Cengkeh Afo, Cengkeh Tertua di Dunia

13 Desember 2014 9 menit 2

Tak dipungkiri, Ternate, Tidore, dan Kepulauan Banda di Maluku harum namanya karena menjadi pusat rempah-rempah dunia pada dahulu kala. Dari cengkeh dan pala, penjelajah Eropa berdatangan menginjakkan kaki di tanah nusantara.

pohon cengkeh Afo generasi kedua

pohon cengkeh Afo generasi kedua

Saya bersama tim Jelajah Gemah Rempah Mahakarya Indonesia menelusuri kembali jejak-jejak rempah dan sejarah yang pernah membuat Maluku mahsyur. Ternate, Tidore, Moti, Makian, dan Bacan pernah menjadi ibukota cengkeh yang membuat kami datang untuk berziarah.

Kami meluncur ke lereng Gunung Gamalama, gunung setinggi 1.715 meter yang sekaligus merupakan Pulau Ternate. Gunung yang masih aktif ini menyimpan saksi sejarah rempah nusantara.

Sekitar 6 kilometer dari pusat Kota Ternate, terdapat pohon cengkeh tertua di dunia, cengkeh Afo yang usianya mencapai ratusan tahun. Selain cengkeh, tersebar pula pohon pala yang awalnya berasal dari Kepulauan Banda.

Kata “afo” memiliki arti “tua” dalam bahasa setempat. Ada pula versi lain yang mengatakan bahwa kata “afo” berasal dari nama keluarga Alfalat, yang berhasil menyelamatkan sebuah pohon cengkeh saat Belanda menghanguskan semua tanaman cengkeh untuk mengambil alih monopoli perdagangan cengkeh di Ternate.

Cengkeh Afo Generasi Kedua

Kami harus tracking dan melahap jalur setapak naik-turun yang licin dan terjal untuk menuju ke pohon cengkeh Afo. Pohon cengkeh dan pohon pala tumbuh mendominasi jalur menuju kawasan ini.

Setelah sekitar 15 menit berjalan mendaki, di sela nafas yang tersengal-sengal, kami sampai di pohon cengkeh Afo generasi kedua. Pohon ini merupakan pohon cengkeh yang usianya 200 tahun, lebih muda bila dibandingkan dengan usia pohon cengkeh Afo generasi pertama yang berusia 400 tahun lebih.

Pohon setinggi sekitar 10 meter yang sebagian besar sudah rontok daunnya ini rupanya masih bertahan. Pohon generasi pertamanya sudah mati, dan untuk mencapai ke sana perlu berjalan mendaki lagi sejauh sekitar 1 kilometer ke atas gunung.

Pohon cengkeh Afo generasi kedua terletak pada ketinggian sekitar 400 meter dari permukaan laut, masuk wilayah Desa Air Tege Tege, Kelurahan Tabahawa, Ternate Tengah. Pohon cengkeh Afo generasi pertama, terletak lebih tinggi, di ketinggian sekitar 600 meter.

Pemilik pohon-pohon cengkeh di perkebunan seluas kurang lebih 50 hektar ini adalah milik warga sekitar. Selain cengkeh, di kawasan ini tumbuh pula pohon pala, pinang, kayu manis, kenari, hingga durian.

buah cengkeh dan pohon cengkeh yang baru tumbuh

buah cengkeh dan pohon cengkeh yang baru tumbuh

Cengkeh biasanya dipanen pada bulan Juni hingga Oktober. Bagian yang diambil adalah bagian pangkal bunga yang mekar. Jika tidak dipanen, bunga cengkeh akan berkembang menjadi buah dan jatuh ke tanah untuk kemudian tumbuh menjadi pohon cengkeh baru.

Buah cengkeh bentuknya lonjong dengan panjang 2 cm berwarna hitam. Bila digigit daging buahnya akan langsung berasa cengkeh. Bentuk bijinya mirip dengan biji kurma.

Cengkeh masih menjadi komoditas utama di Ternate, meski sudah tidak menjadi mata pencaharian utama warga. Pemilik pohon cengkeh biasanya menyewa jasa orang Sulawesi Utara untuk memanen cengkeh.

Saat musim panen tiba, pekerja memasang rangka-rangka dari bambu sebagai pijakan untuk memetik bunga-bunga cengkeh. Satu pohon bisa menghasilkan hingga 100 kilogram cengkeh kering. Harga cengkeh rata-rata Rp 150.000 per kilogram. Untuk menghasilkan cengkeh kualitas bagus, pohon harus berusia minimal 30 tahun.

Bayangkan keuntungan yang bisa dipetik dari pohon cengkeh. Dalam sekali panen, pemilik pohon mendapat untung rata-rata Rp 15 juta per pohon. Apalagi cengkeh yang tumbuh di kebun ini tidak perlu perawatan khusus.

Artefak Sejarah Cengkeh

kebun cengkeh

kebun cengkeh di Desa Air Tege Tege

Sejarawan JJ Rizal berpendapat bahwa keberadaan pohon cengkeh Afo ini adalah artefak dari era kejatuhan masa jaya cengkeh.

Ini sejalan dengan cerita Bongky Motau, perwakilan dari Ternate Heritage Society yang menemani kami. Bongky mengatakan jika dulu warga pada hari Minggu piknik ke perkebunan cengkeh, kini lebih memilih pergi ke car-free day. Ini menunjukkan bahwa era cengkeh memang sudah ditinggalkan orang.

Masih menurut Bongky, pemerintah Kota Ternate sendiri sepertinya kurang peduli dengan keberadaan cengkeh Afo ini. Jangankan mengelola kawasan, plang penunjuk jalan pun tak ada. Pohon cengkeh Afo sendiri juga seperti dibiarkan mati begitu saja.

Itulah sebabnya, Bongky dan kawan-kawan dari Komunitas Ternate Heritage Society berusaha untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat dan pemerintah menjaga cagar budaya dan sejarah di Ternate.

JJ Rizal mengatakan, memang tidak ada catatan sejarah khusus yang menceritakan asal muasal pohon cengkeh. Diperkirakan pohon cengkeh sudah ada jauh sebelum pohon cengkeh Afo generasi pertama. Ini bisa dilihat dari pedagang Cina dan Arab yang telah memperdagangkan komoditas ini hingga ke Eropa.

Dalam bahasa lokal, cengkeh disebut dengan gau medi alias “pohon pedas”. Menurut teori lain, cengkeh awalnya tidak dikenal oleh masyarakat Ternate, namun diperkenalkan oleh orang-orang Cina. Kata “cengkeh” berasal dari bahasa Cina, “zeng qi a“.

Ini sejalan dengan kisah Kaisar Han pada abad keempat yang memerintahkan semua tamu kerajaan untuk mengunyah cengkeh sebelum bertamu agar mulutnya wangi. Cengkeh saat itu adalah simbol kebangsawanan dan prestis, selain fungsi biologisnya sebagai pewangi, penyedap, dan pengawet.

Catatan sejarah lain, pada tahun 1500 SM pada era Babilonia, ditemukan sebuah bejana berisi cengkeh dalam sebuah rumah. Ini menunjukkan betapa tuanya jalur perdagangan cengkeh.

Buah Pala

biji buah pala terbungkus fuli

biji buah pala terbungkus fuli

Saya gemas melihat buah pala bergelantungan di pohon yang berjajar sepanjang jalan menanjak menuju lokasi cengkeh Afo. Saya penasaran, bagaimana rasa buah yang berukuran sedikit lebih besar dari bola ping-pong ini.

Selain cengkeh, pala juga menjadi komoditas rempah utama yang menarik bangsa Eropa datang ke nusantara. Tanaman endemik Kepulauan Banda ini kini bisa ditemui juga di Ternate dan Tidore.

Saya yang sejak tadi penasaran langsung memetik sebuah pala dari pohon yang sudah berwarna kuning seperti buah pir. Pala yang saya petik ini belum begitu matang. Getah encer bening tapi tak menimbulkan gatal langsung mengucur deras dari batang yang patah saya petik.

Saya mencoba menggigit seperti menggigit apel, tapi ternyata kulit buahnya begitu keras. Gigi saya sedikit bisa menembus kulit pala. Rasa pedas semriwing ala pala plus sedikit pahit langsung menyeruak di mulut.

Buah pala biasanya tidak dimakan langsung, namun diolah lagi menjadi manisan, sirup, hingga selai. Rasanya yang pahit berasal dari getah membuat daging pala harus dicuci bersih dulu dengan air.

Saya mencoba membuka buah pala tersebut dengan memukul-mukulkan ke batu yang tajam mengikuti alur buah karena tidak membawa pisau. Setelah terbuka, saya bisa melihat biji pala yang terbungkus fuli atau kulit ari berwarna merah. Biji pala dan fuli ini nanti yang akan dikeringkan lalu dijual dengan mahal.

Biji pala kering bisa dijual seharga sekitar Rp 100.000 per kilogram, sedangkan fuli alias kulit ari biji yang sering juga disebut dengan “bunga pala” dihargai hingga Rp 200.000 per kilogram. Harga buah pala kering lebih murah, sekitar Rp 50.000 per kilogram.

Galeri Foto

Penulis

pengembang web. penyelam. pejalan pemula. pengguna instagram. pegawai alias pengguna gawai. suka ngetwit.

Bagikan

2 Komentar

  1. Ambil yg banyaj, jual! :)))
    #yakali

    15 Desember 2014 09:15 GMT7
  2. Aaak ngiri sama jalan2nya Zaaam. Nenekku tuh dari muda selalu naro cengkeh di dompetnya. Kadang2 diemut buat seger2 di mulut aja katanya. Permen mint? No. cengkeh? Yes. Hahahaha.. Btw cara bikin galeri foto gitu gemana sih zammm.. Ajariiin.. 😀

    18 Desember 2014 00:33 GMT7

    Tinggalkan Balasan