Join HelloFresh!

Sebuah surat elektronik masuk ke inbox saya. Judulnya cukup singkat, Join HelloFresh!, namun mampu mengaduk-aduk perasaan saya.

Hi Muhammad,

We think you were very convincing as a person throughout all the interviews and have proven your motivation, your technical skills and your experience in the various interviews and tests.

I’m personally very happy to say that after everything we’ve heard and seen, we think you’re a great match for us and would love for you to join our team here in Berlin.

Perut saya langsung mual. Keringat dingin bercucuran. Saya hampir tidak percaya.

Setelah menenangkan diri, saya pun segera membalas surel tersebut dan dalam waktu dua setengah bulan lagi, saya sudah harus berada di belahan bumi lainnya, di Berlin, Jerman!

Saya mencubit lengan sendiri dan sakit rasaya. Ini bukan mimpi. Ini nyata.

Meski rasanya kupu-kupu beterbangan di dalam perut, namun di satu sisi saya bersyukur, bahwa usaha saya akhirnya membuahkan hasil.

Mencari Pekerjaan ke Luar Negeri

Sejak awal tahun 2018 ini, saya memang berniat mencoba peruntungan, merantau dan mengadu nasib ke luar negeri. Menjadi ekspatriat TKI.

Pertimbangannya banyak, selain soal gaji, tantangan yang saya hadapi saat berada di lingkungan multikultur dan multinasional serta penerapan teknologinya membuat saya ingin meningkatkan kemampuan diri.

Saat itu target saya tidak terlalu muluk, Singapura saja dulu, pikir saya kala itu.

Saya pun segera mencari-cari lowongan pekerjaan yang sekiranya cocok.

Saya mencoba mencari pekerjaan di situs Techinasia Jobs dan mulai menyaring lowongan berdasar kompetensi dan tentu lokasinya, Singapura.

Saya yang sudah lama tidak membuat surat lamaran dan CV, segera memperbarui dan menata laman LinkedIn, menyiapkan situs portofolio, belajar lagi tentang cara membuat surat lamaran dan CV yang baik, hingga menerapkan tips saat menghadapi wawancara.

Dari sekian lamaran yang saya kirimkan, ada yang berlanjut ke tahap wawancara, ada yang sampai hingga tahap tes kemampuan teknis, namun banyak juga yang tidak direspon atau bahkan ditolak secara langsung.

Kemudian, tak sengaja saya membaca cuitan Firman Maulana, yang memberi semacam tanda bahwa dia akan pindah kerja. Saat saya konfirmasi, dia hendak pindah kerja ke Zalando, di Berlin, Jerman.

Berbincang dengan Firman membuka wawasan saya untuk mencoba bermimpi lebih jauh. Kenapa tidak sekalian mencoba Eropa?

Saya memang tidak terpikir Eropa, karena dalam benak saya, kemampuan saya masih belum layak bekerja di Eropa.

Namun apa salahnya dicoba, toh ini semacam mengayunkan joran agar mata pancing terlempar lebih jauh saja.

Saya membuka situs Stackoverflow Jobs dan mulai mencari lowongan yang sesuai. Kali ini saya meluaskan area cakupan saya, mengaktifkan area Eropa.

Melamar ke HelloFresh

Saya melihat ada lowongan di HelloFresh, membaca kebutuhannya, rupanya cocok dengan apa yang saya bisa.

HelloFresh adalah perusahaan yang menyediakan layanan pengiriman bahan makanan beserta cara memasaknya ke rumah dengan sistem berlangganan.

Perusahaan yang berdiri sejak 2011 ini beroperasi di 10 negara, yaitu Amerika Serikat, Inggris (UK), Jerman, Belanda, Belgia, Luksemburg, Australia, Austria, Swis, dan Kanada.

Pangsa terbesar HelloFresh adalah Amerika Serikat yang mencapai 60%, dengan kompetitor terbesarnya BlueApron.

Sasaran layanan HelloFresh adalah orang-orang yang ingin mendapatkan makanan segar dan sehat, dengan cara masak yang mudah, waktu masak yang singkat, namun menghasilkan masakan lezat.

Pelanggan akan dikirimi bahan makanan siap olah, tanpa perlu membeli ke supermarket atau pasar, tinggal mengikuti resep yang disertakan, lengkap dengan waktu proses yang singkat.

Proses Rekrutmen HelloFresh

Saya mengajukan lamaran pada 10 Februari 2018.

Tak disangka, pada tanggal 13 Februari 2018 saya mendapat balasan untuk menyediakan waktu wawancara melalui video menggunakan Skype.

Setelah mengatur jadwal, saya menjalani proses wawancara dengan Tiago Costa, Talent Acquisition Manager HelloFresh pada 20 Februari 2018.

Waktunya mengikuti jam kerja di Berlin, di mana di sini lebih dahulu 6 jam dari Berlin. Saya wawancara sekitar jam 21:00 WIB atau 22:00 WIB.

Topik wawancaranya seputar HR (Human Resource) yang intinya HelloFresh ingin mengenal dan mengetahui profil saya.

Saya juga mendapat penjelasan tahap-tahap yang akan saya tempuh selama mengikuti rekrutmen ini.

Ada 4 tahap yang harus dilalui untuk bisa bergabung dengan HelloFresh. Pertama adalah wawancara dengan HR, kemudian tes teknis (coding test), wawancara teknis (technical interview) dengan engineer, dan terakhir wawancara dengan CTO HelloFresh, Nuno Simaria.

Dari Tiago pula saya mengetahui bahwa dari 300 orang yang bekerja di kantor pusat HelloFresh di Berlin terdiri dari sekitar 50 kebangsaan berbeda. Sebuah lingkungan multikultur dan multinasional, sesuai dengan yang saya cari.

Selesai wawancara, keesokan harinya pada 21 Februari 2018, saya mendapat materi tes teknis. Saya lolos tahap kedua.

Tes Teknis

Pada tes teknis, saya diminta membuat sebuah API dengan menggunakan bahasa pemrograman PHP, Golang, atau Python.

Seluruh API dibuat dengan menggunakan Docker dan saya dilarang menggunakan framework walau penggunaan library masih diperbolehkan.

Saya diberi waktu selama 7-14 hari untuk menyelesaikan tes ini.

Saya harus membuat sebuah pull request ke repositori Github dan penilaiannya berupa code review yang dilakukan oleh engineer HelloFresh.

Pekerjaan saya benar-benar di-review oleh engineer HelloFresh. Saya bahkan mendapat banyak masukan yang nantinya berguna untuk meningkatkan kualitas kode saya.

Wawancara Teknis

Wawancaranya membahas tentang hasil tes teknis saya, tentang alasan-alasan saya menggunakan library yang saya pakai, dan tentang cara berpikir saya dalam memecahkan masalah.

Sebelum wawancara, saya sempat melakukan riset tentang teknologi yang digunakan di HelloFresh sebagai bekal jika nantinya ditanya.

Wawacaranya sendiri berlangsung cukup santai, selayaknya dua engineer atau developer mengobrol seputar hal-hal teknis.

Hingga akhirnya, undangan wawancara terakhir saya dapatkan pada 29 Maret 2018. Saya sendiri selama proses ini merasa tak percaya. Prosesnya berlangsung cepat.

Wawancara dengan CTO

CTO HelloFresh, Nuno Simaria
CTO HelloFresh, Nuno Simaria

Di wawancara final, saya menghadapi Nuno Simaria, CTO (Chief Technology Officer) HelloFresh.

Jadwal wawancara kami sempat mengalami penundaan selama 2 kali, pertama karena Nuno tiba-tiba ada tugas keluar dan yang kedua saat anaknya sakit.

Akhirnya saya melakukan wawancara dengan Nuno pada 5 April 2018.

Meski CTO, pertanyaan dari Nuno, tidak ada kaitannya sama sekali dengan hal teknis.

Kami berbincang tentang proses rekrutmen ini, dan apa pendapat saya setelah mengikuti seluruh prosesnya.

Keesokan harinya, 6 April 2018, saya dihubungi Tiago yang akan membicarakan soal status lamaran saya. Kami pun mengatur jadwal untuk membicarakan hal ini.

Keputusan yang Tertunda

Tanggal 10 April 2018 kami berbincang, yang intinya meski saya sudah masuk kualifikasi, namun ada masalah yang cukup mengganjal, yaitu kemampuan speaking Bahasa Inggris saya yang dirasa kurang.

Alasannya cukup valid, HelloFresh merupakan perusahaan multikultur dan multinasional, di mana Bahasa Inggris suatu keharusan.

Saya sendiri menyadari karena memang saya jarang sekali mengobrol menggunakan Bahasa Inggris, sehingga meski saya bisa menulis, membaca, dan memahami perbincangan dalam Bahasa Inggris, hal itu tidak cukup.

Yang saya salut, mereka tidak serta merta mencoret saya dari daftar kandidat, meski saya memiliki kekurangan di Bahasa Inggris.

Tiago bahkan menyarankan saya untuk mengambil kursus singkat untuk meningkatkan kemampuan English speaking saya, kemudian jika saya merasa sudah siap, saya bisa meminta jadwal wawancara dengan Nuno lagi, dan bila lancar, saya akan mendapat tawaran pekerjaan (offering).

Menerima Tawaran HelloFresh

Saya mengikuti saran Tiago, mengambil kursus singkat Bahasa Inggris di Golden English yang dekat dengan rumah dan biayanya terjangkau.

Selama kursus, pengajar saya berkesimpulan bahwa yang saya perlukan sebenarnya adalah sering berlatih berbincang dengan Bahasa Inggris.

Selama kursus pun saya lebih banyak bercerita dan mengobrol dengan pengajar saya untuk latihan dan membiasakan diri.

Selesai kursus dan saya merasa saya cukup percaya diri, tanggal 10 Agustus 2018 saya menghubungi Tiago untuk meminta kesempatan wawancara sekali lagi dengan Nuno.

Saya kembali berbincang dengan Nuno pada 17 Agustus 2018. Nuno berpendapat bahwa meski kemampuan berbahasa Inggris saya belum sempurna, tapi Nuno melihat ada perkembangan.

Secara terus terang, Nuno mengatakan akan menerima saya dan meminta Tiago untuk mengajukan penawaran pekerjaan.

Saya mendapatkan penawaran pekerjaan pada 21 Agustus 2018, tepat pada malam takbiran Hari Raya Idul Adha 1439 H.

Tiago menjelaskan berbagai hal mulai dari gaji, pajak, jam kerja, hingga kompensasi lain seperti bantuan relokasi dan visa bekerja yang saya dapatkan, serta kewajiban-kewajiban saya sebagai karyawan.

Saya dikirimi draf kontrak dalam dua bahasa, Bahasa Jerman dan Bahasa Inggris setebal 24 halaman, untuk saya pelajari sebelum saya menyetujui dan memutuskan bergabung dengan HelloFresh.

Tanggal 23 Agustus 2018, saya memutuskan bergabung dan menandatangani kontrak kerja saya dan dalam waktu dua setengah hingga tiga bulan, saya sudah harus berada di Berlin, Jerman.

Terima Kasih, Nuwira!

Apa yang saya capai saat ini tak lepas dari peran kantor saya sebelumnya, PT Nuwira Integrasi Mandiri.

Selama 5 tahun lebih saya bersama Nuwira, saya mendapatkan banyak hal.

Saya diberi kesempatan untuk bereksplorasi, mencoba hal baru, menerapkan teknologi terkini, yang membuat saya berada pada titik ini.

Namun sebagai manusia yang selalu ingin berkembang, saya harus berani keluar dari zona nyaman saya, berjuang kembali untuk mencapai titik yang lebih tinggi.

Nuwira membuka kesempatan untuk pengembang yang berada di Yogyakarta untuk bergabung, karena saya yakin Nuwira akan menjadi tempat yang menyenangkan untuk tumbuh dan berkembang.

Sebagai catatan, Firman yang saya ceritakan di atas juga pernah bekerja di Nuwira.

Terima kasih, Nuwira. Berlin, hier komme ich!

Artikel ini dipublikasikan pada 24 Agustus 2018, sekitar 4 minggu yang lalu. Informasi yang dimuat di artikel ini mungkin sudah tidak akurat.

Ada 10 tanggapan
Ranger Kimi 24 Agustus 2018 20:15 WIB

Huaaaa… Selamat, Mas! Aku turut senang!

Muhammad Zamroni 25 Agustus 2018 08:08 WIB

makasih, Kimi!

Yeni Setiawan 27 Agustus 2018 15:24 WIB

Selamat Sultan!
http://cahandong.org/2008/04/27/from-jelatakarta-to-jancukarta.html

Muhammad Zamroni 27 Agustus 2018 16:15 WIB

wow.. 10 tahun yang lalu~

Nico Wijaya 28 Agustus 2018 12:45 WIB

Selaaaat sultaaan! Goodluck semoga lancar di sanaaaa

Muhammad Zamroni 28 Agustus 2018 13:50 WIB

terima kasih, nico!!

agi pranoto 29 Agustus 2018 14:10 WIB

selamat ya mas! seneng banget baca postingan ini! pas kebetulan lagi cari cari review kerja di luar negeri juga hehehe, semoga sukses!

Muhammad Zamroni 29 Agustus 2018 19:25 WIB

terima kasih, mbak. sukses juga buat mbak Agi..

Teuku Farhan 11 September 2018 19:42 WIB

Kisah yang inspiratif. Selamat mas Zam, selamat berkarir di Jerman.

Mengganti Paspor di Kantor Imigrasi Kelas 1 Jakarta Timur — matriphe! personal blog 12 September 2018 18:46 WIB

[…] dalam waktu kurang dari 3 bulan saya harus berangkat ke Berlin, Jerman, saya segera menyiapkan berbagai dokumen untuk mengurus […]

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.