Menyeberangi Sungai Spree dengan Feri BVG

7 minutes 38 8

Di Berlin, transportasi umumnya bisa dibilang cukup lengkap, mulai dari kereta S-bahn (semacam KRL) dan kereta regional yang dioperasikan oleh perusahaan Deutsche Bahn, serta kereta bawah tanah (U-bahn), bus, tram, dan kapal yang dioperasikan oleh perusahaan BVG.

lambang angkutan feri

Dari semua moda transportasi tersebut, hanya kapal feri yang belum pernah saya coba.

Di Berlin (dan beberapa kota di Jerman pada umumnya) transportasi umumnya menggunakan sistem tiket yang terpadu, di mana dengan satu tiket bisa digunakan untuk berbagai moda transportasi.

Tidak seperti tiket transportasi umum di Indonesia atau Singapura yang modelnya menggunakan tap kartu dan memotong saldo, di Berlin masih menggunakan tiket manual dalam bentuk kertas, kartu, atau aplikasi, untuk sekali jalan atau berlangganan.

Menariknya, tidak ada petugas yang akan meminta penumpang menunjukkan tiket saat naik, dan orang bisa bebas naik meski tidak membeli tiket.

Sepertinya kejujuran menjadi dasar penerapan sistem transportasi dan hal umum lainnya di Jerman.

Namun pada waktu dan tempat yang acak, ada petugas pengontrol tiket (bahasa slang-nya, kontie, dari kata Kontrolletti) yang tiba-tiba melakukan inspeksi dan meminta penumpang menunjukkan tiket.

tiket kertas dan kartu tiket berlangganan BVG

Jika tertangkap tidak mempunyai tiket atau tidak memvalidasi tiketnya, orang tersebut akan diturunkan di halte berikutnya dan dikenai denda sebesar 60€ (sekitar Rp 1.000.000).

Petugas pengontrol ini biasanya menyamar menjadi penumpang biasa, dan biasanya terdiri dari 2 hingga 3 orang dalam sekali operasi.

Setelah pintu kendaraan tertutup, kontie akan mengeluarkan kartu identitas dan berteriak, “(Die) Fahrscheine, bitte!”, alias “tolong (tunjukkan) tiketnya!”.

Kembali ke soal moda transportasi, pada Jumat, 19 Februari 2021 lalu, akhirnya saya mencoba naik feri dengan menggunakan tiket langganan BVG saya.

Ada 6 jalur yang dilayani oleh feri BVG, yaitu F10, F11, F12, F21, F23, dan F24.

Saya memilih mencoba rute F11 yang melayani rute Baumschulenstraße-Wilhelmstrand, yang dermaganya mudah dicapai dengan menggunakan kereta S-bahn S9 jurusan Bandara Berlin-Brandenburg.

dermaga kapal Treptower yang sebagian airnya masih membeku

Sebelum mencoba naik feri, saya sempat mampir sebentar ke Treptower Park karena searah, untuk sekadar duduk-duduk mencari matahari, setelah beberapa pekan Berlin dihantam salju dan cuacanya cukup sendu.

Tepat sepekan sebelumnya, dermaga Treptower Park bahkan membeku berselimut salju.

Beberapa orang warga yang memiliki nyali sempat berjalan-jalan bahkan melakukan ski di atas Sungai Spree yang membeku itu.

Sementara saat saya datang pada hari itu, hanya melihat lapisan es yang cukup tebal mengikat kapal-kapal wisata yang tak beroperasi karena aturan lockdown yang diperpanjang hingga 7 Maret 2021.

Cuaca saat itu cukup hangat, dengan temperatur sekitar 9°C membuat saya ingin duduk-duduk di taman sambil menyerap tenaga matahari.

duduk-duduk menikmati sinar matahari

Saya sepertinya mulai merasakan apa yang orang bilang sebagai winter depression, atau seasonal affective disorder (SAD), yang mana menjadi hal umum di negara 4 musim karena kurangnya asupan vitamin D dari sinar matahari.

Jika sebelumnya saya belum pernah mengalami seperti ini, saya mulai bisa mengerti bagaimana berharganya matahari bagi orang-orang yang tinggal di negara yang jarang berjumpa dengan sang surya.

Sepertinya saya sudah mirip orang barat yang doyan berjemur saat melihat matahari.

Jumat itu saya sengaja mengambil cuti karena melihat cuaca yang cerah dan ingin memanfaatkan momen tersebut untuk memulihkan mental saya yang turun dan mempengaruhi kinerja saya di kantor.

Terlalu lama bekerja dari rumah ditambah tidak ke mana-mana karena lockdown memang sedikit banyak mempengaruhi mental saya.

Saya juga merindukan ngobrol dan nongkrong bertatap muka dengan teman-teman, namun sayangnya aturan lockdown membuat hal ini tidak memungkinkan.

kapal feri F11 menuju dermaga Wilhelmstrand

Belum lagi soal traveling, yang untungnya meski lockdown, warga tetap diperbolehkan berjalan-jalan namun tidak bisa keluar kota jika bukan urusan yang penting.

Maka muncul lah ide untuk mencoba hal baru yang selama ini belum pernah saya coba, yaitu mencoba naik kapal feri BVG yang kebetulan lokasi dermaganya belum pernah saya kunjungi.

Dari Treptower Park, saya naik kereta S-bahn lagi, turun di Stasiun Baumschulenweg lalu jalan kaki sekitar 10 menit ke dermaga yang berada di hutan Plänterwald.

Karena saya memiliki tiket berlangganan, saya langsung naik ke kapal dari Dermaga Baumschulenstraße dan menyeberangi Sungai Spree menuju ke Dermaga Wilhelmstrand.

Perjalanan feri sendiri memakan waktu tak sampai 5 menit, dan saat itu meski hanya ada 2 penumpang, feri tetap beroperasi sesuai jadwal.

Di Wilhelmstrand rupanya banyak terdapat rumah-rumah cantik yang jauh berbeda dengan pemukiman di Berlin kota yang berupa apartemen dan flat.

Tiap rumah di area ini memiliki halaman, dan sekilas bentuknya seperti kampung.

Saya kemudian berjalan-jalan di area pemukiman ini sebelum akhirnya menuju ke jalan besar untuk naik bus dan pulang.

Jalan-jalan pada hari Jumat itu rupanya membuat saya senang, apalagi hawa-hawa musim semi sudah di depan mata, membuat saya bersemangat kembali.

Berikut ini video perjalanan saya!

matrivlog #24 - Berjemur di Treptower Park dan Naik Kapal Feri BVG
9:23 29
13 responses
  1. Gravatar of Ranger Kimi
    Ranger Kimi

    Aku kalau tersesat sendirian gitu kayaknya bakalan panik deh. 😆

    Btw, ayo, Mas, semangat terus! Sebentar lagi musim semi!

  2. Gravatar of Dinilint
    Dinilint

    Bang aku galfok ke sungainya ya. Apa pas badai salju kemarin sungainya ikut beku? Kalo iya, ferry-nya nggak beroperasi dong?

    Btw, jadi pengen naik ferry di sungai.

  3. Gravatar of CREAMENO 🐰
    CREAMENO 🐰

    Kasihan kapalnya, pasti kedinginan karena airnya sampai jadi es begitu *eh*

    Semoga nggak ada yang rusak, apalagi bagian bawah body kapal. By the way, mas Zam pernah lihat orang kepergok nggak punya tiket, kah? Hehehehe. Penasaran bagaimana reaksinya ketika ketauan 😂

    Gravatar of Muhammad Zamroni
    Muhammad Zamroni

    beberapa kali lihat sendiri orang gak punya tiket ya langsung diminta turun sama petugas, terus diberi struk denda yang dibayar nanti melalui transfer atau ke kantor layanan dalam waktu 14 hari. turis pun bisa kena, terutama warga EU. kalo misal si turis bukan warga EU, nomor paspornya kan tercatat di sistem dan akan ada tagihan kalo ngga membayar denda. nekat ngemplang, nanti akan sulit kalo urus visa masuk ke Eropa lagi. 😆

  4. Gravatar of Peri Kecil Lia 🤸🏻‍♀️
    Peri Kecil Lia 🤸🏻‍♀️

    Jadi ingin coba naik Feri juga, Kak 🙈
    Seandainya di Jakarta bisa beneran jadi waterway-nya, nggak hanya wacana aja 😂 kan asik menelusuri BKT pakai kapal gitu hahaha.
    Yang aku suka dari Jerman, tentunya setelah lihat vlog-vlog Kak Zam, Jerman itu bersih banget yak lingkungannya. Kapal Ferinya juga bersih, mulus juga penampakannya. Seneng deh lihatnya hahaha
    Sabar menanti musim semi ya, Kak~ nanti kalau udah datang musim panas, berjemurlah sepuasnya hahaha

    Gravatar of Muhammad Zamroni
    Muhammad Zamroni

    secara umum, Jerman memang bersih dan rapih. tapi Berlin sendiri bisa dilang blangsak dan kumuh jika dibandingkan dengan kota lain di Jerman. ini keliatan bersih karena memang yang kutunjukkan di video yang bagus-bagus, aja.. 😆

  5. Gravatar of fanny_dcatqueen
    fanny_dcatqueen

    Susah kalo aturan begitu ditetapin ke Indonesia :D. Aku msh blm percaya Ama kejujuran orang2 sini -_- . Dibikin aturan tegas aja ttp ngelanggar.

    Btw, jd kalo bukan warga EU, bakal susah apply visa ya mas. Kalo yg warga sana, dalam 14 HR ga bayar, hukumannya bakal meningkat jd apa?

    Aku memang blm ngerasain tinggal dlm jk wkt lama saat winter yaaa. Paling mentok kan 2 Minggu pas traveling. So far sih makin dingin suhu, aku makin happy hahahahha. Tapi ntah yaa kalo memang udh permanen tinggal di negara yg winternya berat :D.

    Di Jakarta ini aja, aku slalu lesu kalo udh mulai panas, dan seneng banget kalo udh masuk cuaca agak dingin. Juni-Juli biasanya Jakarta kecipratan winter dari Australia, bikin suhunya agak sejukan. 😀 aku seneng tuh kalo udh Juni Juli.

    Gravatar of Muhammad Zamroni
    Muhammad Zamroni

    aku belum pernah kena denda, dan semoga ngga pernah. tapi kalo baca-baca, ngga bayar denda ya tidak diapa-apakan. hanya saja akan makin mahal karena “berbunga” dendanya. makin besar angkanya pada suatu titik bisa dituntut di pengadilan, kalo angka dendanya lumayan. ini juga akan berpengaruh ke catatan kredit keuangan, yang biasanya ditanya saat ngurus apartemen atau cicilan. akan sulit karena catatan kreditnya buruk, dianggap ngemplang. ini Jerman, banyak hal tercatat dengan rinci. tapi ya, biasanya tetap saja ada yang ngemplang, kok. 😆

  6. Gravatar of morishige
    morishige

    Apik, Mas, vlog-e. Btw itu di akhir video, pas adegan di jalan beton, tak lihat ada dua garis. Apa itu bekas jalur trem, Mas?

    Gravatar of Muhammad Zamroni
    Muhammad Zamroni

    iya dulu jalur tram kayanya terus ditutup.

  7. Gravatar of Zizy Damanik
    Zizy Damanik

    Sungainya bagus ya.
    Ya begitulah kalau tinggal di daerah dingin, begitu ada kesempatan dapat yang hangat pasti langsung dinikmati. Dan kemudian mgkn baru sadar betapa nikmatnya kita tinggal di daerah tropis, kalau aku…

  8. Gravatar of ainun
    ainun

    ngeliat videonya jadi keinget sama sungai chao phraya, kapal juga masih jadi alat transportasi disana
    seru ya kalau masih bisa naik kapal di dalam kota begini, mau naik bisa, kereta, kapal, semua ada.
    untung pas tersesat nggak panik ya mas Zam? dan udah hapal daerah di jerman, jadi bisa dimix juga sama naik bis

Tinggalkan Balasan

This article has been published on 22 Februari 2021 (5 bulan ago). The information provided here might not be accurate.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.