Tahun ini, kami merayakan Idulfitri seperti pada tahun-tahun sebelumnya, jauh dari keluarga di Indonesia.

Apalagi sejak pandemi, kami tidak menghadiri salat Idulfitri bersama diaspora Indonesia lainnya karena selalu kehabisan jatah “tiket” untuk salat di area KBRI atau Masjid Al-Falah yang dikelola lembaga IWKZ.
Terakhir kali saya salat Idulfitri di aula KBRI adalah pada tahun 2019 sebelum kena pandemi.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, melalui akun Instagram resmi KBRI, akan ada war ticket untuk bisa menghadiri salat Idulfitri di gedung KBRI.
Penggunaan sistem jatah ini dimulai setelah pandemi, yang awalnya digunakan untuk melakukan pembatasan, namun kemudian terus berlanjut hingga sekarang.
Namun nasib, saya tidak beruntung untuk mendapatkan jatah tersebut, karena dalam waktu kurang dari 5 menit, jatah tiket sudah ludes.
Asli, berasa berburu tiket mudik zaman dahulu atau berburu tiket konser artis Korea.
Orang Indonesia di Jerman, apalagi di Berlin kan cukup banyak, jadi bisa maklum kalo jatah kuota langsung ludes.
Saat saya mengunggah di Instagram Story tentang kegagalan saya mengamankan kuota, banyak rekan-rekan sesama diaspora yang bilang, jika di negara mereka tinggal, pelaksanaan salat biasanya dilakukan secara bergelombang.
Di Jepang misalnya, kata seorang teman yang tinggal di Tokyo, masjid KBRI Tokyo bahkan membuka hingga 5 kloter.
Mungkin karena keterbatasan tempat juga, apalagi gedung KBRI yang baru saja pindah pada Juni 2024, berada di lingkungan kompleks kedutaan negara-negara lain.
Di Berlin sendiri, sebenarnya banyak masjid-masjid, terutama masjid Turki dan Arab, namun tidak semua masjid menggelar salat Idulfitri.

Belum lagi, mencari informasi terkait pelaksanaan salat Idulfitri di masjid-masjid tersebut tidak lah mudah.
Dari beberapa masjid yang ada, saya memutuskan untuk salat Idulfitri di Masjid Umar bin Khatab (Omar Ibn Al-Khattab Moschee), atau populer disebut Omar Moschee, yang merupakan salah satu masjid islam modern di Berlin.
Karena Idulfitri tahun ini jatuh pada hari Jumat, 20 Maret 2026, saya memastikan bahwa masjid ini juga menyelenggarakan salat pada hari tersebut.
Beberapa sumber di internet menyatakan bahwa pelaksanaan salat Idulfitri biasanya dimulai jam 8.00 pagi, dan masjid ini juga menggelar 2 gelombang, saya makin mantap untuk mendatangi masjid ini, meski jaraknya cukup jauh dari rumah.
Saya berangkat menuju masjid yang terletak di dekat Stasiun U-bahn Görlitzer ini dengan menggunakan bus kota, dengan berganti bus sekali.
Karena masih pagi dan hari kerja, sekitar pukul 7.00, jalanan relatif sepi dan bus berangkat tepat waktu sesuai jadwal.
Sekitar 30 menit saya sampai dan langsung bergabung dengan orang-orang yang berduyun-duyun memasuki pintu masjid yang relatif baru di area Kreuzberg ini.
Pembangunan masjid dimulai pada 2004, kemudian selesai pada 2008, dan resmi dibuka pada 21 Mei 2010.
Dulunya, lahan ini merupakan area supermarket Bolle yang terbakar pada 1987, lalu lama dibiarkan kosong.

Lahan tersebut kemudian dibeli dan dikembangkan oleh organisasi Islamic Association for Charitable Projects dan menelan biaya sekitar 10 juta euro, yang dikumpulkan melalui donasi dan pinjaman komunitas.
Organisasi ini menekankan moderasi Islam berdasarkan Al-Quran, Sunnah, serta ajaran ulama seperti Imam Shafi’i dan Malik.
Kalo di Indonesia, mungkin semacam lembaga Muhammadiyah, yang banyak bergerak di bidang pendidikan dan layanan sosial.
Bangunan masjid ini memiliki kubah kecil, empat menara kecil di atap, dan ruang salat yang dapat menampung sekitar 1.000 jamaah.
Selain sebagai tempat ibadah, masjid ini juga menjadi bagian dari kompleks Maschari-Center yang memuat sekolah, ruang acara, toko, kafe, dan supermarket.
Kehadirannya sering dipandang sebagai simbol keberagaman agama dan kehidupan muslim modern di Berlin.
Begitu datang, suara takbir yang dikumandangkan dari dalam gedung, sedikit terdengar hingga keluar.
Hati saya cukup haru saat mendengar lantunan takbir yang dilantunkan dengan merdu tersebut.
Saya melihat sekeliling, dan dari mayoritas warga Turki dan Timur-Tengah, saya melihat beberapa orang berkulit hitam dari Afrika, orang-orang Asia, juga India atau Pakistan.
Salat Eid sendiri dimulai pada pukul 08.08.
Selesai salat Idulfitri 2 rakaat, saya duduk tenang mendengarkan khotbah dalam Bahasa Arab.
Layar besar terlihat menampilkan tulisan terjemahan dalam berbagai bahasa, Bahasa Jerman, Bahasa Turki, Bahasa Inggris, dan juga Bahasa Prancis.
Saya jadi teringat adegan sinetron Bajaj Bajuri, di mana saat paman si Said yang keturunan Arab bercakap-cakap dalam Bahasa Arab dikira sedang berdoa.
Dari layar monitor, saya bisa mengikuti isi khotbah dari terjemahan Bahasa Inggris yang ditampilkan.
Kali ini, khatib membahas soal zakat fitrah dan manfaatnya untuk umat.
Selesai salat, jamaah bisa mengambil air minum dalam kemasan yang disediakan.
Saat saya keluar, rombongan yang hendak mengikuti salat gelombang kedua sudah terlihat antre mengular panjang.
Eid Mubarak! Selamat Idulfitri 1447H! Mohon maaf lahir dan batin!