Terima Kasih, Mahakarya Indonesia!

Artikel ini ditayangkan pada 14 November 2014, sekitar 3 tahun yang lalu. Informasi pada tulisan ini mungkin sudah tidak sesuai.

Awalnya saya tak begitu acuh terhadap rempah-rempah. Buat saya, rempah-rempah tak lebih dari bumbu dapur, tidak ada yang istimewa. Hingga saya menghadiri acara Gemah Rempah Mahakarya Indonesia, anggapan saya pun berubah. Rupanya rempah-rempah yang selama ini saya anggap remah, ternyata mampu mengubah sejarah.

Belajar Sejarah

acara Maha Karya Indonesia acara Maha Karya Indonesia

JJ Rizal yang saat itu bercerita dengan gayanya yang khas tentang kisah penjelajahan bangsa Eropa demi mencari rempah hingga ke nusantara, seakan mengungkit kembali pelajaran sejarah yang saya dapat di waktu sekolah.

Sejak saat itu, saya mulai rajin mencari tahu dan membaca cerita-cerita tentang penjelajahan bangsa Eropa. Nama-nama Bartolomeus Dias, Christoper Columbus, Alfonso d’Albuquerque, hingga Ferdinan Magelhaens mulai bisa tergambar sosok-sosoknya.

Dari pencarian rempah, Chistoper Columbus mendarat dan menemukan benua Amerika. Meski ia ditugaskan Spanyol dan gagal menemukan rempah setelah berlayar empat kali, nama Columbus tetap tercatat dalam sejarah Eropa dan Amerika.

Alfonso d’Albuquerque menjadi orang yang pertama kali membuka jalur perdagangan rempah melalui laut setelah menguasai pusat perdagangan rempah di Malaka. Selama ini, rempah yang di Eropa dikuasai pedagang Arab dan Cina, dikirim ke Eropa melalui jalur darat. Nama Malaka sendiri konon berasal dari kata Maluku (Mollucas), yang berarti tempat penghasil rempah, karena di Malaka ini lah rempah-rempah menjadi komoditas utama.

Monopoli rempah pun makin menggila setelah 3 kapal utusannya yang dipimpin oleh Fransisco Serrao menemukan Pulau Banda dan Ternate. Fransisco Serrao yang berkerabat dengan penjelajah Ferdinan Magelhaens, mengundang Magelhaens melalui surat untuk datang ke Ternate.

Magelhaens yang saat itu bekerja untuk Spanyol, menempuh jalur berbeda dari Portugis. Ia mengarah ke barat, melewati selat berliku di Amerika Selatan, yang akhirnya dikenal dengan Selat Magelhaens, dan menempuh samudera terluas, Samudera Pasifik, hingga akhirnya sampai di Filipina.

Sayangnya, kedua kerabat ini tak sempat bertemu karena keduanya meninggal di tahun yang sama, 1521. Magelhaens meninggal dalam pertempuran di Mactan, Filipina, sedangkan Serrao meninggal di Ternate.

Fransisco Serrao ini lah yang menjalin hubungan perdagangan dengan Kesultanan Ternate. Ia membangun benteng dan gudang rempah, mengawini perempuan Jawa, dan menjadi pedagang rempah dengan memanfaatkan perahu-perahu dari Jawa dan Makassar. Benteng peninggalan Fransisco Serrao masih bisa dilihat di Ternate, yaitu Benteng Toluko, Benteng Oranye, dan Benteng Kalamata.

Ternate, Ibukota Rempah

Dari cerita-cerita sejarah tersebut, nama Ternate sering mencuat. Selain daerah penghasil cengkeh terbesar, di Ternate tumbuh pohon cengkeh Afo, pohon cengkeh tertua di dunia yang berumur lebih dari 400 tahun.

Selain cengkeh, Ternate, yang sempat menjadi ibukota sementara Provinsi Maluku Utara selama 11 tahun sebelum akhirnya ibukota dipindah ke Sofifi, memiliki mahakarya panorama yang elok.

Jika menuju ke selatan Pulau Ternate, dari sebuah tanjung, kita akan akan melihat pemandang Pulau Maitara dan Tidore, seperti yang tergambar pada uang kertas Rp 1.000. Belum lagi Gunung Gamalama setinggi 1.715 meter menjulang seolah menjadi tiang pancang pulau yang memiliki luas 76 Km persegi.

Sejarah kuat juga mewarnai Kota Ternate. Kedatangan Portugis melalui Fransisco Serrao meninggalkan jejak dan akulturasi kebudayaan yang menarik dan layak diulik.

Tak heran jika kampanye Gemah Rempah Mahakarya Indonesia menghadiahkan trip sejarah dan budaya ke Ternate untuk pemenang kompetisi menulis.

Kampanye Gemah Rempah Mahakarya Indonesia

gemah rempah loh jinawi gemah rempah loh jinawi

Saya salut dengan kampanye Gemah Rempah Mahakarya Indonesia yang diselenggarakan oleh Sampoerna ini. Jika tahun lalu, tema Mahakarya Indonesia adalah Potret Mahakarya yang mengangkat wajah-wajah Indonesia, tahun ini temanya adalah Gemah Rempah yang fokus ke rempah-rempah.

Seperti saya tulis di awal, saya awalnya juga tak begitu peduli tentang rempah-rempah. Padahal kekayaan alam ini memiliki potensi dan sejarah yang luar biasa. Melalui kampanye ini saya tersadar.

Saya kini sering mengamati bagian rempah-rempah saat di supermarket. Rempah-rempah kini banyak dikemas dalam kemasan modern, sehingga mudah diperoleh dan murah. Dari mengamati harga rempah-rempah ini, saya takjub saat melihat harganya, saya menemukan fakta, bahwa pala mempunyai harga paling mahal bila dibandingkan dengan rempah-rempah yang lain. Peringkat kedua dipegang oleh harga cengkeh.

Fakta ini sepertinya cocok bila disangkutkan dengan kisah sejarah, betapa bangsa Eropa begitu menggilai rempah, terutama pala dan cengkeh. Tak heran jika kedua benda ini saat itu begitu mahal dan mewah.

Membaca tulisan-tulisan pemenang kompetisi juga menarik, karena saya mendapatkan wawasan dan pengetahuan baru. Mulai dari tulisan Rere yang bercerita dari sudut pandang ibu rumah tangga pemenang live writing competition, tulisan Gie Wahyudi tentang jalur gagasan jalur rempah menjadi warisan dunia UNESCO pemenang writing competition minggu pertama, tulisan Wahyu Alam tentang menjajah dunia dengan mengemas ulang rempah-rempah pemenang writing competition minggu kedua, dan tulisan Terry Endroputro tentang kekayaan pala di Lonthoir pemenang writing competition minggu keempat. Tulisan saya sendiri yang merupakan ide saya untuk membangkitkan kejayaan rempah dengan berwisata berhasil memenangkan writing competition pada minggu ketiga.

Saya yakin, dewan juri cukup pusing melihat banyaknya tulisan yang masuk, tentu dengan kualitas yang bagus. Namun sisi positifnya, tulisan-tulisan ini nantinya akan menjadi arsip dan memperkaya referensi tentang rempah di internet, membangkitkan kembali kejayaan gemah rempah nusantara melalui dunia maya.

Meski kompetisi menulis Gemah Rempah Mahakarya Indonesia akan berakhir hari ini, Jumat, 14 November 2014, saya secara pribadi akan terus mencoba untuk mengeksplorasi mahakarya Indonesia yang lain, dan menuliskannya di blog ini.

goes to Ternate! goes to Ternate!

Terima kasih, Mahakarya Indonesia, yang telah membuat saya tersadar betapa pentingnya rempah-rempah sebagai kekayaan alam dan budaya yang wajib dijaga. Saya berharap even semacam ini akan terus ada, dengan tema yang berbeda, karena Indonesia memiliki banyak sekali kekayaan budaya yang saya mungkin belum mengetahui dan mengeksplorasi.

Pemenang Kompetisi Mahakarya Indonesia

Tanggal 26 November 2014, pemenang kompetisi Gemah Rempah Mahakarya Indonesia diumumkan. Saya dan mbak Terry Endroputro dinyatakan sebagai blogger terbaik dan berhak untuk berangkat ke Ternate untuk mengikuti cultural trip pada tanggal 7-10 Desember 2014.

Sebagai pemenang minggu ketiga, saya mendapatkan hadiah Samsung GALAXY K zoom berwarna charcoal black dan tas daypack Deuter seri City Light berwarna hitam.

Muhammad Zamroni

pengembang web • penyelam scuba • pejalan pemula • peminat perangkat

Jakarta, Indonesia

1 komentar

Artikel ini ditayangkan pada 14 November 2014, sekitar 3 tahun yang lalu. Informasi pada tulisan ini mungkin sudah tidak sesuai.

arievrahman

14 November 2014 14:07

Ajarin aku biar menang, mz.

Statistik

Telah dibaca 257 kali. Waktu baca rata-rata 8 menit. Ada 1 komentar.