Istanbul, Turki, bisa dibilang Mekahnya para pecinta kucing.

Ketenaran akan kucing jalanannya yang sejahtera membuat pecinta kucing, seperti saya, serasa berada di surga.
Pada 3-6 November 2025 lalu, saya bersama istri, pergi ke Istanbul, untuk menunaikan ibadah kucing.
Sebenarnya sudah lama banget saya pengen ke Istanbul, terutama karena kucing-kucing jalanannya.
Apalagi setelah menonton film dokumenter berjudul Kedi, alias “kucing” dalam Bahasa Turki, yang rilis pada tahun 2016.
Film ini mengikuti kehidupan tujuh kucing liar yang hidup bebas di kota Istanbul, serta hubungan unik mereka dengan warga setempat.
Tidak hanya berfokus pada kucing, film ini juga menampilkan potret kehidupan sosial, budaya, dan keseharian masyarakat Istanbul melalui interaksi mereka dengan hewan-hewan tersebut.
Sebagai pemegang paspor hijau, mengunjungi Turki tidak memerlukan visa jika kunjungan tidak lebih dari 30 hari.

Apalagi sejak pindah ke Berlin, paspor saya tidak pernah kena cap dan hanya berfungsi sebagai identitas saja.
Selain berburu kucing, Turki menjadi negara pertama saya untuk keluar dari area Schengen dan mendapatkan cap di paspor sebelum semua sistem imigrasi menjadi digital, seperti yang sedang terjadi di Eropa, termasuk di Turki.
Ada pengalaman sedikit menyebalkan terkait soal paspor dan visa ini.
Saya pergi ke Turki menggunakan maskapai penerbangan murah (LCC, low cost carrier) Pegasus Airlines dari Turki.
Sudah hal yang umum jika kita bisa melakukan check-in mandiri melalui aplikasi secara online, tapi saat itu permintaan check-in saya selalu ditolak, padahal saya sudah mengisi informasi paspor dan izin tinggal saya.
“Oh, mungkin karena saya ada bagasi”, pikir saya, karena tidak seperti maskapai murah lain, Pegasus Airlines memberikan bagasi sebesar 20 kilogram.

Apa boleh buat, saya pun melakukan check-in di Bandara Willy-Brandt (BER), Berlin-Brandenburg.
Saat check-in, petugas beberapa kali memeriksa, apakah paspor Indonesia yang saat ini berada di ranking ke-65 menurut Visa Index, bisa masuk ke Turki, karena tidak ada visa.
Petugas bahkan bertanya, apakah saya akan kembali lagi ke Jerman, meski saya sudah menyerahkan paspor dan kartu identitas izin tinggal (Personalausweis) saya ke petugas.
Pertanyaan yang menurut saya konyol, namun bisa dimaklumi, karena saya memang hanya membeli tiket maskapai ini untuk berangkat saja.
Untuk pulang ke Berlin, saya membeli tiket Turkish Airlines, maskapai full-board, karena harga tiket pulang di Pegasus Airlines relatif sama dengan harga tiket Turkish Airlines.
Jika terbang menggunakan Pegasus Airlines, saya akan mendarat di Bandara Sabiha Gökçen (SAW), yang berada di sisi Asia.
Sementara jika menggunakan Turkish Airlines, pesawat dari Berlin akan mendarat di Bandara Istanbul (IST).

Ada cerita unik tentang Bandara Istanbul ini, di mana proses perpindahan operasional pada 5-6 April 2019, dari Bandara Atatürk (ISL) ke Bandara ini, selesai dalam waktu 29 jam saja.
Peristiwa fenomenal yang tercatat sebagai rekor dalam dunia penerbangan sipil tersebut sering disebut dengan peristiwa “Mega Move“.
Kembali soal masalah tiket. Harga tiket rata-rata masuk ke Jerman memang lebih mahal dibanding tiket keluar Jerman, karena biaya dan pajak bandara Jerman yang tinggi.
Maka tidak heran jika harga tiket maskapai murah bisa sama dengan tiket maskapai full-board, yang biasanya tiket maskapai full-board tetap lebih mahal.
CEO Ryan Air, Michael O’Leary, sering mengkritik biaya dan pajak bandara Jerman yang tinggi tersebut, menyebabkan maskapai Ryan Air memangkas rute dan kapasitas di Jerman.
Untungnya, setelah petugas memeriksa dan memastikan bahwa paspor Indonesia bisa masuk ke Turki tanpa visa, petugas memberikan kartu boarding kepada kami.

Kejadian berulang lagi saat hendak masuk ke pesawat.
Saat saya menyodorkan kartu boarding dan paspor hijau saya, petugas boarding menahan saya, untuk memastikan bahwa saya bisa masuk Turki tanpa visa.
Maskapai memang bertanggungjawab jika ada penumpang yang ditolak masuk ke suatu negara, dan maskapai harus menanggung biaya deportasi penumpang tersebut.
Tidak heran jika petugas maskapai memastikan dan memeriksa visa penumpang, apakah penumpang tersebut bakal ditolak masuk atau tidak.
Lucunya, istri saya lolos dan bisa boarding tanpa halangan berarti.
Rupanya, saat boarding, istri saya tidak menunjukkan paspornya, namun kartu identitas (Personalausweis), dan mengira istri saya warga Jerman.
Warga (pemilik paspor) Jerman dan beberapa negara Eropa lainnya memang bisa bepergian ke Turki hanya bermodalkan kartu identitas tanpa paspor.
Pantas saja, mungkin istri saya dikira warga Jerman, sehingga saat petugas melihat kartu tersebut langsung mengizinkan istri saya boarding.
Halo, (Kucing-Kucing) Istanbul!

Setelah kurang lebih 3 jam berada di pesawat, akhirnya kami mendarat di Bandara Sabiha Gökçen (SAW).
Bandara ini kecil, ringkas, tipikal bandara yang saya sukai karena tidak bertele-tele seperti pada bandara-bandara besar lainnya.
Setelah mengambil bagasi, kami langusng bergegas mencari bus bandara (Havabüs) yang akan membawa kami ke pusat kota, tempat kami menginap, di kawasan alun-alun Taksim (Taksim Square).
Sebenarnya bisa saja kami naik angkutan umum kereta bawah tanah (Metro) dari bandara ini ke pusat kota dengan ongkos yang lebih murah, namun kami memilih transportasi yang paling praktis dan nyama saja, yaitu bus bandara.
Menggunakan Metro mengharuskan kami untuk transit dan berpindah kereta, plus menggeret koper, tidak lah nyaman.
Sumpah, begitu keluar area bandara menuju ke terminal pemberangkatan bus, saya teringat area terminal bus Damri Bandara Soekarno-Hatta (CGK)!
Tiket Havabüs bisa dibeli di loket atau melalui kondektur saat berada di atas bus.

Selain secara tunai, tiket bisa dibeli dengan menggunakan kartu kredit atau debit.
Karena kami tidak mempunyai lembaran Lira, kami memilih membayar secara nontunai.
Saya diminta menempelkan kartu kredit, kartu debit, atau ponsel yang mendukung NFC ke mesin yang berada di pintu masuk dekat sopir.
Rata-rata kartu kredit dan debit sekarang sudah mendukung metode pembayaran dengan NFC, yang biasanya ada simbol semacam gelombang segitiga, hanya dengan menempelkan ke mesin untuk membaca data.
Di Visa, teknologi ini disebut dengan PayWave, sementara MasterCard dan American Express hanya menyebut Contactless.
Harga tiket Havabüs dari bandara ini ke alun-alun Taksim jika membayar tunai adalah 367 lira (9-10€), sementara jika nontunai, harganya lebih mahal, 450 lira (11-12€).
Dari bandara ke pusat kota, perjalanan memakan waktu sekitar 90 menit, tergantung situasi jalan.

Asli. Suasana jalan, atmosfer, dan hawa-hawanya mirip sekali dengan perjalanan dari Bandara Soekarno-Hatta (CGK) ke pusat kota menggunakan bus Damri!
Bedanya, sepanjang perjalanan, kami disuguhi pemandangan cantik kota Istanbul yang berada di bukit di pinggir laut!
Apalagi saat bus melewati Jembatan Bosporus, yang bernama resmi Jembatan Martir 15 Juli, jembaran tertua yang dibuka pada 1973, sepanjang 1.510 meter, menyeberangi Selat Bosporus, menuju daratan Eropa. Cantik sekali!
Bus tiba di pangkalan bus setelah melalui kemacetan sore menjelang jam pulang kantor, di samping Hotel Divan, tak jauh dari alun-alun Taksim.
Pangkalan bus di Taksim ini selain melayani rute dari dan ke Bandara Sabiha Gökçen (SAW) juga Bandara Istanbul (IST).
Saya teringat suasana pangkalan bus yang mirip dengan pangkalan bus Damri bandara di pertigaan dekat Plaza Blok M, puluhan tahun silam, sebelum dipindah masuk ke area Terminal Blok M.

Dari pangkalan bus, kami berjalan menuju ke Hotel Taksim Square yang persis berada di depan Masjid Taksim dan Jalan Istiklal yang terkenal.
Kami memang memilih hotel di area ini karena lokasinya yang strategis dan jalanan cukup nyaman untuk menggeret koper.
Biasanya kami memanggul ransel saat bepergian. Namun karena kami dapat fasilitas bagasi dari maskapai, kamu pun memanfaatkan fasilitas bagasi ini.
Saat berjalan menuju ke hotel, melintasi alun-alun Taksim, tiba-tiba istri saya berhenti, memegang kepala saya, lalu menolehkan muka saya ke seonggok gundukan di atas pot kota.
Seekor kucing gemuk tabby alias mujaer sedang loafing!
Saya pun girang bukan kepalang dan langsung datang menghampiri untuk menyapa dan mengelusnya!
Oh, impian saya untuk mengelus kucing Istanbul akhirnya tercapai!

Si kucing tampak santai, walau mukanya terlihat sedikit terganggu karena saya cukup agresif mengelus.
Gendut sekali! Bulunya halus dan bersih, tidak tampak seperti kucing jalanan!
Jika istri tidak mengingatkan saya untuk check-in hotel, saya mungkin masih mengelus si kucing.
Eh, baru beberapa langkah, ada kucing gemuk lain yang juga tengah bersantai! Banyak sekali!
Memang benar kabar yang saya dengar. Istanbul memang kota kucing!
Kucing-kucing jalanan ini hidup terawat karena warga sekitar menganggap mereka penduduk kota juga, bukan pengganggu yang harus dibasmi.
Karena di Istanbul, kucing mempunyai peranan penting dalam sejarah kota, di mana kucing-kucing ini zaman dulu berperan menjaga kesehatan warga kota dengan berburu tikus pembawa penyakit.

Dari banyak kucing yang saya lihat, banyak sekali yang ujung telinganya sudah terpotong membentuk huruf V kecil (eartip), menandakan bahwa kucing-kucing jalanan ini sudah dikastrasi alias dimandulkan.
Pantas saja kucingnya kalem dan gemuk-gemuk, karena kastrasi menghilangkan hormon reproduksi yang mendorong agresivitas, membuat si kucing malas dan banyak makan.
Saat berkeliling Istanbul, saya sempat bertemu seorang petugas dari sebuah yayasan yang mengurusi kucing.
Petugas perempuan ini tengah membujuk seekor kucing yang tengah tersudut.
Ia membujuk si kucing dengan makanan dan juga kata-kata bernada halus.
Petugas tersebut hendak menangkap kembali si kucing yang kabur dari penampungan saat hendak diperiksa kesehatannya.
Padahal kalo misal saya yang ditugasi, saya dengan mudah akan menangkap si kucing dan membawanya paksa.

Namun cara saya ini tidak berlaku di sini. Kucing diperlakukan selayaknya manusia, diajak bicara, dibujuk, dibuat senang.
Tidak hanya kucing, anjing pun terlihat santai berkeliaran di jalanan kota.
Di area sekitar alun-alun Taksim, saya melihat seekor anjing besar tua berwarna coklat yang sepertinya menjadi tetua di area ini.
Ia kerap tiduran di emperan atau bahkan di depan pintu masuk toko, dan karyawan atau pemilik toko yang disinggahi memberinya makan atau sekadar baskom berisi air.
Saya yang sudah siap sedia membawa makanan kucing kemasan dari Berlin, agak kecewa, karena kucing-kucing ini kurang bahkan tidak doyan dengan makanan ini saat saya sodorkan.
Entah karena sudah kenyang atau bau kimia makanan kucingnya yang sangat kuat, membuat kucing-kucing ini enggan makan, terutama di area pemukiman.
Atau bisa juga makanan kucing pabrikan Jerman tidak seenak makanan kucing pabrikan Turki.

Namun di area yang turistik, seperti di kawasan Sultanahmed, lokasi Masjid Hagia-Sophia dan Masjid Sultanahmed (Blue Mosque), kucing-kucing ini akhirnya mau memakan makanan yang saya bawa.
Di beberapa sudut area turis juga disediakan mesin dispenser makanan kucing otomatis, di mana dengan uang koin, orang-orang bisa memberikan kucing-kucing ini makan, meski sebenarnya ada petugas yang rutin memberi makan kucing-kucing ini.
Saya sempat melihat video di Instagram, bahwa burung camar pun sampai menirukan suara eongan kucing untuk menarik perhatian manusia yang lalu memberikan makanan kucing untuknya.
Tak heran jika Istanbul sering dianggap kependekan dari Istana Anak Bulu, atau diplesetkan menjadi Catstanbul.
Bagi pecinta kucing, Istanbul adalah puncak ibadah kucing yang wajib didatangi!