Berpetualang Bersama Black Trail di Raja Ampat

Artikel ini ditayangkan pada 24 Januari 2013, sekitar 5 tahun yang lalu. Informasi pada tulisan ini mungkin sudah tidak sesuai.

Bulan September atau Oktober 2012, saya sempat bergumam, “Desember tahun ini saya pengen ke Raja Ampat!”. Dan Tuhan memang Maha Kuasa.

Saya tak menyangka. Di penghujung tahun 2012, keinginan saya tersebut terpenuhi dengan cara yang ajaib. Bayangkan, Raja Ampat begitu terkenal dengan biaya perjalanannya yang sangat mahal, ternyata saya bisa menapakkan kaki di sana secara gratis melalui acara L’Oreal Men Expert Black Trail bersama National Geographic Indonesia!

di Raja Ampat di Raja Ampat

Rasanya seperti tak percaya. Saya mengikuti kompetisi ini di hari-hari terakhir pendaftaran. Beli produk L’Oreal Men Expert Pure and Matte Bright Charcoal Black Foam di Indomaret dekat kantor saat hendak berangkat bekerja, kemudian mendaftar dengan tidak memiliki firasat apa-apa.

Beberapa hari setelah pendaftaran ditutup, pada malam hari saya mendapat telepon dari National Geographic Indonesia, memberitahukan bahwa saya termasuk 10 orang yang lolos seleksi awal dari sekitar 1.500-an pendaftar.

Saya tak percaya! Saya sempat gemetar mendengar kabar ini. Namun setelah menguasai keadaan, saya segera mempersiapkan diri untuk seleksi tahap kedua, yang akan menentukan saya berangkat atau tidak.

Alhamdulillah, setelah wawancara di kantor National Geographic Indonesia, saya dinyatakan lolos dan berangkat ke Raja Ampat!

Menyelam di Raja Ampat!

Raja Ampat DIve Lodge Raja Ampat DIve Lodge

Menggunakan pesawat Batavia Air Y6-845 kami berangkat dari terminal 1B Bandara Soekarno-Hatta, pukul 22:45 WIB menuju Sorong dengan transit sebentar di Makassar.

Perjalanan ke Sorong, Papua Barat, ditempuh dalam waktu sekitar 7 jam. Kami tiba di Bandara Domine Eduardo Osok, Sorong, pagi sekitar pukul 8 WIT.

Dari bandara kami sarapan sebentar di warung Coto Makassar Bhatta, lalu menuju pelabuhan privat Usahamina untuk naik kapal cepat menuju Raja Ampat Dive Lodge di Pulau Mansuar tempat kami akan menginap.

Tiga jam perjalanan dari Sorong tak terasa karena saya langsung tertidur pulas di dalam kapal. Tidur selama perjalanan di pesawat sepertinya masih belum cukup untuk saya yang masih dalam taraf pertumbuhan ini.

Setelah urusan check-in di resor beres, kami beristirahat sejenak. Om Michael Sjukrie, salah satu instruktur selam yang mendampingi kami kemudian mengajak untuk melakukan check-dive! Asyik! Sejak sampai saya sudah ndak tahan pengen segera nyemplung!

Kami hanya nyemplung di seputaran jetty (dermaga kayu) di depan resor. Saya tak berekspektasi banyak karena memang tujuan dari check-dive adalah penyesuaian alat agar saat digunakan di penyelaman besok lebih nyaman.

Glass-fish di Airborek Glass-fish di Airborek

Tapi ini adalah Raja Ampat! Di seputaran jetty saja, saya melihat banyak sekali ikan dan terumbu karang yang cukup sehat. Arus di sini juga cukup lumayan. Di akhir penyelaman, saya melihat dua ekor lion fish tengah bermain-main di bawah dermaga sebelum saya naik ke permukaan.

Selama 3 hari, kegiatan diisi hanya dengan makan dan menyelam. Total saya menyelam sebanyak 11 kali, dan ini memenuhi keinginan saya yang kedua yaitu membukukan 50 log di tahun 2012. Total saya telah membukukan 57 dive log!

Titik-titik penyelaman kami adalah Airborek, Manta Sandy Bottom, Yenbuba Corner, Cape Kri, Chicken Reef, Mike’s Point, Kuburan, Blue Magic, Mioskon, dan kembali ke Manta Sandy Bottom.

Di Airborek, kami menyelam di seputar jetty Pulau Airborek. Di titik ini, kami melihat rombongan bumphead parrot-fish melintas. Di sini pula saya pertama kalinya melihat glass-fish begitu banyak seakan-akan mengguyur terumbu karang.

melihat manta! melihat manta!

Di Manta Sandy Bottom, kami seakan-akan berada di sebuah panggung menyaksikan pertunjukkan manta yang tengah menari.

Melalui pinggiran yang telah ditentukan, kami duduk berdiam di kedalaman 15 meter. Mata kami tak lepas melihat ke arah manta yang tengah melakukan ritual pembersihan diri.

Manta rutin mengunjungi tempat ini karena di sini lah cleaning station mereka. Tidak terumbu karang di sini, hanya hamparan pasir sepanjang dasar laut. Di tempat ini banyak hidup ikan wrasse, remora, dan angel fish yang suka memakan kotoran dan sisa-sisa makanan yang menempel di tubuh manta.

Simbiosis mutualisme terjadi. Manta membuka mulut dan insangnya, lalu ikan-ikan kecil ini masuk dan mulai memakan kotoran dan sisa-sisa makanan yang menempel di tubuh manta.

gerombolan ikan gerombolan ikan

Ada sekitar 7 ekor manta yang bergantian melintas di kawasan ini. Ada dua jenis manta, yakni yang berdada berwarna putih dan yang berwarna hitam.

Saya sempat merinding saat melihat langsung manta yang lebar bentang sayapnya bisa mencapai 6 meter ini. Tak hanya di dalam laut, beberapa kali kami sempat melihat manta beberapa kali muncul ke permukaan untuk menyantap plankton.

Titik penyelaman lainnya yang berkesan adalah di Cape Kri. Di titik ini, saya melihat berbagai jenis gerombolan ikan melintas di satu tempat. Seperti persimpangan jalan yang padat, berbagai ikan melintas lalu lalang.

Sebut saja, school of jackfish, grouper, snapper, hingga barracuda melintas membentuk barisan panjang saling bercampur. Hiu bersirip hitam (black tip-shark) juga sempat terlihat melintas beberapa kali.

soft coral yang sehat soft coral yang sehat

Titik penyelaman Mike’s Point memberikan kesan tersendiri. Pulau karang kecil di dekat Pulau Kri ini memiliki arus yang cukup kuat. Namun, di mana ada arus, di situ ikan-ikan bermain.

Mike’s Point memiliki kontur karang seperti goa. Kita bisa menyelam memasuki goa tersebut dan akan diganjar dengan pemandangan yang tak lazim.

Saya melihat banyak batfish di sini. Ikan berbentuk mirip ikan dorang sebesar dua telapak tangan dewasa ini terlihat tenang ketika saya mendekat.

Saya juga sempat melihat bandit sea snake tengah berenang ke atas mencari udara ketika menyusuri goa.

Di titik penyelaman Blue Magic, pertama kalinya saya melihat Wobbegong, hiu karpet penghuni endemik perairan Papua.

Terletak di laut lepas, Blue Magic merupakan gunung karang yang puncaknya berada di kedalaman 9 meter dari permukaan laut. Di sini arus juga lumayan kencang, bahkan saat melakukan safety stop, kami berpegangan pada tali yang diikat pada karang.

memotret wobbegong memotret wobbegong

Giant clam saya temukan di titik penyelaman Mioskon. Saya sempat bermain-main menantang bahaya ketika menggoda giant clam dengan menyentuh bagian dalam kerang yang berwarna ungu ini. Ketika kerang hendak menutup, saya segera menarik tangan. Untung saya tidak kalah cepat sehingga tangan tidak terjepit.

Semua titik-titik penyelaman ini berada di Selat Dampier, yang merupakan salah satu lokasi dengan tutupan terumbu karangnya mencapai 90%.

Di Raja Ampat ini, kami peserta Black Trail mendapat tugas mengamati kehidupan laut untuk mendapatkan sertifikat sebagai National Geographic Diver.

Wayag, Icon Raja Ampat

hiu black tip di pantai Wayag hiu black tip di pantai Wayag

Di internet, kita kerap melihat foto pulau-pulau karang yang terhampar di atas laut berwarna tosca dan biru. Lokasi ini bernama Wayag.

Kepulauan kecil Wayag terletak di ujung utara gugus Kepulauan Raja Ampat. Untuk ke Wayag, dari Pulau Mansuar tempat kami menginap, dibutuhkan waktu selama 3 jam menggunakan kapal cepat.

Raja Ampat awalnya tertutup hanya untuk penelitian, namun akhirnya dibuka untuk umum sebagai kawasan wisata dengan tetap mempertahankan kelestarian alamnya melalui sistem sasi (larangan adat melaut) dan zonasi (kawasan yang boleh digunakan untuk mencari ikan).

Saat sampai di Wayag, kami harus melapor dulu ke kantor Conservation International. Saat merapat di jetty untuk melapor, kami disuguhi pemandangan luar biasa! Hiu sirip hitam dengan tenang melewati perairan tepat di tepi pantai yang berair jernih!

pemandangan puncak Wayag pemandangan puncak Wayag

Di Wayag, kami melihat dua buah kapal LOB yang tengah berhenti di sini. Memang disarankan menggunakan Life On Board (tinggal di kapal pesiar) jika ingin menjelajah Raja Ampat karena jarak antar pulau cukup jauh, sehingga bisa menghemat cukup banyak waktu.

Mencapai puncak Wayag ternyata tidak mudah. Kita harus mendaki bebatuan karang yang tajam dan terjal untuk sampai di atas bukit.

Namun perjuangan tersebut tidak sia-sia. Begitu sampai puncak, kita akan diganjar dengan pemandangan memukau seperti yang kita lihat di internet.

Ke Raja Ampat jika tidak menyelam rasanya sangat rugi. Karena keindahan Raja Ampat yang sebenarnya berada di bawah laut. Hanya snorkeling pun sebenarnya cukup tapi yang dilihat juga tidak seberapa bila dibandingkan dengan menyelam.

Di permukaan, yang dilihat hanya pulau-pulau karang, yang menurut saya cukup membosankan. Daya tarik utamanya pun hanya Wayag, yang bila ditempuh juga cukup jauh. Belum lagi biaya perjalanan yang mahal, terutama di bahan bakar dan sewa kapal karena kapal umum tidak banyak (ada beberapa tapi tidak sampai ke Wayag).

Video

Update: Rekaman acara Teroka On The Weekend pada tanggal 26 Januari 2013 di Kompas TV pukul 10.00 WIB: http://bit.ly/blacktrailrajaampat

Penampakan hiu wobbegong, di titik penyelaman Blue Magic. Video ini diambil oleh Glenn Sjukrie.

Penampakan hiu sirip hitam (black tip) melintas di tepi pantai di Wayag.

Trailer acara Teroka on The Weekend di Kompas TV yang tayang 26 Januari 2013.

Galeri Foto

Foto bawah laut sebagian besar dipotret oleh Michael Sjukrie dan beberapa foto dipotret oleh Ucu Yanu Arbi.

Tulisan Peserta Black Trail Lainnya

Muhammad Zamroni

pengembang web • penyelam scuba • pejalan pemula • peminat perangkat

Jakarta, Indonesia

9 komentar

Artikel ini ditayangkan pada 24 Januari 2013, sekitar 5 tahun yang lalu. Informasi pada tulisan ini mungkin sudah tidak sesuai.

Thomas Arie

24 Januari 2013 02:49

Okeeeee! Okeeeee!

ikal

24 Januari 2013 06:49

mas, sampean pake klenik opo sih, kog bejo ne gede banget hihihi minum bint*ngin po?

Ceritaeka

30 Januari 2013 10:17

ENVYYYYYYYYYYYYYYYY

DebbZie

30 Januari 2013 10:36

Bagus bangettttt! Pokoknya harus bisa ke Raja Ampat !

Han

16 April 2013 16:25

Fotonya keren-keren dan airnya bening banget. Wajib ke Raja Ampat.

Tomfreakz

30 Juni 2013 23:05

Apa tipsmenangya mas? Hahaha jadi pengen juga nih. Tapi destinasi raja ampat sayang sekali udah lewat

Tony

16 Desember 2013 13:47

diving in Bali adalah diving pertama saya sewaktu saya ambil sertifikat open water. Saya masih pingin untuk balik lagi untuk menjelajah Bali sebelum saya ke lokasi yang lainnya seperti Pulau Komodo dan Raja Ampat :D

Kristo-CNDive

25 Mei 2016 13:52

Hem....jangan lupa mencoba nyelam di Taman Nasional Komodo Mas....

Karimun Jawa

7 Oktober 2016 02:43

wihhh indah sekali ya pemandangan alam bawah laut raja ampat. keren gan.

Statistik

Telah dibaca 879 kali. Waktu baca rata-rata 11 menit. Ada 9 komentar.