Aksi Solidaritas Terhadap Ukraina

10 minutes 0 4

Kalimat “Slava Ukraini” (Слава Україні) akhir-akhir ini sering terdengar sejak Rusia melancarkan serangan militer ke Ukraina pada 24 Februari 2022.

poster bertuliskan “Slava Ukraini”

Slogan nasional Ukraina tersebut berarti “kemenangan untuk Ukraina”, yang biasanya diikuti dengan “Heroiam slava”(Героям слава) yang berarti “kemenangan pahlawan”.

Negara kecil pecahan Uni Soviet itu mempunyai tempat di hati saya, karena rekan-rekan kerja saya banyak yang berasal dari Ukraina, negara dengan bendera kebangsaan biru dan emas tersebut.

Beberapa rekan kerja bahkan bekerja secara jarak jauh dari Ukraina, karena status mereka sebagai karyawan eksternal, namun kami tidak menganggap mereka berbeda.

Maka ketika berita serangan itu datang, seluruh rekan kerja yang berasal dari Ukraina, terutama yang tinggal di Ukraina, langsung mengambil cuti untuk menyelamatkan diri, atau setidaknya memikirkan keluarga mereka di tanah air.

Sejak konflik memanas, kantor memang memberikan keringanan dan dukungan kepada mereka yang terdampak sebelum serangan meletus.

pesan Slack yang saya kirim saat merasakan keresahan saat serangan terhadap Ukraina terjadi

Saya sendiri merasa sangat sedih, bahkan hari itu tidak dapat berkonsentrasi bekerja karena pikiran dan perasaan saya berada di Ukraina, bersama rekan-rekan dari Ukraina dan keluarga mereka.

Hati saya makin mencelos saat seorang rekan kerja bercerita di Slack pada pagi hari yang mencekam itu, di mana sirene meraung-raung, disusul suara ledakan.

Saya sendiri tidak dapat membayangkan situasi itu, bahkan hati saya makin patah saat melihat berita orang-orang berlindung di stasiun kereta bawah tanah, memboyong hewan peliharaan mereka.

Hari itu, saya melakukan hal yang sudah sangat lama tidak saya lakukan, memantau laporan langsung berita soal penyerangan tersebut dari kanal Youtube Deutsche Welle.

Seorang teman yang berasal dari Kharkiv, kota di timur Ukraina yang berbatasan dengan Rusia menyatakan ia tidak tahu harus berbuat apa saat kotanya dibom, dan hanya bisa berharap keluarganya selamat.

pesan instagram kepada seorang rekan dari Ukraina

Perang, saya bahkan tidak menyangka bahwa peristiwa yang harusnya sudah punah itu bisa kembali muncul, bahkan terasa begitu dekat.

Eropa yang pernah mengalami sengsaranya perang tentu tidak ingin hal pedih tersebut berulang, dan cenderung berhati-hati dalam menentukan sikap.

Ironisnya, Uni Eropa semacam gamang menentukan sikap, karena selain Ukraina bukan anggota NATO, di mana hampir seluruh negara di Uni Eropa adalah anggotanya, Eropa merupakan konsumen terbesar gas dan minyak dari Rusia.

Mengambil tindakan tegas terhadap Rusia tentu membahayakan posisi Eropa, karena Rusia bisa saja memutus pasokan gas dan minyak ke Eropa.

Gas dan minyak, dua hal yang menjadi motivasi Vladimir Putin, untuk menaklukkan Ukraina yang merdeka pada tahun 1991 setelah runtuhnya Uni Soviet.

Tentu posisi strategis Ukraina yang selama ini masih “netral” membuat Moskow khawatir saat Ukraina berniat bergabung dengan NATO, mengikuti jejak 3 negara pecahan Uni Soviet lainnya, Lativa, Lithuania, dan Estonia.

Terlepas dari latar belakang konflik, saya lebih menyoroti isu kemanusiaan akibat perang, karena pada akhirnya, warga sipil lah yang jadi korban.

Demo Solidaritas Ukraina

poster ajakan demo Solidaritas kepada Ukraina

Melihat situasi, warga dari penjuru dunia pun mulai bertindak dengan menggelar aksi protes dan demonstrasi.

Tidak hanya di Eropa, bahkan di Rusia sendiri, demonstrasi menentang perang juga digelar meski risikonya para demonstran bisa ditangkap dan dipenjarakan karena dianggap menentang pemerintah.

Di Berlin sendiri, demo langsung muncul pada hari Jumat, 25 Februari 2022, di depan Bundeskanzleramt, alias kantor kanselir yang lokasinya tak jauh dari Reichstag alias gedung parlemen Jerman.

Seruan protes terhadap perang makin memuncak pada hari Minggu, 27 Februari 2022, di mana dari rencana 20 ribu peserta namun diduga membengkak menjadi 100 ribu peserta, tumpah ruah di Straße des 17 Juni, dari menara Siegessäule hingga Gerbang Brandenburg.

Di beberapa titik terlihat ajakan bergabung dalam aksi protes tertempel di beberapa tempat di Berlin dengan warna yang sangat mencolok, biru kuning.

peserta demo mengangkat poster protes di Gerbang Brandenburger

Peserta protes membawa berbagai poster dan pesan yang intinya menuntut serangan diakhiri, mengutuk tindakan Putin dan Rusia, hingga aksi solidaritas kepada warga Ukraina.

Demonstrasi damai ini diikuti oleh berbagai kalangan, dari berbagai etnis, bahkan beberapa anak terlihat ikut bergabung didampingi oleh orang tua mereka.

Di Jerman, adalah hal yang wajar jika anak-anak pergi berdemo, sebagai wujud penerapan demokrasi.

Saya bahkan pernah melihat anak-anak usia SD melakukan aksi demo dengan didampingi oleh guru mereka.

Mereka membawa poster berisi pesan-pesan yang dianggap penting untuk disampaikan.

Selain dukungan dan solidaritas berbentuk demonstrasi, tautan donasi dan posko bantuan pun jgua tersebar dari berbagai grup dan media sosial.

bendera Ukraina berkibar di depan Reichstag diapit bendera Uni Eropa dan Jerman

Saya sendiri tidak sempat bergabung pada puncak demo karena masih repot mengurus pindahan ke apartemen baru, namun masih sempat bergabung di akhir-akhir.

Di depan Reichstag, sempat berkibar bendera Ukraina diapit oleh bendera Uni Eropa dan Jerman, sebagai wujud solidaritas kepada Ukraina, walau Ukraina bukan anggota Uni Eropa.

Beberapa poster kecaman dan protes juga tampak tertempel di beberapa tempat, di mana beberapa orang dengan atribut biru-kuning masih tampak berkeliaran dan berkumpul.

Salah satu pesan yang menari adalah saat pesan dari 13 prajurit Ukraina yang memaki kapal perang Rusia saat Rusia memerintahkan mereka menyerah saat di Pulau Ular, di Laut Hitam.

Rekaman percakapan antara kedua tentara tersebut viral dan beredar di media sosial.

Ketigabelas parjurit Ukraina tersebut dilaporkan ditangkap oleh Rusia, di mana mereka sempat dikira terbunuh.

Saya tersenyum saat melihat sebuah poster dari kardus bertuliskan pesan prajurit Ukraina tersebut terpasang persis di depan gedung Reichstag.

“Russian warship, go to fuck yourself”, pesan yang tertulis di sana.

Pesan bernada makian dan kecaman terhadap Presiden Rusia, Vladimir Putin, terlihat juga di poster-poster yang dibawa peserta demo.

Beberapa pesan terlihat bernada mendesak pemerintah Jerman untuk bertindak, karena Jerman dianggap tidak tegas terhadap Rusia.

Jerman sangat tergantung kepada Rusia, di mana pembangkit listrik banyak ditenagai oleh minyak dari Rusia.

Selain minyak, Jerman merupakan konsumen terbesar gas dari Rusia yang digunakan untuk pemanas di musim dingin.

Saya tersenyum kembali saat melihat sebuah poster dibentangkan oleh seorang demonstran yang bertuliskan, “Fuck your gas. We have blankets”.

demonstran memprotes tentang konsumsi gas dari Rusia oleh pemerintah Jerman

Pemerintah Jerman juga dikritisi oleh warga karena dianggap sangat lamban dalam merespon situasi.

Maklum saja, Jerman memang terkenal sangat konvensional, berhati-hati, dan terlalu saklek, dalam mengambil tindakan.

Selain aksi demo solidaritas terhadap Ukraina, sore itu juga diwarnai pemasangan lilin di depan Gerbang Brandenburger untuk memperingati peristiwa pembantaian Khojaly, yang menewaskan 613 warga Azerbaijan oleh tentara Armenia.

Armenia merupakan negara pecahan Uni Soviet yang merupakan sekutu Rusia, yang juga sering konflik dengan negara tetangganya Azerbaijan.

Peristiwa yang terjadi 30 tahun lalu pada tahun 1992 itu tertulis pada formasi lilin yang dipasang.

Meski tidak ada hubungannya secara langsung, namun kedua peristiwa ini sangat berkait.

aksi memperingati pembantaian Khojaly

Saya sangat berharap serangan Rusia kepada Ukraina segera berakhir sehingga tidak ada lagi nyawa yang melayang sia-sia atas keegoisan penguasa.

Pada konflik saat ini, saya memang condong mendukung Ukraina, karena alasan kemanusiaan, di mana serangan Rusia ini termasuk pelanggaran demokrasi dan kemerdekaan.

Apalagi saya memiliki teman dan rekan kerja yang ikut terdampak, membuat hati saya bersama warga Ukraina.

Semoga Perang Dunia Ketiga, hal yang paling kita tidak inginkan tidak terjadi, dan damai kembali mewarnai bumi.

Slava Ukraini, Heroiam slava!

💙💛🇺🇦

4 responses
  1. Gravatar of Phebie
    Phebie

    Ikut prihatin. Dalam percaturan politik Nato vs Rusia, Ukraina itu seperti pelanduk diantara dua gajah yang sedang memperebutkan teritori. Moga2 kedua pemimpin negara berkonflik bisa menemukan solusi damai di meja perundingan dan rakyat Ukraina tidak menjadi korban.

  2. Gravatar of Jagawana Kimi
    Jagawana Kimi

    Amiiin… Semoga perang cepat berakhir dan gak terjadi PD ketiga. Takut banget ih! 🙁

  3. Gravatar of ainun
    ainun

    mas zammm aku baca ini berkaca-kaca 🙁
    sedih banget pas tau berita ini beredar di internet,, aku sendiri nggak ngerti awal mulanya kayak gimana, kenapa bisa perang begini
    aku kira negara di Eropa sana udah baik-baik aja
    semoga semua segera berakhir ya

  4. Gravatar of Antyo®
    Antyo®

    Selalu ada alasan pembenar dalam perang, sebagai penyerang maupun pembalas.
    Ribuan tahun peradaban manusia tak selesai belajar dari soal ini
    😭

Tinggalkan Balasan

This article has been published on 1 Maret 2022 (7 bulan ago). The information provided here might not be accurate.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.