Mengagumi Sisa Kemegahan USAT Liberty

Artikel ini ditayangkan pada 15 Februari 2013, sekitar 4 tahun yang lalu. Informasi pada tulisan ini mungkin sudah tidak sesuai.

Hari itu, 11 Januari 1942, kapal USAT Liberty tengah berlayar memasuki Selat Lombok membawa muatan besi-besi rel kereta api dan karet. Kapal angkut Amerika Serikat ini tengah bertolak dari Australia menuju Filipina.

Penyelam di USAT Liberty, Tulamben. Sumber foto: REUTERS/David Loh Penyelam di USAT Liberty, Tulamben. Sumber foto: REUTERS/David Loh

Pukul 4:15 pagi, dari barat daya kapal selam Jepang I-166 meluncurkan torpedo dari jarak 19 Km dan menghantam lambung USAT Liberty. Kapal sepanjang 125 meter ini pun tak berdaya dan gagal melanjutkan misinya.

Dibutuhkan 2 kapal untuk menarik USAT Liberty ke daratan untuk menyelamatkan isinya. Kapal penghacur Amerika Serikat Paul Jones dan kapal penghancur Belanda Van Ghent bertugas menarik USAT Liberty ke perairan Singaraja.

Namun karena kapal sudah rusak parah dan terlalu banyak air masuk ke lambung kapal, USAT Liberty hanya berhasil ditarik sampai ke tepi pantai Tulamben.

Tahun 1963, Gunung Agung meletus. Gempa yang terjadi akibat aktivitas vulkanik membuat USAT Liberty terguling dan akhirnya tenggelam sejajar dengan garis pantai, sekitar 30 meter dari bibir pantai.

Lambungnya pecah. Bagian haluan berada di barat laut, miring hingga kedalaman 30 meter. Dek kapal menghadap ke laut lepas. Buritan terletak lebih dangkal dari haluan, di sekitar kedalaman 20 meter.

Menyelam dan menyusuri puing-puing kapal USAT Liberty, seolah membawa saya kembali ke era Perang Dunia kedua, mengagumi betapa megahnya kapal ini.

Bumphead Parrotfish di sekitar buritan USAT Liberty. Foto koleksi pribadi. Bumphead Parrotfish di sekitar buritan USAT Liberty. Foto koleksi pribadi.

Saya jatuh cinta dengan titik penyelaman Tulamben, Bali. Di sini lah dive log pertama saya torehkan setelah mengantongi lisensi Open Water. Di sini pula lah saya menjalani ujian untuk mendapatkan lisensi Advanced Open Water.

Petualangan menyelami bangkai kapal memang memberikan sensasi tersendiri. Besi-besi yang dulunya kokoh kini ditumbuhi terumbu karang dan menjadi rumah bagi berbagai ikan dan hewan laut lainnya.

Kesan magis menyelimuti ketika saya masuk perlahan di antara tiang-tiang penyangga yang dulunya ruang nakhoda. Badan ini seakan tidak seberapa ketika saya “berdiri” di samping kemudi baling-baling kapal atau sisa-sisa mesin.

Puing-puing USAT Liberty menjadi pusat dari ekosistem. Saya melihat school of jackfish berenang bergerombol di sekitar (yang dulunya) adalah ruang mesin. Kawanan bumphead parrotfish dan garden eel terlihat di sandy bottom tak jauh dari buritan.

Komponen-komponen kapal masih terlihat utuh. Gerigi-gerigi mesin, rantai-rantai, senapan, hingga tonggak penambat kapal masih terlihat dengan jelas. Namun hati-hati jika ingin masuk ke dalam kapal. Besi-besi rapuh bisa saja runtuh jika kita tidak berhati-hati.

Memasuki bagian dalam kapal USAT Liberty. Foto koleksi pribadi. Memasuki bagian dalam kapal USAT Liberty. Foto koleksi pribadi.

Soft coral, tubastrea, dan gorgonian sea fan banyak ditemui di bagian tengah kapal hingga ke haluan. Ikan-ikan trevally, surgeon fish, wrasse, sweet lips, murray eel, serta udang dan kepiting sering dijumpai tengah bersembunyi di sela-sela puing. Jika beruntung kita bisa melihat kerang listrik.

Menyelam di malam hari juga menarik. Mengamati perilaku ikan yang tengah tidur atau makhluk-makhluk nokturnal yang tengah beraktivitas, memberikan sensasi yang mendebarkan. Puing-puing kapal nampak lebih mistis.

Keunikan lain dari lokasi selam USAT Liberty adalah, meski wreck diving adalah daya tarik utama, namun keanekaragaman makhluknya begitu banyak. Tercatat ada 400 spesies mendiami titik selam ini. Salah satu favorit saya (dan mungkin penyelam lain) adalah school of jackfish dan bumphead parrotfish.

Apalagi, lokasinya yang mudah dicapai, cukup dengan berjalan kaki dari tepi pantai dan melakukan shore entry. Namun kita perlu agak bersusah payah karena pantai berupa bebatuan yang bila tidak hati-hati bisa jatuh terpeleset.

Agar puas menikmati seluruh sudut puing-puing kapal dan pesona bawah laut Tulamben, minimal 3 kali penyelaman harus dilakukan. Selesai menyelam, kita bisa menikmati kelezatan sate gurita di warung “Mek D” milik Ni Made Ririp yang terletak di jalan raya antara Kota Karangasem dan Pantai Tulamben.

Puing-puing USAT Liberty yang dulu megah seakan membawa kemegahan pada masanya ke bawah laut Tulamben.

Video

Berikut ini adalah video berjudul Amazing Tulamben Bali dari mas Iman Brotoseno yang menggambarkan kecantikan titik selam USAT Liberty, Tulamben, Bali.

Muhammad Zamroni

pengembang web • penyelam scuba • pejalan pemula • peminat perangkat

Jakarta, Indonesia

3 komentar

Artikel ini ditayangkan pada 15 Februari 2013, sekitar 4 tahun yang lalu. Informasi pada tulisan ini mungkin sudah tidak sesuai.

michael sjukrie

15 Maret 2013 18:53

Mantaaab.brooo....

Hendry

16 Desember 2013 13:18

I love scuba diving in Bali specially at USAT Liberty Wreck :D

Fiqy

23 Februari 2014 20:17

Err kok kita sama ya, instruktrur diving-nya Joe, saya ambil license di Agustus 2011 juga. lalu spot pertama di Tulamben bulan Sept 2011 juga. Saya diving di Tauch Terminal Tulamben. Mas dimana?

Statistik

Telah dibaca 534 kali. Waktu baca rata-rata 5 menit. Ada 3 komentar.