Sudah lama saya ingin punya sepeda elektrik, namun selalu urung karena merasa belum perlu.

Jangankan yang elektrik, sepeda biasa saja belum terlalu butuh, karena selama ini sudah merasa cukup dengan angkutan umum di Berlin.
Kemudian seorang teman membeli sepeda elektrik, yang akhirnya membuat keinginan lama saya tersebut kembali muncul.
Apalagi saya sepertinya butuh hobi baru untuk beraktivitas, karena setelah mencoba lari 3 tahun lalu, saya memiliki masalah kesehatan yang lumayan membuat saya akhirnya tidak meneruskannya.
Masalah kaki yang sakit kembali datang setelah mencoba rutin berlari, namun daripada saya malah tersiksa, saya memutuskan berhenti, dan belum menemukan alternatif olahraga pengganti.
Meski begitu, saya masih rutin berjalan kaki, karena jalan kaki sudah menjadi hal yang dilakukan setiap hari, jadi tidak bisa dihitung sebagai olahraga.
Bersepeda sepertinya menjadi solusi yang cukup masuk akal untuk saya yang ingin beraktivitas fisik secara rutin.
Selain bisa jadi aktivitas fisik, bersepeda juga bisa jadi hobi akhir pekan untuk melepas penat dan kesibukan.
Namun keinginan itu masih jadi keinginan, karena belum berubah jadi kebutuhan, plus ada beberapa pertimbangan.
Salah satu pertimbangan saya kenapa menunda membeli sepeda adalah karena keterbatasan ruang untuk menyimpan.
Memang di Berlin banyak layanan persewaan sepeda sekali pakai (bike sharing) semacam LimeBike, Dott, NextBike, dan sebagainya, namun sepeda ini lebih ke untuk penggunaan sesekali.
Sepeda ini pun juga tidak selalu tersedia, dan memarkirkan sepeda ini juga ada aturannya.
Ada juga layanan sewa sepeda berlangganan semacam Swapfiet, namun pilihan sepedanya juga terbatas.

Sepeda, terutama sepeda elektrik dan yang mahal, merupakan benda yang paling sering dicuri di Jerman, apalagi di Berlin.
DW melaporkan bahwa sepeda-sepeda curian tersebut sebagian besar tak terungkap dan hasil curian berakhir di Ukraina.
Oleh karena itu, menyimpan sepeda dengan aman merupakan tantangan tersendiri, apalagi tempat tinggal kami yang tidak begitu besar.
Meski di area kami ada tempat untuk memarkir sepeda, namun berada di area luar ruangan, di halaman dalam kompleks (innenhof), yang kurang terlindung dari cuaca.
Salah satu solusinya adalah membeli sepeda lipat yang bisa disimpan di dalam rumah.
Sepeda lipat juga memudahkan mobilitas karena bisa dimasukkan ke dalam kereta jika perlu bepergian yang agak lebih jauh.
Saya dulu punya sepeda lipat bermerek Dahon saat masih di Jakarta, saat gerakan Bike2Work masih rame, yang saya beli dari seseorang aktivis B2W.
Sayangnya saya tidak bisa mengangkut sepeda tersebut ke Berlin dan kini entah gimana nasibnya.

Namun kali ini saya ingin memiliki sepeda lipat elektrik, karena saya sejak SD hingga SMP sudah sering bersepeda, jadi sekalian saja cari yang elektrik.
Apalagi kini banyak beredar sepeda elektrik yang konon kata orang membuat aktivitas bersepeda lebih nyaman, terutama untuk orang-orang yang memiliki keterbatasan fisik atau seusia saya yang tidak lagi muda.
Meski di Berlin banyak sekali sepeda dari berbagai merek dan seri, ternyata mencari sepeda lipat elektrik tidak begitu banyak pilihannya.
Yang paling populer tentu saja Brompton, sepeda asal Inggris, yang menurut saya, fiturnya Brompton begitu-begitu saja, tidak terlalu canggih, namun harganya mahal betul.
Memang, kualitasnya tidak perlu dipertanyakan, karena jenama ini memang sudah bertahun-tahun membuat sepeda lipat, dan ingin mempertahankan kualitasnya.
Gara-gara ngomongin sepeda, algoritma internet pun bekerja dan saya kemudian terpapar banyak iklan sepeda, terutama dari Cina, yang membombardir Instagram dan YouTube saya.

Sialan. Ngeri sekali algoritma targeted ads ini bekerja.
Meski iklan sering mengganggu, namun targeted ads kali ini cukup membantu.
Saya jadi tahu beberapa jenama asing yang punya banyak pilihan sepeda lipat elektrik, namun semuanya hanya bisa dibeli secara online.
Dari segi harga, sepeda elektrik dari Cina ini tidak murah-murah amat, bahkan banyak juga yang lebih mahal dari Brompton nonelektrik.
Namun lagi-lagi, inovasi Cina memang luar biasa, membuat teknologi Inggrisnya Brompton terlihat cupu.
Saya pun akhirnya terperosok ke dalam rabbit hole, meriset berbagai jenis merek, seri dan sepeda, membandingkan fitur, menonton ulasan di YouTube dari unboxing hingga pengalaman penggunaan, yang sebagian besar merupakan endorsement.
Saya juga mengoptimalkan AI untuk membantu saya meringkas dan mengompilasi berbagai data yang saya kumpulkan, dengan tujuan mengerucutkan pilihan.
Kriteria dan Kandidat
Agar lebih mudah melakukan riset, saya menetapkan beberapa kriteria untuk memudahkan saya menentukan pilihan.
Saya menuliskan kriteria dan beberapa kandidat yang saya pilih ke dokumen Notion, kemudian memberikan akses ke beberapa agen AI melalui MCP jika memungkinkan.
Untuk beberapa agen yang tidak bisa mengakses langsung, saya kemudian mengunggah dokumen yang sama dalam format PDF.
Saya lalu mengirimkan prompt yang sama ke agen-agen ini agar membaca dokumen tersebut untuk kemudian memberikan rekomendasinya.
Agen-agen AI yang saya gunakan adalah Claude, Gemini, ChatGPT, Perplexity, Grok, Deepseek, dan Notion AI.
Namun untuk ringkasan, berikut ini kriteria yang saya inginkan, yang tentu saja tidak saklek.
Legalitas

Ini adalah kriteria utama agar sepeda yang saya beli legal untuk digunakan di jalanan Berlin.
Jerman memiliki aturan lalu lintas yang ketat, yang disebut dengan StVO (Straßenverkehrs-Ordnung), yang mengatur perilaku semua pengguna jalan, seperti pengemudi kendaraan bermotor, pejalan kaki, dan pesepeda.
Hukuman utamanya berupa denda (Bußgeld), tergantung jenis pelanggarannya, hingga poin tilang (Punkte in Flensburg) yang bisa berujung pada pencabutan SIM.
Agar sepeda elektrik harus mengikuti syarat pedelec (Pedal Electric Cycle), sehingga aturan yang diterapkan sama dengan aturan sepeda kayuh biasa, bukan masuk ke kendaraan motor elektrik.
Jika tidak, sepeda elektrik harus didaftarkan untuk mendapatkan plat nomor, wajib memiliki asuransi kendaraan, dan pengendara harus memiliki SIM.
Sepeda elektrik di Eropa juga harus memenuhi sertifikasi utama EN 15194 untuk kategori pedelec standar yang mengatur kecepatan maksimal utuk pedal-assist hingga 25 km/jam dan juga daya motor tidak lebih dari 250W, serta mencakup tes keselamatan listrik, baterai, rem, dan kestabilan.
Sertifikasi CE juga wajib, menandakan kepatuhan terhadap direktif seperti EMC (Electro Magnetic Compliance) dan tegangan rendah.
Hampir semua sepeda yang masuk ke pasar Eropa, terutama yang online dari Cina, akhirnya memodifikasi mesin motornya agar patuh aturan, meski secara mesin, ia bisa melakukan lebih.
Harga

Ini adalah kriteria yang paling menentukan, karena mau seberapa canggih dan bagus sepedanya, kalo tidak ada anggarannya, tidak bisa membeli juga.
Meski begitu, saya juga melihat value for money juga, misalnya jika sepeda harganya sedikit lebih mahal, namun ada fitur dan keunggulan lainnya.
Urusan harga, merek-merek Cina tentunya tidak ada lawan.
Namun tentu ada hal lain yang perlu dipertimbangkan, misal urusan garansi, suku cadang, keawetan, dan beberapa risiko yang harus ditelan.
Awalnya saya menetapkan anggaran sekitar 300€ hingga 700€, namun rupanya di rentang harga tersebut, pilihannya sangat terbatas.
Saya lalu menaikkan anggaran menjadi sekitar 1.000€, dan kalo bisa, tidak lebih dari 2.000€, harga rata-rata sepeda elektrik pemula.
Sebenarnya, dengan anggaran tersebut, saya sudah bisa membeli Brompton seri pemula, Brompton C Line nonelektrik, daripada membeli sepeda elektrik merek Cina.
Namun karena saya menginginkan yang elektrik, Brompton cukup jauh dari anggaran saya.
Mungkin nanti kalo ada rezeki lebih. Amiin!
Bobot dan Dimensi

Tentu saja syarat utamanya adalah sepeda lipat, karena saya ingin menyimpan sepeda ini di ruang yang sempit.
Idealnya, sepeda lipat ini juga ringan, namun tentu saja ini tidak mungkin karena bobot motor dan baterainya sendiri sudah berat.
Memang ada sepeda elektrik yang ringan, misal rangkanya yang terbuat dari karbon, atau jika tidak, baterainya tidak besar, atau motornya tidak besar, untuk mengejar keringanan.
Karena saya tidak berniat untuk menggunakan sepeda ini untuk komuter, dan hanya menggunakan sepeda ini untuk rekreasional akhir pekan, bobot tidak menjadi masalah.
Kecuali jika di gedung tempat tinggal saya tidak ada lift, menggotong sepeda seberat 20 kilogram menggunakan tangga tentu bukan hal yang menyenangkan.
Begitu juga jika misal saya harus bolak-balik membawa sepeda ini ke dalam kereta, naik dan turun tangga stasiun, mungkin ukuran dan bobot menjadi kriteria utama saya.
Bobot sekitar 20 kg hingga 30 kg masih bisa saya toleransi, namun untuk bisa dilipat adalah pasti.
Saya sempat melirik beberapa sepeda ukuran kecil, namun menurut saya, sepeda ini masih makan tempat.
Ukuran roda juga tidak menjadi masalah, karena biasanya sepeda lipat menggunakan roda berdiameter 16 inchi hingga 20 inchi.
Namun karena saya juga akan menggunakan sepeda ini ke area gravel, off-road ringan di jalur tanah, saya mengincar sepeda yang tapaknya lebih lebar, namun tidak terlalu lebar seperti fat tire yang memiliki lebar lebih dari 7 inchi.
Di Amsterdam, sepeda elektrik fat tire memberikan masalah di perkotaan, dan mereka akhir-akhir ini melarang sepeda ini berkeliaran di beberapa area, yang juga akan diterapkan ke beberapa kota di Belanda.
Motor

Rata-rata, sepeda elektrik kelas pemula dan menengah menggunakan motor dibagian roda belakang atau depan, yang disebut dengan hub motor.
Motor ini dinilai gampang perawatannya dan tenaga yang dihasilkan juga besar.
Sepeda biasa pun bisa dengan gampang di-upgrade menjadi sepeda elektrik dengan mengganti roda dengan roda yang terpasang hub motor ini.
Biasanya, motor jenis ini dilengkapi dengan throttle, di mana pengendara bisa berselancar tanpa mengayuh hanya dengan menekan tombol throttle.
Menurut aturan Eropa, throttle ini hanya diperbolehkan untuk membantu akselerasi dan bukan untuk digunakan terus menerus seperti mengendarai sepeda motor listrik.
Kecepatan maksimal penggunaan throttle juga dibatasi maksimal 6 km/jam untuk mematuhi aturan StVo.
Di beberapa sepeda kelas menengah dan atas, motor yang digunakan berbeda, yaitu motor yang menyatu dengan pedal dan terletak di tengah, atau disebut dengan mid motor.
Jenis motor ini menggerakkan roda melalui rantai dan memanfaatkan torsi dan gerigi pada roda belakang.
Motor jenis ini biasanya tidak memiliki throttle, jadi sudah dipastikan sesuai aturan, karena motor hanya bekerja jika dikayuh.
Mid motor biasanya digunakan pada sepeda listrik gunung (MTB) yang membutuhkan torsi besar untuk menanjak, di mana hub motor akan kesulitan.
Meski begitu, mid motor lebih rumit perawatannya dan jika ada masalah, tidak segampang memperbaiki hub motor.
Kedua jenis motor ini juga dibatasi kecepatan maksimalnya untuk dianggap sepeda biasa, yaitu 25 km/jam.
Sensor

Untuk melatuk motor bekerja, ada dua sensor yang digunakan, yaitu sensor putaran atau langkah (cadence) dan sensor torsi (torque).
Sensor putaran biasanya dipasang pada sepeda elektrik kelas pemula, di mana motor akan bekerja saat mendeteksi kayuhan dengan membaca sensor elektromagnet yang dipasang di sekeliling pedal.
Karena ia mendeteksi putaran, respon dari sensor ini sedikit lebih lambat, dan terasa seperti ada dorongan tiba-tiba saat motor bekerja.
Sementara sensor torsi mendeteksi tekanan yang didapat oleh pedal, sehingga motor bisa mendeteksi dan mengatur kecepatan motor agar selaras dengan kayuhan.
Sensor torsi biasanya dipasang pada sepeda elektrik kelas menengah dan atas, karena sensor ini memberi sensasi natural saat mengayuh.
Namun ada juga sepeda elektrik yang menggunakan hub motor namun berpasangan dengan sensor torsi.
Baterai

Untuk perkara baterai, saya tidak ada preferensi, terutama lokasi pemasangan baterai di luar rangka atau di dalam rangka.
Sepeda-sepeda kelas pemula biasanya baterainya berada di luar rangka, yang bisa dicopot dengan gampang.
Brompton, si sepeda mahal, juga menggunakan sistem baterai luar yang berbentuk tas yang bisa dicopot.
Sementara beberapa sepeda kelas atas lain dan beberapa kelas menengah, baterainya tersembunyi di dalam pipa rangka.
Soal kapasitas, tentunya saya ingin yang kapasitasnya paling besar, yang tentunya akan berimbas ke bobot dan ukuran baterai.
Tegangan 36V atau 48V, saya terus terang tidak terlalu peduli, karena ini hanya berpengaruh ke komponen internal elektronik sepeda.
Juga urusan pengisi daya atau charger, buat saya tidak terlalu penting, selama bisa dengan mudah mengisi daya dengan menyolok ke colokan listrik rumahan.
Baterai yang digunakan di sepeda elektrik Cina juga biasanya generik, dan jika ada masalah, mencari suku cadangnya juga lumayan mudah dan gampang.
Sementara beberapa baterai dari merek-merek ternama, biasanya tidak mudah ditemui dan harus membeli dari si merek.
Aksesoris dan Lain-Lain
Hal-hal lain menurut saya hanya tambahan saja, yang bila ada syukur, namun tidak juga tak masalah.
Misalnya panel kontrol, layar tampilan kecepatan, penggunaan rem cakram hidrolik atau mekanik, ketersediaan suspensi peredam tumbukan, warna dan bentuk, lampu-lampu yang wajib ada untuk memenuhi syarat StVO, dan sistem gerigi rantai.
Beberapa kandidat juga mempunyai aplikasi untuk terhubung ke pengontrol sepeda melalui Bluetooth.
Ketersediaan suku cadang juga sempet jadi pertimbangan, apalagi membeli dari online biasanya lebih sulit untuk mengurus pengembalian, atau komplain.
Namun menurut saya, suku cadang ini adalah risiko yang harus saya telan jika ingin menghemat anggaran.
Begitu juga dengan harga jual yang sudah pasti turun, tidak seperti harga Brompton yang terus tinggi meski bekas.
Kandidat
Tentu setelah disuguhi iklan, melihat berbagai ulasan di YouTube, plus bantuan dari rekomendasi AI, saya mengerucutkan beberapa kandidat yang memang benar-benar saya incar.
Ada tiga kandidat yang saya pertimbangkan untuk dibeli, bahkan sempat saya masukkan ke keranjang belanja siap untuk dibayar, plus satu kandidata yang direkomendasikan oleh beberapa AI.
OneSport OT16-2

Sepeda OneSport OT16-2 ini hampir pasti saya checkout, dan merupakan kandidat terkuat saya.
Apalagi ulasan-ulasan di YouTube, yang sebagian besar adalah endorsement bernada positif.
Para Youtuber itu juga berbagi kode diskon yang potongannya juga lumayan.
Buat saya, sepeda ini memenuhi hampir semua checklist saya tersebut.
Harganya juga lumayan masuk anggaran, yaitu 619€ setelah menerapkan kode potongan 130€ dari harga yang ditawarkan, 749€.
Belum lagi ada promo dapat tas sepeda gratis jika membeli saat itu.
Modelnya juga cantik, ala-ala retro apalagi warna beige-nya yang ciamik.
Selain rangkanya yang kelihatan kokoh, ada suspensi di porok depan dan di sadel, penggunan rem cakram mekanik, juga throttle yang bisa dicopot, membuat saya menjadikan sepeda ini kandidat terkuat.
Saya juga melihat sepeda ini juga dijual di situs Decathlon dan MediaMarkt (melalui model rekanan), menambah keyakinan saya bahwa minimal sepeda ini sudah memenuhi syarat pasar Jerman.
Di situsnya, OneSport juga menyantumkan nomor layanan konsumen dengan kode negara Prancis, Ceko, Polandia, dan Slovakia.
Beberapa kanal YouTube yang mengulas sepeda ini juga banyak yang berada di Inggris, Jerman, Ceko, Polandia, dan Slovakia.
Hitway BK11

Sedikit berbeda dengan OneSport OT16-2, model Hitway BK11 terlihat lebih kokoh karena rangka pipa mendatarnya.
Secara spesifikasi, sepeda ini bisa dibilang sama dengan OneSport OT16-2, cuma tegangan baterainya sedikit lebih rendah, yaitu 36V dari 48V pada OneSport OT16-2.
Pilihan warnanya juga tidak banyak, hanya hitam dan warna tulisan hijau atau oranye saja.
Sepeda ini juga memiliki suspensi di porok depan dan di sadel, menggunakan rem cakram mekanik, pokoknya sama dengan fitur OneSport OT16-2.
Sayangnya, harganya lebih mahal, dan saya tidak menemukan potongan diskon yang cukup signifikan.
Ulasan di YouTube juga cukup banyak, meski tidak sebanyak ulasan OneSport OT16-2.
Jika membeli, saya perlu membayar 679,99€ dari harga awal 699,99€.
Sepeda ini juga saya lihat dijual di MediaMarkt, namun tidak saya temukan di situs Decathlon.
Dari halaman kontak, Hitway hanya menyantumkan formulir kontak dan tautan ke media sosial mereka.
Hitway sepertinya tidak memiliki perwakilan di Eropa.
PVY Z20 Pro Evo

Sepeda PVY Z20 Pro Evo ini muncul dalam rekomendasi beberapa AI, yaitu Claude, Gemini, dan Grok.
Sementara Perplexity merekomendasikan Cube Fold Hybrid 545 dan ChatGPT malah merekomendasikan Fiido X yang tidak ada dalam daftar kandidat yang saya berikan.
Hanya DeepSeek yang merekomendasikan OneSport OT16-2 yang sesuai dengan incaran saya.
Saya bisa memahami bahwa AI memberikan rekomendasi berdasarkan data yang ia kumpulkan, yang beberapa di antaranya kurang tepat karena keterbatasan akses.
Sebenarnya rekomendasi ini juga cukup bagus, misalnya penggunaan sensor torsi yang jarang ada di sepeda serupa di kelas pemula, dan merupakan versi upgrade dari sensor langkah pada seri non Evo.
Harganya juga cukup menarik, 819€ tanpa tambahan kupon.
Remnya juga menggunakan rem cakram mekanik, namun sayagnya sepeda ini hanya memiliki suspensi di bagian depan saja.
Ada 3 pilihan warna menarik yang bisa dipilih, yaitu hitam, putih, dan oranye.
Baterainya tersembunyi dalam rangka tengah, menjadikan bentuk sepeda model faltbare ini juga cocok untuk kota-kota dan gravel.
Ulasan YouTube-nya juga cukup banyak dan positif.
Halaman kontak pada situs PVY menyantumkan nomor telepon dan alamat di Shenzen, Cina, di Wexford, Irlandia, serta di Turin, Italia.
Engwee L20 3.0 Pro

Sepeda Engwee L20 3.0 Pro awalnya tidak masuk dalam radar saya, karena harganya 1.699€, hampir sama dengan harga Brompton C Line nonelektrik.
Namun setelah melihat berbagai ulasan di YouTube, saya akhirnya memutuskan memasukkan sepeda ini ke dalam daftar kandidat.
Tidak seperti OneSport OT16-2, Hitway BK11, dan PVY Z20 Pro Evo yang menggunakan hub motor, sepeda ini menggunakan mid motor, yang jarang ada di sepeda dengan harga di bawah 2.000€.
Sebenarnya sepeda Engwe ini ada juga versi hub motor-nya, yakni Engwe L20 3.0 Boost, tapi rasanya kok nanggung, dan sekalian saja memilih yang versi pro.
Menurut beberapa ulasan YouTube, sepeda ini merupakan sepeda kelas pemula dengan mid motor terbaik dengan harga terjangkau.
Yang membuat saya tertarik adalah tentu saja penggunaan mid motor, baterai Samsung yang tertanam dalam rangka, dan juga fast charger.
Suspensi depan yang bisa diatur dan suspensi belakangnya juga membuat saya tertarik, karena di kandidat lainnya, suspensi belakang ini tidak ada.
Remnya menggunakan rem cakram hidrolik, tidak seperti pada kandidat lain yang menggunakan rem cakram mekanik.
Beberapa fitur gimmick-nya seperti layanan pelacakan GPS terintegrasi dan alarm pencurian juga menarik perhatian saya, meski belakangan saya tahu bahwa layanan pelacakan ini membutuhkan langganan dan pembeli mendapatkan layanan ini secara gratis selama setahun.
Saya juga suka dengan bentuk dan warna champagne-nya, meski bobot sepeda ini mencapai 30 kg dan tidak kecil-kecil amat saat dilipat.
Apalagi ada potongan lumayan dengan menggunakan kode kupon yang saya dapat dari Instagram, membuat harganya menjadi 1.529,10€.
Halaman situs Engwe juga menyantumkan nomor telepon Italia untuk layanan pelanggan dalam Bahasa Inggris dan nomor telepon Prancis untuk layanan pelanggan dalam Bahasa Prancis.
Pilihan

Setelah mempertimbangkan dengan matang, saya pun akhirnya memutuskan merogoh kocek lebih dalam.
Saya mengurungkan niat awal membeli OneSport OT16-2, yang menurut saya sudah paling OK, dan menebus Engwe L20 3.0 Pro seharga 1.529,10€ dari harga awal 1.699€ karena menggunakan kode kupon Instagram.
Situs Engwe juga memberikan pilihan untuk membayar secara kredit dan cicilan melalui PayPal atau Klarna.
Entah kenapa tidak sejak awal saya memutuskan untuk menaikkan anggaran, dan bermain di rentang 1.000€ hingga 2.000€, karena mungkin saya bisa mendapat rekomendasi yang lebih baik.
Saya juga sempat melihat-lihat kandidat sepeda lain di kelas menengah yang menggunakan mid motor, namun semua yang saya lihat berada di rentang harga 2.000€-an.
Setidaknya saya bisa menghibur diri, karena saya sedikit menyesal juga, karena dengan harga segitu, saya bisa membeli Brompton.
Namun lagi-lagi, urusan fitur dan fungsi menurut saya lebih penting daripada gengsi.
Kadang begitulah cara dunia bekerja, di mana keputusan impulsif dan tiba-tiba di akhir justru bisa terwujud dibandingkan rencana yang hanya jadi wacana.
Saya kini menunggu sepeda itu datang, yang menurut situs mereka, sepeda ini ada di gudang di Eropa yang membutuhkan waktu pengiriman sekitar 7 hingga 10 hari kerja.
Tahniah atas sepeda barunya!
Pada saat ini, karena tergoda oleh teman, saya sedang menimbang-nimbang untuk membeli sepeda listrik atau motor listrik. Sepeda listrik punya kekurangan dan kelebihannya tersendiri, beberapa di antaranya adalah sepeda listrik tidak boleh digunakan di atas 25 km/jam, tetapi bisa beroperasi secara hibrida (dikayuh dan digas).
Ini juga berlaku untuk motor listrik, yaitu kelebihannya bisa digunakan lebih dari 25 km/jam, tetapi apabila baterainya habis di jalan maka tidak bisa dikayuh layaknya sepeda listrik. Satu hal lagi, motor listrik cenderung senyap apabila dibandingkan motor konvensional. Alhasil, pengguna kendaraan lainnya tidak mengetahui keberadaan motor listrik di belakangnya.