Menyoblos Pada Pemilu 2024 di Berlin, Jerman

16 minutes 43 2

Pada April 2019 lalu, pertama kalinya saya menyoblos di luar negeri.

berpartisipasi di Pemilu 2024 di Berlin, Jerman

Saat itu saya baru saja pindah, dan pengalaman mengikuti pemilunya cukup berbeda dengan pemilu tahun 2024 ini.

Pada tahun ini, pelaksanaan terasa lebih lancar dan lebih gampang, karena saya sudah terdaftar dan mendapat undangan dari PPLN (Panitia Pemilihan Luar Negeri) Berlin.

Seperti pada tahun sebelumnya, pelaksanaan pemilu di luar negeri dilaksanakan lebih awal dari jadwal, yaitu pada 10 Februari 2024, lebih cepat 4 hari dari pelaksanaan pemilu di Indonesia pada 14 Februari 2024.

Di Jerman sendiri, pemungutan suara hanya dilakukan di 3 kota, yaitu di Berlin, Hamburg, dan Frankfurt, di mana lokasi KBRI (Berlin) dan KJRI (Hamburg dan Frankfurt) berada.

Diaspora Indonesia harus mendaftarkan diri di KBRI atau KJRI terdekat di tempat dia tinggal, lalu datang untuk melakukan pencoblosan.

Selain memilih melalui TPS (Tempat Pemungutan Suara), PPLN juga menyediakan opsi untuk memilih dengan metode pos, di mana kertas suara akan dikirim melalui surat.

Saya dan istri memilih untuk datang ke TPS untuk menyoblos, karena lokasi TPS-nya tidak jauh dari tempat kami tinggal, kami juga ingin berjumpa dengan sesama diaspora yang tinggal di Berlin dan sekitarnya.

Proses Mengurus DPT

surat undangan dari PPLN Berlin

Kami tak ingin pengalaman tidak menyenangkan pada Pemilu 2019 lalu terulang, di mana saat itu kami tidak terdaftar dan harus antre lama agar bisa menyoblos.

Untungnya tahun ini nama kami tercatat di DPT (Daftar Pemilih Tetap), dan kali ini kami hanya perlu memastikan untuk mendapatkan undangan.

Meski begitu, proses tersebut tidak sepenuhnya lancar, karena ada beberapa kendala.

Pada 23 Mei 2023, PPLN Berlin mengirimkan surel yang meminta saya untuk melakukan verifikasi data pemilih Pemilu 2024.

Namun karena bahasa yang digunakan cukup membingungkan, saya salah menangkap maksud dari surel tersebut.

Surel tersebut berbunyi seperti berikut ini.

Selamat Pagi Bapak dan Ibu, kami Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) Berlin dalam rangka memverifikasi data pemilih di wilayah kerja KBRI Berlin (Berlin, Brandenburg, Mecklenburg-Vorpommern, Sachsen, Sachsen-Anhalt, Thüringen) bersama surel ini ingin memverifikasi data pemilih dalam rangka Pemilihan Umum 2024 untuk wilayah kerja KBRI Berlin.

Adapun Bapak/Ibu dapat mengecek apakah Bapak/Ibu terdaftar dan eligible untuk memilih pada pemilu 2024 pada PPLN Berlin adalah melalui laman web berikut: https://cekdptonline.kpu.go.id/ dengan memasukkan no Paspor Bapak/Ibu sekalian.

Apabila setelah memasukkan no Paspor Bapak/Ibu tidak terdaftar, Bapak/Ibu dapat segera mengirimkan data yang dibutuhkan kepada kami melalui [email protected]

Adapun data yang dibutuhkan adalah sebagai berikut:

  • Nama Lengkap:
  • No Paspor:
  • NIK:
  • NKK (Jika Ada) :
  • Tempat Tanggal Lahir :
  • Alamat di Jerman:
  • Status Perkawinan:
  • Jenis Kelamin:
  • Disabilitas (Jika Ada):
  • Metode Pemilihan yang diinginkan (TPS atau Pos):
  • Nomor Telefon :
  • Email:

Jika Bapak/Ibu sudah tidak berada di wilayah kerja KBRI Berlin, baik berada di Indonesia ataupun wilayah kerja KJRI Frankfurt atau KJRI Hamburg, kami juga meminta Bapak/Ibu untuk membalas surel ini agar data Bapak/Ibu dapat kami aktualisasi di daftar pemilih kami.

Abaikan surel ini jika Bapak/Ibu telah terdaftar maupun telah menghubungi maupun dihubungi oleh PPLN Berlin sebelumnya.

Demikian kami sampaikan, atas perhatian Bapak/Ibu kami sampaikan terima kasih.

Setelah mengecek di situs yang disebutkan, nomor paspor saya telah terdaftar, dan saya kemudian mengabaikan surel tersebut.

hasil pengecekan DPT online Pemilu 2024

Sementara istri saya yang baru saja mengganti paspornya, nomor paspor barunya tidak tercatat dan yang tercatat adalah nomor paspor lamanya.

Istri saya pun kemudian membalas surel tersebut untuk melakukan verifikasi dan pembaruan data.

Hingga pada bulan Juni 2023, saya melakukan pembaruan paspor di KBRI Berlin, dan saya sempat bertanya tentang pembaruan data pemilu di sana secara langsung.

Saat itu petugas yang mengurusi pemilu sedang tidak ada di tempat dan saya diminta melakukan pembaruan data melalui surel.

Sayangnya, saya lupa melakukan verifikasi dan pembaruan data ini.

Waktu pun berlalu, dan pada akhir Januari 2024, istri saya menerima surel dari PPLN tentang akan dikirimkannya surat undangan ke alamat surat.

Saya pun menunggu giliran untuk mendapatkan surel selama beberapa hari, namun karena saya tidak menerima surel apa pun, saya kemudian menghubungi PPLN Berlin melalui surel untuk bertanya tentang surat undangan karena saya sudah terdaftar di DPT.

surat undangan dan petunjuk pemilihan Pemilu 2024 PPLN Berlin

Tak disangka, surel saya dibalas dengan cepat, padahal saat saya mengirim, hari itu Hari Minggu malam, di mana saya mengira akan dibalas pada hari Senin keesokan harinya.

Melalui surel, saya diminta mengirimkan nomor paspor terbaru dan alamat saya, serta PPLN Berlin memberitahukan bahwa surat akan dikirim pada tanggal 25 Januari 2024.

Surat undangan masuk ke kotak pos saya pada tanggal 30 Januari 2024, yang berisi selembar surat undangan memilih warna hijau dan selembar panduan pemilihan serta petunjuk lokasi TPS.

Lokasi TPS tahun ini sama dengan lokasi TPS pada tahun 2019, yaitu di aula gedung Berliner Stadtmission, Lehrter Straße 68, 10557 Berlin.

Dari lembar petunjuk yang dikirimkan, ada 4 TPS yang tersedia di Berlin yang dibedakan melalui warna surat undangan, yaitu warna biru untuk TPS1, warna kuning untuk TPS 2, warna hijau untuk TPS 3, dan warna merah untuk TPS 4.

Surat undangan saya yang berwarna hijau menunjukkan bahwa saya akan memilih di TPS 3.

Menentukan Pilihan

pilihan capres dan cawapres Pemilu 2024

Pemilu 2024 kali ini bagi saya sedikit berbeda dengan pemilu-pemilu sebelumnya.

Awalnya saya tidak terlalu pusing dengan siapa pun calon presiden dan calon wakil presiden yang akan maju, karena jujur saya cukup kecewa dengan kinerja pemerintah hasil Pemilu 2019.

Bagaimana tidak, pemilu saat itu sempat menimbulkan perselisihan hingga perpecahan baik dari media sosial hingga di keluarga, hanya karena perbedaan pilihan.

Namun setelah terpilih, dua kubu yang berseteru ujung-ujungnya justru bersatu di pemerintahan walau sudah membuat luka di kalangan pendukungnya.

Dalam politik memang tiada yang abadi, namun apa yang terjadi di pemerintahan, membuat saya tidak lagi punya harapan terlalu tinggi, karena apa pun nantinya, toh ujungnya juga begitu-begitu saja.

Saya bahkan tidak terlalu ambil pusing saat pengumuman 3 pasangan capres dan cawapres, bahkan sengaja tidak mengikuti program-program kampanye mereka, apalagi acara debat presiden, semua saya lewatkan.

Apalagi sejak tidak bermain Twitter (alias X), saya tidak terpapar materi copras-capres, walau saya beberapa kali terpapar materi debat capres di Instagram dalam bentuk meme.

Hingga sekitar sepekan sebelum hari pemilihan, saya belum menentukan siapa capres dan cawapres yang akan saya pilih, bahkan sempat terpikir untuk golput karena saya tidak merasa pilihan saya terlalu berarti.

Apalagi dari ketiga pasangan, semuanya tidak ada yang meyakinkan saya, baik dari si tokoh yang diusung hingga partai-partai yang mengusungnya.

Kemudian saya terpapar podcast Suarane yang membahas soal rekomendasi podcast Politik apalagi menjelang pemilu.

Dari podcast itu, saya kemudian mengikuti podcast Bocor Alus Politik milik media Tempo, yang rupanya banyak membahas informasi-informasi dan insight-insight mencengangkan yang tentunya sumbernya terpercaya.

Berkat podcast Bocor Alus Politik milik media Tempo ini lah pikiran saya tercerahkan, dan meski saya belum menemukan pasangan yang dengan mantap akan saya pilih, namun saya sudah mantap untuk tidak memilih pasangan tersebut.

Selain capres dan cawapres, saya juga berniat tidak akan memilih partai dan caleg dari partai-partai besar, dan akan memberikan suara saya kepada partai-partai kecil, meski saya sendiri tidak tahu akan memilih partai apa.

Hari Pencoblosan

banner dan papan petunjuk menuju TPS Berlin

Pada hari pencoblosan, saya dan istri berangkat ke TPS sesuai dengan waktu kedatangan yang ditulis di undangan, yakni antara pukul 11.15 hingga 11.30.

Tidak seperti pada tahun sebelumnya, kali ini situasi pemilihan suara cukup rapih dan kondusif, di mana petunjuk arah terlihat jelas mengarahkan pemilih ke TPS.

Saya bahkan mengetahui jumlah pemilih yang terdaftar di PPLN Berlin sebanyak 4.049 orang yang terdiri dari pemilih laki-laki sebanyak 2.159 dan pemilih perempuan 2.386, dari banner yang dipasang panitia di sepanjang jalan menuju TPS.

Sesampainya di TPS pun, meski terlihat banyak orang berkumpul, namun tidak terlihat antrean yang cukup panjang.

Mungkin karena yang datang adalah para pemilih yang telah terdaftar di DPT dan memiliki undangan, sehingga alur pemilihannya lebih jelas.

surat undangan dan identitas untuk memilih di Pemilu 2024

Karena saya dan istri sudah memiliki undangan, kami langsung diarahkan menuju ke aula dan menuju ke TPS 3.

Sementara para pemilih yang sudah terdaftar di DPT namun tidak menerima undangan perlu mengantre sebentar untuk menunggu undangan dicetak terlebih dahulu.

Setelah saya menyerahkan surat undangan dan kartu identitas saya (paspor dan KTP), petugas mencatat nama saya dan meminta saya menandatangani lembar kehadiran, lalu meminta saya duduk menunggu hingga nama saya dipanggil.

Rupanya saat itu, wartawan MetroTV mengambil gambar saya, dan wajah saya pun muncul beberapa detik di liputan MetroTV tersebut.

Tidak lama kemudian, sekitar 5 menit, nama saya dipanggil dan saya menuju ke meja pemberian surat suara.

Saya mendapat 2 lembar surat suara, pertama adalah surat suara pemilihan presiden dan lembar surat suara pemilihan anggota DPR daerah pemilihan Jakarta 2.

tertangkap kamera MetroTV di Pemilu 2024 Berlin

Sebelum menyerahkan surat suara kepada saya, panitia membuka lembar surat suara untuk memeriksa bahwa surat suara saya tidak rusak dan tidak ada coblosan apa pun lalu surat suara ditandatangani.

Saya lalu menuju ke bilik suara, lalu mulai bingung menentukan untuk mencoblos yang mana.

Kemudian saya memantapkan diri untuk menyoblos salah satu pasangan capres dan cawapres, bukan karena sosok tokohnya maupun partai pendukungnya, namun strategi ke depan dari pelaksanaan pemilu.

Jujur saja, saya tidak terlalu memusingkan siapa yang akan menjadi presiden, namun lebih ke ingin membuat pemilu kali ini lebih baik dengan mematahkan skenario kecurangan-kecurangan yang dipaparkan oleh beberapa media.

Selesai dengan surat suara pemilihan presiden, saya membuka surat suara pemilihan DPR.

Saya cukup lama berpikir sebelum menentukan pilihan, partai apa dan siapa caleg yang akan saya pilih dari 24 pilihan yang ada.

Dari surat suara pemilihan DPR ini, saya baru tahu ada beberapa partai baru yang saya belum pernah dengar sebelumnya, seperti Partai Buruh (6), Partai Gelora Indonesia (7), Partai Kebangkitan Nusantara (9), Partai Garuda (11), dan Partai Ummat (24).

Saya juga melihat beberapa nama yang saya kenal, misalnya Adhyaksa Dault, Uya Kuya, Lula Kamal dari PAN, yang karena sangking banyaknya artis yang berasal dari partai ini, dulu nama PAN sering diplesetkan sebagai Partai Artis Nasional, bukan Partai Amanat Nasional.

selesai melakukan pencoblosan

Saya juga melihat nama penyanyi Once Mekel dari PDI Perjuangan, artis Okky Asokawati dari Partai NasDem, mantan atlet badminton Icuk Sugiarto dari Partai Hanura.

Tentu saja nama-nama tersebut tidak saya pilih, dan saya kemudian memilih sebuah partai baru namun tidak memilih nama calegnya, karena saya tidak kenal.

Setelah memastikan surat suara saya terlubangi dengan jelas, saya melipat dan memasukkan ke kotak suara transparan, kemudian menyelupkan jari kelingking kiri saya ke dalam tinta, lalu keluar ruangan pemilihan.

Saya lalu menuju ke tempat pengambilan snack yang disediakan oleh PPLN Berlin yang membuat iri teman-teman yang memilih di Hamburg dan Frankfurt karena tidak ada snack di sana.

jari berlumur tinta tanda usai menyoblos

Namun saya harus menelan kekecewaan, karena dadar gulung dan risoles yang saya incar karena melihat orang-orang membawa snack ini, telah ludes.

Kekecewaan saya sedikit terhibur karena saya masih kebagian martabak manis alias kue terang bulan.

Meski pelaksanaan pemilu di Jerman dan di beberapa negara lainnya dilakukan lebih awal dan mengikuti aturan early voting yang ditetapkan KPU, penghitungan suaranya tetap akan dilakukan pada tanggal 14 Februari 2024, bersamaan dengan penghitungan suara di Indonesia.

Namun beberapa tempat sudah mengeluarkan hasil dari exit poll, yang bisa menjadi indikator siapa yang menang di TPS itu.

Sejauh sepengelihatan saya, di Berlin tidak ada petugas survei yang melakukan exit poll di Berlin sehingga hasil pemilu di Berlin hingga tulisan ini ditayangkan, belum diketahui.

4 responses
  1. Gravatar of Rivai Hidayat
    Rivai Hidayat

    Akhirnya melaksanakan pemilu lagi setelah melewati segala drama dalam satu tahun terakhir.
    Mas Zam, gimana antusias atau situasi WNI di sana tentang pemilu tahun ini?
    Sebelum hari pencoblosan aku juga merasakan hal yang mirip mas zam rasakan. Kepikiran untuk golput dan ga menggunakan hak pilih sama sekali. Namun, seminggu menjelang hari pencoblosan akhirnya memantapkan pilihan ke salah satu paslon. Saat itu mikir mesti nyoblos dulu, urusan menang atau kalah itu urusan lain.

    Gravatar of Muhammad Zamroni
    Muhammad Zamroni

    antusiasme sih terlihat tinggi, karena kapan lagi bisa kumpul dan bertemu dengan sesama diaspora juga, kan?

  2. Gravatar of Zizy
    Zizy

    Kalau di sini pakai model surat menyurat, rentan sekali terjadi kecurangan. Semoga di sana tidak begitu. Tapi kok enak bisa dapat snack, mungkin karena pemilihnya cuma segitu aja, kayak undangan pesta yang dibatasi.
    DI Jakarta kemarin hujan deras dari tanggal 13 malam sampai keesokan harinya, alhasil di beberapa daerah TPS nya kebanjiran. Tp semangat menyoblos tetap kuat, saya juga begitu, meski hujan tetap datang. Rugi kalau tidak memilih.

    Gravatar of Muhammad Zamroni
    Muhammad Zamroni

    surat digunakan untuk mereka yang tinggal jauh dari KBRI/KJRI atau tidak memungkinkan untuk datang di hari pencoblosan.. soal curang sih, lagi-lagi kalo niat, semua bisa dicurangi.. 😅