Ke Surabaya, Jangan Lupa Makan Kupang Lontong

4 minutes

Surabaya terkenal memiliki ragam kuliner yang bervariasi. Salah satu yang menjadi andalannya adalah berbagai macam hidangan berbahan dasar hewan laut, mulai dari berbagai jenis kerupuk dari hewan moluska (hewan lunak tak bertulang belakang) semacam tripang dan terung, hingga berbagai jenis ikan dan kepiting.

Maklum saja, Surabaya terletak di pinggir pantai yang menghadap ke Selat Madura. Uniknya lagi, makanan olahan dari laut ini tidak dapat ditemukan di tempat lain meski sama-sama berada di pesisir.

Salah satu hidangan berbahan dasar laut yang terkenal adalah kupang lontong. Makanan ini biasa dijumpai di warung-warung kaki lima, atau dijual keliling kampung-kampung.

Beberapa tempat yang menjual kupang lontong yang terkenal ada di Pasar Blauran dan Pantai Kenjeran.

Kupang adalah sejenis remi (kerang kecil) seukuran biji beras, sehingga sering juga disebut dengan kerang beras.

Dari berbagai jenis kupang, yang digunakan untuk makanan ini adalah kupang putih (Corbula faba H).

Kupang hidup di lumpur air asin dan menempel pada tumbuhan laut yang tumbuh di pantai berair tenang.

Cara menangkap kupang cukup mudah. Nelayan hanya perlu memotong tumbuhan laut tempat kupang menempel, kemudian saat air surut, gerombolan kupang dapat dengan mudah diambil.

Kupang selanjutnya diolah dengan cara direbus untuk memisahkan isinya dengan cangkangnya. Setelah isinya terpisah dari cangkangnya, kupang disaring sehingga diperoleh daging kupang berwarna putih dengan setitik warna hitam (bagian kepala kupang berwarna hitam).

Penyajiannya cukup sederhana. Bawang putih goreng, petis (sambal berwarna hitam yang terbuat dari udang) digerus bersama cabe menggunakan sendok di atas piring (bagi yang suka pedas).

Setelah tercampur rata, potongan lontong diletakkan di atas bumbu tersebut lalu disiram kupang beserta air rebusannya yang berfungsi sebagai kaldu.

Beberapa versi kupang lontong menambahkan lentho (gorengan yang terbuat dari singkong, kelapa, dan kacang tholo). Sebagai lauk, tambahkan sate kerang rebus dan taburan bawang goreng.

Selain lezat, kupang juga mengandung 17 macam asam amino (protein), yaitu asam aspartat, treonin, serin, glutamat, glicin, alanin, valin, metionin, isoleusin, leusin, tirosi , fenilalanin, lisin, sistein, histidin, arginin, dan prolin.

Protein berfungsi sebagai zat pembangun di dalam tubuh manusia, pengganti sel-sel yang rusak, zat pengatur dan penerus sifat-sifat genetis, sistem pertahanan tubuh dan masih banyak lagi. Kupang juga mengandung asam lemak tak jenuh lebih banyak daripada asam lemak jenuh.

Karena kandungan proteinnya yang tinggi, beberapa orang terutama yang memiliki alergi, bisa sangat terganggu setelah memakannya. Namun ini bisa diatasi dengan cara yang mudah dan nikmat pula, yaitu dengan minum air kelapa yang biasanya juga dijual bersama kupang lontong.

Selain melepaskan dahaga, air kelapa juga bisa menawarkan racun yang mungkin muncul karena pengolahan kupang yang kurang bersih.

8 responses
  1. Gravatar of Yahya Kurniawan
    Yahya Kurniawan

    Kupang itu amis gak, Zam?

    Gravatar of Muhammad Zamroni
    Muhammad Zamroni

    namanya juga ikan laut, om. kalo ngolahnya bener ya gak amis kok. 😀

  2. Gravatar of Ika
    Ika

    Waaaah…. kenapa tidak disubmit ke website Nutrisi Untuk Bangsa kak…..??? Ayo kak.. Lalu isi formnya ya… linknya ada di http://nutrisiuntukbangsa.org/jelajah-gizi/

  3. Gravatar of selebvi
    selebvi

    aduh kok aku ga minat makan kupang ya
    bentuknya kecil2 gitu bikin merinding je ngeliyatnya

  4. Gravatar of mohamad rivai
    mohamad rivai

    tampilannya nggak terlalu mencekam seperti yg saya makan kemarin :p

  5. Gravatar of DebbZie
    DebbZie

    YUM! enak nihhh….tiap mudik ke Malang pasti nyari Kupang, hihihi :p

  6. Gravatar of Dian
    Dian

    Coba Lontong Kupang Mbah Yo
    di Jl Jambangan Kebon Agung No.1 Surabaya 0858-5228-0255
    …..rasanya maaaaknyuuuus….nyesel kalo nggak nyoba….lihat ulasan :
    http://arrohman.blogspot.com/2012/03/wiskul-lontong-kupang-mbah-yo.html

Tinggalkan Balasan

This article has been published on 21 Oktober 2012 (8 tahun ago).

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.