Menilik Capaian Kerja Setahun Kementerian Pertanian

Artikel ini ditayangkan pada 23 Oktober 2015, sekitar 2 tahun yang lalu. Informasi pada tulisan ini mungkin sudah tidak sesuai.

Selama sekolah, saya sering mendengar istilah “Indonesia negara agraris yang subur makmur, gemah ripah loh jinawi“. Dalam lagunya yang berjudul Kolam Susu, Koes Plus bahkan bilang “tongkat kayu dan batu jadi tanaman”, yang menggambarkan betapa suburnya tanah kita.

Namun apa yang terjadi saat saya mencoba mengetik kata kunci “Indonesia negara agraris”, kemudian yang muncul dalam kotak saran adalah, “tapi impor beras”. Rasanya sedih. Sampai kapan kita akan terus begini?

Tanggal 20 Oktober 2015, saya dan beberapa rekan blogger berkesempatan berjumpa secara langsung dengan Pak Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman. Tidak hanya berjumpa, kami bahkan sarapan bareng di Hotel Kota Bukit Indah Plaza, Purwakarta, sebelum beliau bertolak ke Desa Gardu Mukti, Kec. Tambakdahan, Kab. Subang, Jawa Barat, untuk menghadiri acara perayaan gelar teknologi pertanian.

Berkenalan Dengan Menteri Pertanian

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman

Saya sendiri tak menduga, bahwa Pak Mentan ternyata orang yang cukup santai, ramah, rendah hati, namun tegas. Beliau bersedia meluangkan waktunya untuk ngobrol dengan kami.

Selama ngobrol, saya merasa bahwa Pak Mentan memang paham betul masalah yang ada di dunia pertanian dan sudah menerapkan solusi untuk mengatasi masalah tersebut.

Lelaki berusia 46 tahun kelahiran Bone, Sulawesi Selatan ini rupanya mewarisi jiwa kepemimpinan Raja Bone yang berasal dari ayahnya.

Lulusan Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin ini memang sudah akrab dengan lingkungan pertanian.

Tidak hanya seorang petani, Pak Mentan juga seorang pengusaha sukses yang telah berhasil membangun 14 perusahaan yang tergabung dalam Tiran Group dan mengantongi 4 hak paten penemuan yang berkaitan dengan pestisida tikus.

Namun semenjak beliau dilantik menjadi menteri pertanian oleh Presiden Joko Widodo, empat perusahaannya yang berkaitan dengan pertanian ditutupnya agar beliau tidak memiliki kepentingan dan bisa mengabdikan dirinya kepada negara.

Beliau pun bahkan tak memiliki akun media sosial, karena beliau ingin fokus bekerja tanpa terdistraksi. Serangan-serangan verbal di media sosial yang terkait dengan kebijakan yang dilakukannya ditanggapi dengan santai.

Kecintaannya terhadap Indonesia, terutama dunia pertanian, membuatnya tak takut menghadapi apa pun yang menghambat tujuannya memajukan pertanian.

Meningkatnya Produksi Pangan Nasional

Semenjak dilantik pada tanggal 27 Oktober 2014, Pak Mentan langsung bekerja. Setelah melihat permasalahan yang menghambat kemajuan pertanian. Berbagai masalah yang krusial langsung dipetakan, dianalisis, dicarikan solusinya, dan dilakukan tindakan untuk mengatasi masalah tersebut.

Beras impor menjadi salah satu masalah yang menjadi sorotan utama. Pada saat menerima jabatan, impor beras mencapai 800 ribu ton, namun setelah setahun beliau menjabat, tidak ada impor beras sama sekali.

Juga pada saat terjadi hantaman badai Elnino terbesar pada 1998, Indonesia mengimpor 7,1 beras yang saat itu penduduknya berjumlah 205 juta jiwa. Kini, pada tahun 2015, di mana Elnino juga menghantam pada skala yang lebih besar, belum ada impor beras sama sekali, meski penduduknya kini mencapai 252 juta jiwa.

Bagaiamana ini bisa terjadi, Pak Mentan membagikan 3 kebijakan dari 11 kebijakan yang dilakukan oleh Kementerian Pertanian.

Mengeluarkan Regulasi Pertanian

sawah menguning siap panen sawah menguning siap panen

Pak Mentan mengaku bahwa Kementerian Pertanian merupakan kementerian yang pertama kali melakukan deregulasi, yakni menghilangkan penghambat karena suatu aturan.

Aturan yang dirasa menghambat dan merugikan pertanian adalah kalimat “tender atau lelang” pada pengadaan bantuan benih, pupuk, dan alsintan (alat mesin pertanian). Jika melalui tender, proses pengadaannya sangat lama, padahal tanaman tidak bisa menunggu. Aturan ini tertera pada Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah.

Pak Mentan kemudian menyampaikan kegelisahannya kepada Presiden Joko Widodo dan menginginkan pengubahan metode menjadi penunjukkan langsung agar proses pengadaan benih, pupuk, dan alsintan menjadi lebih cepat dan tepat sasaran.

Tak lama, hanya dalam waktu 2 hari setelah mendapat laporan Mentan, Presiden Joko Widodo menandatangani Peraturan Presiden Nomor 172 Tahun 2014 yang mengubah proses pengadaan benih, pupuk, dan alsintan menjadi penunjukkan langsung melalui e-catalogue untuk menjaga transparansi.

Selain mengubah Peraturan Presiden, Kementerian Pertanian juga mengeluarkan peraturan anggaran, di mana seluruh bupati dan kepala daerah tidak akan menerima anggaran apa pun jika produksi pertaniannya tidak meningkat dari hasil produksi tahun lalu.

Pak Mentan beralasan bahwa jika terus menerus diberi anggaran tapi tak ada peningkatan produksi, tidak ada gunanya. Aturan ini dieterapkan sebagai pelecut daerah agar terus meningkatkan produksinya dan menjadi semacam hukuman untuk daerah yang tidak serius menggarap lahannya.

Ketiga, ada aturan yang menyatakan bahwa tidak boleh ada bantuan benih dan pupuk ke daerah yang telah menerima bantuan. Misalnya ada suatu daerah yang sudah menerima bantuan benih dan pupuk untuk padi di suatu daerah, daerah tersebut tidak akan mendapat bantuan lagi.

Kebijakan ini menuntut bupati dan kepala daerah untuk bisa memperoleh keuntungan dari daerah yang telah mendapat bantuan, sehingga daerah tersebut bisa membiayai lahannya sendiri. Kebijakan ini juga membuat bupati dan kepala daerah membuka lahan baru yang akhirnya produksi pun makin meningkat.

Memperbaiki Infrastruktur Pertanian dan Pasca Panen

alsintan (alat mesin pertanian) alsintan (alat mesin pertanian)

Selama 30 tahun, sekitar 52% jaringan irigasi di Indonesia ini rusak. Untuk mengantisipasi kekeringan dan antisipasi dampak Elnino, Kementerian Pertanian mendistribusikan 21.953 unit pompa air, melakukan rehabilitasi saluran irigasi tersier, membangun 2.000 sumur dangkal, membangun 100 unit embung dan dam-parit, dan bekerja sama dengan BNPB membuat hujan buatan, serta memberikan asuransi usaha tani untuk 1 juta hektar.

Belum lagi ancaman dari pihak-pihak yang mempunyai kepentingan tertentu yang ingin menguntungkan diri sendiri, yang selalu berusaha mengganggu kelancaran distribusi. Kementerian Pertanian kemudian bekerja sama dengan TNI-AD untuk melakukan pengawalan dan penjagaan terhadap jalur distribusi.

Para petani pun mengaku bahwa sejak kehadiran TNI-AD di sawah-sawah, membuat mereka merasa aman dan jalur distribusi pun menjadi lancar dan tertib.

Usaha lainnya adalah menambah jumlah tenaga penyuluh PNS dan melibatkan KTNA (Kontak Tani Nelayan Andalan) yang turun langsung ke masyarakat.

Rantai distribusi yang panjang, hingga mencapai 8 tingkat dipangkas menjadi hanya 3 tingkat, yaitu petani, Bulog, dan konsumen. Cara ini dinilai cukup efektif mengurangi tingginya harga karena tambahan biaya distribusi tak perlu.

Pengendalian Impor dan Menghemat Devisa Rp 52 Triliun

Kebijakan Mentan untuk mengendalikan impor dengan meningkatkan produksi pangan nasional berhasil menghemat devisa negara hingga Rp 52 Triliun. Selain menghemat devisa, kebijakan ini memberi dampak positif kepada petani, di mana harga jual petani meningkat.

Impor hanya menjadi rencana cadangan jika target produksi pangan nasional tidak mencukupi. Ini hanya langkah preventif yang hanya dilakukan jika diperlukan.

Namun Pak Mentan sendiri optimistis bahwa impor tidak diperlukan, karena kenyataannya produksi pangan Indonesia lebih dari cukup. Jika meminjam istilah Orde Baru, swasembada.

Pak Mentan mengaku sering mendapat serangan dari berbagai pihak untuk melakukan impor, yang menurutnya hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu.

Indonesia bahkan telah melakukan ekspor kacang hijau dari Gresik ke Filipina, ekspor bawang merah dari Bima, dan telur tetas ke Myanmar untuk meningkatkan devisa.

Bangkitnya Modernisasi Pertanian

mesin traktor tangan mesin traktor tangan

Penerapan teknologi di bidang pertanian sebenarnya bukan hal yang baru. Namun kebanyakan teknologi yang ditemukan oleh para peneliti tidak diterapkan dalam produksi pangan, dan hanya berakhir di laboratorium.

Kementerian Pertanian yang melihat potensi ini kemudian membeli berbagai teknologi ini untuk kemudian diterapkan dalam produksi pangan.

Pada tahun 2014, alsintan yang tersedia jumlahnya kurang dari 10 ribu unit. Mulai tahun 2015, Kementerian Pertanian meningkatkan ketersediaan alsintan mencapai 62.221 unit dan akan terus ditambah.

Alsintan yang disediakan oleh Kementerian Pertanian ini meliputi Rice Transplanter (mesin penanam padi), Combine Harvester (mesin panen kombinasi), Dryer (mesin pengering padi), Power Thresher (mesin penebah padi), Corn Sheller (mesin pengupas jagung), Rice Milling Unit (mesin penggiling beras), traktor, dan pompa air.

Penggunaan mesin-mesin ini mapi menghemat biaya produksi hingga 30% dan menurunkan susut panen hingga 10%. Mekanisasi ini juga mampu menghemat biaya olah tanah, biaya tanam, dan biaya panen.

Jika saat panen dengan cara manual dibutuhkan biaya Rp 7,3 juta/ha, maka saat menggunakan mesin biaya panen bisa ditekah hingga sebanyak Rp 2,2 juta/ha, sehingga biaya panen menjadi Rp 5,1 juta/ha.

Mengolah tanah pun selain menjadi lebih cepat, juga menjadi lebih hemat. Jika dengan cara manual dibutuhkan 20 orang per hari per hektar dan menelan biaya Rp 2,5 juta, dengan menggunakan traktor, seorang mampu menyelesaikan 3 hektar per hari dengan biaya Rp 1,8 juta per hektar.

Begitu juga saat menanam padi. Rice Transplanter mampu menghemat, dari 19 orang/ha menjadi 7 orang/ha. Biaya tanam pun menurun dari 1,72 juta/ha menjadi Rp 1,1 juta/ha.

Untuk menyiangi rumput dan gulma, dengan menggunakan mesin mampu menghemat tenaga dari 15 orang/ha menjadi hanya 2 orang/ha. Biayanya pun ikut turun, dari Rp 1,2 juta/ha menjadi Rp 510 ribu/ha.

Saat panen, Combine Harvester menghemat tenaga kerja dari 40 orang/ha menjadi 7,5 orang/ha. Biaya panen dari Rp 2,8 juta/ha bisa ditekan menjadi Rp 2,2 juta/ha. Selain itu, hasil yang tercecer bisa ditekan dari 10,2% menjadi hanya 2%.

Karena kebijakan-kebijakan mekanisasi dan penerapan teknologi pertanian ini, pada saat kunjungan kerja ke Kabupaten Tulangbawang, Lampung, Pak Menteri Pertanian dinobatkan sebagai Bapak Modernisasi Pertanian.

Penerapan teknologi dan modernisasi pertanian membuat pengolahan pertanian menjadi efisien, produktif, berdaya saing, berpendapatan tinggi, dan meningkatkan nilai tambah.

Meningkatnya Investasi di Bidang Pertanian

Tidak hanya meningkatkan produksi dari sisi petani, Kementerian Pertanian juga mendorong masuknya investasi ke sektor-sektor pertanian. Beberapa sektor yang menyerap investasi adalah tebu/gula, jagung, dan peternakan sapi.

Pda tahun 2015, ada 15 pabrik gula yang siap memperluas kebun tebu 200 ribu hektar dan 19 pabrik gula baru yang akan mengembangkan lahan 500 ribu hektar. Pembukaan pabrik gula baru ini bisa menyerap tenaga kerja untu 3,87 juta jiwa.

Ada 9 investor yang siap mengembangkan pembibitan dan penggemukan sapi dengan membuka lahan 1 juta hektar yang mampu menampung 650 ribu sapi indukan. Peternakan sapi ini mampu menyerap 50 ribu tenaga kerja dan siap menghasilkan 150 ribu ton hingga 2019.

Di sektor lahan jagung pakan ternak, ada 4 investor yang siap menambah 500 ribu hektar lahan dengan target nilai investasi Rp 4,1 triliun dan menyerap tenaga kerja 817 ribut jiwa. Target produksi 2019 sebesar 5 juta ton diharapkan mampu memenuhi kebutuhan.

Gelar Teknologi Pertanian Modern

Gelar Teknologi Pertanian Modern Gelar Teknologi Pertanian Modern

Demikian hasil obrolan kami dengan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, di saat kunjungan beliau di acara Gelar Teknologi Pertanian Modern di Desa Gardu Mukti, Kec. Tambakdahan, Kabupaten Subang, Jawa Barat.

Di acara tersebut, Kementerian Pertanian memberikan penghargaan kepada 10 bupati, 10 Kadis kabupaten, 10 Dandim, 10 penyuluh, dan 10 mahasiswa yang terlibat aktif meningkatkan produksi pertanian di wilayahnya masing-masing.

Selain penghargaan, pada acara tersebut juga dibagikan beberapa unit alsintan berupa traktor, Jarwo Transplanter, Combine Harvester, dan pompa air.

Saya melihat berbagai macam produk pertanian yang berhasil dikembangkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian dan masyarakat serta kelompok tani.

Saya baru tahu ada berbagai macam varietas beras, jagung, umbi, buah-buahan, bawang merah, cabe, hingga ayam petelur dan sapi dari pameran yang diadakan ditengah sawah yang telah panen.

Suasana terasa begitu cair dan penuh kegembiraan. Dugaan saya, panen petani di Desa Gardu Mukti berhasil meningkatkan taraf hidup mereka.

Galeri Foto

Muhammad Zamroni

pengembang web • penyelam scuba • pejalan pemula • peminat perangkat

Jakarta, Indonesia

2 komentar

Artikel ini ditayangkan pada 23 Oktober 2015, sekitar 2 tahun yang lalu. Informasi pada tulisan ini mungkin sudah tidak sesuai.

Eka Putra

12 November 2015 10:34

Mkasih banget utk share info yg mencerahkan, lnjutkan. Moga bisa lbh menginspirasi .

kang Rahmat

23 Desember 2015 16:25

Mantap sekali ulasannya mas. . . .memberikan pandangan yang luas.

Statistik

Telah dibaca 355 kali. Waktu baca rata-rata 14 menit. Ada 2 komentar.