Sensasi Terbang Paralayang di Puncak, Bogor

Artikel ini ditayangkan pada 2 Agustus 2012, sekitar 5 tahun yang lalu. Informasi pada tulisan ini mungkin sudah tidak sesuai.

“Kalo saya bilang jalan, kamu jalan.. Kalo saya bilang lari, kamu ikut lari,” pesan Pak Rahmat, pilot paralayang yang akan membawa saya terbang dengan sistem tandem ketika hendak lepas landas.

ground-handling sebelum take-off

Pilot tandem bukan sembarangan, dia harus memiliki jam terbang tinggi. Pak Rahmat yang menjadi pilot tandem saya sudah terbang sejak tahun 1997.

Saatnya pun tiba. Dengan antusias saya mengikuti instruksi Pak Rahmat, mulai dari berjalan, berlari, kemudian, hup..! Kami terbang!

Matahari menyengat cukup panas namun terhalang oleh sedikit kabut di sekitar landasan paralayang di Puncak, Bogor, Jawa Barat.

Lokasi landasan ini mudah dicapai, dan menjadi salah satu lokasi terbaik karena kondisi angin dan panas bumi cenderung lembut. Angin lokal yang senantiasa berhembus, menjadikan lokasi ini dapat diterbangi sepanjang tahun selama cuaca bagus (tidak hujan).

Untuk mencapai lokasi ini, dari arah Bogor menuju Puncak, setelah masjid At Ta’awun, ada jalan setapak kecil di sebelah kanan setelah tikungan. Untuk lokasi tepatnya bisa dilihat di peta Google berikut.

Saya dan Tupic datang terlalu pagi. Kami tiba di lokasi pukul 9. Suasana masih sepi, namun kami berjumpa dengan atlet dan penggiat olah raga paralayang yang hendak berlatih. Kami ngobrol dengan mereka sambil menunggu petugas datang di saung tepat di samping lokasi lepas landas.

mengamati pilot setelah lepas landas

Kita bisa mencoba terbang paralayang dengan sistem tandem dengan membayar 300 ribu rupiah per orang.

Sebelum terbang, kita diwajibkan mengisi formulir yang berisi pernyataan bahwa segala resiko akan ditanggung sendiri.

Waktu yang tepat untuk terbang biasanya siang hari, mulai pukul 11:00 sampai pukul 13:00 karena saat itu, permukaan bumi sudah panas. Panas bumi (geo thermal) ini lah yang nantinya dipakai untuk mengangkat parasut sehingga kita bisa terbang melayang.

Bila tertarik dengan olah raga ini, kita bisa mengambil kursus hingga mendapat lisensi terbang paralayang dengan biaya sekitar 7 juta rupiah per orang. Materi kursus meliputi 40 jam terbang dan waktunya bisa menyesuaikan.

Sekitar pukul 11 saya terbang. Sayang sekali, panas bumi yang tertangkap parasut kami tak banyak sehingga tidak dapat menerbangkan saya lebih tinggi. Tupic lebih beruntung, saat gilirannya, panas bumi tertangkap parasutnya dan dia bisa terbang lebih lama dan lebih tinggi.

Namun saya cukup puas merasakan sensasi melayang di ketinggian sekitar 60 meter dari permukaan tanah. Kami meluncur ke arah barat menuju ke titik pendaratan di Kampung Pensiunan. Lokasi lepas landas berada di ketinggian 1.250 meter di atas permukaan laut, sedangkan titik pendaratan berada di ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut.

Sangat disayangkan, batere ponsel saya habis sehingga saya tidak bisa mengabadikan momen-momen ketika terbang ini.

Informasi

  • Website: http://paralayang.org/
  • Kontak Pak Rahmat (instruktur paralayang): +62 8787 0125 391
  • Koordinat lokasi: -6.701981, 106.984364 (lihat di peta Google)
  • Biaya: Rp 300.000 per orang
  • Waktu terbaik: 11.00-13:00

Galeri Foto

Muhammad Zamroni

pengembang web • penyelam scuba • pejalan pemula • peminat perangkat

Jakarta, Indonesia

8 komentar

Artikel ini ditayangkan pada 2 Agustus 2012, sekitar 5 tahun yang lalu. Informasi pada tulisan ini mungkin sudah tidak sesuai.

gajah_pesing

2 Agustus 2012 16:55

marai pengen nyoba zam.. :D

Ceritaeka

2 Agustus 2012 20:34

Aaaaaa aku ra ndue nyali Zam..
Padahal puengen banget lhooo

saifulmuhajir

3 Agustus 2012 10:21

Meh!
*ngiler*

Chic

3 Agustus 2012 17:36

pernah nyoba jaman single.. tahun brp ya? 97 kalo ga salah.. Sekarang mbuh masih berani po ora..

Kalo tak inget-inget jaman dulu tuh aku ini nekad banget ya ternyata. Paralayang, bungy jumping, sampe yang cemen-cemen kayak di Benoa Bali itu tak cobain semua. Sempet kepikiran terjun payung, tapi sampe sekarang belum terlaksana. Nyali pun sudah ngga punya tampaknya.. :lol:

blanthikayu

4 Agustus 2012 07:41

Paralayang kui ono bates bobot ora zam ?? kiro2 aku ngene iso keangkat ora ?? *tertunduk* #maraipengenterbang #maraipengenngebloglagi *eh

Selviana Rahayu

5 Agustus 2012 10:04

aaakkk mas zaaammm...
tandem itu maksudnya gimana? berdua gituh terbangnya?

terus kenapa baterai hapenya matiiikkk??? bukannya dihemat! hahahaha

aku pernah ke sini, jalan kaki dari daerah gunung mas... pas itu cuaca jelek jadinya gak bisa terbang... harga 3 tahun lalu mungkin masih 200rb-an...

mancaaappp!!!

fairyteeth

6 Agustus 2012 07:53

*bukmak halaman post blog ini*

Zam.... hambok kalo kesana lagi woro-woro gitu... kan kepengen ikoooottt... Dari dulu pengen ngerasain Paralayang belum pernah kesampaian... :'(

Obat Flu Batuk

18 Mei 2016 14:57

Weess nyesel deh buka web ini.. jadi pengen.. :( itu melayang nya berapa Gan ? Buseeeettt sensasinya itu lho... Jadi pengen,, aslina...

Statistik

Telah dibaca 10.546 kali. Waktu baca rata-rata 4 menit. Ada 8 komentar.