Perjalanan Singkat di Yogyakarta

Tulisan ini diterbitkan pada 20 Juli 2012, sekitar 5 tahun yang lalu. Informasi pada tulisan ini mungkin sudah tidak sesuai.

Pesawat Lion Air JT-552 telah siap di Gate A2. Penumpang yang awalnya menunggu di ruang tunggu A7 terpaksa berpindah sambil sedikit bersungut. Selain telat, rupanya pindah gerbang adalah fitur dari Lion Air.

Merapi-Merbabu menyembul di balik awan

Saya membenci penerbangan pertama, karena harus bangun sepagi mungkin dengan mata masih terkantuk-kantuk. Tanpa mandi, hanya cuci muka dan gosok gigi, saya berangkat dengan memanggul tas, selepas sholat Shubuh.

Saya terpaksa berjalan kaki menuju pangkalan bus Damri bandara di Blok M karena bajaj tidak ada. Aneh, biasanya pukul 5 pagi sudah ada satu-dua bajaj yang mangkal di dekat kosan. Ya sudah lah, saya anggap sekalian olah raga dan menghangatkan badan.

Pukul lima lebih dua puluh menit, bus Damri meninggalkan pangkalan. Lebih cepat 10 menit dari jadwal karena bus sudah penuh. Sebelum jam 6 pagi, Damri berangkat setiap setengah jam, sesudahnya setiap 15 menit.

Cuaca begitu cerah. Jalanan masih lengang. Bus hanya tersendat beberapa kali ketika hendak melewati gerbang tol. Selebihnya, lancar. Sekitar setengah jam, bus sudah masuk kawasan Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Biasanya, waktu tempuh minimal satu jam, itu kalo tidak macet.

kupat tahu Pak Budi SGM

Saya duduk di kursi nomor 30B, tepat di samping pintu darurat sebelah kiri pesawat Boeing 737-900ER. Saya sengaja meminta duduk di kursi darurat saat melapor. Saya memilih kursi ini selain lebih lapang, juga jika terjadi apa-apa, saya bisa cepat keluar meninggalkan pesawat. Terlalu sering menonton tayangan Air Crash Investigation di National Geographic Channel membuat saya sedikit ngeri kalo terbang dengan pesawat.

Saya mulai tertidur, bahkan sejak pesawat di-pushback. Gerakan-gerakan panduan keselamatan dari awak kabin sama sekali tidak saya perhatikan. Apalagi pemeraganya seorang pramugara.

Dari taxi hingga take off, saya pun terlelap dan terbangun ketika pesawat hampir landing. Awan cirrocumulus terhampar bagai permadani. Gunung Merapi dan Merbabu nampak menyembul.

Tiba-tiba, jglek! Badan saya njondil ketika roda pesawat menyentuh landasan dengan keras. Untung sabuk pengaman terpasang sehingga saya nggak terloncat dari kursi. Landing yang cukup kasar. Tanda-tandanya memang sudah terasa sejak pesawat menurunkan ketinggian. Jantung seperti hampir copot ketika pesawat mendekati tujuan. Saya berpikir, walau pesawatnya bagus, kalo kelakuan pilotnya seperti itu, ya tak heran kalo pesawat cepat rusak.

Saya sarapan di Kupat Tahu Pak Budi yang telah berdiri sejak tahun 1957. Warung ini juga terkenal dengan nama “kupat tahu SGM” karena lokasinya yang berada di sebelah selatan pabrik susu Sari Husada. SGM sendiri merupakan salah satu merk susu formula yang diproduksi pabrik itu. Yang unik dari warung ini, semua karyawan perempuannya mengenakan jilbab.

pengemudi becak

Saya menginap di Hotel Saphir Yogyakarta yang terletak di Jalan Adi Sucipto, jalan utama yang terkenal dengan sebutan “Jalan Solo” karena jalan ini merupakan jalan utama menuju ke Solo yang terletak sejauh kurang lebih 60 Km.

Hotel ini terletak persis berada di perbatasan Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman. Walau nampak modern, namun kesan tua nampak dari arsitektur dan desain kamarnya. Sapaan ramah saya terima dari satpam ketika memasuki hotel. Sikap yang jauh berbeda dengan sikap satpam-satpam di Jakarta yang bawaannya selalu curiga.

Saya menuju warung makan Lombok Ijo yang tak jauh dari hotel. Dengan berjalan kaki menikmati suasana malam Jogja saya sampai di warung yang cukup ramai ini. Terbukti dari adanya ruang tunggu pengunjung kalo misal tidak ada meja yang kosong. Saya pun memesan sop buntut untuk makan malam saya.

Usai makan dan hendak kembali ke hotel, saya mencari angkringan karena ingin menyesap hangatnya wedang jahe. Saya duduk di angkringan yang terletak persis di samping hotel. Di samping angkringan, terdapat sebuah lapak tambal ban dan bensin eceran. Si penunggu lapak, seorang ibu yang tengah tidur pulas di atas bale. Anaknya, juga tidur pulas di lantai hanya beralas tikar. Di depan lapak, seorang tukang becak tengah mereparasi becaknya.

Usai menjumput sate usus dan susu jahe, saya pun kembali ke hotel. Setelah mandi air panas, saya pun menyusupkan diri di balik selimut dan tertidur pulas. Selamat malam, Jogja!

Galeri Foto

Muhammad Zamroni

pengembang web • penyelam scuba • pejalan pemula • peminat perangkat

Jakarta, Indonesia

2 Comments

Tulisan ini diterbitkan pada 20 Juli 2012, sekitar 5 tahun yang lalu. Informasi pada tulisan ini mungkin sudah tidak sesuai.

bimakurniawan

24 Juli 2012 06:32

wah jadi tambah rindu jogja nih, heee, salam kenal bro,,

BonVoyageJogja

27 Februari 2017 12:17

Trip yang cukup singkat ya, tapi semoga kamu terkesan dengan sekilas Jogja. Kalau Mas Zamroni suka nongkrong di angkringan, cobain Waroeng Klangenan (https://bonvoyagejogja.com/angkringan-klangenan-suasana-bersantap-nyaman-di-perkampungan/) di sekitar daerah situ. Bisa bakar2 menu angkringan sendiri sama ada WiFi nya juga mas hehe. Selamat berkunjung kembali ke Jogja! Dhia

Statistik

Telah dibaca 0 kali. Waktu baca rata-rata 5 minutes. Ada 2 komentar. Dibagikan 0 kali ke media sosial.