Terbang Bersama Nam Air dari Terminal B, Bandara Adisutjipto, Yogyakarta

9 minutes

Saya sering bepergian ke Yogyakarta karena urusan pekerjaan. Setiap kali saya harus terbang, saya memilih berangkat dan tiba di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta karena lokasinya dekat dengan tempat tinggal saya.

Terminal B, Bandara Adisutjipto, Yogyakarta

Maskapai yang terbang dari Bandara Halim Perdanakusuma yang bertujuan ke Yogyakarta hanya Batik Air dan Citilink.

Di Yogyakarta, Batik Air, Citilink, dan Garuda Indonesia dilayani di Terminal A. Sisanya dilayani di Terminal B yang diresmikan pada 17 Agustus 2015.

Akhirnya pada tanggal 8 Mei 2018 lalu, saya berkesempatan terbang dari Terminal B, Bandara Adisutjipto, Yogyakarta, dengan maskapai Nam Air karena tiket yang tersedia dan harganya masuk akal.

Saya belum pernah menggunakan maskapai Nam Air, jadi perjalanan saya kali ini saya mendapat dua pengalaman baru bersamaan.

Terminal B, Bandara Adisutjipto

menuju pintu keberangkatan Terminal B, Bandara Adisutjipto

Saya menuju ke bandara ini menggunakan Go-Jek.

Sepeda motor dilarang masuk, sehingga saya hanya bisa turun di depan pintu gerbang kemudian berjalan kaki ke pintu keberangkatan di ujung barat.

Untungnya Terminal B termasuk kecil, sehingga masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki.

Teriminal B berukuran lebih kecil bila dibanding dengan Terminal A. Tidak ada pintu terpisah antara penerbangan domestik atau internasional di Terminal ini.

Begitu masuk pintu kedatangan langsung menuju ke lokasi check-in tanpa melalui mesin pemeriksaan. Saat saya datang, antreannya sudah mengular.

Aula check-in terasa sempit dan tidak jelas garis antreannya. Saya melihat mesin check-in otomatis milik AirAsia, namun saya tidak melihat penumpang yang menggunakannya.

antrean check-in di Terminal B, Bandara Adisutjipto

Saat saya mencoba melakukan web check-in melalui situs Sriwijaya Air (Nam Air merupakan anak perusahaan Sriwijaya Air) rupanya karena waktunya sudah kurang dari 4 jam, saya tidak bisa melakukan web check-in.

Setelah menunggu sekitar 25 menit saya pun sampai di depan loket dan melakukan check-in. Saya kemudian menuju ruang tunggu dengan melewati mesin pemeriksaan.

Waktu saya masuk, ruang tunggu Terminal B sudah penuh. Penyebabnya adalah karena beberapa penerbangan mengalami penundaan karena di waktu yang bersamaan dengan jadwal latihan Akademi Angkatan Udara.

Penerbangan IN-279 saya pun ikut mengalami penundaan.

Pintu keberangkatan internasional berada di dalam ruang tunggu, yang menuju ke aula imigrasi dan terdapat ruang tunggu lagi yang terpisah dari ruang tunggu penerbangan domestik.

ruang tunggu Terminal B, Bandara Adisutjipto

Ada 3 pintu untuk naik pesawat di ruang tunggu ini, di mana penerbangan Nam Air dan Sriwijaya Air dilayani di Pintu 3, Air Asia dilayani di Pintu 2, dan Pintu 1 untuk penerbangan lainnya.

Terdapat area bermain anak di dalam ruang tunggu kedatangan. Saat saya berada di sana, area bermain anak ini dimanfaatkan oleh anak-anak untuk bermain.

Saat maghrib tiba, saya pun melaksanakan sholat maghrib di mushola yang ada di ujung barat, samping toilet.

Musholanya cukup lumayan meski bisa dibilang tidak terlalu luas. Ada batas pemisah antarjamaah laki-laki dan perempuan.

Di dekat mushola terdapat pojok internet gratis dan pojok baca.

pojok internet gratis dan pojok baca di ruang tunggu Terminal B, Bandara Adisutjipto

Ada beberapa komputer yang tersedia di ruang internet ini, namun saya tidak melihat ada yang menggunakannya. Penumpang lebih memilih menggunakan ponsel atau laptop mereka daripada harus membuka internet melalui komputer, apalagi di ruang terbuka.

Begitu juga di ruang baca, kursinya yang cukup empuk justru digunakan oleh orang yang sekadar duduk-duduk membuka laptop dan ponsel mereka masing-masing karena tempat duduk penuh.

Penerbangan saya yang dijadwalkan berangkat pada jam 19:00 WIB ikut tertunda.

Saya baru boarding pada jam 19:00 WIB, dan setelah berada di dalam pesawat, saya baru terbang sekitar jam 20:00 WIB karena menunggu giliran menggunakan landasan.

Terbang Bersama Nam Air IN-279

pesawat Boeing 737-524 PK-NAL Kesejahteraan

Saya boarding dari Pintu 3 sesuai dengan yang tertera di boarding pass. Beruntung, saya tak perlu berjalan jauh dari pintu karena pesawat berada di depan Pintu 2.

Kali ini pesawat yang digunakan adalah seri Boeing 737-524 dengan nomor penerbangan PK-NAL yag bernama Kesejahteraan.

Saat masuk menggunakan tangga, saya disambut ramah oleh pramugari Nam Air berseragam warna tosca.

Ada 8 tempat duduk kelas bisnis, dan 112 tempat duduk kelas ekonomi. Saya mendapat tempat di kursi nomor 21F, satu baris tepat di depan kursi paling belakang.

Terasa sekali hawa tua saat masuk ke dalam pesawat. Kesan tua makin terlihat saat melihat kondisi kursinya.

Beberapa kursi yang berwarna biru dan merah, warna korporasi Nam Air, tampak sobek di beberapa bagian.

Bagian tray tempat menaruh makanan juga terlihat luntur warnanya di beberapa tempat.

tempat duduk pesawat Boeing 737-524 PK-NAL Kesejahteraan

Maklum saja, pesawat ini telah berusia 23 tahun lebih, dan telah berganti 3 kepemilikan, yaitu Continental Airlines, United Airlines, dan Sriwijaya Air, sebelum terdaftar sebagai pesawat Nam Air.

Pesawat ini terbang pertama kali pada tahun 1994, dan berpindah kepemilikan ke Nam Air pada 1 Juni 2016.

Sembari menunggu giliran lepas landas, setelah pintu ditutup, pramugari dengan cepat membagikan makanan kecil kepada seluruh penumpang.

Saya baru pertama kali mengalami pembagian makanan dilakukan saat pesawat masih menunggu taxi.

Saya mengira ini adalah makanan kecil kompensasi karena penerbangan tertunda, rupanya makanan kecil ini merupakan layanan inflight meal.

makanan kecil Nam Air ID-279

Makanan kecil yang saya terima saat itu berupa kue coklat rasa pisang (chocochips banana cookies) yang diproduksi oleh Kokola yang dikemas ulang untuk Nam Air.

Saya juga mendapat air minum kemasan gelas bermerek Prim-A.

Di dalam kantung kursi, terdapat kartu petunjuk keselamatan untuk Boeing 737-500, majalah penerbangan Sriwijaya Air, katalog penjualan, dan kartu doa.

Saat itu kapasitas pesawat tidak terisi penuh. Bahkan baris terakhir saya kosong, dan samping kursi saya di bagian tengah tidak ada penumpangnya.

Pesawat lepas landas pada jam 21:00 WIB, terlambat hampir 2 jam karena menunggu giliran.

Saat berada di udara, pramugari yang dipimpin oleh awak kabin senior Dwi Ayu menjajakan beberapa barang dagangan berupa suvenir Nam Air dan parfum.

Namun sepengelihatan saya, hampir semua penumpang tertidur karena capek dan sudah cukup malam saat itu.

Kapten Hendra Parora dan kopilot Ahmad Reza membawa pesawat lepas landas dan mendarat dengan halus di pintu F4, Terminal 2F, Bandara Soekarno-Hatta pada jam 22:00 WIB.

1 response
  1. Gravatar of Made Ginan
    Made Ginan

    Jadi menurut penulis, apakah nyaman dengan menggunakan nam air atau tidak. Saya baru saja booking tiket nam air. ya, karena alasan yang sama, harga tiket masuk akal serta jam terbang yang pas di kebutuhan saya. Agak sedikit khawatir sih, karena pertama kali naik nam air dari jogja menuju denpasar bali. Dan bingung nam air di terminal berapa. Sharing dari penulis mungkin bisa menjadi bayangan saya sebagai pembaca dan calon penumpang nam air 🙏

Tinggalkan Balasan

This article has been published on 10 Mei 2018 (2 tahun ago).

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.