Vaksinasi Ketiga (Booster) Moderna (Spikevax)

10 minutes 0 7

Situasi terkini di Berlin (dan Jerman pada umumnya) memang makin mengkhawatirkan.

Mulai Sabtu, 15 Januari 2022, Berlin meningkatkan aturan penanganan pandeminya.

menuju ke pusat vaksinasi ICC/Messe Berlin

Dari yang sebelumnya boleh menggunakan masker medis, kini minimal harus masker FFP2/KN95 di angkutan umum.

Untuk makan di restoran (dine-in), diterapkan aturan 2G+, yaitu harus menunjukkan sertifikat vaksinasi kedua dan hasil tes negatif, atau cukup menunjukkan sertifikat vaksinasi ketiga (booster).

Apalagi sejak kasus Omicron, Jerman segera menggalakkan program vaksin booster sejak Desember 2021 lalu.

Tidak hanya itu, masa tunggu vaksin booster yang tadinya 6 bulan setelah vaksin kedua, diperpendek menjadi 3 bulan.

Lucunya, target dua kali vaksin pemerintah 75% belum juga tercapai, di mana hingga saat ini, baru 72,6% warga Jerman yang sudah tuntas vaksinasi.

Penolakan gerombolan antivaksin masih terus berlangsung, membuat laju vaksinasi lambat.

Wacana pemerintah yang baru terbentuk di bawah Kanselir Terpilih, Olaf Scholz, mewajibkan vaksin Covid-19 juga dikecam oleh banyak orang.

Repot sekali memang, di mana di Indonesia banyak warga antusias untuk vaksin namun tidak semua terpenuhi, di Jerman justru banyak orang menolak.

Saya dan istri yang sudah layak mendapatkan vaksin ketiga, di mana vaksin kedua kami dapatkan pada 2 Agustus 2021, segera membuat jadwal melalui aplikasi Doctolib.

menuju ke pusat vaksinasi ICC/Messe Berlin

Dari aplikasi tersebut, kami memilih lokasi vaksin yang lebih dekat, di pusat vaksinasi gedung ICC/Messe Berlin, bila dibandingkan saat mendapatkan vaksin pertama dan kedua di pinggiran Berlin.

Pada aplikasi Doctolib, kami hanya diberi pilihan vaksin Moderna untuk usia yang lebih dari 30 tahun, sementara untuk anak-anak dan di bawah 30 tahun mendapat jatah BioNTech/Pfizer.

Menurut informasi pada situs Pemerintah Federal Jerman, warga berusia di atas 30 tahun disarankan untuk mendapatkan vaksin Moderna.

Saya dan istri sebelumnya sama-sama mendapatkan vaksin Comirnaty dari BioNTech/Pfizer yang berbasis mRNA, jadi tidak ada masalah saat nanti dicampur dengan vaksin lain yang berbasis mRNA.

Kali ini karena lokasinya cukup dekat, kami agak lebih santai.

Kami sudah mempersiapkan diri, karena menurut teman-teman yang sudah mendapatkan vaksin booster lebih dulu, mereka sempat antre panjang dan menyarankan untuk menggunakan pakaian hangat karena antrean panjang mengular sampai ke luar gedung.

Setelah turun dari bus X34 di depan gedung ICC/Messe Berlin, antrean panjang mengular tidak terlihat.

Begitu tiba, kami disambut oleh petugas yang menanyakan bukti termin (pesanan jadwal) dan memberikan papan jepit berisi formulir yang harus diisi.

formulir vaksinasi booster

Karena kami sudah mengunduh, menyetak, dan mengisi formulir tersebut dari rumah, kami hanya perlu menjepitkan formulir tersebut di sana.

Petugas menunjukkan ke arah mana kami harus masuk, dan kami mengikuti jalur meliuk yang sejatinya digunakan untuk antrean.

Sebuah papan bergambar dilarang memotret langsung terpampang, sehingga niat saya untuk foto-foto selfie atau memotret suasana di dalam gedung langsung saya urungkan.

Begitu masuk, petugas langsung meminta saya untuk mencuci tangan dengan hand sanitizer, lalu menuju ke pemeriksaan berkas.

Petugas pemeriksa ini sebagian adalah warga sipil, sebagian adalah tentara angkatan darat, terlihat dari warna seragam dorengnya berwarna mayoritas hijau lumut.

Tidak seperti yang saya bayangkan, tentara ini sangat ramah dan informatif, jauh dari kesan galak atau menyeramkan.

Saya menunjukkan kartu identitas, formulir yang saya isi, dan buku vaksin kuning saya untuk diperiksa.

Kemudian tentara tersebut bertanya, “ini kamu pilih Moderna? kamu bisa juga pilih pakai Pfizer jika kamu mau.”

Wah, saya tidak tahu jika bisa memilih, karena dari aplikasi Doctolib, pusat vaksinasi ini hanya menyediakan vaksin Moderna.

“Apa bedanya vaksin Pfizer dan Moderna?”, tanya saya balik.

“Wah, saya tidak tahu, saya bukan dokter,” jawab petugas itu.

“Baiklah, saya tetap menggunakan Moderna saja,” kata saya sambil merutuki pertanyaan bodoh saya kepada petugas.

“Ia kemudian menempelkan tulisan ‘Moderna’ pada formulir saya, dan meminta saya mengisi formulir lain.

“Silakan kamu isi formulir ini menggunakan pulpen tersebut, lalu ambil pulpen tersebut untuk kamu.” ujarnya.

Wah, lumayan dapat pulpen berwarna biru secara gratis!

informasi vaksinasi berupa sticker vaksin dan nomor batch

Di Jerman, warna pulpen biru adalah warna yang dianjurkan untuk mengisi formulir, karena terlihat perbedaannya.

Saya kemudian langsung menuju ke ruang suntik, di mana ada puluhan bilik, di dalam gedung Internationales Congress Centrum Berlin, salah satu gedung pertemuan terbesar di dunia tersebut

Setelah masuk ke salah satu bilik yang ditunjuk oleh petugas, saya membuka jaket, menyiapkan diri untuk disuntik.

Ruangan mungil seluas sekitar 3 meter persegi tersebut terdapat sebuah jendela kecil dengan meja, seperti jendela saji.

Tak lama kemudian dokter masuk dan menyapa saya dengan ramah.

Dokter perempuan muda tersebut memeriksa berkas saya, menanyakan umur, apakah saya pernah tertular Covid-19, atau sedang menjalani pengobatan tertentu.

Sembari berbincang, berkas saya distempel, buku vaksin berwarna kuning saya diberi sticker nama vaksin Spikevax (Moderna) dan ditandatangani.

Di jendela, saya tidak melihat sejak kapan alat suntik itu berada di sana karena saat saya masuk masih kosong, sudah tersedia alat suntik yang siap ditusukkan ke lengan saya.

Wah, cukup besar juga suntikannya, tidak seperti alat suntik sebelumnya yang saya dapat pada vaksin pertama dan kedua.

“Ini vaksin Moderna, ya,” ujar dokter muda tersebut untuk memastikan.

Tak lama kemudian, lengan kiri saya disemprot alkohol, dan cuss..

Kali ini saya bisa merasakan jarum suntik menembus kulit, menancap pada daging lengan saya, tidak seperti saat saya menerima vaksin Pfizer sebelumnya yang sama sekali tidak terasa.

Jarum suntik pun dicabut, dokter meminta saya menekan kapas beralkohol pada area suntikan, sementara ia menyopot jarum suntik, membuangnya ke tempat sampah medis berwarna kuning, lalu menempelkan plester.

“Selesai, sekarang kamu keluar dengan membawa berkas ini untuk melapor di pintu keluar agar mendapatkan sertifikat berupa kode QR.”

sertifikat vaksin di aplikasi CovPass

Saat keluar, saya celingak-celinguk mencari istri saya, karena sejak pengurusan dokumen, kami terpisah dan saya tidak melihat istri saya.

Rupanya ia baru saja selesai dan mengantre agak jauh di belakang saya.

Saat mengantre menunggu giliran melapor saat keluar, saya melihat area vaksinasi anak.

Di area tersebut terlihat berbagai gambar anak-anak yang ditempel, baik di bilik-bilik vaksin, dan di area khusus yang disediakan untuk dicoret-coret.

Jika tidak ada larangan memotret selama di dalam ruangan, saya pasti sudah memotret area berisi kertas bergambar anak-anak tersebut.

Saat giliran saya menyerahkan dokumen untuk dipindai, petugas juga sangat ramah dan mengajak ngobrol.

Jujur, saya agak kaget dengan keramahan seluruh petugas di tempat ini, karena di Jerman, apalagi Berlin, keramahan adalah hal yang sangat langka.

Saya mengira berkas yang saya isi tersebut akan diambil, tapi ternyata seluruh berkas tersebut hanya dipindai untuk diunggah ke aplikasi Doctolib untuk dibuatkan kode QR yang nantinya saya pindai di aplikasi CovPass atau saya tunjukkan untuk diverifikasi saat pengecekan.

“Biasanya kode QR akan muncul juga di aplikasi Doctolib, namun untuk jaga-jaga misalnya munculnya lama, ini saya cetak juga kode QR-nya.” ucap petugas tersebut saat menyerahkan kembali seluruh dokumen kepada saya.

Saat menunggu istri saya selesai, saya mengecek aplikasi Doctolib, dan seluruh berkas dan kode QR sertifikat ketiga saya sudah muncul.

Saya segera memindai kode QR menggunakan aplikasi CovPass agar tidak lupa, dan langsung kode saya diterima dan muncul sebagai kode sertifikat utama.

Saat bertemu kembali dengan istri saya di pintu keluar, istri saya bercerita bahwa ia memilih vaksin BioNTech/Pfizer saat ditawari memilih vaksin yang mana.

Wah, istri saya ternyata tidak mengakui bahwa usianya sudah di atas 30 tahun dengan membelot dan memilih BioNTech/Pfizer!

8 responses
  1. Gravatar of Antyo®
    Antyo®

    BTW buku kuning dengan kertas tebal saya pernah punya, dari WHO, untuk vaksinasi. Bisa punya setelah disuntik di kantor tertunjuk di Bandara Halim yang saat itu bukan untuk flight komersial. Lalu bukunya saya pakai buat naik kapal dari Bontang ke Taiwan.

    Gravatar of Muhammad Zamroni
    Muhammad Zamroni

    buku vaksin kuning itu memang berlaku internasional, paman. jamaah haji juga sebelum berangkat dapat buku ini untuk vaksin meningitis. buku ini bisa dibeli di apotek, dan sempat naik harganya 3-5 kali lipat saat program vaksinasi awal-awal. sampai sekarang masih dipakai untuk vaksin apa pun.

  2. Gravatar of Fanny_dcatqueen
    Fanny_dcatqueen

    Waaaah aku nanti juga moderna mas. Ada yg bilang kalo sebelumnya 2x vaksin AZ, booster ya moderna. Aku sih yg mana ajalah. Tapi masih waiting list, ikutan Ama jadwal dari kantor suami. Prioritasnya ke staff yg udah tua dulu. Berarti suntikan moderna LBH gede dan berasa yaaa 🤣🤣. Kemarin pas AZ juga kecil dan ga sakit.

    Siap2 demam nih. Adekku yg dokter boosternya moderna, LGS demam 😄.

    No comment Ama orang2 yg antivaks. Ga abis pikir soalnya, apalagi yg ga mua pake masker. Bingung aja. Ga ada rasa empati nya ke orang lain, jadi ragu hati nya terbuat dari apa… Kalo dia imunnya kuat, dan ga mungkin bakal sakit sih oke, tapi kalo jadi carrier dan menularkan ke orang lain yg lemah, dia masih ga peduli atau gimana yaaa… 🙄

  3. Gravatar of deptz
    deptz

    Di Indonesia sudah dimulai boosternya. Masih menanti jadwal antrian.

  4. Gravatar of lukmnhkim
    lukmnhkim

    Stay safe mas! Keadaan di Eropa memang mengkhawatirkan, padahal vaccination rate-nya di atas rata2 dunia. Semoga gak seperti gelombang sebelumnya dimana mulai dari Cina-Italia-Eropa-Amerika terus ke Asia ya. Serem banget.

  5. Gravatar of Didut
    Didut

    Sehat-sehat terus yo dab!
    *finger crossed

  6. Gravatar of ABJAD semesta
    ABJAD semesta

    Apakah benar
    Katanya tingkat efektivitas vaksin yang ke 3 hanya 60%

Tinggalkan Balasan

This article has been published on 16 Januari 2022 (7 bulan ago). The information provided here might not be accurate.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.