Mencoba Bus Wisata City Tour Jakarta

Artikel ini ditayangkan pada 30 April 2014, sekitar 3 tahun yang lalu. Informasi pada tulisan ini mungkin sudah tidak sesuai.

Saya penasaran dengan bus wisata City Tour Jakarta. Bus wisata yang resmi beroperasi sejak 24 Februari 2014 ini menarik perhatian saya saat melintas di kawasan Monas.

Selasa, 29 April 2014, saya dan pacar yang penasaran akhirnya mencoba naik bus bertipe double decker ini dari halte di depan Museum Nasional. Haltenya kecil, dan terdapat rambu pemberhentian bus dengan tulisan City Tour.

halte pemberhentian Jakarta City Tour halte pemberhentian Jakarta City Tour

Kami menunggu sekitar 15 menit sebelum bus datang. Pintu keluar-masuknya cuma satu, di tengah. Kami menunggu penumpang turun terlebih dahulu sebelum kami naik.

Saat kami naik, hampir semua tempat duduk terisi. Kami mencoba naik ke atas, namun akhirnya turun karena ngga tahan dengan AC yang terlalu dingin.

Selama perjalanan, ada pemandu yang menjelaskan tempat-tempat yang dilewati oleh bus. Kami naik bus yang mengarah ke Pasar Baru.

Saat melewati Gedung Sekretariat Negara, pemandu menceritakan sejarah gedung ini. Pada masa pemerintahan Belanda, gedung ini bernama Societeit Harmonie dan sering disebut dengan “gedung dansa”, karena sering digunakan untuk dansa pemuda-pemudi Belanda.

Sebelum digunakan sebagai tempat bergaul para sosialita Belanda, gedung ini adalah benteng pertahanan Rijkwijk yang terletak di luar kota Batavia.

Maret 1985, gedung Harmoni dirobohkan demi alasan perluasan jalan. Nama gedung ini pula yang menjadi nama kawasan Harmoni. Selain gedung Sekretariat Negara, pemandu juga menceritakan tentang Patung Hermes, yang duplikatnya menempel pada jembatan, sedangkan patung aslinya tersimpan di Musem Sejarah Jakarta.

Saat melintas di daerah Pecenongan, si pemandu pun bercerita tentang kekayaan kuliner di kawasan ini. Nampaknya dia hafal sekali dengan tempat makan dan tempat nongkrong di kawasan ini.

suasana di lantai atas bus suasana di lantai atas bus

Saat melintas di Pasar Baru, pemandu bercerita tentang sejarah Pasar Baru. Dinamakan Pasar Baru, karena dulunya pasar ini hanya menjual barang-barang baru, barang yang belum ada di pasar lain. Barang-barang baru ini banyak berasal dari Cina.

Dulu, pasar baru juga terkenal dengan kawasan perdagangan gelap (ilegal) mata uang asing. Namun sepertinya citra buruk ini sudah tidak menempel ke pasar yang kini menjadi salah satu pusat perdagangan kain.

Bus berhenti cukup lama di halte Pasar Baru. Saya memperhatikan para penumpang bus. Ada orang tua, pelajar, dan pekerja. Karena gratis, ada saja yang memanfaatkan bus ini sebagai transportasi gratis.

Saya pribadi setuju saja jika menaiki bus ini dipungut biaya. Dengan membayar, sehingga penumpang yang naik bus ini memang yang berniat mengikuti tur, bukan mencari transportasi gratis. Rasanya menjengkelkan saat kita hendak ikut tur ternyata bus penuh dengan orang yang cuma naik cari transportasi gratis, bukan?

Setelah sekitar 5 menit beristirahat, bus melanjutkan perjalanan melewati Kantor Pos Besar Jakarta dan Lapangan Banteng.

Lapangan Banteng dulunya bernama Waterlooplein, yang terdapat patung singa sebagai peringatan kemenangan perang Waterloo, di Belgia pada tahun 1815.

Kini di tengah lapangan terdapat Monumen Pembebasan Irian Barat, untuk memperingati keberhasilan membebaskan Irian Barat dari penjajah Belanda. Patung ini diresmikan pada 17 Agustus 1963 oleh Presiden Soekarno.

penumpang masuk ke dalam bus penumpang masuk ke dalam bus

Dari Lapangan Banteng, bus berbelok melewati Gereja Katedral Jakarta yang memiliki nama resmi Gereja Santa Maria Pelindung Diangkat Ke Surga (De Kerk van Onze Lieve Vrouwe ten Hemelopneming). Gereja ini dirancang oleh Pastor Antonius Djikmans dan diresmikan pada tahun 1901.

Tepat di seberang Gereja Katedral terdapat Masjid Istiqlal yang dirancang oleh arsitek beragama Kristen Protestan, Frederich Silaban. Frederich Silaban merancang banyak gedung, di antaranya adalah Gelora Bung Karno, Monumen Pembebasan Irian Barat, Gedung BNI 46, dan Monumen Nasional (Monas).

Dari Istiqlal kami melewati Istana Negara, yang rupanya dulu merupakan kediaman pribadi seorang pengusaha Belanda, J.A. Van Braam. Pada 1821, gedung ini dibeli oleh Pemerintah Belanda dan digunakan sebagai pusat pemerintahan dan tempat beristirahat para gubernur jenderal saat berkunjung ke Batavia.

Kami mengakhiri tur kami dengan turun di halte Monumen Nasional (Monas) yang dekat dengan silang barat daya Monas. Perjalana memakan waktu sekitar 30 menit karena bus berjalan pelan dan santai.

Saya senang dengan bus ini. Saya mendapatkan pengalaman menarik serta pengetahuan baru terutama sejarah tempat-tempat yang sering kita lewati namun tidak kita perhatikan.

Saya berharap bus bernama #MpokSiti yang kini berjumlah 5 unit ini akan tetap terawat, sehingga kenyamanan penumpang dan wisatawan dapat terus ditingkatkan.

Usulan lain, pertahankan terus kehadiran pemandu, karena penumpang bisa berinteraksi. Juga, ke depan perlu disiapkan juga pemandu berbahasa Inggris untuk melayani wisatawan asing.

Informasi

Muhammad Zamroni

pengembang web • penyelam scuba • pejalan pemula • peminat perangkat

Jakarta, Indonesia

1 komentar

Artikel ini ditayangkan pada 30 April 2014, sekitar 3 tahun yang lalu. Informasi pada tulisan ini mungkin sudah tidak sesuai.

Ajeng Lembayung

5 Mei 2014 10:24

Waaah.... aku mau coba aaah... :3
Piyambakan trip mesti..

Statistik

Telah dibaca 2.503 kali. Waktu baca rata-rata 6 menit. Ada 1 komentar.