Membandingkan Teknik Mematangkan (Memeram) Alpukat

Alpukat merupakan salah satu buah yang saya sering kecele saat ingin menikmatinya. Memilih buah yang terlihat matang dari luar, namun saat dibelah, ternyata masih keras, mentah, dan rasanya pahit.

memilih alpukat
memilih alpukat

Walau sudah menerapkan tips memilih alpukat, yaitu dengan memilih buah yang warnanya hijau gelap, tidak menjamin bahwa dagingnya sudah matang.

Pernah juga saya menggunakan tips menggoncang-goncangkan buah untuk memeriksa apakah bijinya sudah lepas dari daging buah, eh ternyata karena bijinya keropos dan isinya sudah busuk meski dari luar terlihat masih bagus.

Alpukat merupakan buah yang tidak bisa matang di pohon. Alpukat dipetik dari pohon pada saat sudah tua, namun belum matang. Alpukat akan matang secara alami selama 7 hari dari masa petik pada masa pemeraman.

Jika membeli alpukat, tentu bisa dipastikan buah tersebut belum matang. Jika beruntung, alpukat yang dibeli sudah matang karena mungkin sudah mengalami pemeraman saat distribusi.

Cara Memeram Buah

alpukat setelah diperam menggunakan tisu
alpukat setelah diperam menggunakan tisu

Tidak hanya pada alpukat, proses pemeraman juga bisa diterapkan pada beberapa buah.

Proses pematangan atau memeram merupakan teknik yang melibatkan gas etilen (C2H4) yang merupakan gas alami untuk mematangkan buah. Hanya saja, saat diperam, buah “dipaksa” untuk lebih cepat matang.

Ada beberapa cara untuk memeram buah yang sudah lama dikenal. Salah satu cara yang terkenal adalah dengan membenamkannya dalam beras.

Cara ini sudah dikenal secara turun temurun, dan terbukti bisa diterapkan ke buah-buahan bertekstur lembut dagingnya semacam mangga dan pepaya.

Selain dengan membenamkan ke dalam beras, buah juga bisa diperam dengan membungkusnya dengan kertas atau plastik dengan rapat.

Kedua cara ini membuat gas etilen yang dikeluarkan buah terperangkap sehingga makin banyak gas etilen, makin cepat buah menjadi matang. Selain itu, temperatur pada ruang tertutup dan saat tertanam dalam beras akan naik, ini juga membuat buah menjadi cepat matang.

Cara menambahkan buah yang sudah matang ke buah matang juga memanfaatkan gas etilen untuk mempercepat pematangan. Buah yang digunakan bisa sejenis, atau berlainan jenis.

Buah yang sudah matang akan mengeluarkan banyak sekali gas etilen, gas inilah yang nantinya akan merangsang buah yang belum matang untuk cepat matang.

Ketiga cara ini menghasilkan buah yang matang dengan rata, namun membutuhkan waktu yang cukup lama. Cara ini bisa memakan waktu 3-5 hari.

Mematangkan (Memeram) Alpukat

memeram alpukat dengan menggunakan tisu (kiri) dan tusuk gigi (kanan)
memeram alpukat dengan menggunakan tisu (kiri) dan tusuk gigi (kanan)

Di media sosial sempat beredar cara lain untuk mematangkan buah, khususnya alpukat. Cara tersebut adalah dengan menggunakan tisu dan dengan menggunakan tusuk gigi.

Kedua cara unik ini menarik perhatian saya dan saya pun mencoba membandingkan keduanya.

Saya membeli dua buah alpukat yang berukuran relatif sama baik ukuran maupun warna di Superindo.

Harga alpukat saat saya membeli adalah Rp 22.950 per kilogram. Saya membayar Rp 15.470 untuk dua buah alpukat seberat 674 gram.

Sampai di rumah saya pun memotong sedikit pada ujung alpukat, pada bagian sambungan dengan tangkai, sampai terlihat sedikit daging buahnya.

Kemudian saya menutup bagian yang dipotong ini dengan tisu, lalu mengikat rapat dengan menggunakan masking tape. Selain tisu, ada juga yang menggunakan kertas koran untuk menutup bagian ini.

Cara kedua adalah dengan menusukkan tusuk gigi pada bagian ujung sambungan tangkai hingga menembus ke bagian biji alpukat. Cara ini merupakan cara yang paling gampang dan cepat bila dibandingkan dengan teknik menggunakan tisu.

Saya kemudian meninggalkan kedua buah ini di tempat yang sama dengan kondisi yang sama, yaitu pada suhu ruangan, tanpa ditutup apa pun.

Hasil Peraman

alpukat matang dengan menggunakan tisu (kiri) dan dengan menggunakan tusuk gigi (kanan)
alpukat matang dengan menggunakan tisu (kiri) dan dengan menggunakan tusuk gigi (kanan)

Pada hari ketiga, saya mengupas kedua buah ini. Saat mengambil dari tempat penyimpanan, saya melihat sekilas pada bagian ujung yang ditusuk tusuk gigi berubah warna menjadi lebih kecoklatan.

Pada alpukat yang ditutup tisu, tidak ada perubahan warna, hanya saja pada bagian yang terpotong menjadi lebih keras.

Saat dibelah menjadi dua, warna daging buahnya terlihat sama. Warna kuning di sekitar biji dan warna hijau di dekat kulit.

Namun jika dilihat lebih detail, warna kuning pada buah yang diperam dengan tisu terlihat lebih tebal warnanya daripada yang menggunakan tusuk gigi.

Pada bagian ujung alpukat yang ditusuk tusuk gigi, daging buahnya berubah menjadi coklat. Kemungkinan besar bagian ini sudah terlalu matang hingga hampir membusuk.

Dugaan saya, tidak ada bukti ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan, dengan memotong ujung alpukat atau menusuk dengan tusuk gigi, gas etilen yang terkandung oleh alpukat bisa terlepas dan mempercepat proses pematangan.

Namun jika ditusuk dengan tusuk gigi, konsentrasi gas yang keluar hanya berada di sekitar tusuk gigi, sehingga pada hasil yang saya peroleh, bagian yang dekat dengan tusuk gigi menjadi lebih cepat matang dan akhirnya menghitam.

Saat daging buah dikerok dengan sendok, daging buah yang diperam dengan tisu terasa lebih empuk dan lembut daripada yang diperam dengan tusuk gigi. Rasanya pun terasa lebih manis bila dibandingkan dengan yang menggunakan tusuk gigi.

Saya pribadi lebih suka menggunakan tisu untuk memeram alpukat karena hasilnya lebih baik, meski tidak semudah menusukkan tusuk gigi.

Artikel ini dipublikasikan pada 13 Januari 2018, sekitar 10 bulan yang lalu. Informasi yang dimuat di artikel ini mungkin sudah tidak akurat.

Belum ada tanggapan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.