Hutan Mangrove di Taman Wisata Alam Angke Kapuk

Artikel ini ditayangkan pada 15 September 2014, sekitar 3 tahun yang lalu. Informasi pada tulisan ini mungkin sudah tidak sesuai.

Mungkin tak banyak yang mengetahui bahwa di Jakarta, ada kawasan mangrove yang selain berfungsi untuk melindungi dari abrasi dan dampak lingkungan, juga bisa menjadi tujuan wisata. Jika Suaka Margasatwa Muara Angke lebih dikhususkan untuk kawasan konservasi, Taman Wisata Alam Angke Kapuk lebih ditujukan menjadi lokasi wisata lingkungan (ecotourism).

Bersama pacar dan Ollie, kami mengunjungi Taman Wisata Alam Angke Kapuk, Kapuk Muara, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara, pada hari Kamis, 11 September 2014. Kami sengaja memilih hari kerja karena menghindari (dugaan) ramainya kawasan tersebut di akhir pekan.

Menuju Taman Wisata Alam Angke Kapuk

Sekolah Buddha Tzu Chi Sekolah Buddha Tzu Chi

Kami naik BKTB (Bus Kota Terintegrasi Busway) jurusan Monas-PIK (Pantai Indah Kapuk). BKTB merupakan salah satu layanan transportasi yang diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo pada 5 Februari 2014.

Meski bernama bus kota, BKTB yang terdiri atas 18 armada ini bentuk dan warnanya sama dengan bus Transjakarta, yaitu kuning-merah. Penumpang naik melalui halte Transjakarta, dan jika tidak ada halte Transjakarta, naik-turun di lokasi dengan tanda tertentu.

BKTB Monas-PIK yang kami naiki menggunakan jalur Transjakarta dan bersinggungan dengan 2 koridor Transjakarta, yaitu Blok M-Kota (Koridor 1) dan Pluit-Tanjung Priok (Koridor 12).

Ongkosnya, jika turun di PIK akan diminta tambahan Rp 3.500 dan jika turun sebelum PIK di luar halte Transjakarta dikenai ongkos tambahan Rp 2.500. Jika naik dari PIK di luar halte Transjakarta, dikenai ongkos Rp 6.000.

Kami naik Transjakarta dari Blok M, kemudian turun di halte Monas untuk transit lalu naik BKTB. Kami menunggu BKTB cukup lama, sekitar 30 menit. Selepas halte Bandengan Selatan, kami dimintai ongkos dan diberi karcis BKTB bertuliskan “Unit Pengelola Transjakarta Busway”.

Perjalanan dari Monas ke PIK kami tempuh dalam waktu 1 jam. Jalanan saat itu tidak begitu macet. Kami turun di depan Sekolah Buddha Tzu Chi dan berjalan ke belakang menuju Taman Wisata Alam Angke Kapuk. Dari depan Sekolah Buddha Tzu Chi ke pintu gerbang Taman Wisata Alam Angke Kapuk, kami berjalan sekitar 600 meter.

Selain menggunakan BKTB, menuju ke Taman Wisata Alam Angke Kapuk, jika naik kendaraan pribadi dari arah tol Bandara Soekarno-Hatta, keluar di pintu Kapuk Muara, kemudian mengarah ke Waterboom PIK. Jika dari Pluit, keluar di Muara Karang masuk ke arah Rumah Sakit PIK, Waterboom PIK. Jika dari JORR Lingkar Barat, keluar di Pantai Indah Kapuk, belok kiri lewat Garden House.

Untuk lokasinya, silakan lihat di peta Google (koordinat: -6.105361, 106.736000).

Taman Wisata Alam Angke Kapuk

bibit-bibit mangrove bibit-bibit mangrove

Kami disambut dengan pintu gerbang Taman Wisata Angke Kapuk. Penjaga pintu berseragam hijau dengan muka tanpa senyum melayani kami. Kami membeli tiket masuk seharga Rp 25.000 per orang. Tiket ini harus dijaga jangan sampai hilang karena nanti di dalam akan diperiksa lagi.

Tak jauh dari gerbang masuk, ada masjid Al Hikmah yang terbuat dari kayu dan terletak di atas danau. Kamar mandi dan tempat wudlu di masjid ini bagus dan bersih.

Dari pintu gerbang, kami berjalan ke dalam sekitar 200 meter dan bertemu pos pemeriksaan. Selain diminta menunjukkan tiket, barang bawaan kami diperiksa, karena ada larangan memotret menggunakan kamera, sedangkan memotret menggunakan ponsel diperbolehkan. Jika tetap ingin memotret menggunakan kamera, akan dikenai tarif Rp 1.000.000. Di pos ini juga terdapat penitipan barang, karena makanan dari luar juga tidak diperbolehkan.

Taman Wisata Alam Angke Kapuk memiliki luas 99,82 HA. Kawasan ini didominasi lahan basah (danau) dengan vegetasi utama mangrove. Kawasan ini dulunya tambak dan telah direhabilitasi tanaman mangrove seluas 40%.

Mangrove yang ditanam di Taman Wisata Alam Angke Kapuk antara lain bakau besar (Rhizophora mucronata Lam.), bakau merah/slindur (Rhizophora stylosa), tancang (Bruguiera gymnorrhiza), serta api-api/sia-sia (Avicennia alba). Jika dilihat dari spesiesnya, ada lebih dari sepuluh spesies.

area perkemahan untuk api unggun area perkemahan untuk api unggun

Saat kami masuk, kami melihat pot-pot plastik yang ditanami beberapa bibit mangrove. Terdapat pula kandang kelinci dan kerangkeng berisi 2 ekor monyet. Jalanan utama dilapisi paving-block, di samping kanan-kiri terdapat banyak tempat sampah dan bangku kayu.

Kawasan wisata yang dikelola oleh swasta, yaitu Jakarta Mangrove Resort, ini juga menyediakan paket penginapan dan rekreasi keluarga. Terdapat pondok terbuat dari kayu yang berbentuk prisma seperti tenda berjejer. Pondok tenda mungil ini muat untuk 2 orang dengan lokasi kamar mandi di luar. Untuk keluarga, ada pondok yang lebih besar dengan berbagai fasilitas. Yang unik, beberapa pondok ini ada yang dibangun di atas danau.

Selain pondok, terdapat lapangan yang bisa digunakan untuk api unggun. Di tengah kawasan, berdiri menjulang 2 menara yang digunakan untuk aktivitas bird watching. Terdapat pula jembatan gantung yang melintasi danau. Jika ingin berkeliling danau, tersedia juga perahu-perahu, mulai dari perahu motor, perahu kayu, hingga kano yang bisa disewa. Saat kami datang, ada sepasang calon pengantin yang mengadakan sesi pemotretan.

Taman Wisata Alam Angke Kapuk juga menyediakan paket wisata menanam mangrove. Paketnya adalah per orang dikenai biaya Rp 150.000. Jika ingin menambahkan papan nama, biayanya Rp 500.000. Saya melihat beberapa papan nama perusahaan, instansi, hingga sekolah terpampang di area penanaman mangrove.

Saya melihat seekor biawak tengah berjemur di jembatan kayu. Saat saya mendekat ia buru-buru kabur dan masuk ke dalam air dan berenang dengan kayuhan ekornya masuk ke sela-sela akar mangrove.

penginapan di atas air penginapan di atas air

Karena lapar, kami menuju kantin untuk makan siang. Namun sayang, menu yang ditawarkan hanyalah Indomie rasa Ayam Bawang. Harganya bisa dibilang cukup mahal, dengan tambahan Teh Botol, saya harus merogoh kocek Rp 15.000 untuk makan siang saya. Ya, lumayan lah daripada kelaparan?

Sangat disayangkan, karena pelayanan di kantin ini juga kurang ramah. Si penjaga kantin cuek-cuek saja dan seolah-olah tidak butuh konsumen. Dengan menu seadanya, rasanya larangan membawa makanan dari luar menjadi kurang bijaksana.

Setelah makan siang, kami melanjutkan perjalanan. Mira, pacar saya memilih untuk duduk-duduk dan menggambar ilustrasi suasana. Saya dan Ollie berjalan menuju jembatan besar untuk eksplorasi.

Jembatan besar terbuat dari kayu mengelilingi danau. Jika berjalan terus, ujung jembatan akan tembus ke jalan yang belum selesai dibangun dan kembali ke pos pemeriksaan. Jika berjalan keliling, jarak yang ditempuh bisa 1,1 Km. Panjang jembatan sendiri sekitar 550 meter.

Dari jembatan besar, sepanjang jalan terdapat banyak tempat sampah, namun beberapa sampah plastik nampak terlihat di beberapa tempat. Di tengah danau, pemandangan pondok kemah di atas air begitu cantik. Lokasi ini menjadi favorit untuk berfoto-foto. Saya melihat beberapa ekor burung kuntul berwarna putih terbang di kejauhan. Beberapa pasangan dimabuk asmara terlihat berjalan bergandengan tangan atau sekadar duduk-duduk di bangku di pinggir.

Setelah selesai berkeliling jembatan besar dan Mira selesai menggambar, kami meneruskan penjelajahan. Kami menuju ke ujung, menuju ke arah pantai. Kami melewati lokasi tempat pembuatan pupuk dan pembibitan saat berjalan menuju ke pantai. Berbeda dengan jembatan besar, jalan menuju pantai relatif lebih kotor. Sampah berserak di mana-mana mengganggu pemandangan, meski terdapat tempat sampah.

Rupanya, pantai yang dimaksud hanyalah ujung ke arah laut. Sesampai di ujung jalan, saya melihat sebuah jembatan tengah dibangun. Sepertinya akan digunakan untuk menyeberang ke pulau reklamasi di seberang yang akan digunakan untuk pemukiman elit.

Kesan dan Masukan

Secara lokasi, Taman Wisata Alam Angke Kapuk sangat bagus. Adanya pondokan dan lokasi kemah bisa menjadi alternatif liburan keluarga sekaligus pengenalan alam. Namun sayang, pelayanannya kurang ramah. Pengelola sepertinya kurang bisa melihat kebutuhan pelanggan, terutama dalam 3S, senyum, salam, sapa.

Makanan di kantin juga sepertinya kurang siap. Larangan membawa makanan dari luar rasanya kurang bijaksana jika di dalam kawasan sendiri tidak menyediakan makanan yang layak.

Larangan membawa kamera ke dalam kawasan juga larangan yang aneh menurut saya. Padahal jika pengunjung diperbolehkan memotret (kecuali untuk kebutuhan komersial semacam foto pra pernikahan atau syuting), maka Taman Wisata Alam Angke Kapuk akan mendapat promosi gratis. Apalagi di era media sosial sekarang ini, orang tak segan-segan membagikan pengalaman dan foto agar orang lain bisa datang. Meski ini bisa diatasi dengan kamera ponsel yang kualitasnya tak kalah dengan kamera biasa, rasanya larangan membawa kamera tetaplah aneh.

Informasi Harga

Tiket Masuk

  • Tiket masuk turis lokal: Rp 25.000/orang
  • Tiket masuk turis asing: Rp 125.000/orang
  • Parkir sepeda motor: Rp 5.000/unit
  • Parkir mobil: Rp 10.000/unit
  • Parkir bus: Rp 50.000/unit
  • Kamera selain kamera ponsel: Rp 1.000.000 (maksimum 7 orang)

Paket Wisata dan Sewa Perahu

  • Paket menanam mangrove: Rp 150.000/orang
  • Paket menanam mangrove dengan papan nama: Rp 500.000/orang
  • Sewa perahu: Rp 250.000/6 orang/perahu
  • Sewa perahu: Rp 350.000/8 orang/perahu
  • Sewa kano/perahu dayung: Rp 100.000/45 menit

Penginapan

  • Rumah tenda (camping ground) di atas tanah: Rp 300.000/malam, kamar mandi luar, max 2 orang
  • Rumah tenda di atas air tanpa AC: Rp 450.000/malam, kamar mandi luar, max 2 orang
  • Rumah tenda di atas air dengan AC: Rp 600.000/malam, kamar mandi luar, max 2 orang
  • Villa bervariasi, mulai dari Rp 1.300.000 hingga Rp 6.000.000 per malam

Informasi

Cara Mencapai Lokasi

  • Peta: Google Maps
  • Menggunakan BKTB (Bus Kota Terintegrasi Busway) Transjakarta Monas-PIK, turun di Sekolah Tzu Chi
  • Naik Transjakarta arah Pluit, turun di halte Penjaringan, transit arah Pantai Indah Kapuk dengan BKTB, turun di Sekolah Tzu Chi
  • Dari arah tol Bandara Soekarno-Hatta, keluar tol arah Kapuk Muara, Pantai Indah Kapuk arah Waterboom, Golf & Garden House, Sekolah Tzu Chi
  • Dari tol Pluit keluar Muara Karang masuk Pantai Indah Kapuk, Rumah Sakit PIK, Waterboom Golf & Garden House, Sekolah Tzu Chi
  • Dari tol JORR Lingkar Barat keluar Pantai Indah Kapuk belok kiri lewat Golf & Garden House, Sekolah Tzu Chi

Muhammad Zamroni

pengembang web • penyelam scuba • pejalan pemula • peminat perangkat

Jakarta, Indonesia

47 komentar

Artikel ini ditayangkan pada 15 September 2014, sekitar 3 tahun yang lalu. Informasi pada tulisan ini mungkin sudah tidak sesuai.

GoenRock®

15 September 2014 10:15

Zam, maksudnya ini gimana? "Kamera selain kamera ponsel: Rp 1.000.000 (maksimum 7 orang)"

Maksudnya cukup bayar 1 juta untuk maksimum 7 kamera?

Tips Wisata Murah

15 September 2014 10:16

ada sarana penginapan di sana tidak mas ?

- (@selebvi)

15 September 2014 14:10

Mas Zam, seperti biasa, tulisan sampeyan enak dibaca dan rapi. Kebetulan aku lagi cari-cari info angkutan umum menuju ke sana. Makasih banget, Mas! :D

diditjogja

16 September 2014 07:52

Iki sing awakke dewe wis tau mrono kae dudu to? Kok ketoke dudu..

Daryono

18 September 2014 03:05

buka dari jam berapa sampai jam berapa, mas?

Lina

31 Oktober 2014 14:05

masa sih bawa makanan di larang, emang ada warung makan? terus tas tas di periksa gak ya? kan aku bawa anak2 masa gk boleh bawa makanan???

yusmi

31 Oktober 2014 15:15

kalo dari grogol naik apa ya mas ?

rirapusi

11 November 2014 16:59

mas kalo kano atau perahu dayung muat untuk berapa orang?

Terranina

14 November 2014 12:42

pantes namanya kurang terdengar, sudah pelayanan ga ramah, bawa kamera aja harus bayar mahal. 2 hal mendasar yang dibutuhkan wisatawan.. keramahan dan ambil foto yang bagus..

aldilanovika

24 November 2014 18:07

mas kalo naik motor itu susah ga? darimana si mas?

hanafiftina

7 Desember 2014 18:11

mas numpang tanya villa yg harga 2 jtaan ada gak ?

Lilyan

24 Desember 2014 09:26

BKTB atau APTB yah ???

bellina

31 Desember 2014 08:49

iya bener kurang ramah bikin suasana jadi gk enak sepiiiii bangeeet rada angker tapi tetep keren sih

Klaras Aroem

1 Januari 2015 07:45

terima kasih banyak mas...

Adnan Sakti

1 Januari 2015 23:24

Mas kalo malem penerangannya cukup ngga? (seram atau tidak?)

Indra Prasetya

8 Januari 2015 12:20

Kira kira sepeda bisa dibawa masuk dan kena biaya lagi gak ya mas?makasih

irwan

19 Januari 2015 11:44

Tempat yg bagus sayang pengelolanya banyak aturan bikin wisatawan jadi ragu dan pikir 2 kali untuk ke sana khususnya saya pribadi punya anak pasti bawa makanan

desi

21 Januari 2015 13:53

Alamat lengkap nya ada yang tau gak?

wina

21 Januari 2015 17:17

Mas kalau naik motor lewat mana aja yah mas

indah tari

28 Januari 2015 11:27

terimakasih infonya mas berguna banget.

Dim

29 Januari 2015 16:11

Untuk menuju kesana bisa yang naik angkot dari cengkareng bisa naek angkot m13 arah PIK, turun di jembatan baru pik,

Kemudian naik kembali angkot u11 menuju Tzu chi international school.

untuk yang naik kendaraan pribadi bisa melalui rute yang sama atau untuk rute yang singkat, bisa melalui elang laut

Lil

6 Februari 2015 09:23

Mas Zam..

Ga sengaja nemu pas googling cara ke Mangroove..aih kamu ngeblog juga toh. lol

nhoeratno@gmail.com

8 Februari 2015 12:08

Saya mw kesana saya dari waterbom ke mn lagi .. aku naek motor ..

Asya

9 Maret 2015 08:36

Saya maklumin larangan bawa makanan dari luar dan saya termasuk PRO utk larangan ini. Krn masyarakat kita masih terlalu banyak yang kurang menyadari dan minim disiplin mengenai SAMPAH. Dimana tmp Wisata itu mulai padat dan ramai.. hampir PASTI Sampahnya juga ramai. Jd selama mslh disiplin dlm membuang sampah pd tmpnya belum dibiasakan saya lbh setuju seperti ini. TAPI klo tidak dibarengi layanan di dalam yg ramah dan memuaskan...ya susah, krn hrsnya saling melengkapi. Semoga pengelola membaca dan memperbaiki layanan didalamnya agar turis tidak ragu utk berkunjung. Hiburan sederhana di lingkungan perkotaan tapi juga mendidik :)

Vestianty

23 Maret 2015 18:27

Wah, suka banget nih sama review-nya! Lengkap banget dan penyampaiannya juga enak banget! Teruskan! :D

Casandra

3 April 2015 13:07

Itu APTB atau BKTP? Soalnya saya suka melihatnya bus APTB mas. Terimakasi

Sukma Kamilia

6 Mei 2015 09:01

Maksudnya apasih masih gangerti yang 'Kamera selain kamera ponsel: Rp 1.000.000 (maksimum 7 orang)'??

chandra

8 Mei 2015 00:13

Tempatnya enak juga sih, adem ayem, Cocok untuk prewedding, foto selfie,

chandra

8 Mei 2015 00:22

tempatnya enak juga sih, nyaman,adem ayem, cocok untuk prewedding,foto-foto selfie,dan yang paling mengesankan yaitu bisa ngilangin stress , versi saya.. kalau versi para pembaca kurang tau ya, silahkan dicoba dan rasakan sendiri aja gan, pokoe muantap

Raj Zanuar

25 Juni 2015 11:49

Mantap juga nih lumayan, gausah ke Bogor berarti ya, Ini tp kan info stahun yg lalu, sekarang masih persis ga ya ? Btw, thanks ya min share infonya.. jalan2 juga ksni, ada info lengkap seputar wisata >> http://goo.gl/Ly8G2i

Ria

13 Agustus 2015 15:08

makjleb, bawa kamera mesti bayar Rp 1jt?

willi

25 September 2015 16:15

wah baru tau sy klo ada taman wisata alam di jakut.. tapi kyknya ga nyaman ya krn. hawa gerah jakarta. heheh
foto2nya bagus2 kualitasnya, bahasanya formal & lengkap & jelas. :) good writer

Mita

9 Oktober 2015 10:52

Mantap gan artikelnya.. tempat wisata indonesia

lisa

16 Oktober 2015 09:37

kalau dari malaysia, tic pricenya Rp150k juga? masuk kedalam dicheck id card ngak?

ryna_utina

18 November 2015 08:42

mas, mengapa ada larangan membawa kamera digital, adakah lokasi yg dianggap Not for Sale di TWA tsb, mhn info, nuwun.

yanuar

3 Desember 2015 15:48

Mas harga tiket masuk nya yang lokal masih 25 ribu atau sudah naik?

subur

5 Januari 2016 11:37

Awal tahun 2016 , di area taman wisata ini, warna air danau mirip kopi encer, tak jauh seperti sungai dalam kota. (maklum karena polusi teluk)
Berjalan kaki ke arah LAUT, adalah pilihan yang bisa berbuntut penyesalan, karena sepanjang dermaga kayu melihat ke kiri dan ke kanan yang nampak tumpukan sampah yang sangat banyak, kemungkinan terdampar krn laut pasang lalu surut. Sampai di ujung , pengunjung semoga tidak berharap melihat hamparan pasir pantai seperti di Ancol. Laut yang di maksud sampai saat ini adalah tanah pasir urukan ke laut (reklamasi).
Tempat ini kurang cocok membawa balita berjalan, kurang nyaman karena jalanan dari batang pohon cukup berbahaya bagi anak kecil, kadang ada bagian yang rusak . Jalanan con block pun tak terawat, ada beberapa bagian yang copot, sehingga membuat teman saya yang dewasa pun terkilir.
BTW, Untuk foto2, Hasilnya cukup menghibur karena bidikan di latar pohon bakau dan dermaga kayu memberi kesan yang alamiah dan menyenangkan

iwan fals

24 Februari 2016 16:01

bawa kamera tidak boleh, padahal niat dari rumah mau ambil gambar -_-

gunung guntur

24 Februari 2016 16:09

aku pasti akan jawab itu kereennnnn.

zulv

1 April 2016 15:16

masa gak boleh bawa kamera lain sih ? memeng kenapa ?

tempat wisata

12 April 2016 21:37

Ternyata di Jakarta ada tempat wisata mangrove yang enak untuk ditelusuri yah..... Coba ah kesini insyaallah nanti.

tempat wisata jepang

12 April 2016 21:40

Suka nih dengan wisata alam seperti itu.... Mangrove ternyata bisa juga yah jadi tempat wisata favorit, terlebih di jakarta.

dini

25 April 2016 12:55

kalau dr arah balaraja mau kesana jalan lewat mana ya

afriel

14 Mei 2016 09:05

Sekarang ini banyak yang sudah tidak nyaman saat berkunjung ke kawasan Taman Wisata Alam Mangrove di kawasan Kapuk, karena sebagian besar fasilitas yang ada disana sudah tidak terawat dengan baik, seperti akses jembatan menuju ke arah pantai yang tidak layak untuk di pijaki oleh perjalan kaki, dan sangat berbahaya jika untuk di jadikan sebuah akses jalan bagi orang-orang yang berkunjung kesana.

mamat

16 Juli 2016 11:46

kalo bawa kamera sendiri gaboleh ya mas?

Desi

17 Maret 2017 00:19

Hi malam, saya mau tanya jika saya ajak teman saya kebetulan dia dari negara lain, disini tertera harga turis 250.000 idr apakah ada promo kartu pelajar bagi mereka?? karena sebelumnya mereka pernah memakai kartu pelajarnya di tempat wisata candi boroudur yogyakarta dan itu berlaku untuk potongan harga tiket masuk bagi para turis mahasiswa. Jadi apakah di tempat ini ada promo seperti itu juga ? terimakasih :)

wisata bandung

8 Juni 2017 23:47

sangat di sayangkan untuk berkunjung dilrang membawa kamera. tidak seperti semua wisata yang ada di bandung.

Statistik

Telah dibaca 239.358 kali. Waktu baca rata-rata 13 menit. Ada 47 komentar.