Menikmati Musim Panas di Botanischer Garten, Berlin, Jerman

Sejak tahun lalu kami punya rencana untuk mengunjungi kebun raya botani yang mempunyai nama lengkap Botanischer Garten und Botanischer Museum, Berlin ini.

Namun karena tahun lalu di musim panas kami liburan ke Roma, Italia, di masa pandemi ini, kami memutuskan untuk menikmati liburan musim panas di sekitar Berlin saja.

Kami penasaran dengan tempat ini setelah suatu waktu pada musim dingin kami lewat area ini dengan bus kota saat bepergian ke suatu tempat.

Botanischer Garten

pintu masuk Botanischer Garten di Unter den Eichen
pintu masuk Botanischer Garten di Unter den Eichen

Hingga Senin, 13 Juli 2020 lalu, akhirnya kami mengunjungi taman yang kini menjadi bagian dari Free University of Berlin.

Membaca sejarahnya, taman seluas 43 hektar dan memiliki koleksi 22.000 spesies ini dibangun pada tahun 1897 hingga 1910.

Tujuan dibangunnya taman ini adalah untuk menyimpan koleksi tanaman dari negara-negara koloni Jerman, namun dalam perkembangannya, taman ini menyimpan koleksi dari hampir seluruh negara di dunia.

Ada dua pintu masuk ke taman ini, pertama di Unter den Eichen yang bisa dicapai dengan bus bernomor M48 dan dari Königin-Luise-Platz yang bisa dicapai dengan bus bernomor X83 atau 101.

Saat kami datang, sedang ada pekerjaan konstruksi sehingga pintu di Königin-Luise-Platz ditutup dan keluar masuk melalui pintu di Unter den Eichen.

papan pengumuman terkait pandemi
papan pengumuman terkait pandemi

Untuk masuk kami harus membeli tiket melalui online karena selama pandemi, loket tiket tidak melayani penjualan langsung untuk menghindari antrean.

Kami segera membeli tiket dengan menggunakan ponsel sambil berdiri di depan pintu masuk taman melalui situs resmi yang kemudian dilayani oleh Ticketino.

Informasi ini kami dapat dari papan pengumuman yang dipasang di depan pintu masuk.

Segera kami membeli tiket seharga 6€ per orang untuk hari itu, memilih jam kunjungan yang saat itu menunjukkan pukul 14:00, lalu setelah pembayaran berhasil dan tiket dalam format PDF dikirim ke alamat e-mail, kami menunjukkan kode QR yang ada di dalam tiket untuk dipindai petugas.

peta di Botanischer Garten
peta di Botanischer Garten

Kami tidak mendapat brosur atau informasi apa pun dari petugas, namun ada peta area dan informasi terkait pekerjaan konstruksi yang sedang berlangsung di area taman.

Peta areanya cukup jelas dan lengkap, dan saya pun menambil foto peta tersebut sebagai panduan kami menjelajah taman yang luas ini.

Sayangnya kami baru tahu bahwa rumah kaca yang menjadi tujuan kami berkunjung, ditutup selama pandemi, saat kami sudah masuk ke dalam taman.

Selain rumah kaca, Museum Botani yang berada di area Königin-Luise-Platz juga ditutup.

Kami memang kurang jeli membaca informasi terkait Covid-19 di situsnya.

Karena terkait Covid-19 juga, setiap pengunjung dibatasi maksimal 4 jam berada di dalam taman.

Taman Bunga

bunga warna-warni di Botanischer Garten
bunga warna-warni di Botanischer Garten

Di Botanischer Garten, ada beberapa taman bunga atau area yang dikhususkan untuk bunga yang berwarna-warni.

Dari pintu masuk di Unter den Eichen, taman dengan bunga berwarna kuning, ungu, merah, putih, hijau langsung terlihat dengan latar sebuah gedung yang dirambati tanaman, yang merupakan bagian dari gedung sekolah botani (Botanikschule).

Saat mendekati taman, saya melihat puluhan lebah tengah berpesta pora meloncat dari kuntum bunga ke kuntum bunga yang lain.

Saking banyaknya, saya bahkan bisa mendengar suara buzzing dari kepak sayap mereka.

Saya yang tadinya hendak mendekat, langsung beringsut mundur menghindar agar tidak kena sengat.

Lebahnya beraneka bentuk, ada yang gendut besar berwarna hitam hingga yang kecil-kecil seukuran lalat berwarna kuning.

lebah tengah berpesta di bunga
lebah tengah berpesta di bunga

Rambut-rambut halus lebah sampai terlihat karena saking besarnya, membuat saya bergidik ngeri.

Di antara lebah, tampak kupu-kupu juga terlihat tengah mengais-ngais madu dari bunga yang tidak dikerumuni pasukan lebah.

Ada juga area bernama taman sentuh dan aroma, di mana di taman ini ditanam bunga-bunga wangi yang bisa disentuh.

Area ini dibangun pada tahun 1984, yang difungsikan agar penyandang disabilitas bisa ikut menikmati keragaman tanaman di taman.

Karena sedang ada konstruksi jalan di depan area ini, kami tidak masuk dan mencium aroma atau menyentuh bunga-bunga di area ini.

rumah kaca terlihat di antara ilalang
rumah kaca terlihat di antara ilalang

Kami harus memutar melalui jalur-jalur setapak, di antara pepohonan besar area taman geografi untuk menuju ke arah rumah kaca.

Rumah kaca yang megah terlihat menjulang dengan latar langit berwarna biru yang dihiasi awan-awan putih.

Ilalang yang menyembul seolah-olah membawa saya ke gambar latar belakang layar komputer yang biasanya menampilkan pemandangan indah.

Tak jauh dari sana terdapat taman italia yang dibentuk simetris dengan latar gedung rumah kaca.

Sayangnya pemandangan agak sedikit terganggu dengan keberadaan traktor dan alat berat yang tengah mengerjakan konstruksi.

Rumah Kaca

salah satu ruang rumah kaca di Botanischer Garten
salah satu ruang rumah kaca di Botanischer Garten

Harapan kami sirna saat membaca pengumuman bahwa rumah kaca ditutup hingga jangka waktu yang tak diketahui karena pandemi.

Salah satu dari rumah kaca terbesar yang menjulang setinggi 23 meter dan panjang 60 meter ini menjadi rumah bagi tanaman tropis dari Asia, Afrika, dan belahan bumi selatan seperti padang gurun Afrika, Australia, dan Selandia Baru.

Setidaknya ada 15 ruang yang masing-masing menampilkan koleksi tanaman dari berbagi musim dan iklim.

Kami dari luar hanya bisa mengintip ke dalam, terutama di bagian Afrika Selatan yang menampilkan berbagai macam kaktus.

Di depan rumah kaca terdapat kafe yang menyediakan minuman dingin dan es.

Sebuah tanah lapang dengan rumput yang terpapras digunakan oleh orang-orang untuk berjemur menghitamkan kulit.

Saat kami datang, seorang perempuan dengan bikini tengah asyik tiduran telentang bermandi matahari.

Kami justru malah melipir mencari yang teduh-teduh dan beralih menuju ke area taman geografi.

Taman Geografi

tanaman fuki (Petasites japonicus)
tanaman fuki (Petasites japonicus)

Taman Geografi merupakan rumah bagi tanaman dan pepohonan dari berbagai benua, terutama yang berada di belahan bumi utara.

Tanaman dari Eropa, Asia, dan Amerika memenuhi sepertiga dari total area taman.

Saya melihat tanamn fuki (Petasites japonicus), daun yang digunakan sebagai payung pada karakter Totoro karangan Hayao Miyazaki dari Studio Ghibli.

Selain dari Jepang, beberapa vegetasi dari Cina dan Korea, hingga Asia Tengah seperti Himalaya juga ada di area Asia ini.

Dari area Eropa sendiri, banyak ditumbuhi vegetasi dan tetumbuhan yang biasa saya lihat di sini, seperti oak, cemara, pinus, dan mapel.

Sementara dari area Amerika, meski tanamannya hampir mirip dengan yang tumbuh di Eropa, ada beberapa koleksi tanaman yang berasal dari Pegunungan Rocky dan area di sekitar Samudera Atlantis.

bunga-bunga di area perbukitan
bunga-bunga di area perbukitan

Selain pepohonan besar, ada area yang penuh dengan bunga, yang tumbuh di semacam bukit berbatu yang meniru keadaan di alam sesungguhnya.

Di area ini, terdapat banyak bangku duduk yang beberapa di antaranya merupakan sumbangan dari orang-orang.

Saya melihat dari plakat yang tertempel sebuah bangku yang merupakan hadiah ulang tahun pernikahan kepada taman ini.

Ada juga bangku yang merupakan persembahan dari karyawan taman kepada seseorang yang pensiun.

Kami sempat duduk di salah satu bangku, menikmati suasana teduh dan nyanyian burung yang berkicau sambil membuka bekal makanan ringan yang kami bawa.

Arboretum

area tanaman obat di Arboretum
area tanaman obat di Arboretum

Kami sadar diri bahwa kami tidak mungkin menjelajah seluruh area di taman ini, apalagi ada jangka waktu maksimal 4 jam yang harus kami patuhi.

Sambil menyusuri jalan setapak untuk kembali ke pintu keluar, kami melihat beberapa tanaman semak dan tanaman obat yang disemai di area ini.

Saya jadi teringat dengan konsep tanaman obat keluarga (TOGA) yang ada di Indonesia.

Tanaman-tanaman yang bermanfaat sebagai obat dan jamu yang bisa ditanam di rumah-rumah, rupanya juga dikenal di Jerman.

Area tanaman obat yang ada di Botansicher Garten ini jauh berbeda dengan tanaman obat yang saya kenal di Indonesia.

pohon apel yang berbuah
pohon apel yang berbuah

Saya juga melihat beberapa pohon apel tengah berbuah, yang mengingatkan saya akan wisata memetik apel di Malang dan Kota Batu.

Soal apel, orang Eropa sepertinya suka sekali dengan apel, karena saya sering menemukan apel lebih banyak dijual.

Hampir tiap resto biasanya ada jus apel, baik yang diberi soda atau air jus apel.

Laboratorium botani, rumah-rumah kaca kecil, dan ruang persemaian bibit milik Free University of Berlin berada juga di area ini, namun tidak boleh dimasuki oleh pengunjung.

Di area ini juga terdapat kolam-kolam, lengkap dengan tanaman rawa seperti teratai dan lotus.

Beberapa ekor bebek terlihat berenang-renang atau tengah beristirahat di tepi danau.

danau di Botanischer Garten
danau di Botanischer Garten

Danau ini merupakan penanda bahwa perjalanan kami di Botanischer Garten akan berakhir, karena danau ini berada di dekat pintu masuk.

Sebuah restoran yang berada di dekat pintu masuk terlihat ramai dengan orang-orang yang tengah menikmati suasana dengan pamandangan ke tepi danau sambil menikmati makan sore.

Sebelum meninggalkan taman ini, kami sekali lagi kembali ke taman bunga, menikmati sekali lagi keindahan warna-warni bunga di musim panas ini.

Kini saya mengerti kenapa orang Eropa begitu tergila-gila dengan musim panas, karena selain cuaca yang hangat dan langit biru, warna-warni bunga yang mekar memang memberikan suasana yang sangat berbeda.

Saya sendiri merasa sedang tidak berada di Jerman, karena panas yang menyengat dan membuat kaos saya basah karena keringat.

Botanischer Garten memang layak dikunjungi di musim panas.

Kami sendiri masih penasaran dengan rumah kaca dan museum botani yang ada di taman ini dan kemungkinan akan kembali lagi ke sini.

Semoga pandemi segera berlalu dan situasi kembali normal seperti semula.

Artikel ini dipublikasikan pada 16 Juli 2020, sekitar 3 minggu yang lalu. Informasi yang dimuat di artikel ini mungkin sudah tidak akurat.

Ada 6 tanggapan
Antyo® 16 Juli 2020 09:31 WIB

OOT:
Waktu saya kelas 2-3 SD, nyonya Jerman di sebelah rumah sering berjemur pakai bikini di atas kursi malas lipat tapi di rumah itu gak ada kolam.
Dari jalan tidak kelihatan krn pagar hidup tinggi. Kadang dia berjemur di halaman samping, dari buk garasi saya kelihatan. Teman-teman saya kadang berdiri di atas buk, “nonton Landa wuda” kata mereka.

Yang saya heran waktu itu, lha wong panas-panas kok si nyonya bukannya berteduh malah berjemur.

Zizy Damanik 16 Juli 2020 11:34 WIB

Dari fotonya terlihat terik ya (iyalah namanya juga musim panas), tapi lebah2 yang banyak itu, mereka gak menyerang wisatawan yang datang?
Kalau misalnya bawa kamera untuk foto makro di sana, boleh dong ya.

Jarwadi MJ 19 Juli 2020 09:40 WIB

Taman yang jembar banget. Kalau mengunjungi semua spot di taman itu ya lumayan buat kaki kaki 😀

deddyhuang.com 19 Juli 2020 21:39 WIB

seru! dan aku envy di sana udah nyaman banget buat traveling lagi ke tempat wisata ya.

Alid Abdul 21 Juli 2020 13:15 WIB

Saya lupa kapan terakhir main ke kebun buah atau bunga. Entah mengapa kok saya nggak begitu tertarik berkunjung ke wisata kebon-kebonan ehehe. Nggak tahu lagi kalau nanti sudah berkeluarga dan punya anak.

Saya tahu kenapa orang Eropa suka apel. Soalnya enak ahaha.

CREAMENO 23 Juli 2020 09:55 WIB

Seruuuu, saya suka main ke Botanical Garden 🙈

Di Bali pun ada Botanical Garden favorit saya, tapi lokasinya lumayan jauh, masuk area Bedugul hahaha. Di Jeju juga ada beberapa (lebih banyak) Herb Garden yang saya suka. Berbeda dengan gunung yang acapkali membuat saya malas untuk berkunjung ke sana, Botanical Garden justru kasih pengalaman berbeda karena jalanannya rata-rata datar hahahahahaha 😂

Eniho, foto-fotonya as usual bagusss, jadi ingin ke sana 😍

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.