Persiapan Pendakian (Wandern)

10 minutes 34 2

Pendakian alias wandern merupakan salah satu kegiatan favorit orang Jerman dan Austria.

sepatu merupakan salah satu hal penting untuk melakukan pendakian

Selain bentang alamnya yang memungkinkan, kegiatan pendakian bisa dilakukan siapa pun asal memiliki persiapan yang cukup.

Orang Jerman dan persiapan adalah kombinasi yang tidak terpisahkan.

Begitu pula kami, saat berencana hendak mendaki di Innsbruck, kami sejak jauh-jauh hari sudah mempersiapkan diri, karena ini adalah pertama kalinya saya dan istri akan melakukan pendakian bersama.

Sebenarnya sejak SMU saya sudah beberapa kali mendaki gunung, namun saat itu karena masih muda dan pengetahuan mounteneering masih terbatas, pendakian saya lakukan dengan sedikit ugal-ugalan.

Tidak ada persiapan atau peralatan khusus karena tidak ada dana, dan hanya bermodal mental dan nekat.

Namun semakin ke sini, semakin bertambahnya akses pengetahuan tentang mounteneering dan tentu saja usia, saya lebih banyak mempersiapkan diri, apalagi medan gunungnya berbeda dengan gunung di Indonesia.

Salah satu persiapan fisik yang kami lakukan adalah mempersering olahraga, untuk meningkatkan kekuatan kaki dan nafas.

Saya memulai lagi aktivitas berlari selain demi kebugaran dan stamina, juga persiapan melakukan wandern ini.

Selain fisik, kami juga mempersiapkan peralatan untuk kenyamanan dan keselamatan pendakian.

menggunakan sepatu outdoor

Salah satu persiapan penting adalah menggunakan sepatu yang proper.

Sepatu ini fungsi utamanya adalah melindungi kaki selama pendakian, mulai dari melindungi dari batu dan kerikil, memberikan grip di permukaan tanah dan lumpur, hingga memberikan dukungan kepada kaki agar tidak terkilir atau cedera.

Makanya biasanya sepatu-sepatu ini berat, kokoh, kaku, karena menggunakan material yang kuat seperti kulit yang tahan air, meski kini banyak material baru yang membuat sepatu lebih ringan dan tidak sekaku sepatu outdoor tradisional.

Untungnya, di Jerman yang warganya gemar sekali melakukan aktivitas outdoor, pilihan sepatu untuk aktivitas ini tersedia banyak sekali.

Sebenarnya saya sudah memiliki sepatu outdoor macam ini, yaitu sepatu Jack Wolfskin Storm Texapore Low yang bermodel low-cut boots yang biasa saya gunakan saat jalan-jalan atau beraktivitas sehari-hari.

sepatu Columbia Redmond III Mid Waterproof

Saya membeli sepatu itu di akhir tahun 2019 di gerai Jack Wolfskin di area McArthurGlen Designer Outlets saat Black Friday sehingga saya dapat potongan harga lumayan, sekitar 40% dari harga aslinya.

Sepatu model low-cut boots ini tidak menutupi mata kaki, sehingga sepatu ini lebih cocok untuk medan pendakian yang ringan.

Namun karena medan yang akan kami daki termasuk kategori ringan hingga sedang, saya dan istri mencari sepatu model mid-cut boots yang menutupi mata kaki dan melindungi bagian pergelangan kaki.

Tentu saja kami mencari sepatu yang nyaman, berkualitas bagus, namun dengan harga yang sesuai kantong.

Selain fungsi, tentu tak ada salahnya juga jika sepatu ini mempunyai desain yang bagus, stylish, dan sesuai dengan selera.

sepatu Adidas Terrex Swift R3 Mid Gore-Tex

Istri saya mendapatkan sepatu Adidas Terrex Swift R3 Mid Gore-Tex dengan harga separo dari harga asli dari situs peralatan outdoor Campz.de.

Apalagi warna dan desain sepatu ini terlihat cantik dan sporty, tidak seperti tampilan sepatu outdoor pada umumnya.

Adidas Terrex merupakan seri outdoor dari Adidas yang berfokus pada hiking dan trail running.

Tidak hanya sepatu, seri Adidas Terrex juga mencakup pakaian dan jaket.

Berbeda dengan istri saya, saya cenderung menyukai model dan desain sepatu yang lebih terkesan “sepatu gunung” pada umumnya.

Beruntung, saya mendapatkan sepatu Columbia Redmond III Mid Waterproof dengan harga yang juga separonya dari situs peralatan outdoor Bergfreunde.de.

Columbia merupakan jenama perlengkapan outdoor asal Amerika Serikat yang sudah punya nama.

Selain sepatu, kami juga menyiapkan ransel untuk perjalanan dan pendakian kami.

mencoba ransel Gregory di toko outdoor Globetrotter

Kami memang lebih suka menggunakan ransel daripada koper saat bepergian karena alasan kepraktisan dan keleluasaan.

Meski jalanan di Eropa sangat mendukung untuk menyeret koper, buat kami, koper masih terlalu bulky dan tidak segampang ransel, apalagi jika harus berlari-lari mengejar kereta atau bus.

Ransel ini juga kami gunakan untuk membawa bekal selama pendakian.

Sayangnya, tas Deuter Grรถden 32 yang menemani saya selama kurang lebih sepuluh tahun harus saya pensiunkan karena tali pundak sebelah kanan sedikit robek yang kemungkinan besar bisa putus, ditambah beberapa buckle yang patah karena usia dan pemakaian.

Saya pun berburu ransel lagi, dan sempat mempertimbangkan beberapa jenama ransel selain Deuter, yaitu Jack Wolfskin, The North Face, Vaude, Mammut, Osprey, dan Gregory.

Meski menurut saya, Deuter adalah jenama ransel terbaik dari segi kenyamanan, saya ingin mencoba jenama lain, apalagi saya cukup puas dengan tas Gregory Anode 30 yang saya gunakan untuk ke kantor.

ransel Deuter Futura Pro 36 Almond-Cinammon

Ransel akan membawa kebutuhan saya yang berat yang akan menempel terus di punggung, sehingga kenyamanan menjadi hal yang cukup krusial.

Fitur yang sangat penting buat saya pada ransel adalah sistem suspensi yang digunakan untuk memanggul ransel ini.

Deuter menjadi favorit saya karena alasan ini, terutama sistem rangka lengkung Aircomfort yang menjauhkan beban menempel langsung ke punggung sekaligus memberikan ventilasi udara.

Setelah mencoba langsung ransel-ransel yang saya incar di toko outdoor, pilihan saya kembali lagi ke Deuter yang kali ini adalah seri Futura Pro 36 dengan warna almond-cinammon.

Memang sulit jika sudah jatuh cinta kepada Deuter, meski selain Deuter, Gregory akan menjadi pilihan kedua saya.

Saya membeli ransel ini di Amazon dengan harga 30% lebih murah.

ransel Deuter Futura milik saya dan istri

Deuter ini meski jenama dari Jerman, ia tidak punya toko fisik resmi, di mana barang-barang dijual di toko-toko outdoor baik toko fisik maupun online, selain di situs resmi mereka.

Oleh karena itu, agak sulit mendapatkan seri dan warna yang saya inginkan, dan kebetulan, di Amazon tersedia, selain karena potongan harganya.

Sementara istri saya menggunakan Deuter Futura 34 SL yang dulu saya belikan saat masih di Indonesia di toko outdoor Tandike, Jakarta Selatan, yang merupakan salah satu distributor resmi Deuter di Indonesia.

Seri Futura dari Deuter ini merupakan salah satu seri yang paling laris.

Bahkan desainnya pun beberapa kali diperbarui, di mana seri Futura ransel istri saya sedikit berbeda dengan seri Futura ransel saya.

tongkat pendakian

Selain sepatu dan ransel, peralatan lain yang perlu dipersiapkan adalah pakaian, di mana kami tidak membeli jaket atau pakaian khusus, dan hanya menggunakan pakaian yang biasa kami kenakan sesuai musim.

Jika pendakian dilakukan di musim dingin dan banyak salju, kemungkinan besar kami pasti akan membeli jaket khusus musim dingin yang tebal.

Kami juga tidak menggunakan tongkat pendakian, karena kami merasa belum membutuhkan karena medan pendakian kami relatif mudah.

Namun belakangan kami sadar, bahwa menggunakan tongkat pendakian akan sangat mempermudah, karena memberikan kestabilan dan tumpuan saat mendaki.

Tongkat pendakian ini sebenarnya mengambil konsep hewan berkaki empat, yang dengan bertumpu dengan empat kaki, kita bisa lebih stabil, di mana si tongkat menjadi seolah-olah adalah tumpuan kaki depan.

4 responses
  1. Gravatar of Kurniawan
    Kurniawan

    berburu peralatan mendaki ini emang seru-seru gimana, dan dari dulu naksir produk2 Deuter. Sayangnya sudah belanja-belanja, saya cuma dapat 1 kesempatan naik gunung yang ‘serius’. sisanya ya gunung wisata macam Bromo saja. Jadi kepengen lagi, melelahkan tapi menenangkan.
    ๐Ÿ™‚

    Gravatar of Muhammad Zamroni
    Muhammad Zamroni

    Deuter ini investasi bagus kok. orang sini banyak yang pake Deuter tapi dipake ke supermarket untuk belanja..

  2. Gravatar of Yeni Setiawan
    Yeni Setiawan

    Selamat mendaki, semoga perjalanan lantjar!

    Gravatar of Muhammad Zamroni
    Muhammad Zamroni

    woh, ada sesepuh! mohon bimbingannya!