Menyelam di Tabularasa dan Terusan Penyu, Kepulauan Seribu

Artikel ini ditayangkan pada 5 November 2014, sekitar 3 tahun yang lalu. Informasi pada tulisan ini mungkin sudah tidak sesuai.

Sudah cukup lama saya tidak menyelam. Terakhir menyelam adalah saat menjadi “korban” saat Diah dan Sarah ujian sertifikasi PADI Rescue Diver bersama instruktur saya, Johannes Keirianto, kira-kira setahun yang lalu. Saat itu saya dicemplungkan ke laut seolah-olah menjadi korban kecelakaan dan tugas para calon rescue diver ini adalah menyelamatkan saya.

bersama Pak Salim bersama Pak Salim

Minggu, 2 November 2014 saya kembali menyelam. Tak jauh-jauh, saya, Diah, Sarah, dan Suprie menyelam di sekitar Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu. Namun karena sudah lama saya tak menyelam, sehari sebelumnya, Sabtu, 1 November 2014, saya melakukan refreshment dive di kolam renang Senayan.

Dermaga 17 Ancol

Kami melakukan ODT (One Day Trip) ke Pulau Pramuka menggunakan kapal cepat yang berangkat dari Dermaga 17, Ancol. Ini pertama kali kami berangkat dari Dermaga 17, karena biasanya kami berangkat dari Dermaga 6.

Dermaga 17 dikelola oleh Sea Leader Marine, sebuah perusahaan yang melayani penjualan tiket kapal dan paket wisata ke berbagai Pulau di Kepulauan Seribu.

Berbeda dengan di Deramaga 6, di Dermaga 17 terdapat ruang tunggu ber-AC yang nyaman. Kamar mandi dan mushola juga tersedia dengan layak. Terdapat juga kantin yang menjual makanan ringan.

Tiba di Dermaga 17, kami melapor terlebih dahulu dan barang-barang kami diberi tanda. Saat akan berangkat mendekati pukul 8:00, nama kami dipanggil dan kami antre masuk ke kapal satu per satu.

Kapal yang kami naiki adalah kapal Pramuka Express berdaya tampung 120 orang. Kapal yang ini dilengkapi AC, toilet, dan televisi. Mesin kapal ditenagai 5 buah mesin Suzuki berdaya 250 HP.

Harga Tiket

Untuk harga tiket, bisa langsung merujuk ke situs Sea Leader Marine. Namun karena daftar lengkap berupa berkas Microsoft Excel, saya coba kutipkan. Harga yang tertera adalah harga tiket reguler dari Dermaga 17 Ancol untuk sekali jalan, saat tulisan ini dibuat.

Tujuan Senin-Jumat Sabtu-Minggu
Pulau Ayer Rp 89.900 Rp 128.900
Pulau Bidadari Rp 89.900 Rp 128.900
Pulau Untung Jawa Rp 89.900 Rp 128.900
Pulau Pramuka Rp 149.900 Rp 188.900
Pulau Pari Rp 149.900 Rp 188.900
Pulau Tidung Rp 149.900 Rp 188.900
Pulau Putri Rp 239.900 Rp 278.900
Pulau Harapan Rp 239.900 Rp 278.900
Pulau Sepa Rp 239.900 Rp 278.900
Pulau Macan Rp 239.900 Rp 278.900
Pulau Pantara Rp 239.900 Rp 278.900

Galeri Foto

Titik Penyelaman Ship Wreck Tabularasa

Kami tiba di Pulau Pramuka dan langsung bertemu dengan Pak Salim yang akan menjadi pemandu kami. Selama ini jika kami menyelam di Kepulauan Seribu, terutama di sekitar Pulau Pramuka, selalu bersama Pak Salim. Pak Salim pula yang menjadi asisten instruktur saya saat mengambil sertifikasi.

Kami langsung meluncur ke arah Timur Pulau Pramuka. Tak lama, sekitar 20 menit kami tiba di titik selam pertama, ship wreck Tabularasa. Titik ini diberi nama demikian, karena sesuai dengan nama kapal yang tenggelam di sini, K.M. Tabularasa.

Diah di Tabularasa Diah di Tabularasa

K.M. Tabularasa adalah kapal latih Sekolah Tinggi Perikanan yang karam pada tanggal 15 Maret 1995 dan kemudian tenggelam 29 hari kemudian.

Kondisi wreck masih utuh. Bagian haluan menghadap ke karang di kedalaman di kedalaman 27 meter dan buritan berada di bawah di kedalaman 35 meter. Panjang kapal 26 meter dengan lebar 6,25 meter terbuat dari baja.

Koral dan biota laut yang tumbuh di sekitar bangkai bisa dibilang masih cukup sehat. Kemungkinan karena memang jarang penyelam yang mendatangi tempat ini, mengingat batas sertifikasi untuk menyelam di sini adalah AOW (Advanced Open Water) karena kedalamannya lebih dari 18 meter.

Yang patut diperhatikan di sini adalah arus. Menurut Pak Salim, jika masih pagi arusnya masih cukup kuat menerjang. Puncak arus terjadi saat siang hari, sekitar pukul 12:00 WIB. Kami turun di Tabularasa sekitar pukul 10:40.

Awalnya cukup tenang. Hanya Suprie yang kesulitan turun karena beban kurang. Setelah ditambah, Suprie bisa turun dan bergabung dengan kami. Perlahan-lahan sosok bangkai kapal mulai terlihat. Saat itu juga arus cukup kencang langsung menerjang dari arah barat menuju timur. Saya dengan segera mengikuti Pak Salim berlindung di balik dinding haluan, untuk menghindari arus.

Saat menikmati pemandangan di seputar wreck, saya melihat Sarah kok seperti menjauh dari wreck. Karena hanya Sarah yang membawa kamera, saya mengira dia hendak mengambil gambar kami semua dengan latar wreck dengan sedikit menjauh. Tapi lama-lama kok Sarah makin menjauh?

“Ting! Ting! Ting! Ting!”, terdengar bunyi tangki dipukul-pukul pointer. Rupanya Sarah meminta tolong dengan memukul-mukul tangki karena terseret arus. Pak Salim dengan sigap menyusul dan memberi tanda dengan memukul-mukul tangki agar kami semua mengikuti. Akhirnya kami bergabung kembali dan menyelam mengikuti arus sambil menyusuri karang di kedalaman 20 meter.

Sarah bercerita, pengalaman barusan adalah pengalaman yang membuatnya panik. Terseret arus dan dia mengalami kesulitan ekualisasi (menyamakan tekanan telinga dengan tekanan sekitar) membuatnya kesulitan mengendalikan diri. Untungnya dia sempat memberi tanda kepada kami sehingga kami bisa melihat dan menyusulnya.

Saat itu Kepulauan Seribu terlihat lebih jernih dari biasanya. Di titik Tabularasa ini saya melihat penyu, nudibranch, sotong (cuttlefish), dan puffer fish. Diah dan Suprie mengaku melihat stingray yang heboh mencari makan.

Kami menyelam selama 48 menit. Kedalaman maksimal selam saya adalah 32 meter.

Titik Penyelaman Terusan Penyu

Sarah dan pygmy sweeper Sarah dan pygmy sweeper

Kami menuju ke titik selam kedua, yaitu Terusan Penyu, di sebelah utara Pulau Karya. Diberi nama demikian karena penyu sering lewat daerah sini. Titik selam di sini berupa channel yang terbentuk dari sebuah gosong (karang yang membentuk dasar pulau) dengan Pulau Karya.

Sambil menunggu surface interval, kami makan siang nasi padang. Sarah dan Diah malah asyik nyemplung dan bermain-main dengan melakukan duck dive (menyelam ala bebek).

Entah kenapa suasana saat itu terlihat seperti berkabut. Kata Pak Salim, kemungkinan kabut berasal dari asap kebakaran hutan di Sumatera.

Di penyelaman kali ini, Suprie tidak ikut karena kakinya sakit. Setelah kenyang, kami pun memasang dive gear dan segera nyemplung.

Kami menyelam menyusuri karang dengan acuan reef di sebelah kanan. Jarak pandang saat itu cukup jernih, bahkan lebih jernih dari biasanya saya menyelam di sini. Berbagai jenis ikan tampak bergerombol. Saya melihat banyak yellow tailed snapper bergerombol hilir mudik. Surgeon fish, batfish, yellowtail fussilier, juga terlihat bergerombol.

Karang-karang di titik selam ini relatif masih sehat. Saya melihat beberapa sea fan berukuran cukup lebar nampak sehat. Hingga di ujung penyelaman, kami sampai di sebuah karang yang terdapat lubang di tengahnya. Saya mencoba menerobos masuk melalui lubang tersebut, dan melihat banyak ikan kecil warna-warni bergerombol.

Saya melihat segerombolan ikan berkepala kuning pygmy sweeper sedang menari-nari dalam gerombolan. Karena gemas saya pun mencoba membubarkan gerombolan mereka, namun sia-sia. Dengan cepat mereka kembali bergerombol tanpa ada pemimpin.

Tak terasa, karena saking asyiknya bermain-main dan mengejar-ngejar gerombolan pygmi sweeper ini, tangki saya sudah sampai 50 bar saja. Saya kemudian memberi kode kepalan tangan kepada buddy saya, Diah dan segera naik ke permukaan setelah melakukan safety stop.

Menyelam di Kepulauan Seribu

Meski sering diremehkan bila dibandingkan dengan dive spot yang lain, ternyata Kepulauan Seribu masih memiliki senjata rahasia. Jika biasanya menyelam di Kepulauan Seribu identik dengan jarak pandang pendek, pada musim-musim tertentu bisa saja air begitu jernih dan jarak pandang cukup jauh.

Seperti pada penyelaman saya kali ini, saya merasa ini waktu penyelaman terbaik saya di Kepulauan Seribu. Jarak pandang bagus, dan ikan yang muncul juga cukup ramai.

Seorang teman bahkan pernah bertemu whale shark saat menyelam di lokasi yang sama, pada bulan yang sama, November. Untuk yang gemar dengan wreck dive, ada beberapa titik penyelaman yang bisa didatangi. Saya pernah menyelam di Papa Theo. Ada juga titik selam Poso dan Pari tugboat wreck.

Peta Titik Selam

Peta titik selam saya bisa dilihat di Google Maps.

Info Kontak

  • Pak Salim, pemandu Pulau Pramuka, untuk sewa tangki dan kapal: 085883733398
  • Info Sea Leader Marine: 021-6450310, 021-6450315, 081319551955

Galeri Foto

Foto-foto bawah laut dipotret oleh Sarah dan Diah.

Muhammad Zamroni

pengembang web • penyelam scuba • pejalan pemula • peminat perangkat

Jakarta, Indonesia

4 komentar

Artikel ini ditayangkan pada 5 November 2014, sekitar 3 tahun yang lalu. Informasi pada tulisan ini mungkin sudah tidak sesuai.

JEI~Jurnal Evi Indrawanto

5 November 2014 18:40

Bawah laut suasananya selalu misterius yang ngeblend dengan keindahan. Rasanya gimana gitu ya kalau berada di bawah sana :)

Ardinasyah Solaiman

25 Maret 2015 13:37

Keren Banget! Kebetulan saya baru dari pulau seribu untk ambil advance open water weekend kemarin. Walaupun kami sampai ke kedalaman 32 meter, tapi kami tidak berhasil sampai ke tabula rasa, karena arus yang kencang dan visibility yang rendah sekali. Mungkin mau coba next trip nya round trip saja :)

Berguna sekali informasinya :)

Kristo-CNDive

25 Mei 2016 13:49

Mas Muhammad Zamroni,
Terima kasih banyak tulisanya tentang menyelam di Kepulauan Seribu. Sangat bermanfaat bagi petualang bawah laut. Salam sukses aja.

Andre Penyelaman

24 Agustus 2017 21:29

Wah keren, mudah2an bisa turun di sana juga.
Salam Penyelaman

Statistik

Telah dibaca 1.635 kali. Waktu baca rata-rata 10 menit. Ada 4 komentar.