Tanggal 8-9 Januari 2013 lalu, saya bepergian ke Padang karena dapat tiket promo dari Tiger Airways (dioperasikan oleh Mandala Air) yang baru buka rute Jakarta-Padang mulai Desember 2012. Saya hanya membayar Rp 60.200 untuk tiket PP CGK-PDG-CGK!

Bandara Minangkabau

Bandara Internasional Minangkabau

Awalnya sih gak niat-niat amat hunting tiket karena saya sudah sering di-PHP-in ama maskapai. Tiket dan tanggal udah dapat, pas mau bayar, website error.

Eh kok ndilalah dapat tiket seharga Rp 100 sekali jalan. Setelah pesan, ternyata ada tambahan biaya-biaya sehingga jadi Rp 30.100 ongkos sekali jalan. Ya sudah, hajar sekalian!

Awalnya saya mau berangkat bareng Diah, tapi dia sedang menghabiskan hartanya dengan get lost ke Maluku selama sebulan, jadi akhirnya saya berangkat sendiri.

Saya ndak punya rencana mau ke mana-ke mana. Nggak ambisius harus ke sini ke situ. Namun saya tetep mencoba cari informasi tempat-tempat yang ciamik yang bisa saya datangi.

Melalui situs CouchSurfing, saya mencoba mencari kontak orang lokal yang bisa saya tanya-tanya. Di situs pertemanan pejalan ini, sebenernya bisa juga minta untuk ditampung dan menginap di rumah orang sana, tapi saya tidak ingin merepotkan, maka saya memutuskan nanti di sana cari penginapan saja.

Bukittinggi

Taman Jam Gadang

Taman Jam Gadang

Banyak yang menyarankan saya untuk mengunjungi Bukittinggi kalo berkunjung ke Sumatera Barat.

Jarak Padang-Bukittinggi sendiri bisa ditempuh menggunakan mobil selam kurang lebih 2 jam perjalanan.

Di pesawat, saya bertemu dengan Steven, seorang pejalan yang rupanya punya tujuan yang sama dengan saya. Kami pun akhirnya memutuskan untuk jalan bareng.

Turun dari pesawat, kami cari sarapan terlebih dahulu di restoran di bandara sambil mencari informasi travel yang akan mengantar kami ke Bukittinggi.

Trik ini biasanya saya lakukan untuk mencari informasi akurat kalo sedang berada di daerah baru. Namun, di sini trik ini tidak manjur.

Ketika menanyakan lokasi di mana kami bisa naik travel dari bandara, si ibu langsung mengontak sopir travel langganannya dan kami kena harga yang mahal!

Jembatan Limpapeh

Jembatan Limpapeh

Belakangan saya ketahui kalo ongkos travel dari Bandara Minangkabau ke Bukittinggi adalah Rp 30.000 per orang. Saya kena harga Rp 50.000 per orang. Travel di sini bentuknya mobil keluarga (Toyota Avanza, Daihatsu Xenia, atau Suzuki APV) dan tidak menggunakan plat kuning.

Tips, begitu keluar dari terminal kedatangan, pilih saja salah satu calo travel yang biasanya menawarkan jasanya. Travel ini akan berangkat kalo mobil sudah penuh, jadi kalo belom ada penumpang yang lain, siap-siap menunggu.

Singkat cerita, kami pun tiba di Bukittinggi. Kami turun di depan kantor DPRD Bukittinggi yang lokasinya tak jauh dari Jam Gadang. Begitu turun dari travel, hawa dingin khas pegunungan langsung menusuk kulit.

Kami lalu berjalan menuju ke Kampung Cina, yang lokasinya tak jauh dari Jam Gadang untuk mencari penginapan. Di Kampung Cina bisa didapat berbagai penginapan, mulai dari hostel hingga hotel.

Kami menginap di Hello Guesthouse yang cukup terkenal di kalangan backpacker. Kami ditawari kamar dorm (berbagi dengan orang lain) yang berisi 5 tempat tidur. Untungnya saat itu tidak ada yang menginap di dorm, sehingga seolah-olah satu kamar cuma dipakai kami berdua.

Benteng Fort de Kock

Benteng Fort de Kock

Pas datang, saya sempat mengira pemiliknya bukan orang Indonesia. Seorang mbak-mbak berkulit putih dan bermata sipit menunggu di meja resepsionis. Saya kira dia orang Korea.

Dia menyapa, lalu setelah membalas sapaan, saya bertanya apakah ada kamar dengan bahasa Inggris. Saat dia menawarkan dorm, saya bertanya pada Steven, mau ambil atau tidak.

Eh, setelah tau saya pake bahasa Indonesia, si mbak resepsionis langsung bertanya, “loh, orang Indonesia?”.

Laaah.. Ngapain tadi kami berkomunikasi pake bahasa Inggris?

Kami menginap dengan ongkos untuk dorm Rp 60.000 per orang. Terdapat sebuah kamar mandi bersama yang memiliki air panas dengan pemanas gas. Wi-fi gratis pun tersedia di sini, meski kualitas koneksinya kurang bagus kalo di kamar.

Kampung Cina, Bukittinggi

Jl. Ahmad Yani, Kampung Cina, dilihat dari Jembatan Limpapeh

Selama di Bukittinggi, kami ditemani dan dipandu oleh Jho Foo, salah satu anak Couchsurfing di Bukittinggi. Dia mengajak kami berkeliling benteng Fort De Kock, kebun binatang, pasar atas, hingga menjelajah ke Ngarai Sianok yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki.

Benteng Fort De Kock merupakan benteng peninggalan Belanda yang cuma tersisa bangunan kecil setinggi 20 meter di atas bukit. Kawasan benteng kini telah menjadi taman kota yang terintegrasi dengan kebun binatang.

Menuju kebun binatang, kami melintasi Jembatan Limpapeh sepanjang 90 meter yang melintasi Jalan Ahmad Yani, jalan protokol di Bukittinggi.

Kebun binatang ini dibangun oleh Belanda pada tahun 1900-an dengan nama Stormpark (taman bunga). Tanggal 3 Juli 1929, kebun binatang ini dinamakan Fort De Kocksche Dieren Park atau Kebun Binatang Bukittinggi oleh Dr. J. Hock.

Rumah adat Baanjuang kemudian dibangun pada tahun 1935 yang kini berfungsi sebagai museum. Tahun 1995, nama kebun binatang diubah menjadi Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan.

Ngarai Sianok dari pos pengamatan Taman Panorama

Ngarai Sianok dari pos pengamatan Taman Panorama

Kami kemudian menuju ke Ngarai Sianok. Dengan berjalan kaki kami turun ke lembah yang terkenal dengan tebing-tebingnya ini. Tujuan lainnya adalah makan gulai itiak lado mudo yang terkenal, yang cuma ada di Ngarai Sianok.

Sial bagi kami, pas nyampai, warung gulai itiak lado mudo-nya tutup! Kami pun akhirnya makan lontong pical, makanan khas Bukittinggi lainnya, untuk mengganjal perut dan mengobati kekecewaan.

Jho mengajak kami menyusuri Ngarai Sianok. Pertama mengikuti aliran sungai, lalu tracking menanjak hingga sampai di sebuah jembatan gantung. Menyusuri jalan setapak, kami lalu menuju ke Taman Panorama untuk melihat Ngarai Sianok dari ketinggian.

Di seputar Ngarai Sianok banyak ditemui monyet ekor panjang. Monyet-monyet ini cenderung pemalu dan tidak agresif. Mereka mendekat kalo kita memberikan makanan.

Dari Taman Panorama, melalui sebuah pos pengamatan terlihat jelas keindahan Ngarai Sianok dengan latar belakang Gunung Singgalang dan Gunung Marapi.

Padang

di air terjun tanpa nama

di air terjun tanpa nama

Esoknya saya kembali ke Padang. Selama di Padang, saya akan dijamu dan dipandu oleh Cicilia Elviani. Di rumah Cicil, sudah ada Chang Seob Kim, orang gila dari Korea Selatan yang menempuh perjalanan menggunakan sepeda!

Kim menempuh perjalanan dari Korea dengan mengawali perjalanannya menyeberang ke Cina menggunakan kapal. Kemudian menuju ke selatan menjelajah Cina, menyeberang ke Vietnam, Laos, Thailand, Malaysia, Singapura, lalu menyeberang ke Medan dari Kuala Lumpur.

Rencananya Kim akan menuju ke Jakarta dengan sepeda untuk mengurus visa karena dia berencana melanjutkan perjalanannya ke India dan Bangladesh.

Kami diajak Cicil menuju sebuah air terjun yang bukan merupakan tempat wisata. Dari kota, kami bertiga menempuh perjalanan selama 1 jam menggunakan sepeda motor.

Setelah bertanya sana sini kepada penduduk, kami pun menemukan tempatnya. Sebuah air terjun terpencil yang bertingkat tiga. Untuk mencapainya, kami harus trekking menembus hutan.

Kami hanya mampu mencapai air terjun tingkat pertama. Kami tidak melanjutkan ke tingkat kedua karena medannya cukup terjal dan tidak ada petunjuk jalan yang bisa diikuti.

Saat menuju air terjun ini, kaki saya sempat ditempeli 2 ekor lintah. Maklum, saya hanya menggunakan sandal, sehingga kaki tidak terlindungi dari hewan-hewan hutan tropis yang lembab.

Bersama Cicil dan Kim

Bersama Cicil dan Kim

Di air terjun tingkat pertama ini kami sudah cukup puas. Air yang jernih membuat kami ingin nyemplung. Namun karena tidak membawa pakaian ganti, niat tersebut urung.

Kami sempat mampir menikmati indomie rebus ala Padang, yaitu indomie dicampur dengan bumbu pedas ala padang, sambil menikmati pemandangan sore Teluk Bayur dari ketinggian.

Pulang dari air terjun, kami sempat mampir ke penjual duren di pinggir jalan. Saat itu sedang musim duren, dan harga duren begitu murah, per buah saya tawar Rp 20.000.

Karena saking asyiknya menikmati duren di rumah Cicil, hampir saja saya ketinggalan pesawat. Dengan ngebut, saya diantar tukang ojek menuju Bandara Minangkabau yang jaraknya sekitar 1 jam.

Untung pesawat datang terlambat, sehingga saya masih bisa check-in dan bernafas sedikit lega karena tidak ketinggalan pesawat.

Sambil menenteng oleh-oleh keripik balado Christine Hakim yang saya beli di bandara, saya pun kembali ke Jakarta malam itu.

Galeri Foto

Penulis

pengembang web. penyelam. pejalan pemula. pengguna instagram. pegawai alias pengguna gawai. suka ngetwit.

Bagikan

14 Komentar

  1. Asli, ngiler abis liat foto indomie pake saus padang. Kayaknya enak banget ya ? huuuu….aku pengen ke pulau2 selain Jawa, Bali dan Lombok 🙁

    31 Januari 2013 10:17 GMT7
    1. dirimu kan udah ke 38 negara, mbaakk.. 😐

      31 Januari 2013 16:40 GMT7
  2. ningsih

    mas mau tanya, kiranya berkenan menjawab :
    1. punya nmr hp hello guest house
    2. akomodasi/kendaraan di bukit tinggi yg disarankan apa ya?
    3. referensi rental mobil/motor kalo ada

    makasih bgt, salam

    28 Mei 2013 13:51 GMT7
  3. feryandi

    jadi pengen pulang kampuang..heheh

    12 Juni 2013 13:47 GMT7
  4. Ayu

    mas…kedepan klo ada yg butuh sewa sepeda motor utk pdg bukittinggi hub sy ya Ayu 08126738637 email BundaAyu3H@yahoo.com
    makasi sebelumnya

    10 November 2013 13:24 GMT7
  5. bahtiar

    mengalir

    21 November 2013 21:43 GMT7
  6. sri setioni

    TriMa kasih..selasa depan Insya Allah ke Bukittinggi. Info ini sangat bermanfaat. Nama hotel di dkt jam gadang apa ya?

    15 April 2014 12:15 GMT7
  7. wah aku baru tahu ada tulisan ini^^ bagus kak:), nanti mampir lagi ke padang ya

    23 April 2014 20:59 GMT7
  8. erick

    Wah asik pengen ke padang juga, esok lusa otw ke padang…

    20 Mei 2014 09:40 GMT7
  9. Bulan september .au ke bkt tinggi

    11 Juni 2014 07:44 GMT7
  10. akbar

    ado mancaliak batu batikam ??????

    8 Desember 2014 17:47 GMT7
  11. buAT Yang butuh sewa sepeda motor di padang dan bukittinggi bisa hub saya Ayu 08126738637 atau Hartono 081363442592 (3HTrans) ada berbagai macam tipe motor yg ready ada matic/ada bebek.

    29 Desember 2014 00:54 GMT7
  12. Wah kangen dengan Bukittinggi,,, terutama di sekitar Jam Gadangnya, katanya kalau malam pemandangannya sungguh bagus sekali,,,,

    27 November 2015 06:36 GMT7
  13. …hayo yg minat pulkam/ wisata ke bukittinggi, danau singkarak, danau maninjau dari area Jakarta,bandung,Dan tangerang bisa menggunakan jalur darat menggunakan Armada grand avanza (4 orang) bisa hub via email or 0816623545/087777251346
    Edisi 2016. Makasiiiiiii

    11 Mei 2016 07:16 GMT7

    Tinggalkan Balasan