Bermain di Pantai Sungai Havel dan Mengunjungi Menara Grunewald

12 minutes 0 5

Jerman, selain di utara, yang beririsan dengan Laut Baltik, tidak ada yang memiliki pantai.

tanda masuk area pemandian dan pantai Lieper Bucht

Tentu saja jika ada, tidak bisa dibandingkan atau dibayangkan seperti pantai-pantai cantik di Indonesia.

Maka tidak heran jika orang Jerman gemar sekali berkunjung ke Mallorca, Spanyol, untuk berlibur dan menikmati suasana laut.

Mallorca ibarat Bali-nya orang Jerman, bahkan lelucon lokal mengatakan bahwa Mallorca adalah negara bagian ke-17, padahal Jerman hanya punya 16 negara bagian, karena saking banyaknya orang Jerman ke sana.

Apalagi saat musim panas seperti saat ini, bisa dipastikan pulau yang beribukota di Palma ini bakal penuh dengan orang-orang Jerman.

Sejak tinggal di Berlin, saya baru merasakan betapa berharganya matahari.

Jika di Indonesia, matahari ini semacam menjadi musuh, di Berlin, matahari ini justru dicari.

warga Berlin berjemur di taman di Savignyplatz

Tidak heran jika di taman-taman, banyak orang bergelimpangan mencari matahari.

Di beberapa tempat, bahkan ada area yang digunakan oleh pengikut gerakan FKK (Freikörperkultur) alias Free Body Culture, sebuah gerakan yang mengapresiasi raga, dengan menanggalkan seluruh pakaiannya alias telanjang bulat.

FKK merupakan gerakan sosial yang meledak pada tahun 1920-an di Jerman, dan hingga sekarang gerakan ini juga menyebar ke berbagai negara.

Mereka berjemur, berenang, dan melakukan aktivitas seperti biasa, hanya saja bedanya mereka telanjang bulat.

Di Jerman, telanjang bulat di ruang publik adalah aktivitas yang legal dan tidak melanggar hukum.

Meski begitu, ada saja manusia mesum yang menodai semangat FKK dan melakukan aktivitas seksual di area tersebut.

Menariknya, meski telanjang bulat di ruang publik hal yang legal, melakukan hubungan seksual di tempat terbuka adalah perbuatan ilegal.

Biasanya area FKK berada di sekitar kolam atau danau yang ada pasirnya seperti pantai.

Di Berlin, meski jauh dari laut, namun untungnya ada banyak sekali danau dan sungai yang memiliki area berpasir seperti pantai.

Tidak heran jika di musim panas, tempat ini pun langsung ramai dengan orang, baik yang ingin sekadar berjemur, nyemplung ke air, atau sekadar piknik bersama keluarga.

Menuju Grunewald

menunggu bus menuju ke Grunewald

Minggu, 18 Juli 2021, saya bersama istri janjian bertemu dengan teman di Lieper Bucht, sebuah “pantai” berbentuk teluk di pinggiran Sungai Havel yang menghadap langsung ke pulau kecil Lindwerder.

Pantai ini berada di kawasan hutan Grunewald yang dulunya merupakan kawasan hutan kota terbesar di Berlin Barat.

Hutan ini berbatasan dengan wilayah Spandau, di mana saya pernah berkunjung ke hutan Spandauer Forest dan pasar natalnya.

Kini hutan seluas 3.000 hektar ini difungsikan sebagai paru-paru kota sekaligus wahana rekreasi warga.

Beberapa jalur trekking dan sepeda dibangun di area hutan, bahkan akses untuk penyandang disabilitas pun bisa melalui beberapa jalurnya.

Area hutan ini dulunya terdapat loji berburu yang dibangun pada tahun 1543, di mana bangunan loji ini merupakan salah satu kastil tertua di Berlin.

Di hutan ini pula, pada 24 Juni 1922, Menteri Luar Negeri Jerman, Walther Ratenau dibunuh oleh kelompok ekstrimis ultra nasionalis.

Kelompok ini bukan lah kelompok Nazi, karena Nazi sendiri baru berdiri pada tahun 1933.

Bicara tentang Nazi, wilayah ini juga mencatat sejarah kelam kekejaman kelompok ini.

Pada Oktober 1941 hingga Februari 1945, lebih dari 50.000 umat Yahudi dikirim ke kamp konsentrasi menggunakan gerbong barang dari Stasiun Grunewald.

Untuk memperingati peristiwa tersebut, di Stasiun Grunewald, yang kini melayani jalur S-bahn S7, di jalur 17 (Gleis 17) dibangun sebuah monumen.

Pantai Lieper Bucht

pantai Lieper Bucht, Grunewald

Pantai Lieper Bucht ini termasuk populer karena pasir putihnya yang halus, mirip dengan pasir pantai di Indonesia.

Karena populer, terutama di akhir pekan, saat kami tiba ke sana, suasana sudah ramai orang yang menggelar handuk atau tikar lalu berjemur dengan mengenakan bikini atau celana renang.

Akses menuju tempat ini cukup gampang sebenarnya, ada halte bus serta parkir sepeda dan mobil.

Masuk ke area ini juga gratis, dan orang-orang bisa datang kapan saja jika mau.

Meski begitu, kami sempat nyasar dan turun kelewatan satu halte lalu jalan kaki menuju ke pantai ini.

Saat kami ke sana, ada sekelompok keluarga yang tengah merayakan suatu acara dengan menggelar tikar lebar dan menggelar panggung kecil dan memainkan musik.

Kami segera mencari tempat di dan menggelar tikar yang sudah kami persiapkan.

bermain air di Sungai Havel di Pantai Lieper Bucht

Saya melepas sepatu, meletakkan barang-barang di atas tikar lalu melangkah ke air.

Orang-orang dengan santai meninggalkan barang-barangnya di tikar tanpa perlu khawatir hilang.

Beberapa orang terlihat duduk-duduk di kursi atau ranjang lipat, sementara beberapa lainnya menemani anak-anaknya bermain air dengan pelampung berbentuk aneka hewan.

Salah satu daya tarik utama pantai ini adalah angsa dan bebek-bebek yang sering berkeliaran di pantai.

Maklum saja, namanya juga sungai, banyak bebek dan angsa liar yang bersliweran lalu mencoba mengais remah makanan dari manusia.

Tidak ada ombak di pantai ini, sehingga jika ingin berenang, orang-orang harus berjalan agak ke tengah untuk masuk ke area yang dalam.

angsa dan bebek adalah salah satu daya tarik Pantai Lieper Bucht

Saya melihat ada pos penjaga pantai, dan beberapa personelnya tengah melakukan latihan, membuat pantai ini cukup aman.

Di tengah sungai, terlihat kapal-kapal layar dan yacht milik orang-orang kaya berlayar atau membuang jangkar di tengah Sungai Havel.

Beberapa angsa berwarna abu-abu tampak tidur dengan menekuk lehernya ke bagian punggung.

Sementara dua ekor angsa berwarna putih tengah berdiri dengan gagah.

Saat saya mencoba mendekat, si angsa tampak waspada dan berusaha menghindar.

Sementara saya juga menjaga jarak dan tak ingin membuat si angsa marah.

Lalu tampak segereombolan bebek mallard berkonvoi menuju pantai.

Saya pun meninggalkan angsa dan mencoba mengejar kerumunan mallard.

Mereka dengan sigap langsung berlarian menuju ke air dan berenang menjauh menuju perairan dalam.

Teman saya asyik berganti pakaian tanpa peduli orang lain, karena memang tidak ada tempat untuk berganti baju.

Apalagi di pantai ini memang ditujukan untuk berenang dan bermain air.

Saya yang menggunakan pakaian lengkap karena memang tidak berniat bermain air, malah terlihat aneh, plus kelakuan saya yang mengejar bebek dan angsa.

Menara Grunewald

menuju ke Menara Grunewald

Setelah puas bermain air dan berjemur di Pantai Lieper Bucht, kamu memutuskan untuk berjalan kaki menuju ke Menara Grunewald (Grunewaldturm).

Untuk menuju ke menara ini, kami berjalan menyusuri jalur setapak yang menanjak.

Dengan dipandu oleh Peta Google, yang memetakan jalur-jalur setapak di hutan ini dengan cukup akurat, kami pasrah mengikuti jalur menanjak nan terjal.

Di tengah jalur, saya sempat melihat tanaman raspberi yang rupanya pohonnya penuh dengan duri.

Sayangnya raspberi tidak berbuah saat itu, sehingga kami tidak dapat memetik buahnya langsung.

Papan-papan petunjuk juga terpasang di beberapa persimpangan, sehingga tidak perlu khawatir tersesat atau hilang arah.

Menara Grunewalad mulai terlihat

Setelah berjalan selama kurang lebih 15 menit, akhirnya bangunan menara berwarna merah bata mulai terlihat.

Kami pun dengan semangat mempercepat langkah kaki dengan nafas tersengal karena jalur mendaki.

Menara Grunewald dibangun pada tahun 1897 dan selesai pada 1899.

Bangunan setinggi 36 meter ini dibangun atas permintaan dewan distrik Teltow untuk memperingati Raja Prussia dan Kaisar Jerman, Wilhelm I, yang meninggal pada tahun 1888.

Arsitek Franz Schwechten mendapat mandat untuk mendesain bangunan ini.

Gaya gothic dan berbahan bata merah menjadi ciri khas bangunan untuk melihat pemandangan ke arah Sungai Havel dan Danau Wan (Wansee).

patung Kaisar Wilhelm I di dasar menara

Terdapat 204 anak tangga yang harus dinaiki untuk menuju ke puncak dan mendapat ganjaran pemandangan menakjubkan.

Di bagian kaki menara, jika menghadap ke atap akan terlihat lukisan mosaik karya August Oetken yang bergaya Neo-Byzantine.

Patung Kaisar Wilhelm I berskala satu banding satu juga terdapat di bagian kaki menara.

Namun kami memutuskan untuk tidak naik ke atas karena sudah terlalu lelah, apalagi siang itu, cuaca sangat cerah dan matahari bersinar terik.

Kami lebih memilih untuk bersantai dan beristirahat di restoran sekaligus beer garden yang berada di halaman menara dengan melihat ke arah Sungai Havel.

Setelah memesan minuman dingin, kami duduk menikmati pemandangan.

pemandangan Sungai Havel dan Funkturm

Dari tempat kami duduk, terlihat menara radio Funkturm yang menjulang tipis-tipis.

Jika biasanya kami melihat menara televisi, kini pemandangannya sedikit berganti.

Untuk mengisi perut kami yang lapar dan energi terkuras karena main di pantai dan trekking, kami memesan kentang goreng.

Menu di restoran ini sangat Jerman sekali, dengan makanan sebagian besar berupa kentang dan daging.

Sementara untuk minuman, tentu saja bir dan jika tidak meminum alkohol bisa memesan soda.

Setelah energi kembali pulih, kami memutuskan untuk pulang.

5 responses
  1. Gravatar of Fanny_dcatqueen
    Fanny_dcatqueen

    Jadi ini sungai nya ketemu Ama pantai ya mas? Aku cuma ngeliat dari jauh pertemuan sungai dan pantai gitu, ga pernah liat secara langsung :D.

    Tapi memang pantainya kalah jauh dari Indonesia yaaa hahahahaha .

    Btw, aku termasuk yg membenci matahari :D. Makanya tiap traveling pasti selalu winter Krn yg dicari udara dingin. Makin minus, makin happy wkwkwkwkwk .

  2. Gravatar of Daeng Ipul
    Daeng Ipul

    Pantai segitu aja sudah ramai ya di sana? Hahaha
    Anyway, tertarik soal FKK ini.
    Jadi kamu sudah pernah lihat orang telenji bugil-gil gitu di tempat umum?

  3. Gravatar of Antyo®
    Antyo®

    Kamu gak ikut FKK, Zam?
    Kan pakaian gak akan diambil orang?

  4. Gravatar of duniamasak
    duniamasak

    angsanya indah bangett, need vitamin sea juga nih aku hihihihi

  5. Gravatar of Zizy
    Zizy

    Ya namanya kalau sudah naked begitu, kalau sampai ada kegiatan seksual, itu hal yang sebenarnya wajar since kalau pasangan buka baju ya buat apa ya. Jadi peraturannya yang memang harus diperbaiki, stop nudity di publik.

Tinggalkan Balasan

This article has been published on 15 Agustus 2021 (2 bulan ago). The information provided here might not be accurate.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.