Cerita #mudikceria

Buat para perantau, Lebaran tanpa mudik rasanya ada yang kurang. Bertemu sanak keluarga di tempat asal merupakan kebahagiaan tersendiri yang tak bisa lepas dari tradisi Idul Fitri.

peserta sholat Ied keluar dari tempat sholat
peserta sholat Ied keluar dari tempat sholat

Saya pun begitu. Berbagai sarana transportasi pernah saya coba saat mudik. Mulai dari yang membutuhkan perjuangan hingga yang nyaman. Mudik kali ini saya sudah mempersiapkan jauh-jauh hari.

Saya sudah memesan tiket pesawat Garuda Indonesia, sejak bulan Maret (Lebaran bulan Agustus akhir). Harganya pun bisa dibilang harga “normal”, walau kadang nyesek juga begitu tau ada tiket promo. Tapi yang namanya promo, mirip sama undian, yang beruntung yang dapat. Saya sih cari aman.

Saya belajar dari tahun lalu. Tiket penerbangan dari maskapai lain, harganya bisa meningkat hampir dua kali lipat hingga menyamai, bahkan lebih mahal dari tiket Garuda Indonesia. Dari segi pelayanan, saya lebih memilih Garuda Indonesia. Meski penerbangan saat itu mengalami penundaan (sekitar 40 menit), namun tetap saja saya merasa lebih nyaman dan aman. Saya naik pesawat dengan nomor penerbangan GA 224 dari Jakarta tujuan Solo.

Tiket kereta? Untuk kereta kelas eksekutif, harganya bisa menyamai harga tiket pesawat! Lagipula, kita baru bisa memesan tiket maksimal 3 bulan sebelum tanggal keberangkatan. Menurut cerita beberapa kawan, memesan 3 bulan sebelumnya pun bukan jaminan bisa dapat tempat. Ya sudah, saya makin mantab menggunakan pesawat saja.

Di Solo, kegiatan saya kebanyakan adalah wisata kuliner. Solo memang jagoan untuk urusan makanan. Nongkrong di hik alias angkringan sambil makan sate keong, susu segar Shi-Jack, nasi liwet, menjadi santapan wajib. Karena saat itu bulan puasa, saya cuma bisa menikmati kuliner malam. Bertemu kawan lama dan ngobrol ngalor ngidul juga menjadi kegiatan yang menyenangkan.

railbus Bathara Kresna
railbus Bathara Kresna

Selain kulineran, berkeliling kota Solo juga menyenangkan. Banyak hal yang berubah. Salah satu yang membuat saya kagum adalah dioerasikannya bus wisata Werkudara (dioperasikan sejak 20 Februari 2011) dan railbus Bathara Kresna (dioperasikan sejak 5 Agustus 2012, melayani rute Solo-Sukoharjo dan Solo-Yogyakarta).

Setelah sholat Ied, saya sekeluarga melanjutkan mudik jilid 2 ke Surabaya untuk mengunjungi pakde dan bude. Menggunakan bus malam Rosalia Indah karena menurut pengalaman mudik sebelumnya, naik bus dari Terminal Tirtonadi agak susah karena harus berebut. Perjalanan Solo-Surabaya cukup lancar.

Di Surabaya, selain pergi ke bebagai tempat untuk berkunjung ke sanak saudara, kuliner Surabaya juga jadi menu wajib. Mulai dari nasi goreng surabaya, tahu tek, pecel semanggi, lontong kupang, hingga nasi bebek saya coba.

Selesai berkeliling dan berkunjung ke sanak saudara, kami pun kembali ke Solo. Menggunakan bus cepat AKAP PO Eka dari Terminal Purabaya (Bungurasih), kami menempuh perjalanan selama 9 jam karena arus tersendat di beberapa titik.

Sampai di Terminal Tirtonadi, Solo, kami sekeluarga sempat kesal kepada layanan taksi di Solo. Taksi-taksi yang mangkal di depan terminal ogah menggunakan argo bila tujuannya dekat, padahal taksi resmi. Mencari taksi di jalan pun sulit, karena taksi enggan berhenti di sekitar terminal, mungkin karena takut diancam oleh taksi-taksi “liar” ini.

Tipsnya, berjalan agak jauh dari terminal jika ingin menghentikan taksi yang lewat. Itu pun kadang sopir taksi enggan menggunakan argo. Yang paling nyaman sebenarnya memang menelepon perusahaan taksi, namun karena armada yang terbatas, biasanya taksi datang terlalu lama. Langganan taksi saya yang bagus di Solo adalah Kosti (0271 856300) atau Mahkota Ratu Taksi (o271 65566).

Demikian cerita mudik dari saya. Beberapa foto saya unggah untuk memeriahkan tagar #mudikceria yang diadakan oleh Plasa MSN. Saya hari ini akan bertolak ke Jakarta untuk kembali beraktivitas.

Selamat Idul Fitri! Taqabalallahu minna wa minkum. Minal aidin wal faidzin. Mohon maaf lahir batin.

Informasi Seputar Solo

Galeri Foto

Artikel ini dipublikasikan pada 23 Agustus 2012, sekitar 6 tahun yang lalu. Informasi yang dimuat di artikel ini mungkin sudah tidak akurat..

Ada 9 komentar
Adiitoo 23 Agustus 2012 09:30 UTC

Solo. salah satu kota yang amat sangat ingin saya kunjungi

selebvi 23 Agustus 2012 09:38 UTC

ooouuuwww… >,<
lontong kupang itu kan… kan…

-=«GoenRock®»=- 23 Agustus 2012 09:48 UTC

Lha aku kemarin di Jogja, sopir taksinya sih mau pakai argo. Tapi, turun dari taksi mereka masih minta tambahan, semacam minta ‘THR’ padahal bayarnya udah dilebihin dari argo.

Muhammad Zamroni 23 Agustus 2012 10:14 UTC

kalo di Jakarta aku sering ngasih lebih sih, buat tip. 😀

Billy Koesoemadinata 23 Agustus 2012 09:50 UTC

jadi makin pengen ke Solo..

*takjub sama railbus*

Ceritaeka 23 Agustus 2012 15:22 UTC

Aku belom pernah naik raibus-nya!
Aku kangen Solooo, aaaak belum kesampaian makan gudeg ceker yang buka subuh-subuh ituh.

Btw tiket memang gila-gilaan ya harganya. Wah Zam memang sugih tenan, naiknya Garuda, Cyyyn! 😀

Muhammad Zamroni 23 Agustus 2012 17:46 UTC

lah, wong baru aja diluncurkan kok.. aku aja yang wong Solo juga belum pernah naik..

Garuda kalo pas Lebaran, harganya “normal”, daripada maskapai lain, dgn harga yang hampir sama, aku milih Garuda. hitungannya sih tetep lebih murah pake Garuda. apalagi aku pesennya jauh-jauh hari. 😀

Wong cilik 24 Agustus 2012 01:42 UTC

Kalau mendengar kata solo teringat dengan Timlo Solo …
Salam

Feri Y. M. 26 Agustus 2012 01:42 UTC

Saya pernah tinggal setahun di Solo, sebelum pindah ke Jogja. Sekarang kota Solo makin maju. Makin banyak Mall. 🙂