Saat hendak berangkat ke kantor, saya melihat kertas berukuran A4 tertempel di bagian luar pintu temat tinggal saya.
Rupanya tempelan itu berasal dari Kepolisian Berlin, yang memberikan 10 tips pencegahan kejahatan dan pengamanan lingkungan.
Pamflet ini ditempelkan di semua pintu rumah di sekitar lingkungan rumah saya.
Isi dari pamflet tersebut adalah:
- Pastikan agar pintu depan (pintu masuk ke gedung) tetap tertutup, bahkan di siang hari. Periksa siapa yang ingin masuk sebelum membukanya.
- Waspadai orang asing di gedung dan di properti. Jika perlu, tanyakan keperluan mereka.
- Selalu kunci pintu apartemen Anda dua kali, bahkan jika Anda hanya pergi sebentar, dan jangan biarkan pintu tertutup begitu saja (tanpa terkunci). Pintu ruang bawah tanah dan loteng juga harus selalu dikunci.
- Tutup jendela dan pintu balkon di lantai dasar, atau di lantai pertama jika ada, bahkan jika Anda hanya pergi sebentar. Jendela dan pintu balkon yang miring (terbuka sedikit untuk ventilasi udara) sangat mudah dibuka oleh pencuri.
- Gunakan gagang jendela yang dapat dikunci dan lepaskan kuncinya (tidak tertancap ke jendela). Simpan kunci tersebut di tempat yang tidak terlihat oleh calon penyusup.
- Pastikan apartemen Anda selalu terlihat dihuni. Misalnya, tetangga Anda dapat mengosongkan kotak surat Anda saat Anda sedang berlibur, dan pengatur waktu dapat digunakan untuk mengontrol lampu di apartemen lantai dasar.
- Tukarlah nomor telepon dan mungkin juga alamat liburan Anda dengan tetangga agar Anda dapat dihubungi jika terjadi keadaan darurat.
- Jangan biarkan orang asing masuk ke apartemen Anda. Gunakan lubang intip dan rantai pengaman atau kunci pintu. Jika perlu, minta bantuan tetangga.
- Perhatikan apakah ada orang asing yang mengunjungi tetangga lanjut usia dan tanyakan apa yang mereka inginkan.
- Segera beri tahu polisi jika Anda melihat sesuatu yang mencurigakan, seperti suara retakan, benturan, atau pecahan di lorong atau orang-orang mencurigakan di dalam atau di sekitar gedung. Jangan pernah mencoba menahan pencuri!
Saya pun bertanya-tanya, ada kejadian apa yang membuat kepolisian sampai menyebarkan informasi semacam ini.
Layanan kepolisian di Jerman memang sangat bisa diandalkan.
Saking bisa diandalkannya, warga kalo ada masalah antarwarga pun menelepon polisi untuk menengahi atau membantu menyelesaikan masalah.
Kasihan juga, polisi Berlin mengurusi dari orang mabuk, tetangga berisik, hingga kejadian kriminal besar macam perampokan bank.
Beberapa kali di Berlin memang terjadi perampokan bank seperti di film-film, bahkan sempat ada penyanderaan pada Oktober 2020 lalu.
Soal layanan darurat ini, kami beberapa kali pernah menelepon nomor 110 untuk melapor.
Respon sangat cepat, sekitar 5 hingga 10 menit, polisi datang dan menangani masalah.
Kejadian terakhir saat kami menghubungi polisi adalah pada 22 Agustus 2025 lalu.
Saat itu sekitar pukul 3 pagi, kami mendengar suara teriakan di sekitar rumah.
Ada segerombolan anak muda yang sepertinya tengah mengeroyok salah satu di antara mereka.
Si korban yang dikeroyok berteriak-teriak mencoba mengambil perhatian warga, karena menurut teriakannya, ponselnya diambil oleh gerombolan tersebut.
Bahasa yang mereka gunakan juga bukan Bahasa Jerman, jadi kami tidak tahu pasti apa yang mereka bicarakan.
Warga sekitar juga rupanya keluar dengan melongok dari jendela, bahkan berteriak untuk mencoba menghentikan aksi mereka.
Beberapa warga berteriak kepada mereka bahwa polisi akan dipanggil kalo mereka masih ribut dan tidak menyelesaikan masalah mereka.
Namun si korban sepertinya malah ingin agar polisi dipanggil, walau dia teriak tidak ada kata minta tolong.
Kami pun juga ikut keluar ke balkon untuk melihat, dan istri pun segera menelepon polisi melalui nomor 110.
Rupanya bukan hanya kami, beberapa tetangga juga sudah menelepon polisi, dan menurut operator, beberapa polisi sudah dikerahkan ke lokasi.
Di bawah, saya melihat ada seorang warga, orang India, yang dengan santainya mendatangi, meski berjarak kepada gerombolan tersebut.
Mungkin di negaranya, seperti jika di Indonesia, warga sudah datang bergerombol ingin tahu, atau membantu menyelesaikan masalah.
Padahal kalo menonton film-film India, polisi India selalu datang terlambat, jadi bisa dimaklumi kalo warga yang menyelesaikan masalahnya terlebih dulu.
Di Jerman, warga tidak disarankan untuk menyelesaikan masalah seperti ini, sesuai dengan tips nomor 10.
Bahkan jika ada pencurian, warga disarankan untuk tidak mengonfrontasi karena dikhawatirkan si pencuri bisa melukai.
Kembali ke kejadian di malam itu.
Benar saja, dalam waktu sekitar kurang dari 10 menit, terdengar suara sirene polisi di kejauhan dan perlahan-lahan kilatan lampu berwarna biru terlihat.
Satu persatu, mobil polisi datang berduyun-duyun mendatangi, mungkin karena banyak yang menelepon melaporkan, dianggap kejadian yang serius.
Saya menghitung, setidaknya ada 6 mobil polisi yang terlihat di depan balkon saya.
Padahal kalo dilihat dari skala ancamannya, kejadian keributan sipil macam ini bisa lah ditangani oleh satu atau dua mobil, namun polisi sepertinya lebih memilih mengerahkan lebih.
Setelah polisi datang, saya dan beberapa warga kembali masuk ke kediaman masing-masing dan menyerahkan urusan kepada polisi.
Meski begitu, saya masih penasaran, maklum, kebiasaan orang Indonesia yang pengen tahu, mengintip untuk melihat apa yang terjadi.
Setelah mengamankan para pelaku, dengan memborgol tangan mereka ke belakang, polisi memisahkan mereka dan memasukkan ke beberapa mobil terpisah.
Terdengar pertanyaan polisi ke salah satu pelaku saat menggiring mereka ke mobil, “sprichst du Deutsch?“, “kamu bisa berbahasa Jerman?”, namun tidak terdengar jawaban.
Polisi juga terlihat menyebar mendatangi beberapa rumah untuk meminta keterangan saksi dari warga sekitar.
Begini ya rasanya kalo ada sistem keamanan yang bisa diandalkan.
Meski begitu, tentu ada saja masalah, misalnya kasus rasisme di kepolisian, yang dianggap seringย profiling ke etnis tertentu, atau pilih kasih menindaklanjuti laporan warga.
Namun kasus semacam ini bisa dibilang dilakukan oleh oknum, karena kasus rasisme masih terjadi secara umum, bukan cuma di kepolisian.
Penyanyi Mo-Do (Fabio Frittelli), merilis lagu “Eins, Zwei, Polizei” pada tahun 1994, yang menjadi hit di Eropa karena liriknya yang sederhana dan irama teknonya yang asyik.