Asyiknya Berbelanja ke Pasar Tradisional

Di tengah gencarnya serangan supermarket dan minimarket, pasar tradisional masih tetap bertahan.

pedagan pasar Pondok Gede
pedagan pasar Pondok Gede

Apalagi kesan pasar tradisional yang kumuh membuat orang malas untuk datang dan bertransaksi di pasar tradisional.

Belum lagi serangan toko-toko online membuat orang makin malas datang ke pasar tradisional, karena cukup hanya dengan menggerakkan jempol, kebutuhannya bisa terpenuhi.

Untuk menarik minat pembeli, beberapa pasar tradisional bahkan sudah mengubah konsep menjadi pasar modern, di mana lokasi dan kebersihan pasar dijaga agar tetap nyaman untuk berbelanja.

Saya sendiri masih datang ke pasar tradisional untuk membeli beberapa kebutuhan yang tidak dapat disediakan oleh supermarket, minimarket, dan toko online.

Pasar tradisional Pondok Gede, Bekasi, Jawa Barat, menjadi tujuan saya untuk membeli ikan segar untuk kebutuhan makan kucing saya.

Meski pasar ini buka 24 jam, namun saya memilih berbelanja di sini di malam hari.

Selain harga murah, ada keasyikan tersendiri saat berbelanja di pasar tradisional.

Menawar Untuk Harga Terbaik

harga gula di supermarket
harga gula di supermarket

Salah satu keuntungan pasar tradisional adalah saya bisa menawar barang yang hendak saya beli.

Meski harganya sudah murah bila dibandingkan dengan harga di supermarket, ada kepuasan tersendiri saat bisa mendapatkan barang yang diinginkan dengan harga yang paling murah.

Tidak hanya harga, saya bisa berinteraksi dengan penjual, di mana lama-lama saya dan pedagang ikan yang menjadi langganan saya jadi kenal, dan dia sering memberi harga khusus.

Jika misal tidak puas dengan harga yang ditawarkan, saya bisa pindah ke pedagang lain untuk mendapatkan harga yang cocok.

Sebagai contoh saat ingin membeli satu kilogram gula pasir.

Saya mencatat harga gula pasir dari berbagai merek di toko online, supermarket, dan minimarket, untuk kemudian menjadi acuan saat membeli di pasar tradisional.

Dari patokan harga tersebut, saya bisa menawar harga yang lebih rendah dari harga di supermarket atau di minimarket, atau minimal sama dengan harga tersebut.

Beberapa orang bahkan menganggap kemampuan tawar menawar adalah seni tersendiri, di mana tidak semua orang bisa melakukannya.

Ada teknik psikologis, pengetahuan harga, dan wawasan khusus terhadap barang yang hendak dibeli, sehingga bisa mendapatkan barang berkualitas dengan harga pantas.

Lokasi Pasar

suasana supermarket yang bersih
suasana supermarket yang bersih

Saya memilih Pasar Pondok Gede, karena selain buka 24 jam, lokasinya juga relatif dekat dengan rumah.

Saya bahkan tidak perlu masuk ke dalam untuk mendapatkan barang yang saya inginkan karena di luar, banyak pedagang yang sudah berjajar menawarkan barang dagangannya.

Sayangnya, lokasi lapak pedagang ini sering menghalangi jalan sehingga kawasan di sekitar pasar ini sering macet.

Jika ingin berbelanja di tempat yang lebih bersih, saya bisa pindah ke Plasa Pondok Gede yang lebih modern.

Nama Pondok Gede sendiri memiliki cerita sejarah tersendiri. Di lokasi yang kini berdiri Plasa Pondok Gede, dulunya berdiri sebuah bangunan besar (pondok gede) yang menjadi cikal bakal nama kawasan ini.

Bangunan ini didirikan oleh seorang Belanda bernama Pendeta Johannes Hooyman yang memadukan gaya Eropa dan Jawa pada tahun 1775.

Sayangnya, bangunan ini sudah tiada dan pada tahun 1992, bangunan ini dirobohkan dan dijadikan pusat perbelanjaan, meski pada tahun 1987, Inkopau pernah menulis surat kepada Gubernur DKI Jakarta, di mana. isinya tentang rencana pembangunan pusat rekreasi dan perbelanjaan di areal ini, dan bangunan kuno itu akan dilestarikan, bahkan akan menjadi sentra dari taman rekreasi.

Selain berbelanja, dari pasar tradisional, saya juga bisa belajar sejarah.

Jangan Membawa Balita

Meski sebagian orang ingin mengajak anak-anak ke pasar, sekadar untuk memperkenalkan suasana dan mengajarkan transaksi sejak dini, ada baiknya tidak mengajak balita ke pasar.

Kebersihan pasar tradisional sering menjadi masalah. Membawa balita ke lokasi ini tentu akan membawa risiko kesehatan bagi balita.

Selain itu, belanja menjadi lebih cepat dan efektif karena tidak perlu mengawasi anak-anak atau balita saat bertransaksi.

Membawa Uang Cukup

Meski kini sedang gencar dan marak cara pembayaran nontunai, namun sayangnya pasar tradisional belum bisa menerima pembayaran ini.

Berbelanja ke pasar tradisional harus menyiapkan uang cash dengan jumlah yang cukup.

Agar tidak membengkak, membawa catatan barang yang hendak dibeli beserta estimasi harganya akan sangat membantu dalam berbelanja dan menahan diri agar tidak kalap.

Misal, niatnya hanya membeli gula pasir, jika tanpa mencatat dan disiplin pada daftar kebutuhan, bisa-bisa pulang membawa macam-macam, dan biaya jadi membengkak.

Artikel ini dipublikasikan pada 1 Agustus 2018, sekitar 3 bulan yang lalu. Informasi yang dimuat di artikel ini mungkin sudah tidak akurat.

Ada 1 tanggapan
Dirman 8 Agustus 2018 20:44 WIB

Dipasar dekat tempat saya tinggal, ada salah satu kios yang menyediakan jasa antar belanjaan gratis dengan jarak tidak lebih dari 2 kilometer, ini menarik 🙂

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.