Menyelam di Pulau Weh, Aceh

15 minutes 2,257 3

Pesawat Lion Air JT-397 mendarat di Bandara Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh, menjelang tengah hari. Setelah mengambil bagasi dive gear, kami menggunakan mobil sewaan meluncuru ke Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh, untuk menyeberang ke Pelabuhan Balohan, Sabang, menggunakan kapal cepat Express Bahari.

Peta titik penyelaman di Pulau Weh

Kami mampir sebentar ke Rumah Makan Khas Aceh Rayeuk, yang terletak di Jl. Tengku Imum, Leung Bata, Banda Aceh, untuk menyantap ayam tangkap dan dendeng aceh ditemani es timun serut.

Indonesia bagian barat memang belum sepopuler Indonesia timur untuk titik penyelaman. Ujung paling barat Indonesia yang menjadi tujuan penyelaman saya kali ini, Pulau Weh, menjadi salah satu destinasi penyelaman yang tidak kalah dengan Indonesia timur.

Pulau Weh setidaknya memiliki 22 titik penyelaman yang sebagian besar terletak di Laut Andaman. Titik-titik selam banyak ditemukan di sekitar Pulau Rubiah dan Pulau Seulako, yang memiliki terumbu karang.

Dari 22 titik penyelaman, separo di antaranya membutuhkan tingkat sertifikasi Advanced Open Water karena berarus cukup kuat.

Pagi di Pantai Gapang, Sabang, Aceh

Saya cukup beruntung. Saya bergabung dengan 3 orang yang memegang lisensi Dive Master dan jago motret.

Selain DM, rekan menyelam di dalam kelompok saya, memegang lisensi AOW.

Dari mereka saya bisa menimba banyak pengetahuan dan tentu saja ada menjadi model bawah air.

Kami menginap selama 5 hari di Lumba Lumba Diving Centre, yang dimiliki oleh orang Belanda, yang terletak di Pantai Gapang, Sukakarya, Sabang, Aceh.

Kami melakukan penyelaman selama 4 hari dengan jumlah penyelaman 9 kali.

Ada larangan melakukan kegiatan di laut (snorkeling, menyelam, memancing) yang sangat dipatuhi masyarakat.

Hari-hari larangan ini adalah bulan Hari Raya Idul Fitri, Idul Adha, Kenduri Laot selama 3 hari, Hari Tsunami, Hut Kemerdekaan RI, dan setiap Kamis sejak pukul 19:00 sampai Jumat pukul 14:00.

Larangan ini adalah larangan adat. Dasarnya adalah untuk menghormati syariat Islam yang menjadi aturan di Aceh.

Rubiah Sea Garden dan Seulako’s Drift

Ikan anthias dan terumbu karang

Kamis, 15 November 2012. Setelah menginap semalam, kami melakukan penyelaman pertama kami, tepat di Tahun Baru Islam 1434 Hijriyah.

Rubiah Sea Garden menjadi titik penyelaman pertama kami. Titik penyelaman ini bisa diselami oleh semua level karena arus di sini relatif lebih aman.

Sesuai namanya, saya melihat cukup banyak terumbu karang dan koral walau didominasi oleh batu-batu besar akibat letusan vulkanik pada jaman Pleistosen.

Di sekitar Pulau Rubiah selain menjadi favorit penyelam juga aman untuk snorkeling. Tak jauh dari Pulau Rubiah, terdapat kampung yang juga menjadi favorit para backpacker yaitu kampung Iboih.

Tak jauh berbeda dengan Rubiah Sea Garden, titik penyelaman Seulako’s Drift juga menawarkan pemandangan terumbu karang dan koral. Bedanya, di titik ini terdapat sedikit arus yang ditandai dengan kemunculan ikan-ikan kecil anthias yang suka hidup di perairan berarus.

Di Seulako’s Drift, saya melihat setidaknya ada 4 ekor moray eel beraneka corak dan warna serta pertama kalinya saya melihat telur nudibranch yang sekilas seperti bunga.

Pemandu kami, Eli, sempat memberi tanda telapak tangan berdiri di atas kepala sambil menunjuk ke arah laut dalam, namun saya tidak melihat apa yang dimaksudkan Eli, yaitu 2 ekor hiu black tip.

Titik Nol Kilometer dan Cahyo Alkantana

Berfoto bersama Cahyo Alkantana

Menjelang senja, kami menyewa motor untuk menuju ke Titik Nol Kilometer Indonesia. Sebagai titik di wilayah paling barat, tentu senja menjadi waktu yang cocok.

Namun sayang, ketika kami tiba, cuaca mendung sehingga awan kelabu menutupi sang fajar yang hendak terbenam.

Kami berjumpa dengan hewan penjaga monumen ini. Seekor babi hutan jantan jinak bernama Broni menyapa kami.

Puluhan kera perlu diwaspadai karena mereka suka jahil mengambil barang milik pengunjung.

Saya berjumpa dengan Alfredo, pengendara motor Yamaha Scorpio yang menempuh jarak selama 5 hari dari Bekasi hanya demi melihat seperti apa ujung paling barat Indonesia.

Setelah gelap, dari Titik Nol Kilometer, kami turun menuju ke Pantai Iboih untuk berjumpa dengan instruktur selam, fotografer, videografer, dan pembuat film dokumenter, Om Cahyo Alkantana yang sedang syuting untuk film peringatan 10 tahun tsunami Aceh.

Tidak hanya ngobrol bareng bertukar cerita, Om Cahyo Alkantana juga menraktir kami ikan bakar sambil menikmati suara debur ombak di bawah siraman bintang di langit!

Kota Sabang, Batee Tokong, dan Limbo Gapang

Pantai di pinggir kota Sabang

Karena hari Jumat, sesuai larangan adat yang berlaku, kami tidak dapat menyelam di pagi hari.

Sebagai gantinya, kami meluncur ke Kota Sabang menggunakan sepeda motor yang ditempuh selama kurang lebih satu jam perjalanan.

Kami berencana berkeliling kota Sabang lalu mencicipi makanan khas yang terkenal di Sabang, martabak dari warung Aceh Murni yang udah terkenal sejak tahun 1970-an.

Setelah sholat Jumat, penyelaman pun diawali di Batee Tokong.

Lokasi penyelaman ini bisa diselami oleh semua level namun disarankan AOW karena arusnya cukup kuat. Sesuai namanya, lokasi penyelaman ditandai dengan sebuah batu karang menjulang yang terletak di ujung barat laut Pulau Seulako.

Bersama clown fish dan anemon

Benar saja, saat kami turun, kami langsung disambut oleh arus.

Terumbu karang masih terlihat namun yang mengesankan saya adalah tebing karang yang dikerumuni oleh ribuan ikan beraneka warna!

Saya melihat sekumpulan ikan anthias merah melewati karang seperti air terjun kemerahan yang mengalir karena saking banyaknya!

Setelah Batee Tokong, penyelaman kedua adalah titik selam Limbo Gapang. Setelah dihajar arus di Batee Tokong, Limbo Gapang relatif lebih mudah karena tidak ada arus yang berarti.

Limbo Gapang merupakan karang berbentuk kubah yang puncaknya berada di kedalaman sekitar 7 meter di bawah permukaan laut. Di sini saya melihat cukup banyak lion fish dan octopus. Di sini kami menghabiskan sore hingga menjelang senja di bawah laut.

Pantai Peunateung, Arus Balee, dan Under Water Hot Spring (Volcano)

Bersama Mami Jowvy

Cuaca cukup cerah saat kami menuju ke Pantai Peunateung yang berada di Samuderah Hindia, tak jauh dari ujung terbarat Indonesia. Untuk menyelam di titik ini minimal harus AOW atau yang sudah berpengalaman.

Terdapat karang berbentuk huruf C dengan cekungan menghadap ke pantai. Arus kuat dari Samudera Hindia wajib diperhatikan karena bila lengah bisa terseret ke laut lepas.

Namun di satu sisi, kuatnya arus menjadi indikator banyaknya organisme laut berkumpul. Benar saja, di sini saya melihat napoleon fish (humphead wrasse), school of jackfish, dan school of barracuda.

Lagi-lagi pemandu kami, Amir, memberi isyarat telapak tangan berdiri di atas kepala, namun lagi-lagi saya tidak dapat melihat hiu black tip karena cukup jauh.

Tidak hanya hiu, tangan Amir sempat membentangkan tangan seakan seperti kepak sayap saat hendak menunjukkan devil ray, namun saya pun tetap saja tidak melihatnya.

batu-batu besar vulkanik (Pinnacle)

Arus yang kuat membuat tangki saya lebih cepat habis. Dengan mengikuti pemandu saya yang lain, Adek, saya menuju ke permukaan.

Saat melakukan safety stop di laut biru (tidak terlihat acuan karang, hanya laut berwarna biru di sekeliling), sambil berpegangan pada surface marker buoy, saya sempat melihat school of barracuda bergabung dengan school of jackfish.

Mendongak ke atas, dari kedalaman 5 meter saya melihat rintik-rintik hujan memenuhi permukaan. Namun saat muncul, keadaan tidak seperti yang saya bayangkan.

Hujan disertai angin kencang menimbulkan ombak yang besar. Saya kesulitan naik ke kapal karena terombang-ambing. Dalam perjalanan pulang pun, kapal sempat beberapa kali “melompat” karena dipermainkan ombak.

Seperti namanya, Arus Balee yang dalam bahasa Aceh berarti “arus brengsek”, merupakan titik penyelaman berarus kuat.

terseret arus, berpegang pada Mami Jowvy

Terletak di antara Pulau Rubiah dan Pulau Seulako, di titik ini terdapat batu-batu besar pinnacle yang berasal dari letusan gunung vulkanik pada jaman Pleistosen.

Sepanjang penyelaman kami melakukan drift diving (menyelam mengikuti arus) sambil sesekali melawan arus ketika arus menuju ke perairan dalam.

Di sini ketika saya melakukan safety stop, saya harus mengaitkan hook ke karang agar tidak terseret arus.

Namun rupanya arus begitu kuat sehingga tiba-tiba hook saya terlepas dan dengan refleks saya berpegangan pada Mami Jowvybuddy DM saya yang juga tengah melakukan safety stop.

Di penyelaman terakhir, kami awalnya diberi pilihan hendak menyelam di Underwater Hot Spring (Volcano) atau Sabang Wreck Tugboat.

di Underwater Hot Spring (Volcano)

Kami akhirnya memilih Volcano karena tidak semua tempat memiliki situs penyelaman dengan air panas tersembur dari perut bumi.

Volcano terletak di dekat Lho Pria Loat, merupakan sumber mata air panas dari perut bumi yang keluar di dalam laut. Kedalamannya hanya 6 meter di bawah permukaan laut.

Kami disarankan melepas wetsuit karena peraira cukup hangat dan untuk menghindari bau belerang menempel di wetsuit.

Namun rupanya saran ini juga menimbulkan ketidaknyamanan karena setelah keluar dari air akan langsung tersengat udara dingin.

Di titik ini tidak banyak yang bisa dilihat. Hanya hamparan tanah yang mengeluarkan air panas, serta beberapa kalo box fish terlihat tengah menghangatkan diri.

The Canyon dan House Reef

bersama moray eel

Hari terakhir penyelaman, kami menuju ke titik penyelaman andalan di Pulau Weh, yaitu The Canyon.

Titik selam ini berada di Samudera Hindia, terletak tak jauh Titik Nol Kilometer. Sesuai dengan namanya, daya tarik The Canyon adalah tebing-tebing yang terletak di bawah laut.

Yang namanya Samudera Hindia, arus menjadi perhatian yang utama. Arus di sini cepat berubah.

Begitu turun kami harus melawan arus. Namun tak lama, saya langsung disuguhi pemandangan sepasang brown moray eel sebesar paha.

Dua ekor penyu hijau yang tengah beristirahat juga menyambut kami di kedalaman 15 meter.

Capek melawan arus, di penyelaman terakhir di hari terakhir, kami melanjutkan penyelaman dengan santai.

Kami menyelam di House Reef yang terletak tak jauh dari penginapan di Pantai Gapang.

bersama lion fish

Kami masuk melalui pantai (shore entry) kemudian menyelam ke kedalaman maksimal 15 meter.

Sekilas House Reef mengingatkan saya akan keadaan di Kepulauan Seribu. Saya pun tidak berharap melihat banyak.

Namun House Reef memberikan kejutan. Saya melihat banyak sekali lion fish di sini. Mereka bahkan seperti sengaja narsis berpose di depan kamera.

Tiba-tiba Amir pemandu saya memberi isyarat saya untuk tidak bergerak. Rupanya seekor blue spotted stingray tengah bersembunyi di balik pasir tepat di sebalh saya.

Setelah sedikit “diganggu”, muncul lah sosok blue spotted sting ray tersebut berpindah dan kembali menguburkan diri di balik pasir.

Selain lion fish yang melimpah, saya juga melihat cow fish, leaf fish, dan box fish bertebaran. Yang menarik, ada sebuah teko yang telah ditumbuhi organisme laut.

Galeri Foto

Foto-foto oleh Binbin Mariana.

3 responses
  1. Gravatar of Ceritaeka
    Ceritaeka

    FAAAAAAAAAAAAK, cakeps banget.
    Aku mau ke titik NOL, aku mauuu

  2. Gravatar of kafrawi
    kafrawi

    Lengkap…. jadi cemburu selaku orang dekat lokasi

  3. Gravatar of Mul
    Mul

    Wow, keren saya juga pernah diving di Arus Balee dengan bang Amir