Demo Besar Menentang Rasisme di Berlin, Jerman

8 minutes 45 6

Jerman masih memiliki masalah dengan rasisme, yang makin ke sini bukannya makin mereda, namun bisa dibilang mengkhawatirkan.

demonstran membawa poster bertuliskan, “saya tidak ingin diam, dunia bisa menjadi lebih baik, di mana pun”

Padahal menurut data statistik Badan Statistik Jerman (Destatis) pada tahun 2022, warga migran di Jerman mencapai 10% dari total populasi sekitar 84,6 juta orang.

Sementara jika dilihat dari kebangsaannya, 14,6% persen merupakan orang asing, yang jika warga Uni Eropa dihitung, warga negara bukan Jerman yang tinggal di Jerman mencapai 37,3%.

Berlin sendiri memiliki presentasi warga asing terbesar di antara 16 negara bagian lainnya, yaitu mencapai 22,2% warga asing dari total populasi 3,8 juta orang.

Bisa dibilang, warga Berlin termasuk yang paling beragam dan terdiri atas berbagai ras dan kewarganegaraan.

Meski begitu, beberapa kasus kriminal terkait rasisme masih saja terjadi.

Saya sendiri pernah mengalami tindakan rasisme ini, meski tidak begitu fatal, namun cukup mengganggu.

poster bertuliskan, “tidak ada tempat untuk Antidemokrat Fasisdoids Dungu (AFD)”

Saat awal-awal pandemi Covid-19, banyak orang Asia diteriaki dengan umpatan bernada rasisme karena menganggap orang Asia adalah orang Cina dan harus bertanggungjawab atas wabah tersebut.

Tidak hanya itu, rasisme dan profiling sering diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, misal dalam mendapat pekerjaan hingga menyewa apartemen, di mana ras tertentu kesulitan mendapatkan kesempatan yang sama.

Pada tahun 2020, terjadi penembakan yang dilakukan pria kulit putih yang menembak 9 orang di 2 bar shisha, sebelum kemudian membunuh ibunya sendiri dan bunuh diri di Hanau.

Motif penembakan dan pembunuhan tersebut diduga kuat bermotif rasisme, karena pelaku sering menuliskan kalimat xenofobia di media sosial.

Sebelumnya di Halle pada tahun 2019, seorang pria yang berafiliasi dengan sayap kanan menyerang sebuah sinagog dan menewaskan 2 orang.

orator mengajak demonstran mengenang peristiwa kekerasan terkait rasisme

Selain Hanau dan Halle, peristiwa-peristiwa serupa juga terjadi di beberapa kota di Jerman, seperti di Dessau, Kassel, Dresden, dan masih banyak lagi.

Pada 2022, sebuah usaha kudeta yang dimotori oleh kelompok Reichsbürger berhasil digagalkan, di mana kelompok ini memiliki kaitan dengan petinggi partai sayap kanan AfD (Alternative für Deutschland).

Kejadian ini sempat menyulut gelombang demonstrasi besar-besaran di Jerman, menuntut pemerintah berbuat sesuatu terhadap kelompok-kelompok rasisme ini.

Warga khawatir bahwa sayap kanan ini lama-lama akan menjadi Neo-NAZI, yang memang secara hukum merupakan organisasi terlarang di Jerman.

Membubarkan partai sayap kanan juga dianggap tidak menyelesaikan masalah, apalagi Jerman sangat menjunjung demokrasi.

protes demonstran meminta pembubaran partai sayap kanan AfD

Apalagi jika tanpa alasan jelas seperti mengancam kedaulatan negara yang terbukti di pengadilan jelas-jelas melanggar hak demokrasi.

Meski nama partai AfD sering muncul dalam berita-berita yang berbau rasisme, tidak ada indikasi dan bukti nyata di pengadilan bahwa partai ini dianggap berbahaya.

Kejadian terakhir terakhir terkait rasisme terjadi baru-baru ini, yaitu terbongkarnya pertemuan rahasia petinggi partai sayap kanan AfD yang memiliki agenda untuk melancarkan aturan pengusiran warga bukan Jerman, bahkan warga imigrain yang berkewarganegaraan Jerman.

Tentu saja ini menyulut kemarahan warga dan puncaknya, demo besar-besaran terjadi di Berlin, pada Sabtu dingin dan hujan, 3 Februari 2024.

Saya sempat ikut serta dalam demo besar yang diorganisir oleh kelompok Hand in Hand yang berlangsung damai dengan tema Wir sind di Brandmauer (kita adalah tembok api).

Apalagi saya sebagai pendatang, isu-isu seperti ini sangat mempengaruhi saya, dan saya pun menentang sikap rasisme.

poster bertuliskan, “AfD, keluar dari Jerman”

Demonstrasi dimulai dari area Alexanderplatz, yang kemudian massa melakukan marching menuju ke arah Brandenburger Tor, lalu berkumpul di lapangan di antara gedung Bundestag dan Kantor Kanselir.

Di lapangan ini, sebuah panggung kecil digunakan para orator untuk menentang aksi-aksi rasisme dan mengenang para korban penyerangan aksi-aksi rasisme.

Massa yang hadir diperkirakan sejumlah 300 ribu, namun kepolisian Berlin menyatakan massa hanya separonya, 150 ribu.

Aksi demo tersebut lebih berasa seperti menghadiri konser, di mana di sela-sela orasi, ada penampilan artis-artis dari berbagai etnis dan ras, menyanyikan lagu bertema menentang rasisme, demokrasi, dan perdamaian.

Terlihat anak-anak dan anjing di antara kerumunan masa, menandakan bahwa aksi demo ini sangat damai dan tertib.

poster bertuliskan, “kentang pun dulunya asing”

Anak-anak di Jerman memang terbiasa dengan demonstrasi, bahkan di sekolah, mereka diajarkan untuk melakukan demonstrasi dengan tema yang dekat dengan mereka, sebagai upaya menanamkan demokrasi.

Poster-poster yang ditulis para demonstran bernada sama, meminta pembubaran AfD, menentang NAZI, menetang nepotisme, mencaci sayap kanan, hingga yang lucu, unik, dengan pesan substansif namun mampu membuat saya tersenyum bahkan tertawa.

Seorang demonstran membawa poster bertuliskan, “poster bertuliskan, “kentang pun dulunya asing””, yang merujuk bahwa kentang, makanan utama orang Jerman pun sebenarnya berasal dari Amerika Tengah dan baru masuk ke Jerman dan Eropa pada tahun 1630.

Sebuah analogi yang kreatif menurut saya.

pedagang brezel mengais rezeki

Sayangnya saya tidak lama berada di kerumunan massa karena hujan turun dengan deras.

Meski begitu, massa tetap bertahan di lapangan mendengarkan orasi dan lagu-lagu.

Saya melihat panitia membuka sudut donasi bagi yang ingin membantu organisasi ini.

Sementara itu di sudut lain, saya melihat ada penjual brezel pintar mencari peluang dengan membuka lapaknya membuat saya lapar.

Memang ya, di mana-mana, pedagang selalu bisa melihat peluang dan mengubahnya menjadi cuan.

Andai saja ada tukang bakso, tentu dagangannya akan laris apalagi saat itu hujan dan temperatur sekitar 6°C.

Sayangnya saya tidak membawa uang tunai sehingga keinginan saya untuk mengganjal perut karena kedinginan akibat hujan saya batalkan dan saya memutuskan untuk pulang.

12 responses
  1. Gravatar of duniamasak
    duniamasak

    wah, padahal pasti banyak jajanan disana apalagi pas hujan ya

    Gravatar of Muhammad Zamroni
    Muhammad Zamroni

    justru malah ngga banyak yang jual jajanan.. 😅

  2. Gravatar of fanny_dcatqueen
    fanny_dcatqueen

    Waaaah ternyata Krn itu ya mas. Aku kan liat di stories mu, cuma ga paham sbnrnya demo Krn apa. Terlalu banyak demo skr ini 🤣

    Tapi jujur seram sih, kalo udah menyangkut rasis, dan ini terkait plan untuk mengusir pula yg bukan Jerman. Kenapa JD keinget Ama Nazi dulu 😔.

    Bingung yaa dengan Orang2 yg ga bisa trima perbedaan , maunya cuma yg ras dia doang. Menganggap ras lain lebih rendah.

    Ntahlah ada apa dengan otaknya…

    Gravatar of Muhammad Zamroni
    Muhammad Zamroni

    benar. rasisme memang masalah di mana-mana.

  3. Gravatar of Rivai Hidayat
    Rivai Hidayat

    Demonstrasi dengan peserta lebih dari 100ribu orang dan berjalan dengan tertib. Belum lagi dilengkapi dengan aksi hiburan dan peserta demonstrasi.

    Baru tahu kalau anak-anak di jerman sudah diajarkan untuk ikut demonstrasi dan menyalurkan aspirasi. Belajar demokrasi sejak dini

    Gravatar of Muhammad Zamroni
    Muhammad Zamroni

    demonstrasi yang rusuh juga ada, tapi ya bisa dihitung dengan jari. di Jerman, seluruh aksi demonstrasi, sekontroversial apa pun temanya, harus terdaftar dan tercatat di kepolisian. ini selain untuk pengamanan, juga di Jerman apa-apa harus terjadwal..

  4. Gravatar of Wahyudin Tamrin
    Wahyudin Tamrin

    Rasis juga yah di sana. Saya pikir hanya di Indonesia banyak yang rasis. Tapi mungkin di setiap tempat.

    Apakah peristiwa di masa lalu akan kembali terulang?
    Di Indonesia sepertinya kembali terulang masa lalu.

    Semoga ada solusi dari persoalan yang dihadapi masyarakat di sana.

    Gravatar of Muhammad Zamroni
    Muhammad Zamroni

    benar, kalo rasisme, di mana-mana pasti ada. bedanya kalo di Jerman, kalo ngalami kekerasan akibat rasisme, atau merasakan rasisme, bisa lapor dan akan ditindak pelakunya. cuma memang memberantas rasisme bukan hal yang mudah..

  5. Gravatar of Zizy
    Zizy

    **Hahah terbayang ada tukang bakso di tengah-tengah situ langsung geli sendiri.
    Saya pikir di luar tidak terlalu rasis, yang saya sering dengar itu di Amerika, ternyata di Jerman juga ya. Rasisme di luar memang cukup mengkhawatirkan karena di sana sepertinya orang-orang (asli) tidak segan bertindak anarkis, dan sebenarnya ini mengkhawatirkan buat orang tua yang ingin mengirim anaknya sekolah di luar.

    Gravatar of Muhammad Zamroni
    Muhammad Zamroni

    kalo rasisme, di mana-mana pasti ada. bedanya kalo di Jerman, kalo ngalami kekerasan akibat rasisme, atau merasakan rasisme, bisa lapor dan akan ditindak pelakunya. cuma memang memberantas rasisme bukan hal yang mudah..

  6. Gravatar of Phebs
    Phebs

    Neo Nazi bukannya ada juga di Ukraina ya? Pernah nonton YouTubenya yang anak-anak lagi latihan militer….

    Masalah imigran memang pelik. Suka jadi bertanya-tanya kenapa mereka mengungsi ke Barat? Ada apa dengan negaranya? Kenapa?

    Gravatar of Muhammad Zamroni
    Muhammad Zamroni

    gerakan rasisme memang di mana-mana ada.. kalo soal imigran, tentu karena Barat dipandang “lebih maju” dari negaranya..