Rasanya Bekerja di Berlin, Jerman

3 minutes 109 9

Hari Sabtu, 22 Januari 2021, sebuah tweet yang cukup kontroversial dilontarkan oleh Pandji Pragiwaksono.

Dalam tweet-nya tersebut, Pandji mengirim pesan berupa pekerjaan kepada anak buahnya pada pukul 00.44 WIB melalui pesan WhatsApp.

Pandji menyatakan bahwa bekerja dengannya bukan lah hal yang mudah dan memerlukan dedikasi tinggi bahkan harus bekerja hingga dini hari.

Tentu saja netizen yang haus drama pun langsung bereaksi dengan berbagai respon.

Ada yang marah, mencak-mencak, menghujat, menuduh bahwa Pandji seorang bos yang ekspolitatif, hingga respon bercanda, mengirim meme, dan banyak juga yang sependapat dan mendukung Pandji.

Saya sendiri menanggapi tweet Pandji ini dengan santai, karena toh semua orang boleh berpendapat di media sosial, apalagi melalui akun Twitternya sendiri.

Namun tentu saja, setiap orang juga berhak untuk tidak mendengar, atau menanggapi pendapat orang tersebut.

Saya justru tergelitik saat membaca tweet dari Ruswandi Y. Karlsen, orang Indonesia namun sudah berpindah kewarganegaraan dan tinggal di Norwegia, terutama di kota Tromsรธ.

Ruswandi mencuitkan bagaimana suasana bekerja di Norwegia, yang ia anggap sebagai kemewahan atau privilege, yang berbeda dengan kondisi di Indonesia.

Cuitan Ruswandi yang seolah menanggapi Pandji, meski no mention, disambut oleh netizen yang tinggal dan bekerja di luar negeri.

Dari balasan yang kemudian di-retweet oleh Ruswandi, terlihat bahwa hampir semua mengamini dan membagikan pengalaman mereka bekerja di luar negeri.

Persoalan dunia kerja di Indonesia memang cukup banyak, apalagi pada 5 Oktober 2020 lalu, UU Cipta Kerja (Omnibus Law) yang kontroversial disahkan oleh Presiden Joko Widodo.

Undang-undang yang menurut saya sedikit merugikan kaum buruh dan pekerja itu seolah-olah tercermin pada cuitan Pandji, yang mana perlindungan terhadap pekerja di Indonesia bisa dibilang sangat kurang.

Saya termasuk beruntung dan sependapat dengan Ruswandi, yang mana pengalaman saya bekerja di Berlin tersebut saya tuangkan dalam sebuah siniar alias podcast.

Ingin tahu pengalaman saya saat bekerja di Berlin, simak siniar saya berikut.

11 responses
  1. Gravatar of Antyoยฎ
    Antyoยฎ

    You’re not a slave
    Bagus itu. ๐Ÿ‘๐Ÿ’ช

  2. Gravatar of Ranger Kimi
    Ranger Kimi

    Pandji itu aneh. Jadi bos toxic gitu kok bangga. Hadeh.

  3. Gravatar of auqri
    auqri

    Wahhh mendengarkan pelangaman lengkap lewat podcastnya terdengar sangat menyenangkan sekali ya, mulai dari bagaimana situasi kerja di berlin, aturan terkait jam kerja disana, hingga masalah izin kerja, cuti, dsb yang teratur banget.

    Oiya maaf terkait jobdesk yang mungkin dihari itu belum sampai target, berarti harus dikerjakan dikemudian hari ya atau …? Masih samar-samar antara kerjaan yang belum selesai lalu ingin dilanjutkan, dengan kerjaan yang memang perlu dilemburkan..

    Gravatar of Muhammad Zamroni
    Muhammad Zamroni

    di kantor, kami menggunakan metode Scrum. seluruh pekerjaan termasuk prioritas direncanakan dan dilakukan estimasi. dengan cara ini, progress bisa terlihat dan terukur.

  4. Gravatar of Jauhari
    Jauhari

    SCRUM itu metode ya? terus secara aplikasinya make apa itu ZAM? ketoe wangun kerjone….

    Gravatar of Muhammad Zamroni
    Muhammad Zamroni

    iya, Scrum ini salah satu aplikasi dari konsep Agile. selain Scrum ada juga metode Kanban. kalo yang dimaksud aplikasi adalah software-nya, banyak aplikasi project development yang udah support, kok. di kantor, kami pake JIRA.

  5. Gravatar of fanny_dcatqueen
    fanny_dcatqueen

    Aku blm prnh sih dapet bos yg kayak gitu, yg demanding, sampe testing kerjaan jam tengah malam. Mungkin Kalo organisasi perusahaan yg besar, agak LBH jelas sih aturannya. Krn mereka biasanya punya serikat pekerja yg merhatiin juga soal begini. Jam berapa kantor, lembur diitung ato ga, kan udh jelas semuanya. Kalo bos ku mau ksh kerjaan sampe tengah malam, asal biaya lembur dll dia bayarin, aku ga masalah. Pokoknya asal sesuai ama apa yg aku dapet. Tapi kalo cm kerja keras doang, ga sesuai Ama yg didapet, sorry yaaaaa :p. Kita bukan volunteer :p

  6. Gravatar of Daeng Ipul
    Daeng Ipul

    Saya termasuk beruntung karena beberapa bos saya di beberapa project sebelumnya sungguh sangat pengertian soal waktu kerja. Kalau terpaksa mengontak selepas jam kerja, pasti dimulai dengan kata “maaf”

  7. Gravatar of Rudi G. Aswan
    Rudi G. Aswan

    Sempat ikuti juga, Mas, cuitan Pandji waktu itu. CUma ga ikut menanggapi karena sudah bukan karyawan lagi. Waktu kerja di Bogor dulu enggak sampai gitu sih, sampai dihubungi atasan buat beresin kerjaan. Kecuali kalau emang banyak kerjaan dan harus lembur, ya barulah kita ada SPK lembur. Ga kebayang kalau lagi santai di rumah akhir pekan, apalagi dini hari terus dijapri supervisor, hehe.
    Semoga betah, Om, di Berlin. Lama banget aku ga baca review gawai di blog ini. Terakhir kayaknya tahun 2016 pas masih di Bogor. Sukses!

  8. Gravatar of Phebie| Essentialist ๐Ÿฟ
    Phebie| Essentialist ๐Ÿฟ

    Ya masih Asia banget memang. Gak enakan pulang kalau bos belum pulang, sebaliknya sama gak enak pulang kalau anak buah belum pulang. Akhirnya mereka semua hidup bahagia di kantor ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜†๐Ÿคฃ

    Padahal kreativitas tertinggi manusia tercapai saat perasaannya happy. Kerja cerdas beda memang.

    Om Ruswandi saya perhatikan memang suka banget kasih perbandingan kehidupan di Indo dan di Norway. Menurut saya sih nggak apple to apple, ya. Selain beda kultur dan sistem, negara maju dan negara berkembang beda, dalam sejarahnya bangsa Eropa pun, sebelum sampai ke titik sekarang sama sadisnya kok dalam urusan tenaga kerja. Lebih sadis malah karena ekspansif dan memperbudak bangsa lain. ๐Ÿ˜…

    Moga-moga kita bisa lebih cepat sampai ke titik keadilan bagi pekerja yg beradab.๐Ÿ˜€

  9. Gravatar of Ailtje
    Ailtje

    Kultur kerja kalau sama bos-bos yang orang Indonesia itu emang gak kenal batas waktu kerja ya dan ada tekanan untuk kerja, kerja, kerja. Gak bagus untuk kesehatan jiwa.

    Di sini jelas peraturan kerjanya dan ada fleksibilitas untuk mengatur waktu, apalagi kalau harus mulai kerja pagi karena meeting dengan kolega di belahan dunia yang jamnya beda jauh.

    Stay healthy ya!

Tinggalkan Balasan

This article has been published on 25 Januari 2021 (9 bulan ago). The information provided here might not be accurate.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.