmittelgesetz) ini menjerat ke transaksi dan kuantitas, yang mana klausal ini bisa dengan mudah diakali oleh kriminal.

Oleh karena itu biasanya polisi memburu ke pengedar besar daripada menangkap para pengedar-pengedar kecil yang berkeliaran di jalanan.

Jangan kaget jika suatu saat sedang berjalan-jalan atau menikmati udara segar di taman, tiba-tiba tercium bau khas “rerumputan” di Berlin.

Kinerja Polisi

mobil polisi berpatroli

Meski di serial tersebut, tokoh Kurt Grimmer yang diperankan oleh aktor Felix Kramer adalah polisi bidang pembunuhan yang digambarkan licik, suka melakukan usaha sampingan, pecandu seks, namun saya tetap melihat bahwa ia tetap polisi yang baik dan berintegritas.

Tokoh Kurt Grimmer digambarkan dulunya seorang Neo-NAZI yang bertobat, membuat integritasnya saat memegang kasus pembunuhan orang Turki dipertanyakan oleh publik.

Sementara karakter bertolakbelakang ditunjukkan oleh tokoh polisi bidang narkotika keturunan Turki, Erol Birkan, yang diperankan oleh aktor Fahri Yardim, merupakan tokoh yang sangat lurus dan taat aturan, namun karena orientasi seksualnya yang gay, ia memiliki masalah dengan ayahnya yang sangat taat agama.

Erol Birkan sangat ingin menangkap gembong klan Arab pengedar narkoba, Hakim Tarik-Amir, akhirnya terlibat permainan licik yang dimainkan oleh Kurt Grimmer.

Membenturkan dua karakter dua polisi ini memang menjadi salah satu hal yang ingin digambarkan oleh serial Dogs of Berlin.

Dari serial ini, saya jadi cukup tahu bagaiman kinerja polisi, dan betapa banyak sekali pekerjaan mereka, terutama yang berpatroli di jalanan.

Di Berlin, suara sirene mobil polisi yang melintas dan meraung-raung sudah menjadi santapan sehari-hari, sehingga saya cukup familiar.

menara Bierpinsel yang menjadi markas polisi pada serial Dogs of Berlin

Beberapa kali saya sering salah mengira apakah sirene polisi yang terdengar berasal dari film atau dari luar.

Apalagi orang Jerman, jika menghadapi sengketa atau punya masalah, mereka suka sekali memanggil polisi, karena memang polisi bisa diandalkan.

Dari memprotes tetangga yang terlalu berisik, melihat orang berkelahi di jalan, hingga urusan melanggar rambu lalu lintas, warga akan memanggil polisi yang akan segera datang dalam waktu kurang dari 5 menit.

Sedikit trivia, markas polisi yang ada di film seri tersebut adalah Bierpinsel, sebuah menara setinggi 47 meter yang dibangun pada tahun 1970-an dengan bentuk arsitektur futuristik.

Gedung yang dulunya restoran ini kini kosong dan menjadi salah satu bangunan yang dijaga dan menjadi simbol dari seni pop Berlin.

Terletak di area Steglitz, menara yang terbuat dari beton ini langsung menonjol di antara gedung-gedung pertokoan dan pusat perbelanjaan di sepanjang Schloßstraße ini.

Musik Hip-Hop dan Rap

sampul album Dogs of Berlin dari artis Sinan-G

Di serial Dogs of Berlin, seorang anak Turki bernama Murad Issam digambarkan begitu gandrung dengan musik hip-hop dan rap.

Meraih sukses menjadi artis hip-hop dan rap sepertinya menjadi impian banyak anak muda Turki di Berlin.

Komunitas Turki di Berlin sepengamatan saya memang gandrung sekali dengan musik ini.

Bahkan mereka seringkali memutar musik ini begitu kencang, di ruang publik, di dalam mobil, bahkan saking kencangnya langsung tahu bahwa jika terdengar musik jedug-jedug, bisa dipastikan ada anak muda Turki di sana.

Banyak artis hip-hop dan rapper Jerman yang merupakan keturunan Turki dan imigran, yang mana sesuai dengan roh musik yang berasal dari Amerika ini, yang identik dengan minoritas dan hidup yang keras, benar-benar dirasakan oleh imigran Turki ini.

Hip-hop Turki mulai meledak dan mendominasi pada tahun 1990-an dan menjadi lagu-lagu andalan klub di distrik Kreuzberg hingga Neukölln.

Yang menarik, Berlin sendiri dikenal sebagai salah satu ibukota musik tekno, namun keberadaan klub-klub hip-hop ini juga seakan mempunyai pasar tersendiri.

Bushido, seorang artis hip-hop Jerman keturunan Tunisia juga diisukan punya keterkaitan dengan klan Arab yang menjadi semacam pelindungnya, di mana sebagian uang keuntungannya disetorkan ke klan tersebut sebagai biayanya.

Artis hip-hop Jerman keturunan Iran, Sinan Farhangmehr alias Sinan-G, bahkan memerankan tokoh Hakim Tarik-Amir pemimpin klan Arab di Serial itu.

Tidak hanya itu, Sinan-G juga merilis lagu tema Dogs of Berlin berbahasa Jerman yang membuat aura film makin kental.

5 responses
  1. Gravatar of Daeng Ipul
    Daeng Ipul

    Kayaknya film ini keren ya, menggambarkan realitas kota Berlin dari sisi yang berbeda.
    Saya juga tidak menyangka kota Berlin seperti yang digambarkan di atas. Selama ini bayanganku tentang Berlin ya seperti gambaran kota-kota Jerman yang teratur dan rapi.

    Menarik untuk menonton film ini. Saya selalu tertarik melihat bagaimana dinamika sebuah kota lengkap dengan beragam kejadian di dalamnya.

  2. Gravatar of Antyo®
    Antyo®

    Penuturan yang menarik!
    Jadi pengin nonton filmnya.

  3. Gravatar of CREAMENO
    CREAMENO

    Wah detail banget gambarannya mas Zam, jadi berasa kenal Berlin lebih dekat. Dan tersadar, ternyata semua kota besar sama saja, penuh ‘masalah’ 🙈 hhhhh. Apalagi pas baca cerita klan-klan di atas, saya jadi ikut deg-degan membayangkan apa saja yang telah mereka lakukan. Huhuhuhu ~

  4. Gravatar of Phebie
    Phebie

    Wah kedengarannya seru. Pengin nonton ah serialnya. Saya paling suka cerita-cerita seperti itu. Banyak informasinya. Terima kasih sharingnya mas.

  5. Gravatar of morishige
    morishige

    Wah, Berlin gelap juga ternyata… 😀

Tinggalkan Balasan

This article has been published on 24 Desember 2020 (9 bulan ago). The information provided here might not be accurate.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.