Sirplus, Toko Penjual Barang Kedaluwarsa

9 minutes 0 10

Praktik menjual barang yang mendekati tanggal kedaluwarsa (expiry date atau best before), sebenarnya sudah menjadi hal yang umum dilakukan.

toko Sirplus menjual makanan kedaluwarsa yang masih layak konsumsi

Biasanya produk-produk ini dimasukkan ke dalam produk promo yang harganya didiskon, atau menggabungkannya dengan produk lain (yang juga hampir kedaluwarsa), untuk dijual dengan harga yang murah.

Tujuannya adalah barang-barang ini cepat laku dan tidak terbuang, karena menurut aturan, supermarket tidak diperbolehkan menjual barang-barang yang sudah kedaluwarsa.

Jika produk ini tetap tidak laku terjual, produk harus ditarik dari rak toko, dikembalikan ke distributor, untuk kemudian dimusnahkan atau dibuang.

Di Berlin, Jerman, ada toko yang menjual produk-produk yang sudah kedaluwarsa, sudah lewat tanggal best before, dengan harga yang jauh lebih murah.

Toko ini bernama Sirplus, dibaca seperti kata surplus pada Bahasa Inggris, yang memiliki 5 cabang toko di Berlin selain melayani penjualan melalui daring di situs mereka.

toko Sirplus di East Side Mall, Friedrichshain, Berlin

Tanggal 10 April 2021, saya bersama istri dan seorang teman mengunjungi salah satu tokonya di East Side Mall, di kawasan Friedrichshain.

Benar saja, barang-barang yang dijual di toko ini tanggal kedaluwarsanya sudah lewat, atau yang sebentar lagi lewat namun sudah disingkirkan dari rak supermarket.

Tentu saja dari kemasan, produk ini terlihat masih baik dan secara teori masih layak dikonsumsi.

Selain produk-produk kemasan, toko ini juga menampung produk sayur yang kondisinya tidak laik tampil di supermarket, seperti bentuknya aneh, terlalu kecil, terlalu besar, atau terlalu matang.

Supermarket memang tidak bisa memajang produk-produk yang sudah kedaluwarsa ini, namun bukan berarti produk ini dilarang dijual.

Saya sempat mencuitkan tentang toko ini, dan rupanya cukup banyak yang merespon.

Salah satu respon menarik yang saya terima dari Hanum Hapsari menyatakan bahwa praktik ini juga dilakukan di Denmark.

Di Jerman, ada dua jenis kedaluwarsa, yaitu tanggal “sebaiknya digunakan” atau Mindesthaltbarkeitsdatum (MHD), best before, yang biasa tercantum di produk-produk pabrikan.

Kedua adalah Verfallsdatum atau expiry date, yang mana biasanya dicantumkan pada produk-produk segar dan tanpa pengawet.

tulisan pada rak Sirplus yang berarti “aku sudah kedaluwarsa, tapi masih layak konsumsi”

Maksud kedaluwarsa yang dijual di toko ini adalah barang-barang yang sudah melewati tanggal best before, yang masih layak dikonsumsi karena tidak ada perubahan warna, bentuk, tekstur, dan rasa.

Terima kasih kepada pengawet makanan!

Sementara produk yang sudah lewat tanggal Verfallsdatum dianggap tidak layak dikonsumsi alias busuk, harus dimusnahkan.

Badan perlindungan konsumen dan pengawas makanan Jerman, Bundesamt für Verbraucherschutz und Lebensmittelsicherheit (BVL), memperbolehkan makanan yang lewat tanggal best before ini untuk dijual bahkan dikemas ulang, asal dengan penuh pengawasan.

Produk yang dijual di Sirplus ada berbagai macam, mulai dari makanan siap makan seperti cemilan, coklat, minuman, bahkan produk susu, keju dan yogurt, juga ada bahan makanan seperti kopi, teh, dan tepung.

Toko di East Side Mall ini termasuk kecil, sehingga produknya cukup terbatas, dan kami penasaran dengan toko Sirplus di cabang lain yang konon lebih besar dan lebih banyak pilihan produknya.

coklat kedaluwarsa yang dijual di Sirplus

Saya membeli sebotol minuman rasa buah yang tanggal kedaluwarsanya 23 Maret 2021 dan cemilan coklat yang tanggal kedaluwarsanya 26 Desember 2020.

Saat dikonsumsi, rasa dari kedua produk ini juga tidak berubah, dan hingga sekarang saya tetap sehat tidak mengalami dampak buruk.

Menariknya, saya sepertinya tidak menemukan produk daging atau olahan daging, karena memang si penggagas toko ini adalah salah satu tokoh yang cukup terkenal di kalangan hippies yang menjalani gaya hidup vegan.

Sirplus digagas oleh Raphael Fellmer, tokoh aktivis berbagi makanan untuk mengurangi sampah makanan yang terbuang sia-sia.

Raphael bahkan mengaku pernah mengorek tempat sampah untuk mencari makanan yang dibuang namun masih layak dikonsumsi.

Saya yang juga sedih ketika melihat makanan terbuang, merasa sependapat dengan Raphael.

Ide mengurangi sampah makanan ini juga diterapkan oleh HelloFresh, tempat saya bekerja, yang juga bergerak di bidang makanan.

Raphael Fellmer, foto dari situs sirplus.de

Raphael membangun komunitas Foodsharing pada 2012 di Berlin, di mana anggotanya yang kini mencapai 200.000-an, yang aktif menyalurkan makanan yang hampir terbuang dari toko dan rumah makan, kepada mereka yang membutuhkan.

Aktivitas yang dirintisnya tersebut kini juga dilakukan di banyak tempat di Jerman, Austria, dan Swiss.

Kecintaan dan kepedulian Raphael pada bumi mendorongnya untuk bertindak untuk menyelamatkan lingkungan.

Menurutnya, membuang makanan, tidak hanya membuang makan itu sendiri, namun juga seluruh proses untuk memproduksinya jadi percuma, yang hanya membuat bumi makin sengsara.

Raphael, dalam wawancaranya di siniar GreenMe, menyatakan bahwa setidaknya sepertiga dari jumlah makanan di seluruh dunia terbuang sia-sia.

Bahkan di Eropa saja, separo dari jumlah makanan yang diproduksi harus berakhir di tempat sampah.

Jumlah makanan terbuang ini di Jerman, setara dengan 1 truk per menit, yang mana makanan terbuang ini sebenarnya bisa diberikan kepada orang kelaparan, empat kali lebih banyak.

sayur yang tidak layak tampil di supermarket juga dijual di Sirplus

Fakta ini yang membuat Raphael tergerak dengan komunitas Foodsharing-nya sebelum akhirnya merintis Sirplus pada Desember 2017 di Berlin.

Raphael, yang menulis buku “Bahagia Tanpa Uang (Glücklich ohne Geld)” itu bahkan sempat melakukan perjalanan dari Belanda ke Meksiko bersama kedua temannya tanpa mengeluarkan atau mendapat uang sepeser pun.

Ia memutuskan perjalanan yang bisa dibilang nekat, namun penuh inspirasi tersebut, karena merasa ia telah banyak menyumbang emisi karbondioksida ketika melakukan perjalanan menggunakan pesawat terbang.

Dari perjalanan tanpa uang itu, Raphael sempat menjalani hidup tanpa uang (money strike) selama 5 tahun.

Raphael pun sering diundang untuk mengisi seminar, membagikan inspirasinya, misal pada acara TEDxUtrecht, ia membagikan alasannya melakukan perjalanan tanpa uangnya tersebut.

Dengan merangkul sekitar 250 rekan, terutama jaringan ritel supermarket dan toko online, Sirplus menampung makanan yang dianggap tidak layak jual, kemudian disortir untuk memeriksa kelayakannya, dan menjual kembali dengan harga yang murah.

Sirplus berhasil menyelamatkan sekitar 400 ton makanan dari tempat sampah dalam waktu 7 bulan pertama mereka beroperasi.

Dari hasil keuntungan yang didapat, Raphael mengaku sejumlah 20% ia sumbangkan kembali ke komunitas.

Saat kami berbelanja pun, toko Sirplus ini juga cukup ramai, meski dalam masa pembatasan karena pandemi ini.

Raphael berharap bahwa langkah yang dilakukan Sirplus bisa menginspirasi dan memberikan kesadaran, bahwa makanan tidak harus langsung dibuang hanya karena lewat tanggal kedaluwarsa, untuk menekan jumlah sampah makanan.

12 responses
  1. Gravatar of Bayu Kurniawan
    Bayu Kurniawan

    Aduhh Mas Zam. Tulisan kali ini bikin saya termenung.. Soalnya ya gimana yah, tiap kalau belanja di minimarket hal yg pertama dilihat pasti tanggal kadaluarsanya. Kaya contoh Indomie goreng. Itu kalau udh sisa 2 bulan lagi menuju kadalauarsa yah nggk pernah mau saya beli…
    Ya ampun.. hahah 🤣🤣 padahal masih banget layak pakai.

    Sadar juga si akhir2 ini sering banget buang makanan. Semenjak bapak nggak ada. Makanan yg saya masak atau beli tuh selalu sisa. Terus pasti dibuang pas udah keesokan harinya.. 🤔🙄 pngen banget bisa kaya Mas Rapael yg begitu menghargai makanan. 🥲

    Makasih Mas, buat tulisannya.

  2. Gravatar of Peri Kecil Lia 🤸🏻‍♀️
    Peri Kecil Lia 🤸🏻‍♀️

    Kreatif banget bikin minimarket kayak giniii. Kalau ada di Indonesia kayaknya bakal laku juga nih, apalagi bagian sayur mayurnya karena biasanya yang ditolak masuk supermarket masih bisa dibilang cakep wkwk

  3. Gravatar of Anggie
    Anggie

    Pantesan orang Jerman di sini masih makan roti yang expire-nya udah telat 1-2 hari, xD

  4. Gravatar of nursini rais
    nursini rais

    Sepakat, Mas. Saya juga sedih melihat makanan dibuang. Mari kita tafsirkan tanggal kedaluarsa. Di sana dicantumkan farase/kalimat, “baik digunakan sebelum tangggal sekian …” tanpa embel-embel, “setelah tanggal tersebut lewat, kalau dikonsumsi kalian akan mati” He he … Saya rasa jika ekspayer suatu makanan sebatas 3 atai 5 hari, warna dan rasanya belum berubah, mungkin tiada masah. Kecuali telah berminggu-minggu atau berbulan itu persoalannya akan lain. selamat malam Mas

    Gravatar of Muhammad Zamroni
    Muhammad Zamroni

    sebenarnya tanggal kedaluwarsa yang tercantum hanya preventif. sepertinya jarang terdengar kasus orang keracunan atau meninggal karena mengonsumsi makanan kedaluwarsa. buktinya saya masih sehat meski makan coklat yang kedaluwarsanya lewat 3 bulan yang saya beli dari toko itu.

  5. Gravatar of efo.teo
    efo.teo

    Eh, bentar? Ini makanan kadaluarsa agak aman? Wkwkw mantap banget yak

    Aku baru tau banget aslik deh

  6. Gravatar of Antyo®
    Antyo®

    Saya pernah baca panduan konsumen, asal cara menyimpan benar, produk makanan yang ngepas “best before” itu masih aman dikonsumsi.
    Mungkin seperti kelebihan lima kilometer saat mobil sudah saatnya ganti oli ya.

    Sayang juga kalau sepertiga makanan di dunia ini dibuang padahal masih layak.

  7. Gravatar of deddyhuang.com
    deddyhuang.com

    waktu kamu pernah cuit soal ini aku udah bilang wow gokil, emang perlu pada akhirnya risiko ditanggung sendiri mengenai kadaluarsa ya.

  8. Gravatar of warm
    warm

    kayaknya kalo misalnya saya hidup di sana, itu bakal jd langganan deh ehehe

  9. Gravatar of Ekalagi
    Ekalagi

    Btw jual shampoo atau sabun yang kadaluarsa juga tak?

    Gravatar of Muhammad Zamroni
    Muhammad Zamroni

    nggak, karena memang fokusnya makanan, bukan produk kecantikan..

  10. Gravatar of Hicha Aquino
    Hicha Aquino

    Dulu di toko halal tempat saya pernah part-time, bahan makanan yang sudah kedaluwarsa biasanya dibagikan gratis bagi siapa yang mau. Tapi kalau sudah lewat sebulan tetap dibuang juga.
    Di negara empat musim juga sepertinya kondisi bahan kedaluwarsa bergantung pada musim. Contohnya untuk roti, di musim panas yang sumuk, biasanya di hari yang sama dengan tanggal exp date sudah mulai muncul jamur. Tapi di musim dingin, seminggu lewat exp date pun bentuk, warna, dan rasa belum berubah dan masih layak dikonsumsi.

Tinggalkan Balasan

This article has been published on 19 April 2021 (4 minggu ago).

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.