Benteng-Benteng Sejarah Ternate

10 minutes 35,111 5

Demi mengamankan perdagangan rempah, Portugis, Spanyol, dan Belanda membangun benteng-benteng pertahanan di Maluku Utara. Di Ternate, Tidore, dan sebagian Kepulauan Banda, berdiri sisa-sisa benteng yang pernah menjadi saksi kejayaan rempah nusantara.

Di Ternate sendiri, tercatat ada delapan benteng yang masih bertahan, yaitu Tolukko, Kalamata, Kastela, Oranje, Kota Janji, Bebe, Kota Naka, dan Takome. Dari catatan Belanda, setidaknya ada 12 benteng di Ternate, termasuk sebuah benteng dari kayu, yaitu Benteng Kalafusa, namun sisanya tak ditemukan jejaknya.

Saya bersama tim Jelajah Gemah Rempah Mahakarya Indonesia menyusuri sisa-sisa kemegahan tiga benteng di Ternate, yaitu Benteng Kastela, Benteng Tolukko, dan Benteng Kalamata.

Benteng Kastela, Tempat Dibunuhnya Sultan Khaerun

gerbang Benteng Kastela

Kami meluncur ke sebelah barat daya pulau Ternate. Saya sempat heran saat mobil yang membawa kami masuk ke sebuah jalan kampung. Ternyata, kami sampai di lokasi sisa-sisa Benteng Kastela, di Kelurahan Kastela.

Benteng yang sering juga disebut dengan Benteng Gam Lamo (asal nama Gunung Gamalama), dibangun secara bertahap selama kurang lebih 20 tahun. Benteng ini juga dikenal dengan nama Nostra Senora del Rosario.

Gam Lamo sendiri berarti “kampung besar”, karena di sini dulu merupakan perkampungan besar yang berisi orang-orang Portugis. Nama Nostra Senora del Rosario merupakan julukan kepada benteng karena konon di kawasan ini dulu tinggal seorang gadis cantik yang suka mengenakan kalung dari bunga.

Nama Kastela, dugaan saya berasal dari kata “castle” yang berarti istana, karena memang di sini dulu merupakan istana pusat pemerintahan dan perdagangan Portugis.

Pertama kali benteng ini dibangun oleh Antonio de Brito pada tahun 1522, kemudian dilanjutkan oleh Garcia Henriquez pada tahun 1525. Tahun 1530, pembangunan dilanjutkan oleh Goncalo Pereira, dan pada tahun 1540 benteng ini dirampungkan oleh Jorge de Castro.

Sebuah pintu gerbang bertuliskan “Jou Se Ngofa Ngare” dengan lambang garuda berkepala dua (Goheba Madopolo Romdidi) lambang Kerajaan Ternate menyambut kami. Jou Se Ngofa Ngare berarti “aku dan engkau” yang merupakan semboyan Kesultanan Ternate, yang bisa diartikan sebagai menjunjung tinggi kebersamaan.

Begitu masuk gerbang, sebuah tugu dengan patung cengkeh besar menghadang. Sebuah fragmen relief pembunuhan Sultan Khaerun bertulis 28 Februari 1570 langsung terlihat.

reruntuhan sisa Benteng Kastela

Di lokasi ini lah Sultan Ternate ke-25, Sultan Khaerun diundang makan malam oleh Portugis, lalu dengan licik dibunuh oleh Antonio Pimental atas perintah Gubernur Portugis Lopez de Mosquita pada tanggal 28 Februari 1570. Jenazah Sultan Khaerun dibuang di tengah laut.

Peristiwa pembunuhan Sultan Khaerun ini memicu perlawanan rakyat Ternate terhadap Portugis. Di bawah pimpinan Sultan Babullah, putera Sultan Khaerun, benteng ini dikepung selama lima tahun. Stok makanan dan kebutuhan lainnya tidak dapat dipasok ke dalam benteng, sehingga orang-orang Portugis di dalamnya tersiksa.

Akibat embargo dari Sultan Babullah ini, banyak orang Portugis yang mati dan akhirnya pada 29 Desember 1575, orang Portugis hengkang dari Ternate. Tanggal 29 Desember ini dijadikan sebagai hari lahir Kota Ternate.

Saat kami datang, sebuah taman dibangun di dalam lokasi benteng. Sayang sekali, bukannya mempercantik, namun menurut saya justru menghilangkan esensi sejarah benteng. Kondisi ini diperparah dengan dibangunnya sebuah masjid tepat di samping reruntuhan benteng.

Padahal menurut UU No. 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya, ada larangan mengubah atau menambahkan bangunan yang tidak mendukung fungsi cagar budaya tersebut.

Sedangkan tugu yang terdapat di depan gerbang, menurut saya masih mendukung karena di setiap sisinya menggambarkan peristiwa penting yang terkait dengan benteng ini.

Tugu ini memiliki empat sisi yang menceritakan tanggal dan peristiwa penting, yaitu 28 Februari 1570, bergambar pembunuhan Sultan Khaerun; 28 Februari 1570 Sultan Babullah melakukan perlawanan; 28 Desember 1575 tentara Portugis menyerah; dan 31 Desember 1575 orang Portugis hengkang dari Ternate.

Tahun 1606, Spanyol datang ke Ternate dan berhasil menguasai benteng ini. Pada tahun 1660, Spanyol hengkang dan menghancurkan benteng ini.

Benteng yang luas lahannya 2.724 meter persegi ini kini yang masih bisa diidentifikasi hanya reruntuhan bastion dan menaranya.

Benteng Tolukko, Pengawas Perdagangan Rempah

Benteng Tolukko

Saat Malaka jatuh ke tangan Portugis, Alfonso d’Albuquerque memerintahkan Fransisco Serrao untuk berlayar menuju ke timur untuk menemukan daerah rempah. Fransisco Serrao akhirnya mendarat di Ternate pada tahun 1512 dan era perdagangan rempah Portugis di Maluku dimulai.

Fransisco Serrao memutuskan untuk menetap di Ternate. Ia pun menikahi perempuan Jawa dan membangun benteng. Salah satu benteng yang dibangun oleh Fransisco Serrao adalah Benteng Santo Lucas pada tahun 1540. Benteng ini terletak di sebelah timur, menghadap ke Pulau Halmahera. Benteng ini juga berada di utara Kesultanan Ternate, yang fungsinya memang untuk mengawasi gerak-gerik Kesultanan Ternate.

Saat Portugis hengkang dari Ternate karena diusir oleh Sultan Babullah pada tahun 1575, Belanda datang dan mengambil alih benteng ini. Benteng ini kemudian direnovasi pada tahun 1610 oleh Pieter Both dan berganti nama menjadi Benteng Holandia.

Kemudian setelah jatuh ke tangan Kesultanan Ternate, benteng ini kemudian berganti nama menjadi Benteng Tolukko, yang menurut beberapa catatan, mengambil nama dari penguasa Ternate yang bernama Kaicil Tolukko.

Benteng ini terletak di atas bukit, sehingga sangat strategis untuk mengawasi jalur lalu lintas perdagangan di selat antara Ternate, Halmahera, dan Tidore. Selain itu, Kesultanan Ternate juga dapat dengan mudah diawasi dari benteng ini.

Bentuk benteng ini unik, tidak simetris karena mengikuti kontur bukit yang ada. Bentuknya cenderung membulat dengan dua bastion di depan dan sebuah lorong sepanjang kurang lebih 20 meter ke belakang di antara kedua bastion. Bila dilihat dari atas, bentuk benteng ini mirip dengan alat kelamin pria.

Saat saya berdiri di bagian belakang benteng, saya bisa dengan mudah melihat kapal-kapal lalu-lalang dengan latar belakang Pulau Halmahera dan Tidore.

Benteng Tolukko masih terawat dengan cukup baik. Di sekitar benteng dibangun taman yang membuat benteng ini terlihat lebih cantik.

Benteng Kalamata, Pengawas Serangan Spanyol

anak-anak berjalan melintas di tembok Benteng Kalamata

Selain Benteng Santo Lucas alias Benteng Tulakko, sebuah benteng lain dibangun di sebelah selatan Pulau Ternate.

Benteng ini adalah Benteng Santo Lucia, yang ditujukan untuk mengawasi Spanyol yang menguasai Tidore. Portugis memang bersaing dengan Spanyol dalam pencarian dan penguasaan perdagangan rempah, bahkan sejak masih di Eropa.

Benteng Santo Lucia dibangun pada era yang sama dengan Benteng Santo Lucas, yaitu pada tahun 1540 oleh Antonio Pegaveta. Pieter Both dari Hindia Belanda memugar benteng ini pada tahun 1609. Setelah dikuasai Kesultanan Ternate, benteng ini diberi nama Benteng Kalamata, sesuai dengan nama Pangeran Kalamata, adik Sultan Ternate ke-31, Mandar Syah.

Benteng Kalamata berbentuk poligon, dengan tebal tembok hanya 60 cm dan tinggi 3 meter. Benteng ini memiliki 4 bastion berbentuk runcing pada ujungnya, yang masing-masing bastion mempunyai lubang bidikan.

Jika berada di atas benteng ini, terlihat jelas Pulau Maitara dan Pulau Tidore dengan gunungnya yang menjulang. Di sebelah timur terlihat aktivitas kapal di Pelabuhan Bastiong. Pelabuhan Bastiong digunakan untuk menyeberang ke Tidore dan Halmahera dengan menggunakan kapal feri.

Pada sore hari, terlihat warga dan anak-anak bermain di benteng ini karena memiliki halaman yang luas di bagian dalam. Saya melihat seorang anak berlari dari tembok benteng kemudian melompat dan menceburkan diri ke laut.

Tari Soya-Soya

Saat kami berkunjung di benteng ini, kami disuguhi pertunjukan tari Soya-Soya. Tari Soya-Soya menggambarkan perjuangan rakyat Ternate melawan dan mengusir Portugis dengan dipimpin oleh Sultan Babullah yang dipicu oleh dibunuhnya Sultan Khaerun.

Tari Soya-Soya ditampilkan oleh lima orang pria dengan menggunakan pakaian gagah dan atribut yang terbuat dari daun sagu. Tabuh-tabuhan menjadi musik pengiring tarian yang dibawakan dalam waktu sekitar 5 menit.

Tarian Soya-Soya dapat dilihat pada video berikut.

Galeri Foto

6 responses
  1. Gravatar of Dadan
    Dadan

    Menarik sekali tulisannya, jadi pengin nyoba menelusuri jalur rempah nusantara, mas zam ada video2 ttg jalur2 rempah2 yg lainnya engga? Boleh dong dibagikan

  2. Gravatar of Mamah muda
    Mamah muda

    terimakasih atas info nya sangat membantu sekali buat saya

  3. Gravatar of Wirawan
    Wirawan

    keren. saya juga terakhir ke Ternate sekitar tiga tahun lalu.

  4. Gravatar of Aljung Juniv
    Aljung Juniv

    Memangnya membangun masjid itu memperburuk ? Maaf saya agak tersinggung

  5. Gravatar of Andra
    Andra

    Apakah membangun masjid itu memperparah kondisi dan pandangan melihat sejarah? Bukan kah dengan ada nya masjid wisatawan khusus nya umat islam bisa mudah melalukan ibadah saat melalukan traveling