Sistem Deposit Botol (Pfandflasche) di Jerman

7 minutes

Botol-botol plastik, botol kaca, dan kaleng-kaleng aluminium yang telah teronggok cukup lama di salah satu sudut apartemen tersebut kami masukkan ke dalam tas dan kami bawa ke supermarket.

area penukaran botol (Leergut) di supermarket Kaufland

Sesampai di supermarket, saya langsung menuju ke area Leergut, menghadap ke mesin-mesin dengan lubang dan sebuah monitor.

Satu persatu saya memindahkan botol dan kaleng minuman dari tas dan memasukkannya ke mulut-mulut mesin tersebut.

Di dalam lubang, botol diputar oleh mesin, dipindai, ditimbang, sebelum kemudian mesin tersebut menelan botol-botol tersebut.

Jika botol terbuat dari plastik atau aluminium, terdengar bunyi krak saat botol tersebut dihancurkan, sedangkan jika botol tersebut terbuat dari kaca, tidak terdengar suara dan botol akan disortir ke tempat lain.

Mesin akan memuntahkan dan menolak botol yang tidak layak atau tidak masuk kriteria deposit, di mana ada tanda khusus yang akan dilihat oleh sensor mesin.

botol dengan logo daur ulang (Pfand)

Dulu saya mengira semua botol bisa dimasukkan ke dalam mesin ini, dan kecewa saat tahu bahwa harus ada tanda khusus agar bisa diterima oleh mesin.

Beberapa mesin juga menerima botol dalam krat yang biasanya dimasukkan di bagian bawah mesin, di mana terdapat ban berjalan yang akan menimbang dan menarik krat ke dalam.

Setelah selesai, saya tinggal menekan tombol di layar, dan struk berisi nilai dari botol (Leergutbon) yang dimasukkan akan tercetak.

Dengan struk Leergutbon ini, saya bisa menukarkan ke uang tunai di kasir, atau membelanjakannya di supermarket yang sama dengan tempat saya mengembalikan botol.

Kami biasanya menggunakannya langsung untuk berbelanja, karena nilainya biasanya juga sekitar 1€ hingga 2€.

struk Leergutbon

Tiap botol memiliki nilai yang berbeda-beda, di mana botol kaca yang biasanya bisa digunakan lagi nilainya murah, sekitar 0,08€ hingga 0,15€, sementara untuk botol plastik PET (Polyethylene terephthalate) nilainya lebih mahal, mulai dari 0,15€ hingga 0,25€, tergantung ukuran.

Uang yang didapat dari menukarkan botol ini sebenarnya uang pembeli, di mana saat membeli minuman, angka deposit (Pfand) ini akan ditambahkan ke harga minuman.

Misal harga minuman dalam botol plastik yang tertera adalah 1,50€, pembeli akan membayar sebesar 1,75€.

Di supermarket, biasanya nilai Pfand ini akan ditampilkan juga di tempelan rak, di mana lokasi penjualan ini akan dipisahkan sehingga pembeli tahu bahwa minuman yang dibeli adalah minuman dengan deposit botol.

bukan botol deposit, bisa didaur ulang

Tidak semua botol minuman merupakan botol deposit alias Pfand, di mana selain melihat tanda yang ada, biasanya botol-botol bir, soda, air mineral, termasuk dalam kaleng merupakan botol deposit.

Sementara produk kemasan susu, jus, dan produk minuman yang dibeli dari luar Jerman, bukan kemasan botol deposit.

Botol-botol bukan deposit ini akan berakhir di tempat sampah khusus botol kaca atau tempat sampah daur ulang.

Biasanya ada tulisan Pfandfrei atau Ohne Pfand, sementara untuk botol-botol deposit akan ada tulisan Mehrwegflasche (botol yang bisa dipakai kembali) selain logo Pfand.

Sistem botol deposit di Jerman ini menarik dan membuat sistem ini ditiru oleh negara-negara lain di Eropa.

Kebijakan yang diusulkan oleh koalisi Partai Sosial Demokrat Jerman (SPD) dan Partai Hijau (Bündnis 90) ini diterapkan sejak tahun 2003.

memasukkan botol ke dalam mesin deposit

Tujuan dari kebijakan ini adalah untuk menumbuhkan gerakan cinta lingkungan dengan menggunakan botol yang bisa digunakan kembali dan melakukan daur ulang botol sekali pakai.

Jerman sendiri sudah menerapkan sistem pembeda pada tempat sampah, termasuk tempat sampah khusus barang-barang plastik yang bisa didaur ulang, yang memiliki tanda panah daur ulang.

Botol minuman memang menjadi masalah tersendiri, terutama botol-botol plastik dan kaca, yang mana orang kerap membuang botol ini sembarangan, meski sudah ada tempat sampah khusus.

Saya teringat di Indonesia dulu juga ada sistem seperti ini, terutama bila membeli minuman Coca-Cola, Fanta, atau Sprite di warung yang menggunakan botol kaca.

Jika tidak ingin membayar lebih, biasanya si empunya warung akan membuka botol, menuangkan isinya ke dalam kantong plastik, dan memberikan sedotan atau diikat.

botol-botol Pfand

Sistem ini pun rupanya juga tidak selalu efektif untuk meningkatkan kesadaran orang-orang untuk tidak membuang botol sembarangan.

Di satu sisi, kebiasaan buruk ini menjadi ladang rezeki bagi orang lain, di mana beberapa orang, terutama gelandangan yang memunguti botol-botol yang dibuang atau diletakkan sembarangan untuk kemudian ditukarkan menjadi uang melalui mesin-mesin ini.

Orang-orang ini sering disebut dengan Pfandsammler alias pemulung, namun khusus mencari botol-botol bertanda Pfand.

Para Pfandsammler ini biasanya terlihat mondar-mandir di taman, melongok ke tempat-tempat sampah, sambil membawa troli belanja atau tas-tas besar.

Saya sendiri suka dengan ide deposit botol ini, dan jika membeli minuman, saya biasa mencari yang bertanda Pfand meski harus membayar sedikit lebih mahal.

6 responses
  1. Gravatar of Antyo®
    Antyo®

    Zam, di sini ada yang memalukan stiker Pfand berikut barcode gak? 😂

    Waktu saya ke Jerman, anak teman suka bawa botol ke supermarket buat jajan.

    Kalo cara Surabaya, menukar botol untuk naik bus, saya belum nyoba

    Gravatar of Muhammad Zamroni
    Muhammad Zamroni

    beberapa barang impor di toko Asia ditempeli stiker ini, Paman. memang secara resmi mereka bekerja sama sih.

  2. Gravatar of nengbiker
    nengbiker

    duhhh, aku bahagia klo ada mesin ginian di sini.

    *ttd yg nyusuh sukanya ngumpulin botol*

  3. Gravatar of Dirmanto.web.id
    Dirmanto.web.id

    Berarti di jerman engga ada yang bercocok tanam pakai media botol bekas, ya ?

  4. Gravatar of lenny
    lenny

    padahal enakan minum fanta cola yah langsung dari botolnya yak.. tak kira harganya sama aja asal botol dibalikin.

    Semoga sistem ini bisa nyebar hingga ke Indonesia. Keren banget!

  5. Gravatar of morishige
    morishige

    Kalau ada startup yang bikin ginian di Indonesia, kayaknya keren banget tuh, Kang. (Apa sudah ada , ya?) Kadang nggak tega aja gitu pas mau buang botol plastik bekas atau kaleng gas kecil ke tempat sampah, karena belum tentu juga sampah itu bakal diperlakukan sebagaimana mestinya.

Tinggalkan Balasan

This article has been published on 11 Juli 2020 (4 bulan ago). The information provided here might not be accurate.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.